Love In Korean Sky

Love In Korean Sky
Diculik


__ADS_3

"Kamu?"


"Iya, aku tak sengaja lewat dan melihat kejadian barusan. Maaf, aku harus cepat-cepat ke stasiun," sahutnya dan bergegas meninggalkan Baek seung joo yang masih terlihat canggung dan planga- plongo.


"Viona, tunggu!"


Namun, gadis itu tidak lagi menggubris panggilannya, karena dia harus bergegas pergi.


"Nanti aku malah di-bully lagi. Lebih baik aku cari aman saja."


***


Ting!


Notifikasi SMS berbunyi.


Nomor tidak dikenal.


[Viona, tolong kamu rahasiakan kejadian yang kemaren]


"Owh, berarti ini nomor Baek seung joo, dari mana dia dapat nomorku?"


Lalu Viona Atmaja membalas.


[Iya, aku juga tidak mau ada yang tau. Nanti bisa-bisa aku dikatain teman-temanmu Pendekar gurun lagi.]


Ting!


[Iya, terima kasih, ya. Kalau kamu nggak datang, mungkin hari ini aku berada di rumah sakit atau di kuburan.]


[Semuanya kehendak Sang Pencipta, aku datang karena ada dorongan dari Allah yang menciptakanku.]


Tidak ada balasan lagi, mungkin dia merasa diceramahi oleh gadis itu.


"Ya sudahlah, lebih baik aku tidur agar tidak terlambat lagi esok hari."


***


Suara riuh renyah menggema di tiap sudut ruang. Setiap Viona Atmaja memasuki kampus itu, pasti terasa bau-bau drama Korea olehnya. Mungkin empat sekawan itu memang suka meniru pemain drama yang sedang boming di masanya. Dan lucunya lagi, gadis-gadis di kampus itu memang persis seperti figuran di drama-drama Korea. Mereka menggila ketika Baek seung joo, Dkk, hadir lagi menyapa pagi dengan berbagai tingkah mereka.


Viona Atmaja pun tersenyum kecut, memanglah hidupnya saat ini terasa berada di sebuah drama yang tayang di chanel-chanel TV swasta.


Gadis berparas canti di balik cadar, menyingkir dari kerumunan dan memilih menyendiri di sebuah bangku, tepat berada di depan kelasnya.


Dia membuka tas dan merogoh buku kecil yang selalu dibawa kemana pun juga.


Dibukanya lembar demi lembar, lalu mulai membaca kata per kata.


Iya, buku itu berisi tentang doa-doa ringan yang selalu dihafal, tapi cukup membuat hatinya terasa damai dan lapang.

__ADS_1


"Untung saja mereka tidak memperhatikanku, jadi aku terbebas dari bully-an yang menyesakkan kalbuku ini.


Untuk saat ini, tapi nanti entahlah," ucapnya sambil mengelus-elus dada.


Bel tanda masuk kelas pun berbunyi, dia metutup lagi buku itu. Dan berjalan sedikit tergesa agar bisa masuk kelas dengan tepat waktu.


"Good morning!" sapa Miss Ellena


"Morniiiing ... Miss!" jawab mereka serempak.


"Oke, akhir pekan kita akan mengisi mata kuliah dengan bersosialisasi antara teman-teman dan masyarakat setempat. Setiap mahasiswa/wi akan mencatat hasil dari kesan dan pesan yang dijumpai di setiap kejadian. Kita namai dengan, Hagsaengdeul-ege chinmilgam-eul joseonghaneun haengsa. Paham?" tanya Miss Ellena.


"Excuse me, Miss!"


"Yup, Viona. Ada apa?"


"Apakah ini diwajibkan semuanya ikut?"


"Iya, karena ini adalah penting untuk menilai seberapa pedulinya kita terhadap orang lain. Kita start pagi berkumpul di halaman kampus dan berkumpul lagi jam sepuluh malam di halaman kampus untuk membuat acara penutupan. Mengerti?"


Sorak sorai terdenger lagi, betapa senangnya hati mereka. Akan tetapi tidak dengan Viona Atmaja, dia malah merasakan gusar dan bingung. Bukan tidak senang berbaur dan mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh m


miss Ellena. Namun, dia takut lama-lama berada di luar rumah, dia takut mendapatkan siksa fisik dan batinnya dari Baek seung, Dkk.


Jika Viona Atmaja melawan, sebenarnya dia mampu. Akan tetapi dia memikirkan beasiswanya. Mereka asli penduduk sini. Dan kampus ini juga milik orang tuanya Sin won. Jika dia lawan, yang ada reputasinya yang akan dihancurkan oleh mereka.


"Hei, Viona! Kamu, kok, bengong aja?" Hani menepuk pundaknya.


"Kenapa, kamu takut, ya?" tanya Hani dengan nada yang kurang bersahabat.


"Hehehe... nggak Hani. Aku udah biasa, kok," jawab Viona Atmaja sambil menyengir.


"Ya udah, kamu jangan sampai nggak datang besok, ya."


"Insyaa Allah, aku datang," sahutnya pelan.


***


[Bu, besok aku ada acara dari pagi sampai malam. Aku takut bu.]


Kling!


Balasan Wa dari sang ibu langsung masuk.


[Bismillah aja, Nak, jaga diri baik-baik. Jika ada yang ingin melukaimu, gunakan saja ilmu beladir kamu.]


[Hihihi... Ibu bisa aja. Ya udah Bu, aku tidur dulu. Selamat rehat, Bu.]


balasnya.

__ADS_1


Sang ibu pun membalas dengan emoticon love. Viona Atmaja menarik garis di sudut bibirnya sebelum meletakkan ponsel dan mengatur alarm. Dia merebahkan tubuh ke kasur empuk itu, kemudian merapalkan doa-doa pendek sebelum kedua matanya terpejam.


-


Alarm pukul 03.30 berdering memekakkan gendang telinga.


Viona Atmaja bersiap-siap untuk salat malam, selesai salat dibukanya lagi kitap suci.


Disambung lagi dengan membaca surah Al-mulk.


Selang beberapa menit, dia bergegas ke dapur untuk memanasi air untuk mandi.


Tepat pukul enam semuanya rampung, saatnya memilih dan memilah kostum yang cocok dikenakan untuk ke kampus hari ini. Gamis berwarna putih dan cadar tali berwarna putih, itu adalah kado dari Radit.


Radit yang pernah menaruh hati padanya sejak lulus dari SMP.


Namun dia sadar, dia tidak boleh pacaran. Walau tidak punya ilmu agama yang melimpah, tapi sedapat mungkin dirinya ingin menghindari pupuk yang akan menyuburkan dosa-dosanya.


Viona Atmaja terpaksa menerima kado itu, karena Radit meninggalkan di depan pintu rumah kontrakan di tanah air.


"Dari pada dibuang, kan mubazir?" ujarnya kala itu.


Sekelebat bayangan Radit menari dipelupuk mata.


"Sudahlah, semuanya telah berlalu.


Kini Radit jauh di sana, jika jodoh pasti akan dipertemukan lagi."


***


Semuanya telah berkumpul di halaman kampus. Baek seung joo, Dkk, berdiri di samping Miss Ellena. Sepertinya mereka yang akan menentukan tempat-tempat yang akan dikunjungi.


Setelah selesai mendengarkan pengarahan, rombongan datang ke panti jompo. Itu adalah target pertama.


Selesai bersosialisasi di panti jompo, para mahasiswa melanjukan ke tempat anak-anak yang sudah tidak punya orang tua lagi.


Menangis hatinya, saat menggendong bayi kecil mungil nan lucu.


"Kasian sekali, bayi ini dikabarkan di buang oleh ibunya."


Waktu sudah memasuki salat Zuhur, Viona Atmaja berpamitan pada Miss Ellena untuk mencari masjid terdekat.


"Alhamdulillah, tidak butuh waktu lama. Aku menemukan masjid kecil tapi terawat, dekat panti asuhan ini.


Mungkin di sini banyak juga orang muslimnya," ucap Viona Atmaja sambil tersenyum.


Kemudian dia mengayunkan langkah kaki dengan menyebut asma Allah di tiap helaan napasnya. Mensyukuri karena dia sudah mulai merasa tenang bertemu dengan waktu berkeluh kesah pada Sang Pencipta.


Selesai wudu dia berjalan memasuki masjid tersebut. Di dalam dia disapa oleh beberapa wanita yang tengah mengenakan pakaian lengkap untuk menghadap.

__ADS_1


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pria. Pria berparas tampan yang sangat dia kenali. Heran? Tentu saja. Hingga sesaat tubuhnya terasa membeku, memandang tanpa mengedipkan mata.


__ADS_2