
Annyeonghaseo!
"Je i-reum-eun im ni da Viona
Naneun~eseowassda Indonesia."
Ya, begitulah saat Viona memperkenalkan diri pada semua mahasiswa dan mahasiswi yang berada sebuah ruang kelas.
Butuh waktu tujuh hari tujuh malam untuknya menyelesaikan alunan lidah yang biasa memakan seblak.
Selebihnya dia menggunakan bahasa Inggris.
"Huf! Beasiswa yang kudapat dari kampus menghantarkanku ke negeri para orang-orang pecinta fashion dan K-pop.
Kenapa tidak ke Arab saja?
Karena di Arab aku akan bebas mengenakan pakaian kebanggaanku ini sejak lulus SMA.
Ya, harus gimana lagi, toh ini juga termasuk rezeki. Mau tidak mau, aku harus menuntut ilmu disini," bisiknya dalam hati.
Viona gadis cantik yang bersembunyi di balik cadar, hidup sebatangkara waktu di Indonesia. Semenjak dia lulus SMP, sang ibu menjadi TKW di negara Hongkong.
Terkadang sakit, ya, sakit saja sendiri, boro-boro dibantu tetangga. Dia malah di-bully. Yang lebih tepatnya ibunya yang dipermasalahkan.
Punya anak gadis, kok, malah ditinggal, jangan-jangan ibunya kawin dengan orang keturunan Tionghoa.
Sungguh bisik-bisik tetangga membuatnya semakin sakit.
"Ibu, aku rindu ibu ...."
Hari pertama di Seoul National University (SNU) membua Viona Atmaja jadi bahan perhatian.
Mereka menatapnya curiga, bahkan mereka berbisik-bisik.
"Aghh! Memang apa salahnya, sih, untuk tampil beda dengan mereka? Aku yang paling aneh di kampus tersebut, iya! Tapi apakah aku harus di perlakukan seperti ini? Oh Tuhan, haruskah aku berbalik lagi dan meninggalkan tempat ini." Lagi-lagi dia mencelos dalam hati.
Sorak sorai mahasiswi membuat gadis itu tercengang.
Apa yang mereka saksikan?
Apakah aktor drama Korea menyambangi kampus ini?
Hati dan otak bekerja sama, saat itu ingin sekali dia melanjutkan pertanyaan di hati. Akan tetapi, tatapannya teralihkan, dia mencoba memperhatikan kejadian yang sedang berlangsung.
"What?! Alaamak ... ternyata ada empat pemuda ganteng memasuki halaman kampus.
Owh, begini ya?
Eh, tunggu-tunggu, apakah aku berada di sebuah film?
Hihihi ...."
__ADS_1
Viona mulai tertawa geli.
Bagaimana tidak, ternyata di dunia nyata juga terjadi seperti di drama-drama Korea yang sering dia tonton di saat waktu senggang.
Viona Atmaja beranjak dari halaman kampus, karena dia tidak mau menjadi gila seperti gadis-gadis itu.
Baru selangkah kakinya diayunkan, memutar haluan, terdengar suara seorang pria berteriak.
"Hey, you!"
"Busyeet ... apakah sekarang para lelaki itu memanggilku.
Ah tidak, sebaiknya aku mempercepat langkah."
Akan tetapi, tiba-tiba sesorang menarik kerudungnya sampai Viona terjatuh.
"Aw!"
Viona Atmaja meringis kesakitan, kepalanya nyaris menghantam keramik halaman kampus itu.
"Ya Allah, Ini baru hari pertama. Apakah aku harus menjalani hari-hari yang menyeramkan seperti ini tiap hari?" tanyanya dalam hati.
"Kau anak baru, ya?" tanya seorang pria itu, yang ternyata namanya Baek Seung joo, dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Iya, emangnya kenapa? Ada yang salahkah?" jawab Viona Atmaja pelan.
"Yaa!" Baek seung tambah meninggikan suaranya.
"Sepertinya dia pacar Baek seung, atau hanya kurcaci pelayan dari pangeran tengik ini?" gerutunya pelan.
Viona Atmaja berusaha melepaskan tangannya, dia meronta. Akan tetapi, semakin meronta, dia menggunakan kuku-kuku tajamnya yang berhias dengan warna-warni kutek menusuk kulit gadis berwajah cantik di balik cadar itu.
"Dengar baik-baik, ya! Di sini juga banyak yang menganut kepercayaan seperti yang kamu anut, tapi mereka tidak berpakaian aneh seperti kamu!" Lagi-lagi intonasi Baek seung semakin memekakkan telinga. Dia berteriak seperti ingin memecahkan gendang telinga sang gadis.
Viona Atmaja mulai menangis karena ketakutan.
Dari kejauhan Viona Atmaja melihat ada seseorang datang menghampiri Baek seung.
Sepertinya dia orang Indonesia, tapi dia menggunakan bahasa Korea.
Dia sangat lancar berbahasa.
"Apa yang dibicarakan dia dengan Baek seung?"
Tak lama dia berbincang, seseorang itu menghampiri Viona Atmaja dan membawa gadis itu pergi dari hadapan Baek seung.
-
Kemudian Viona Atmaja dibawa oleh seseorang yang telah membantunya terlepas dari kenakalan para berandalan kampus yang sangat kejam menurutnya.
Mereka memang pantas disebut seperti itu. "Dasar berandalan kampus!" bisiknya di hati.
__ADS_1
Hani namanya, dia berasal dari Indonesia juga.
Style nya sungguh mengikuti para gadis Korea.
"Hiks! Aku memang terlihat sangat berbeda."
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Hani, memeriksa keadaan Viona Atmaja.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang sabar, ya, sesuatu yang aneh yang hadir di kampus ini, memang akan menjadi bahan bullyan anak-anak nakal. Tapi sebenarnya mereka baik, kok," ujar Hani lagi.
"Yang begitu dibilang baik?" tanya Viona Atmaja keheranan.
"Yup, dia tuh emang gitu kalo sama anak baru. Tapi lama-lama dia baik kok. Aku seriusan! Awalnya begitu, tapi lama-lama aku dipanggil sama dia. Katanya dia minta maaf gitu dan minta cariin cewek berdarah indo. Hahaha ... Aku jadi ke ge-er-an jadinya. Tapi aku bukanlah targetnya," ungkap Hani, kembali menjelaskan.
"Ya, iyalah. Jelas banget tampang kek gitumah play boy cap kecoak!" timpal Viona Atmaja.
"Eh, dia ganteng, loh. Kamu gak tertarik gitu?" tanya Hani sambil menggoda.
"Ih, apaan, sih. Aku, tuh nggak suka sama orang yang belagu. Songongnya minta ampun. Dan aku belum boleh pacaran!" jawab Viona Atmaja menegaskan.
"Ya ampun, helo ... hari gini nggak punya cowok. Apa kata dunia, Sist?!"
"Hmmm ... Biarlah dunia berkata apa, yang penting aku masih bisa menjaga," jawab Viona Atmaja sambil tersenyum di balik cadarnya.
***
Gadis itu duduk di tepi jendela, memandang lautan lepas, angin begitu lembut menerpa pori.
Dia pun mulai menuliskan cerita tentang hari ini di buku diary.
[Ibu... kenapa belum ada kabar darimu, aku sudah berada di sini ibu.
Di kota yang penuh dengan hiruk pikuk manusia yang tampak bening dan menakjupkan, manusia-manusia glamor dan maniak style.
Ughh... aku terlalu kesal dan berlebihan. Semoga saja apa yang dibilang Hani adalah sebuah realita.]
"Sebaiknya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku butuh tenaga untuk menghadapi kenyataan untuk hari esok, lusa dan seterusnya." Viona Atmaja menutup buku berwarna ungu muda itu, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur empuk.
Perputaran waktu terasa lebih cepat baginya.
Pagi itu dia segera bangun dan bergegas ke dapur untuk memanasi air.
"Duhh! Setiap pagi aku harus memasak air. Aku gak sanggup mandi pakai air es. Brrrr.. dingin banget," celetuknya sambil menunggu air mendidih.
Selesai mandi, Viona Atmaja menggunakan baju yang dibelikan oleh ibunya.
Warna maroon adalah warna kesukaan wanita yang telah melahirkan gadis cantik itu, walau Viona Atmaja kurang menyukai warna ini. Namun, tetap dia memakainya.
"Nyaman banget, pasti baju ini harganya mahal?"
__ADS_1
Lalu Viona Atmaja memadukan dengan kerudung berwarna maroon dan niqob tetap warna hitam yang dia pilih. Kemudian barulah dia berangkat dengan menaiki kereta api jalur cepat.