
Setahun berlalu, setelah kejadian malam minggu Saka frustasi memikirkan dia gadis terbaik yang setia mencintai dalam diam. Hari ini persiapan wisuda kedokteran bagi Saka fan Mahes. Keluarga dari Tana Toraja juga datang mempersiapkan beberapa hal, mereka pantas berbangga karena anak mereka kembali mampu membuka pintu kesuksesan, sebelum lanjut Koas. Ayah, Bunda, Sakti dan Sasmita ikut menginap di rumah kontrakan Saka. Begitu juga dengan Bapak, Ibu dan ketiga adik Mahes juga dalam satu rumah yang sama. Hari ini benar-benar ramai, hanya Yuda yang akan wisuda dua hari lagi.
Malam sebelum wisuda, atau sebelum berangkat Koas Saka akan memantapkan hati, memberikan jawaban pada gadis pilihannya. Dia merasa bingung, ingin pergi ke kontrakan Ayuna, namun enggan meninggalkan keluarganya. Minta tolong pada Yuda untuk mengundang makan malam para gadisnya. Kebetulan sekali Bunda Saka dan Ibu Mahes masak banyak aneka makanan khas Toraja, ada ayam masker, ikan mas pamarasan, dan sayur tumbuk.
"Bro, bisa minta tolong undang para gadis Toraja untuk makan malam?" Tanya Saka pada Yuda.
"Bisa sekali Bro, bahkan aku akan pergi jemput mereka kalau perlu," Jawab Yuda pengertian, sambil tertawa cengengesan.
"Ok Bro, kontak mobil ada di atas meja TV, silahkan segera berangkat ya Bro,"
"Siap Little Dad," Jawab Yuda sambil memberi hormat ala anggota pada komandannya.
"Dasar tengil," Teriak Mahes dari belakang Yuda sambil menepuk punggung sahabatnya.
Tiga puluh menit berlalu, Yuda datang bersama rombongan gadis manis asal Toraja. Mereka semua duduk dalam satu karpet yang sama, bersiap menikmati makanan khas Toraja untuk acara syukuran atas pencapaian Mahes dan Saka. "Bunda sibuk menyiapkan semua, kalian harus habiskan," Teriak Bunda dari dapur kecil rumah kontrakan Saka.
"Iya Bun, beres,"
Setelah selesai makan bersama, Saka mengajak Ayuna duduk di taman dekat kontrakan. Mereka masih terdiam dalam pikiran masing-masing, menyusun kata apa yang akan diucapkan Saka, sampai berkali-kali menarik napas. Detik berikutnya Saka memecah keheningan.
"Ay, "
"Iya kak, kenapa?" Tanya Ayuna penasaran.
"Sebelum aku berangkat Koas di RS dr. Kariyadi Semarang, ada sesuatu yang ingin aku katakan." Sahut Saka singkat.
"Apa itu Kak?"
"Cinta itu tidak harus memiliki, hanya sebuah rasa yang dimiliki oleh hati manusia, dalam menjaga sebuah cinta kita harus hilangkan egoisme agar cinta tetap abadi. Seperti dirimu yang mencintai aku selama tujuh tahun lebih. Kini aku telah menyesal, telah menyia-nyiakan kesempatan indah itu, maafkan aku cinta.
Love You Ay,"
__ADS_1
Ayuna tidak membalas apapun, gadis itu justru menunduk, menangis penuh bahagia. Penantian panjang akhirnya membuahkan hasil, sesuai impiannya. Menatap manik mata Saka, ingin melihat kejujuran dari pemuda yang merupakan cinta dalam diamnya. Detik berikutnya Ayuna mengatakan "I Love You More More and More"
***
Setelah satu bulan acara wisuda, kini tepat hari keberangkatan Saka, Mahes, Yesi dan beberapa temannya di Fakultas Kedokteran akan menjalani Koas di Semarang. Putaran pertama Koas, Mahes dan Yesi mendapat bagian UGD, Saka kebagian di Departemen Kardiologi (Jantung) dan beberapa teman lainnya di bagian poli rawat jalan.
Malam ini, adalah malam pertama Saka sebagai Koas Kardio untuk menjalani tugas jaga di ICCU, ruang rawat intensif khusus pasien dengan masalah jantung.pada bagian inilah kita akan menghadapi manusia yang berjuang mempertahankan hidup demi keluarganya. Atau bisa dikatakan detik-detik kematian.
Pertama masuk jaga ICCU Saka merasa diberi kemudahan karena menatap bagian ruangan hanya bed kosong. Alias pasien nihil, tidak ada. Syukurlah. Namun detik berlalu berubah, ketika telfon di Ruang ICCU berdering. Dan seperti biasanya, teriakan perawat akan lebih kencang ketimbang dering telfon.
“KOAAASSSSS!!! Angkat telfonnnya!!”
"Hallo, dengan Ruang ICCU. Saya Saka Koas Kardiologi disini. Ada yg bisa dibantu?" Jawab Saka dengan sopan.
"Hallo dek, tolong sampaikan pada perawatnya, pasien baru dari Ruangan akan masuk ke ICCU dengan diagnosa Chest pain ec. STEMI. Mohon dipersiapkan ya. Terima kasih" Jawab suara perawat dari UGD.
"Baik, siap kak."
Derderder... Bunyi brankar terdengar dengan jelas semakin mendekati ruangan ICCU, dan diikuti dengan teriakan pasien.
“Aduh, sakit dok… dada saya sakit sekali. Tolong saya dokter!!”
“Dok, tolong bapak saya!” Teriak seorang anak laki-laki sekitar 7 tahun diikuti isak tangis di samping bed pasien.
"Tenang dik, kami siap melakukan yang terbaik buat Bapak," Sahut Saka sambil menepuk punggung anak tersebut agar sedikit memberi ketenangan.
"Iya dok, tolong bapak," Jawab anak tersebut masih dengan isak tangisnya.
Kemudian brankar didorong masuk ke ruangan dan kami segera memindahkan ke Bed ICCU, kemudian masker oksigen dipasang, oximetry dipasang, elektroda ditempel di dada pasien lalu di hubungankan dengan monitor, dan pemantauan dimulai. Saat itu ada 2 Residen Kardiologi yang bertugas dr. Afa dan dr. Leon yang baru saja Saka kenal. Awalnya Saka pikir mereka perawat karena sebelumnya ikut mendorong brankar pasien, ternyata mereka dokter residen.
dr. Alfa dan dr. Leon melakukan diskusi dan mulai memberikan terapi pada pasien. Saka setia mengamati jerit kesakitan bapak tadi. Kasihan sekali, bahkan Saka tak tahan melihatnya kesakitan, mengingat Ayah yang ada di Toraja.
__ADS_1
Dibalik tirai pembatas bed, anak bapak tersebut hanya melihat dengan menangis sesenggukan. Saka mencoba mendekati anak tersebut, dan mengajaknya keluar. Dari percakapan singkat bersama si anak, ternyata bapak tersebut, seorang pria yg belum menikah, dia mengangkat anak tersebut karena alasan tertentu. Serangan jantung ini ternyata sudah yg ketiga kalinya. Namun kali ini terasa lebih parah menurut pengakuan anak tersebut. Orangtuanya bapak tersebut akan datang dari kampung, namun sampai hati ini belum sampai juga. Anak kecil tersebut masih saja menangis sesenggukan, seperti ada rasa ketakutan yang lebih. Lalu Saka mencoba menawarkan HP Saka untuk menghubungi keluarganya, namun anak itu tak tahu nomornya. Saka hanya mencoba menenangkan anak itu dan segera kembali kedalam ruangan, hendak membantu tim dokter.
“Dek, kau koas Jaga Kardio sekarang?” Tanya dr. Alfa.
“Iya dok”
“Kau kemana aja? bukannya di ruangan!!” sahut dr. Leon
"Maaf dok, tadi saya …—“
“Udah udah… follow ketat pasien ini!” teriak dr. Alfa mencekat perkataan Saka.
Akhirnya Saka berdiri di samping pasien dan memonitor keadaannya. Bapak mulai terlihat berkurang nyeri dadanya, namun dia masih terlihat gelisah dan terasa sesak napas. Mata Saka terus mengamati kondisi Bapak tersebut, sesekali dari jauh Saka melihat anaknya hanya menempel mengintip didepan pintu kaca ICCU sembari menangisi ayahnya.
Tak lama kemudian, orangtuanya datang, lalu diberikan kesempatan secara bergantian untuk masuk. Karena ruangan intensif, tidak sembarang orang bisa masuk, kecuali jam besuk. Namun mereka sangat memohon diikuti tangisan, akhirnya perawat mengizinkannya.
Saka menatap lekat orangtua dari bapak menangis. Karena Saka memang ditugaskan untuk follow ketat pasien, dia tidak pindah tempat dari samping bed, selalu mengawasi apapun yang terjadi pada pasien. Jadi Saka bisa mendengar tangisan itu lebih dekat dan mendengar kalimat yg disampaikan pasien kepada orangtuanya.
“Jaga anakku ya..”
Tanpa ada jawaban, orang tua pasien masih terus menangis, sambil sesekali melirik arah jendela yang memperlihatkan anak kecil itu menangis terisak. Seketika itu juga Saka terasa ingin meneteskan air mata, mengingat Ayah di kampung. Lalu menit kemudian, keadaan pasien semakin parah, nyeri dada dirasakan lagi. Alarm monitor mulai menyala dengan kencang. Gambaran monitor menunjukkan serangan kembali terjadi. Seketika itu juga jantung pasien berhenti.
Isak tangis orangtuanya semakin kencang. Setelah melalukan consent untuk bantuan hidup berupa pijat jantung (RJPO), Residen memulai tindakan pijat jantung. 10 siklus RJPO telah terlewati, belum ada tanda perbaikan. Saka pun ikut membantu, bergantian dengan residen untuk melakukan RJPO. Tanpa Saka sadari sebuah kepanikan membuat baju sangat basah, keringat bahkan menetes ke badan pasien. Akhirnya switch position dengan Residen karena tangan dan pinggul mulai terasa lelah. Begitu terus bergantian melakukan RJPO hampir 45 menit. Kami mencoba terus, RJPO dan obat-obatan emergency tidak membuahkan hasil. Pasien dinyatakan meninggal didepan orangtua dan anaknya. Badan Saka gemetar pengalaman Koas di hari pertama, melihat sang anak menangis kencang dan berteriak “Bapaaak!!!“
Kepergian pasien tersebut sesaat setelah orangtuanya datang, seolah meminta izin berpamitan dan memohon untuk menyayangi yang bukan darah dagingnya, menggambarkan sebuah kasih sayang yang tanpa batas. Detik itu juga Saka memantapkan hati setelah selesai pengambilan sumpah dokter, dia akan segera mengambil pendidikan spesialis jantung dan pembuluh darah.
Mundur, menepi dari tempat tersebut berdoa mohon kesehatan serta panjang umur buat kedua orangtuanya. Pengalaman Koas di hari pertama yang menyedihkan, namun menambah semangat Saka untuk segera menyelesaikan pendidikannya. Hingga dr Alfa menghampiri Saka, menepuk bahunya seolah memberikan semangat sambil berkata "jadikan pengalaman hari ini sebagai penyemangat menjalani profesi dokter, untuk selalu berikhtiar menolong setiap pasien."
"Siap dok,"
Bersambung
__ADS_1