Lost in Your Heart

Lost in Your Heart
Bab 8


__ADS_3

Sesampainya dirumah Arga memaksa ingin mengantarkan Keyra sampai kedalam rumah, ketika membuka pintu keduanya terkejut karena disana sudah berkumpul keluarga besar dari Keyra dan juga kedua orangtua Arga.


"Kalian baru pulang, habis dari mana ?" tanya mereka tersipu-sipu.


"Dari sekolah," jawab Keyra singkat.


"Ada apa ini kenapa ramai sekali, dan om tante bukannya kalian sedang diluar kota, kapan kalian sampai ?" tanya Keyra mengarah pada adik dari ibunya.


"Kita sampai tadi siang Key, bunda mu yang mengundang om dan tante untuk segera datang menghadiri pernikahan kalian," jawab tante Desi.


"Ha pernikahan ?


pernikahan apa tante ?" tanya Keyra bingung.


"Bunda mu bilang om dan tante harus kemari sebelum kami pindah keluar negeri, takutnya nanti kalau suddah disana kami tidak bisa pulang saat kau menikah," jawab sang tante.


"Bun, bukankah Key sama Arga baru akan bertunangan ?" tanya Keyra pada sang ibu.


"Iya sayang, awalnya kami memang berencana begitu, tapi setelah kami pertimbangkan lagi, bahwa walaupun dengan status suami istri kalian masih bisa melanjutkan pendidikan kalian, ia kan sinta ?" ucap ibu Keyra mengarahkan pertanyaan pada Sinta ibu Arga.


"Ya, tentu saja Rin, Arga pasti juga tidak keberatan kan kalau kalian tidak perlu bertunangan dulu tapi langsung menikah ?" ucap tante Rina melemparkan pertanyaan pada Arga.


Arga hanya terdiam mematung, sesekali ia menatap kearah Keyra yang saat itu melihat Arga penuh dengan rasa kesal.


Keyra menarik tangan Arga membawanya menjauh dari keluarga besar mereka,


"Ga, kamu tidak ingin memprotes keputusan mereka ?" tanya Keyra penuh emosi.


"Memang apa yang harus gue katakan ?


**karena hidup kita memang sudah diatur oleh mereka sejak kita belum dilahirkan kedunia ini\," jawab Arga **

__ADS_1


Keyra sudah tidak bisa lagi berkata-kata, seolah pasrah dengan apa yang sudah mereka atur untuk hidup Keyra dan Arga.


"Ga memangnya kau tidak ingin mempunyai hidup yang normal seperti remaja-remaja lain diluar sana ?" tanya Keyra dengan nada lemas.


"Kalau masih ada pilihan untuk itu, gue juga tidak akan menolak untuk hidup normal tanpa perjodohan," jawab Arga datar.


"Kita masih bisa mempunyai kesempatan itu Ga, tapi kenapa kamu tadi diam saja tidak memprotes sedikitpun, diam nya kamu itu akan mereka anggap bahwa kamu setuju, mengerti tidak ?"


Arga mengangguk sedikit cepat, namun tetap tidak ada kata-kata lagi dari mulut Arga, yang membuat Keyra menyerah, ia hanya menggelengkan kepalanya dan pergi begitu saja meninggalkan Arga yang masih berdiri tidak bergeming ditempatnya.


"Gue bukan menerima perjodohan ini, tapi gue juga tidak bisa menolaknya, entah kenapa gue juga bingung," gumam Arga dalam hati.


Semua orang kembali berkumpul diruang tamu begitu juga dengan Keyra dan Arga, setelah tanggal ditentukan dan sudah tidak ada lagi penolakan dari keduanya, tante Rina mengeluarkan sepasang cincin dari dalam tasnya dan kemudian memberikannya pada Arga anaknya.


Arga tidak membutuhkan pernyataan apa-pun dari ibunya, karena dia sudah mengerti dengan maksud sang ibu memberikan cincin pasangan itu padanya.


Arga menatap Keyra yang masih tertunduk ditempatnya duduk saat ini.


Ia pun berdiri sejajar dengan Arga, tanpa basa-basi Keyra memberikan jari manisnya untuk dipasangkan cincin oleh Arga, tanpa senyum, tanpa kata-kata, dan tanpa arti kini cincin itu sudah melingkar dengan cantik dijari keduanya.


Terdengar sorak dan tepukan tangan dari semua orang yang ada diruangan itu, membuat keduanya secara cepat menoleh kearah mereka semua, senyum yang saat ini terlukis dari keduanya hanya senyum yang mereka paksakan, sementara sorot kebahagiaan terpancar dari keluarga mereka.


"Arga, beri Keyra kesan yang manis dong, biar lengkap kebahagiaan kita malam ini !" seru tante desi.


Arga sudah cukup mengerti dengan apa yang dimaksud tante desi tanpa harus bertanya lagi.


Kemudian Arga menatap Keyra yang dari tadi tengah menebar senyum palsu.


"Key," sapa Arga.


"Hm," jawab Keyra tanpa membuka mulutnya, dan tanpa menoleh kearah Arga.

__ADS_1


Arga yang sudah cukup muak dengan kepura-puraan ini pun ingin segera mengakhiri cerita malam itu, ia hanya ingin membuat semua orang merasa puas dengan pertunjukan yang Arga dan Keyra sajikan didepan mereka.


Tanpa basa-basi Arga menarik dagu Keyra dan dengan cepat mendaratkan kecupan manis dibibir Keyra, hal tersebut membuat Keyra terkejut sampai membelalakan matanya saat Arga masih bergelut dengan bibirnya, namun seketika Keyra juga menyadari ia tidak bisa protes lagi, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah mengikuti permainan yang Arga sajikan untuknya, dan kini Keyra juga hanyut dalam permainan mereka, ciuman itu diakhiri dengan gigitan di bibir Arga.


"Aw," teriak Arga.


"Huuu, agresif sekali Keyra ya, haha" gelak tawa memenuhi ruangan itu.


"KIta harus bicara besok," bisik Keyra.


Arga hanya membiarkan senyum sinisnya menjawab ajakan Keyra.


Keesokan harinya...


Dikantin saat itu Arga dan Alya tengah asik berbincang dengan teman-teman mereka yang lain, Keyra yang melihat keberadaan Arga dengan cepat menghampirinya.


"Kita perlu bicara !" ajak Keyra saat ia sudah berdiri dihadapan Arga.


"Berani sekali lo kesini dan memberi perintah sama Arga, emang lo fikir lo itu siapa ?" tanya Alya yang langsung berdiri.


"Maaf Al, tapi aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapa-pun, aku kemari hanya ingin bicara satu hal yang penting dengan Arga," jawab Keyra.


"Sepenting apa memangnya ?" tanyanya semakin terbakar emosi.


"Cukup Al, Keyra benar kami memang harus membahas hal yang sangat penting, jadi permisi gue mau lewat," Ucap Arga pada Alya yang menghalangi jalan keluarnya.


"Gue ikut !" seru Alya.


"Lo ngerti gak, ini masalah Keyra sama gue, dan gak ada hubungannya sama sekali sama lo, kalau lo masih mau jalan bareng gue lo nurut sama gue, kalau tidak silahkan menjauh !


menyusahkan !" Bentak Arga seraya berbalik, menarik tangan Keyra lalu pergi menjauh dari kantin.

__ADS_1


" Orang ini benar-benar tidak punya hati, akan jadi seperti apa hidupku nanti tuhan jika benar aku harus hidup dengan laki-laki ini, entahlah, hidupku sudah dipertaruhkan dari dulu," keluh Keyra dalam hati.


__ADS_2