Lost in Your Heart

Lost in Your Heart
BAB 5


__ADS_3

Keesokan harinya Keyra yang tengah mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan sang ibu, tiba-tiba mendapat telphone dari nomor yang tidak ia kenal, ia mencoba mengabaikan telphone itu, namun si penelphone terus menerus menghubunginya, Keyra pun terpaksa mengangkatnya.



Call ;


Keyra : hallo dengan siapa ini ?


Arga : ini gue.


Keyra : oh ada apa ?


Arga : jangan bicara sekarang sama orangtua lu, karena barusan gue dengar mama gue bilang malam ini mereka akan mengadakan pertemuan keluarga sekalian makan malam.


Keyra : lalu ?


Arga : itu kesempatan kita buat menolak secara bersamaan agar mereka yakin bahwa kita memang tidak ingin perjodohan ini tetap berlangsung, bagaimana ?


Keyra : kau yakin ini akan berhasil ?


Arga : tidak ada salahnya mencoba.


Keyra : hm, baiklah aku ikuti cara mu.


Arga : oke.


Sambungan telphone pun di akhiri.


"Dari mana si sombong itu dapat nomor telphone ku ?" tanyanya dalam hati.


"Key !" panggil ibunya.


"Ya bunda," jawabnya.


"Siap-siaplah nak, nanti malam kita akan makan malam bersama keluarga tante Sinta, berdandanlah yang cantik ya sayang," ucap ibunya.


"Iya bun," jawab Keyra malas.


Malam harinya,,,


"Hai Rin kalian sudah sampai, mari duduk," ajak ibu Arga.


Mereka berbincang-bincang satu sama lain, sementara Arga tidak begitu perduli ia hanya sibuk dengan permainan diponselnya, sedangkan Keyra ia hanya bisa memperhatikan mereka satu persatu.


"Heh lu niat banget sepertinya ingin bertemu gue malam ini, dandanan lu seperti wanita yang sudah seumuran mama gue tahu gak lu," ucap Arga setengah berbisik.


Keyra hanya menarik nafas panjang tanpa menjawab Arga.


"Oh bukan, bukan, menurut gue si lu lebih mirip pekerja wanita yang ada dipinggir jalan itu, lebih cocok si buat dandanan lu malam ini," ucap Arga jauh lebih menyakitkan hati Keyra.


Keyra yang sudah tidak tahan lagi pun kemudian berdiri dan menyiram wajah Arga dengan air putih yang ada digelas diatas mejanya, hal ini membuat semua keluarga terdiam melihat kelakuan keduanya, disisi lain Arga masih tetap diposisi duduknya tidak bergeming sama sekali, ia hanya mencoba menarik gaun Keyra untuk mengelap wajahnya yang basah, namun siapa sangka sepaatu berhak tinggi yang Keyra kenakan membuatnya hilang kendali dan jatuh dipangkuan Arga, Keyra mengangkat wajahnya dengan cepat membuat kepala Keyra terbentur dengan dagu Arga.


"Aww," lenguh keduanya kesakitan.


Arga yang sudah benar-benar terpancing emosi membuka matanya dan melihat kearah Keyra yang berada sangat dekat dengannya, ada sesuatu yang terasa sakit dibagian dalam organ didadanya, amarah yang ia pendam seketika menghilang entah kenapa ia pun tidak bisa menjelaskan alasan amarahnya sangat cepat mereda.


"Mau sampai kapan lu diam dipangkuan gua ?" tanya Arga yang saat ini sudah tidak lagi menatap Keyra.

__ADS_1


Keyra yang tersadar pun langsung bangun dan kembali duduk ditempatnya.


"Lalu kapan kita akan mulai bicara ?" tanya Keyra kemudian.


Arga terdiam sesaa.


"Hei kau mendengar ku tidak ?" tanya Keyra lagi.


"Sabar, gua lagi menunggu moment yang tepat," jawab Arga kemudian.


Setelah selesai makan malam pembicaraan tentang perjodohan mereka pun dimulai, terlihat raut wajah bahagia terlukis dari kedua orangtua mereka, Keyra sedikit ragu untuk bicara, Arga pun terlihat terus diam tanpa memberi isyarat apa-pun padanya, tapi Keyra yang tidak ingin masa depannya jadi korban pun mengambil inisiatif sendiri untuk memulai bicara tentang penolakannya, ia berdiri dari duduknya.


"Ayah, bunda, om dan tante, sebenarnya kita ingin,,," belum selesai Keyra bicara Arga sudah berdiri dan menggenggam tangan Keyra.


"Kita ingin mengenal satu sama lain lebih jauh dulu baru kita akan memutuskan kapan kita berdua akan menikah, iya kan Key ?" ucap Arga melempar pertanyaan pada Keyra yang terdiam bingung mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Arga.


Arga menggenggam erat tangan Keyra seolah meminta Keyra menjawab pernyataan yang diberikan Arga dipertemuan malam ini.


"i-iya, kita ingin saling mengenal dulu," jawab Keyra yang sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa.


"Kita tidak memaksa kalian untuk menikah sekarang, kita hanya ingin mengikat kalian dalam hubungan pertunangan terlebih dahulu," ucap Ayah Arga.


"Betul sekali itu," timpal Ayah Keyra.


"Bagaimana kalau pertunangan mereka kita adakan minggu ini ?" tanya ibu Arga meminta persetujuan dari semuanya.


"Setuju !" jawab semuanya.


Keyra hanya bisa tersenyum masam mendengar pembicaraan dan keputusan yang didapat malam ini.


Sesampainya dirumah,,,


Keyra : Apa maksudmu dengan semua ini ?


Arga : tidak ada maksud apa-apa, gua hanya tidak sejahat itu menghancurkan kebahagaiaan mereka yang penuh harapan pada kita.


Keyra : tapi kenapa harus tetap berlanjut ? masih banyak cara lain jika tidak ingin merusak kebahagian mereka, kenapa harus mengorbankan masa depan kita berdua.


Arga : siapa yang mengatakan tetap berlanjut ?


Keyra : sekarang coba kau fikir siapa yang tidak salah faham dengan pernyataan yang kau lontarkan tadi ?


Arga : ya gue tahu, lu tenang saja ikuti alur yang gue mainkan, dan gua jamin gue dan lu tidak akan terikat dalam satu hubungan pernikahan !


Keyra : baiklah, terserah bagaimana caranya kau atur saja.


"Gue sebenarnya juga bingung dengan apa yang gue lakukan tadi, dari kecil gue menunggu dan mencari dimana keberadaan jodoh yang mereka pilihkan untuk gue, dan sekarang saat gue sudah menemukannya, kenapa harus dengan kondisi seperti sekarang ini ?


kenapa harus Keyra ?


dan kenapa harus ada kebencian diantara kami ?" gumam Arga seraya menghela nafas panjang.


Keesokan harinya disekolah,,,


 Keyra dan Raya berjalan seraya membawa buku piket milik anak-anak dikelasnya.


"Key, aku bisa nitip buku-buku yang ku bawa padamu ?" tanya Raya.

__ADS_1


"Kau mau kemana ?" tanya Keyra.


"Aku sudah tidak tahan lagi Key, aku harus ke kamar kecil," jawabnya seraya meletakan buku yang cukup banyak dan lumayan tebal ditangan Keyra tanpa menunggu persetujuan dari Keyra terlebih dahulu, Raya langsung berlari, akibatnya buku yang bertumpuk itu pun terjatuh, karena Keyra tidak sanggup menahan beban berat dari buku, dan susunan Raya yang berantakan.


"Aduh, Raya Raya," keluh Keyra.


"Aku bantu ya," ucap seseorang yang langsung menyusun buku-buku yang berserakan dilantai.


"Iya terimakasih," ucap Keyra menatap wajah orang yang membantunya.


"Biar aku saja yang membawanya," ucap Keyra.


"Tidak apa-apa aku saja, tidak usah sungkan, dan lagi memangnya tidak ada laki-laki dikelas mu sampai kau harus membawa buku sebanyak ini sendirian ?" tanyanya.


"Aku tidak sendiri membawanya, aku bersama teman ku, tapi dia buru-buru ke kamar kecil dan buku yang ia bawa diberikan padaku, dan masalah anak laki-laki dikelasku banyak, tapi mereka tidak suka belajar, jadi aku yang berinisiatif untuk mengambil buku dan belajar sendiri, karena kebetulan guru yang bersangkutan tidak bisa datang juga hari ini, sayangkan kalau jam pelajarannya jadi kosong," jawab Keyra.


"Hm begitu, rajin sekali ya kau ini," ungkapnya.


Keyra hanya tersenyum kecil menjawabnya.


"Oh ya, aku Raka, kamu ?" tanya Raka disela percakapan mereka.


"Keyra, panggil Key saja," jawabnya.


"Key,


Key itu kunci, kunci itu penting, semua gembok didunia ini tidak akan bisa terbuka jika tidak ada kunci, jadi jangan sia-siakan hidup mu untuk siapa-pun yang tidak menganggapmu, ingatlah bahwa kunci itu penting sama halnya dengan mu," ungkap Raka.


"Bisa saja," jawab Keyra tersipu malu.


"Ini kelas mu ?" tanya Raka.


"Iya,"


"Aku bawa sampai meja guru," ucapnya.


"Terimakasih, maaf merepotkan,"


Ketika Keyra dan Raka berjalan menuju meja guru sepasang mata dengan tajam melihat kearah mereka.


Raka yang sadar dirinya dan Keyra sedang diperhatikan berbisik perlahan ditelinga Keyra.


"Key, siapa orang itu, seraya mengarahkan pandangan kearah yang dituju," tanya Raka.


"Oh, itu Arga, teman sekelas ku," jawab Keyra.


"Hm, sepertinya, kau sudah berhasil membuka dua kunci Key," ungkap Raka.


"Maksudnya " tanya Keyra bingung.


"Pertama kau sudah hampir berhasil membuka hati ku, yang kedua kau juga bisa membuka hatinya," jawab Raka seraya mengarahkan pandangan ke Arga.


"Ha ?


Arga ?


Itu tidak mungkin, dia adalah orang yang membenciku, bisa dibilang kita berdua ini musuh," jawab Keyra tegas.

__ADS_1


"Oh iya, kita lihat berapa lama kalian bertahan sebagai musuh," ungkap Raka lagi.


Kata-kata Raka membuat Keyra bingung namun ia malas bertanya memperpanjang pembahasan tentang Arga.


__ADS_2