Love In Korean Sky

Love In Korean Sky
Ta'aruf, yuk!


__ADS_3

Pesan singkat dari Radit membuat Viona kembali terusik. Sudah lama tiada kabar, kini dia mengirimkan pesan dengan bertanya keadaan si gadis cantik bercadar itu.


Radit memanglah pria pertama yang dekat dengannya di Indonesia, dan Radit lelaki baik-baik yang selalu menjaga kehormatan Viona.


"Assalamu'alaikum Vio, gimana kabarmu di sana?" Tulis Radit.


Lama tidak Viona tidak membalas pesan tersebut karena dia tidak mau memberikan angin atau pun harapan. Dia telah berjanji dalam hati, jika suatu saat nanti dia pulang ke tanah air, barulah akan jawab pertanyaannya.


Akan tetapi, menjawab pesan singkat seperti ini tidak ada salahnyakan?


Akhirnya Viona memutuskan untuk membalas dengan pesan yang sangat singkat. "Baik," balasnya.


Tidak ada lagi balasan dari Radit, mungkin dia mengira Viona sudah sombong atau apalah.


"Yang penting sudahku balas," gumam Viona pelan.


Kemudian dia meletakkan benda kotak persegi panjang itu ke atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Udara di luar pun mulai terasa dingin menusuk tulang, perlahan merayap ke dalam ruangan.


"Ih, dingin banget," ucap Viona sambil menarik selimut tebal hingga ke lehernya.


***


Sudah beberapa pekan libur semester, kini Viona kembali lagi ke kampus.


Ada rasa rindu ingin melihat senyuman seseorang. Akan tetapi, tetap dia tepis dan di simpan sedalam-dalamnya.


"Aku ini siapa? Aku tidak pantas dan tak akan pernah bisa bersama sampai akhir waktu menentukan," gumam Viona lirih.


Baek Seung joo. Iya, Viona terus saja mengingatnya. Begitu juga dengannya, Baek seung pernah waktu itu ingin mengajak Viona untuk bertemu dan bicara hanya berdua.


Akan tetapi, itu mungkin hanya perasaan Viona saja.


"Ah, hati ini selalu saja mengada-ngada."


Pelajaran pertama pun usai, Viona berjalan menuju taman belakang. Namun, tiba-tiba Hani menarik tangannya.


"Aku mau memperingati kamu ya, Viona! Jangan pernah dekat-dekat dengan Baek seung, dan kawan-kawanya. Kamu itu bukan tipe mereka!" tegas Hani memperingati.


"Maksud kamu apa sih, Hani?" tanya Viona tak mengerti.

__ADS_1


"Alah, jangan belagak bego deh. Kamu gak usah pura-pura polos. Padahal diam-diam kamu mencoba merayu mereka, kan?" tuduh Hani.


"Astagfirullah, aku gak pernah terpikir untuk merayu mereka. Hanya saja mereka mungkin sudah capek membully aku," jawab Viona mencoba membela dirinya.


"Aku gak mau tau! Pokoknya aku udah memperingati kamu. Jika kamu langgar .... kreeegh!" Hani mengancam Viona sambil meletakkan jari di lehernya.


Mungkin jika Viona melanggar, Hani akan menggorok leher Viona, kali ya?


"Hey, kalian lagi ngomongin apa?" Tiba-tiba Baek seung, Dkk datang menghampiri.


"Halo, Oppa, aku lagi nemenin Viona," jawab Hani sok imut.


"Owh, kamu gak lagi ngancam Vio, kan?" tanya Sin won sambil memerhatikan wajah Hani.


"Eh, ngancam apa, nih?" jawab Hani pura-pura bertanya lagi.


"Awas, ya!" jawab Sin won sambil mengacungkan jarinya ke arah wajah Hani.


"Permisi, aku pamit masuk kelas." Viona berkata, lalu pergi begitu saja.


"Viona, tunggu!" Baek seung mencegat langkah kaki sang gadis.


Kemudian Baek seung mendekatinya dan berbisik, "Ntar pulang ngampus, kita ke pantai, yuk!"


"Maaf Baek, aku tidak boleh berpergian dengan pria yang bukan siapa-siapaku. Sekali lagi maafkan," ucap Viona pelan.


"Emm, ya udah. Kalau gitu, boleh gak aku datang ke apartemen kamu?" tanya Baek Seung meminta hal lain.


"Hehehe ... itu tambah gak boleh," jawab Viona.


"Kalau gitu, kita taaruf, yuk!"


Serempak Hani, Sin won, dan dua temannya terdiam sambil memelototkan kedua belah bola mata mereka. Tiba-tiba saja Sin won pergi meninggalkan suasana yang cukup membuat Viona dan Baek Seung terpana seketika.


Ada apa dengan Sin won?


***


Setelah pengakuan Baek seung hari itu, entah dia bercanda entah serius. Akan tetapi, itu cukup membuat hati Viona ke ge-er-an. Dan anehnya lagi, Sin won tidak terlihat batang hidungnya sudah beberapa hari kemudian.

__ADS_1


"Maaf Baek, apakah Sin won sakit?" tanya Viona penasaran.


"Nggak, tuh. Emangnya kenapa, kamu kangen, ya?" Baek seung menggoda Viona.


"Bukan begitu, Baek Seung, soalnya dia tidak ngampus beberapa hari ini. Makanya aku tanyakan," jawab Viona jujur.


"Aku kurang tau juga, Vio. Aku tanyain dia gak jawab. Telepon dari aku pun, gak pernah dia angkat."


Sungguh sikap Sin won berhasil membuat Viona kebingungan. Pernah dia miscall, tapi Sin Won langsung cancel panggilan tersebut. Sin Won pun juga sempat mengirimkan pesan singkat, tetapi belum juga dibalas oleh Viona. Lalu, pesan itu pun ditarik lagi.


Sebenarnya Viona tidak mau mengira-ngira, tapi sejak Baek seung mengatakan taaruf, Sin Won langsung berubah drastis.


"Mungkin kah ... Sin won? Ah, aku beneran gak akan menebak kali ini.


Semoga wajahku yang pernah mereka lihat tidak menjadi fitnah untukku.


Aku tak ingin menjadi bahan rebutan dan menghancurkan persahabatan mereka.


Sekali lagi aku tidak akan mengira-ngira, namun hatiku ini sudah main tebak-tebakan.


Oh Tuhan, jagalah aku ...."


***


Kemudian Viona kembali ke stasiun kereta api bawah tanah, setelah jam kuliah berakhir. Dia memutuskan untuk segera cepat sampai di rumah karena sang ibu sudah berjanji akan menghubunginya hari ini. Tentu saja Viona sangat bahagia, sebab sudah cukup lama dia tidak mengobrol dengan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


Kereta cepat itu melaju dengan pesat, setelah para penumpang naik. Tidak sampai lima menit, Viona pun sudah turun kembali. Dia naik mobil angkutan umum menuju ke kediamannya.


Sesampainya di halaman apartemen, ponsel Viona pun berdering. Dia mengira itu ibunya yang menghubungi, ternyata di layar benda kotak persegi panjang itu, terpampang nama Sin Won. Dengan ragu-ragu Viona mengarahkan jempol untuk memencet tombol berlogo hijau tersebut, tetapi belum sempat tersambung, Sin Won kembali membatalkan panggilannya.


"Haduh. Ini anak apa, sih, maksudnya?" tanya Viona pada dirinya sendiri.


Kemudian, Viona melangkahkan kaki menuju pintu kamarnya. Lalu, setelah memutar gagang berwarna silver itu, dia pun masuk ke dalam sambil membaca sesuatu.


"Huft! Hari ink cukup melelahkan juga," gumamnya sambil membuka kerudung dan kain penutup wajah cantiknya. "Aku salat dulu, habis itu makan."


Viona berlalu dari ruangan tamu yang hanya berukuran kecil, menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Setelah selesai, Viona pun meraih mukena, dan mengerjakan kewajiban salat lima waktu. Di saat salat, ponselnya kembali berdering sampai beberapa kali. Namun, Viona abaikan karena dia tengah asyik membaca bacaan salat tersebut.

__ADS_1


"Itu pasti Ibu," ucap Viona setelah melipat mukena dan mengembalikan ke tempat semula.


__ADS_2