
"What? Itu Baek seung. Dia muslim? Astaga, aku baru tahu." Viona beneran kaget sungguh benar benar kaget menyaksikan fakta hari ini.
Selesai salat Zuhur, ternyata Baek seung sudah meninggalkan tempat.
Telepon genggam Viona berdering, tanda panggilan masuk dari Miss Ellena.
Viona buru-buru melipat mukenanya, dan menyusul rombongan yang hendak akan berangkat ke tempat tujuan yang lain.
Setela keluar dari musala tempat Viona mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslimah, dia pun melangkahkan jenjangnya dengan anggun. Tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, bibirnya pun tidak henti berzikir untuk mengisi kekosongan di dalam hati.
Namun, tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya.
Orang itu langsung mengikat scraf menutup kedua bola matanya.
Viona ketakutan, sampai menggigil karena saat ini dia tidak tahu apakah itu sebuah permainan atau apa.
Siapa mereka?
Viona pun diseret paksa memasuki sebuah mobil. Hendak melawan atau berteriak, mulutnya pun dibekap menggunakan kain.
Kenapa tidak melawan? Bukankah Viona pintar ilmu bela diri?
Kembali pada pikiran yang belum yakin. Apakah itu berbentuk sebuah permainan atau apa. Sebab, suara salah satu pria sangat familiar di gendang telinganya.
Dalam hitungan lebih kurang dua puluh menit, mobil diberhentikan. Mereka menyeret Viona ke dalam sebuah ruangan.
Sesampai di dalam, seseorang membuka ikatan di matanya.
"Ya Allah." Viona tercengang karena ternyata Sin won dan dua orang temannya yang melakukan hal tersebut pada dirinya.
Akan tetapi, Viona mencoba berpikiran positif. Dia masih mengira kalau ini hanyalah sebuh permainan di luar tugas kampus.
Ketiga mahasiswa nakal itu tertawa terbahak-bahak sambil menyorot mata Viona dengan telepon genggam milik Sin won.
"Hey Bekicot! Hari ini kita akan bersenang-senang. Kamu akan merasakan sesuatu yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup," ujar Sin Won, masih dengan tawa khasnya.
"Lepaskan aku, Aku mohon jangan ganggu aku," pinta Viona sambil meronta dan berusaha melepaskan ikatan yang ada di kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku penasaran melihat muka kamu yang ditutup-tutup pakai serbet ini. Kamu cantik kah, atau jangan-jangan kamu buruk rupa. Hahahah."
Lagi, Sin Won tertawa terbahak-bahak. Seperti mendapatkan permainan baru, yang sangat lucu, dan menantang menurutnya.
Salah satu teman Sin won mendekati Viona, dengan kasar dia merobek lengan baju sang gadis. Kemudian dia mulai menyentak kain yang menutup perut Viona.
"Habislah aku hari ini. Oh Tuhan tolong aku," gumam Viona, mulai menyadari kalau ini bukanlah permainan, melainkan penculikan.
"Hey, kamu ngapain buru-buru buka bajunya? Itu yang nutupi mukanya tolong dibuka dulu!" teriak Sin won pada salah satu temannya.
Dengan kasar dia menyentak cadar Viona. Lalu, Viona langsung menundukkan wajah, berusaha menutupinya.
Sejenak mereka terdiam dan saling bertukar pandangan satu sama yang lainnya, sampai Sin won membuka suara.
"Oh my goot, cheonsa!" seru Sin Won, mengatakan bidadari dalam bahasa di negeri K-pop tersebut.
Viona masih menunduk, dia tidak mampu mengangkat wajah walau sebenarnya dia ingin marah dan berteriak pada ketiga mahasiswa nakal itu. Semenjak Viona menutupi wajahnya, belum pernah ada orang lain melihat wajahnya apalagi kaum pria.
Buliran bening mulai jatuh satu per satu dari kedua mata indahnya, sampai Viona menangis sejadi-jadinya. Akankah dia berakhir hari ini? Kenapa mereka setega ini pada gadis baik seperti Viona.
Sin won mengambil telepon genggamnya dan melakukan panggilan via video call.
Ternyata dia menghubungi Baek seung joo.
Kening Baek seung terlihat mengerinyit, lalu bertanya pada Sin won, "Itu siapa, Bro?"
"Kamu nggak kenal ya? Itu wanita gurun tau. Eh salah, ini bidadari gurun, Bro!" sahut Sin Won dengan nada suara bersemangat.
"Posisi kalian di mana?" tanya Baek seung.
"Kami lagi di tempat perkumpulan kita!" jawab Sin Won
"Oke, aku nyusul. Kalian jangan apa-apakan dia sebelum aku datang!" Terdengar suara Baek seung dari dalam ponsel milik Sin won.
"Aku sudah menolong dia beberapa hari yang lalu, tapi mengapa dia tidak tau balas budi?" Batin Viona berkata, berkecamuk rasa tak iklas.
Dia mengira akan mati hari ini, kalau sampai mereka menodainya. Karena Viona akan pergi untuk selama-lamanya, jika itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
"Allah ... datangkanlah keajaiban-Mu," bisik Viona dalam hati.
Berselang beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki seseorang. Ya, itu Baek seung yang akan membuka pertahanan terakhir, yang ada dalam pikiran Viona. Karena dia adalah ketua geng dari mereka bertiga.
Sungguh, Viona tak akan pernah iklas jika sesuatu akan terjadi pada dirinya hari ini.
"Aku akan menghantui mereka dan mencekik mereka setelah kematianku."
Batin Viona semakin menggila, berkecamuk, dan pikiran yang bertahta di otaknya tidak bisa disingkronkan lagi.
Yang dia bayangkan hanyalah kematiannya setelah kejadian ini.
"Terkutuklah kalian manusia laknat!"
***
Sementara di tempat lain, para mahasiswa sudah mulai berkumpul untuk membicarakan hasil yang mereka kerjakan hari ini. Hanya Viona dan yang lainnya tidak berada di lokasi tersebut. Tentu saja karena Viona saat ini sedang bertarung melawan rasa takut dan rasa benci yang menggeliat di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Viona mana?" tanya Miss Ellena pada Sun Bong.
Gadis berhati jahat itu mengedikan kedua bahunya. Lalu berkata, "Kali aja dia tersesat. Kan, dia bukan penduduk lokal. Biarkan saja, Miss. Nanti juga bakalan dianterin polisi setempat. Dia udah besar pun, ngapain dipikirkan."
"Kamu jangan begitu, Sun Bong. Walau bagaimana pun, Viona adalah salah satu mahasiswi yang baik dan berprestasi. Aku sebagai dosen pemandu kalian, juga harus bertanggung jawab," ucap Miss Ellena, menunjukkan wajah kurang suka pada Sun Bong.
"Ini sudah hampir sore, Miss. Masa mau nunggu dia datang?"
"Kita cari dengan cara berpencar," jawab Miss Ellena.
"Ck! Merepotkan saja," celetuk Sun Bong.
"Jika kamu tidak ingin ikut, silakan pulang saja," kata Miss Ellena. "Siapa yang ingin bersukarela membantu mencari Viona," lanjutnya sambil menoleh ke kiri dan kanan.
Akan tetapi, para mahasiswa tidak ada yang menjawab. Bahkan, menatap wajah si dosen pembimbing saja tidak mereka lakukan sama sekali. Jelas saja, itu tandanya tidak ada yang akan ikut mencari gadis cantik dari Indonesia tersebut.
"Hani?" Miss Ellena menegur Hani karena dia tahu kalau gadis itu juga berasal dari negara yang sama dengan Viona.
"Tapi ... ini sudah sore, Miss. Aku harus cepat-cepat tiba di rumah. Kalau tidak, orang tuaku pasti akan nyinyir menganggap aku kelayapan setelah pulang dari kampus," sahut Hani beralasan.
__ADS_1
"Kamu kan bisa mengatakan sejujurnya. Lagian, ini adalah tugas mulia. Apalagi Viona juga sahabat kamu," kata Miss Ellena berusaha membujuk Hani.