Love In Korean Sky

Love In Korean Sky
Berada dalam Kebimbangan


__ADS_3

Viona meraih benda kotak persegi panjang itu. Di sana ada panggilan tak terjawab sebanyak delapan kali dari Sin Won.


"Benar-benar aneh anak ini. Nanti kalau ditelepon balik, malah gak diangkat," gumamnya sambil memeriksa baterai ponsel. "Bentar lagi ibu nelpon, nih. Biarkan saja orang aneh itu dengan kesenangannya sendiri," lanjutnya sambil melangkahkan kaki menuju meja yang terdapat di dekat tempat tidur.


Tidak berapa lama setelah Viona mengisi daya ponselnya sampai penuh, dia pun menekan nomor milik sang ibu. Dari seberang sana, ibunya pun merijek panggilan tersebut karena dia sendiri yang akan menghubungi putri cantiknya tersebut.


"Assalamualaikum, Ibu," sapa Viona terlebih dahulu.


"Waalaikumssalam, Sayang. Kamu udah makan?"


"Baru mau makan, Bu. Tapi, ntar aja deh. Belum laper," jawan Viona, disusul suara tawa kecil dari bibirnya nan sensual.


"Makan dulu, nanti ibu telpon lagi."


"Nanggung, Bu. Kita lanjut aja dulu. Makan bisa nanti-nanti, kok," sahut Viona dengan sopan.


"Nanti maag kamu kambuh, lho."


"Enggak Ibu, Sayang. Tadi sepulang ngampus udah nyemil roti empuk," jawab Viona.


"Roti empuk apaan, bakpao?"


"Iya, Bu. Bakpao isi selai cokelat."


"Oh, enak itu."


Percakapan ibu dan anak di antar negara itu berlangsung hampir satu jam. Banyak yang diceritakan oleh Viona pada ibunya, termasuk bagaimana perlakuan anak-anak di kampus. Dia menceritakan hal baik-baik saja, karena ketika menceritakan itu, Viona hanya mengarahkan pembicaraan tentang Baek Seung Joo, DKK.


"Syukurlah jika kamu sudah punya teman yang baik. Tapi, ini beneran, kan?" tanya sang ibu memastikan.


"Iya, Ibu Sayang. Mereka pada baik dan melindungi dalam keadaan apa pun juga."


"Baiklah, kalau begitu ibu balik kerja dulu. Nanti majikan ibu ngamuk kalau lama-lama ngumpet di kamar," ucap sang ibu.


"Iya, Bu. Ibu jaga kesehatan di sana, ya. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup," kata Viona sebelum sambungan telepon berakhir.


***


Keesokan harinya ....

__ADS_1


"Sin won. dateng juga kamu!" Baek seung berteriak ke Sin won dari kejauhan.


Viona melihat mereka semua sudah di sana, duduk di tempat masing-masing.


"Ya, iyalah. Mau sampai kapan aku cuti?" sahut Sin Won sambil melangkahkan kaki, mendekati tempat nongkrong.


Viona tersenyum ke arah mereka sambil melirik pintu ruangan yang di mana Baek seung joo sedang menghampiri Sin won.


"Kirain udah berhenti ngampus. Sampai-sampai kamu gak jawab telpon dari aku," kata Baek seung sambil memasang wajah ketus, pura-pura marah.


"Iya, kan kemarin aku dapat pesan singkat dati si Viona, Bro." Sin won berkata sambil mengambil tempat duduk di dekat Baek seung. "Aku kangen tau sama kamu, Baek," sambung Sin won sambil siap-siap memeluk sahabatnya itu, tetapi Baek seung langsung mengarahkan tanganknya untuk menolak.


"Heh, stop! Aku gak mau, mangnya aku cowok apa an, Sin," ujar Baek Seung Joo sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Hei. Dah pada lama?" sapa Hani yang tiba-tiba datang dari arah kantin.


"Emang apa urusan kamu?" jawab Sin won ketus.


"Iih, Oppa, kok gitu? Aku kangen tau?"


Gadis yang bernama Hani itu, tidak berubah sama sekali, sudah ditolak mentah-mentah masih saja lengket seperti perangko.


Dia bahkan tak tau malu demi bisa berdekatan dengan Baek seung dan kawan-kawan.


Viona memperhatikan lagi mimik wajah Sin won, ternyata memang ada perubahan ketika Baek seung menyapanya.


"Kalian kenapa, sih? Aku dari tadi di sini malah dicuekin. Viona malah kalian hampiri." Terdengar suara Hani penuh dengan kecemburuan.


“Kesambet apa an kamu, Hani. Tiba-tiba bersikap gak menentu begini," kata Baek seung pada Hani yang masih senyam-senyum tidak jelas.


Siang hari ini terasa sangat berbeda selama tiga pekan terakhir. Viona merasa bersalah dengan sikap dingin Sin won pada sahabatnya yang sudah dia anggap keluarga ini demi suatu hal yang bahkan sangat terlalu dekat.


Semua karena suatu kejadian pada siang itu. Siang hari yang di mana mereka mendengar kata-kata taaruf. Viona akui, dia jatuh cinta pada salah satu mereka. Mereka telah mengajarinya banyak hal, baik itu tentang perasaan di bully, dan akhirnya menjadi sedekat ini.


Hari-hari Viona lalui bersama mereka meski belum berpacaran karena memang tidak boleh berpacaran. Namun, mereka begitu baik, bahkan tidak bermaksud terlalu percara diri, Viona pun tahu mereka juga punya rasa yang sama untuknya.


Hingga pada suatu hari sebuah perkataan dari Baek seung padanya yang sangat membuat hatinya berbunga-bunga, itu justru menyakitkan buat Sin won.


"Maafkan aku. Bukan maksud hati untuk merusak suasana hati kalian. Tapi ini lah hatiku, hatiku yang tak akan pernah kalian tau," batin Viona berbisik.

__ADS_1


"Aku tau!" Tiba-tiba saja Baek seung berucap, dia mampu membuyarkan lamunan sang gadis.


"Maksud kamu?" tanya Viona dengan perasaan tidak enak. Ya, bagaimana tak enak, dia lagi bicara dalam hati, tiba-tiba saja Baek Seung Joo menjawab begitu.


"Nggak. Aku cuma lagi ngomong sendiri aja, kok," jawab Baek seung dengan menyajikan senyumannya yang membuat mata Viona berhenti berkedip.


Sesekali Viona melirik lagi ke arah Sin won, dia melihat lelaki itu masih terdiam, pandangan matanya entah menerawang ke mana. Viona mengalihkan pandangan pada Hani, ternyata Hani dari tadi melotot ke arahnya.


Seandainya saja Hani tahu, dia tidak perlu membenci Viona seperti ini. Karena Viona sendiri tidak pernah merayu empat mahasiswa terpopuler itu.


***


Selesai salat Magrib, Viona berniat untuk melengkapi revisi tugas dari dosen yang belum selesai. Baru saja membuka laptopnya, dia mendengar bunyi notifikasi pesan masuk.


Ternyata dari Sin won.


"Selamat malam Viona."


"Malam juga Sin won."


"Boleh nanya sesuatu gak?"


"Iya, silakan Sin Won," balas Viona cepat.


"Ah, gak jadi deh, besok aja."


Seperti itu lah, Viona dan Sin won chatting sampai jawaban terakhir yang kaku dan tak berujung.


Malam berganti lagi dengan pagi.


Pagi ini Viona dikejutkan oleh panggilan telepon dari Baek seung. Agak kaget kenapa Baek seung sepagi ini meneleponnya. Setahu Viona, dia paling susah bangun di antara semua sahabatnya.


"Good morning, Vio. Udah bangun, kan?"


Viona berdehem beberapa kali, lalu menjawab, "Iya. Ada apa sih, kok nelpon pagi-pagi begini?"


"Viona, nanti aku jemput kamu pas berangkat ngampus, ya?"


"Gak usah, Baek Seung. Terima kasih," jawab Viona dan segera berpamitan untuk siap-siap.

__ADS_1


Baek Seung Joo memutuskan sambungan telepon dari seberang sana tanpa menjawab salam. Sementara Viona, melanjutkan beberes kamar, dan buku-buku yang belum sempat dia bereskan tadi malam.


Sebenarnya, perasaan Viona saat ini tidak karuan. Tadi malam Sin won chat dia, dan sepagi ini Baek seung meneleponnya. Meskipun Viona berada dalam kebingungan, tapi dia harus memastikan satu per satu, apa yang sebenarnya yang mereka inginkan.


__ADS_2