
Sesampai di gerbang kampus, Viona Atmaja melirik ke sana kemari. Dia ingin memastikan tidak ada lemparan telur atau tepung yang diadon paki air dan merica.
"Awas aja kalau mereka macem-macem lagi. Aku nggak akan diam. Akan kubalas perbuatan mereka!" rutuknya.
Viona Atmaja melangkahkan kakinya perlahan-lahan.
"Bismillah ...."
Tiba-tiba saja, Kakinya menyandung seutas tali.
Gedebuuk!
Viona Atmaja tersungkur. Akan tetapi, dia beruntung tidak ada sesuatu yang membuat bajunya kotor. Namun, sorak sorai dan suara tawa mereka membuatnya malu.
"Ya Allah." Dia membatin.
Tak sengaja Viona Atmaja menangkap sekilas, Hani tersenyum sinis.
"Apa, sih, maksudnya? Aku merasa bingung dengan sikap Hani. Kemaren dia begitu terlihat baik dan ingin berteman.
Tapi, Ini mungkin hanya perasaanku saja."
Segera dia menepis pra sangka buruk di hati. Akan tetapi, perasaannya makin tidak enak.
Ingin rasanya dia melawan, tetapi ternyata dia tidak mampu.
Gadis itu begitu lemah menghadapi kenyataan itu. Walau ilmu silat telah dia kuasai sampai mendapatkan sabuk hitam.
"Orang-orang seperti ini tidak akan bisa dilawan dengan silat, mungkin aku hanya butuh kesabaran aja."
Viona Atmaja mencoba menyemangati diri sendiri, terpaksa karena tak tahu harus berbuat apa. Apalagi dia di negeri itu sendirian. Orang yang dia anggap sebagai teman barunya, ternyata ....
"Ah sudahlah, ini mungkin hanya perasaanku saja."
"Hey, saekki dwaeji!" Terdengar lagi teriakan itu.
"Hah, dia memanggilku dengan sebutan 'Anak ba**'? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
Sebentar lagi kelas dimulai, Tapi mereka menggangguku lagi.
Aku harus cepat-cepat berjalan, kapan perlu aku harus lari menghindari mereka."
Viona Atmaja pun mencoba berlari, tetapi nasib buruk lagi-lagi menghampirinya.
Kini malah tiga teman Baek seung joo yang memegangnya.
"Tidak, mereka menyentuhku.
Habislah aku hari ini, aku akan benar-benar mati perlahan di tangan mereka."
__ADS_1
Tubuh Viona Atmaja menggigil karena ketakutan. Dia belum pernah disentuh oleh pria. Akan tetapi berandalan kampus itu dengan santainya memegang dia.
"Ibu, tolong aku ... buu ...!" Hanya berkata dalam hati, lagi dan lagi.
Kelopak matanya mulai memanas, perlahan menggenang dan mengalir deras membasahi kain penutup wajahnya.
Sin won salah satu teman Baek seung yang bertubuh kekar itu, mulai merabanya.
Tak tahan, akhirnya Viona Atmaja menangis menumpahkah air mata sepuasnya, dan berteriak sekuat tenaga.
"Ya Allah, Tolong akuuu!"
"Sin won, hentikan!"
Akhirnya pertolongan datang juga, guru cantik yang bernama Ellena bekewarganegaraan Eropa, muncul dari gerbang kampus.
Untunglah Miss Ellena datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, Mungkin Viona Atmaja sudah digerayangi habis-habisan oleh Sin won si berandalan itu yang suka mempermainkan mahasiswi di kampus.
Viona Atmaja mengutuk dalam hati. "semoga saja manusia-manusia ini diberi balasan yang setimpal."
Miss Ellena memberikan sebuah botol berisi minuman dingin, tentu ada label halalnya.
Karena Miss Ellena termasuk guru yang punya toleransi yang begitu tinggi terhadap orang lain.
Meski dia bukanlah menganut kepercayaan seperti muridnya itu. Akan tetapi sangat disukai dan disegani oleh mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu.
"Tidak apa-apa, Bu, terima kasih banyak atas bantuannya. Untunglah Bu Ellena datang," jawab Viona Atmaja dengan santun.
"Sama-sama. Jangan sungkan untuk meminta pertolongan. Cobalah bergaul dengan teman-teman yang dirasa cocok untuk kamu. Karena, selagi kamu sendirian, anak-anak itu akan terus mengganggumu," saran Miss Ellena.
"Baik, Bu. Aku akan berusaha," jawab gadis cantik itu, sambil menganggukan kepala.
"Tidak usah berlebihan, dari matamu aku bisa melihat senyuman. Jadi, tidak usah mengangguk ataupun membungkuk seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang di sini." Miss Ellena tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan pundak Viona Atmaja.
Perbincangan singkat, tetapi sangat berarti bagi Viona Atmaja. Miss Ellena sudah membantunya.
"Suatu saat nanti aku akan balas perbuatan baik wanita ini," bisiknya dalam hati." "Semoga saja Miss Ellena tidak berubah seperti Hani. Mungkin aku hanya berburuk sangka, ya, aku cuma menerka-nerka saja. Tidak mungkin Hani mempermainkan aku," sambungnya mencelos.
***
Jam 21.05 waktu Korea, benda kotak persegi panjang berdering nyaring.
Ternyata sang ibu akhirnya menelepon juga.
Viona Atmaja bercerita panjang lebar, dia mencurahkan rasa rindu lewat suara yang mengudara. Cerita bully-an dan perlakuan orang di kampus terhadapnya, tidak lupa disampaikan juga.
"Viona, Ingat jangan dengarkan mereka yang senang mengejekmu, karena sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa," ucap sang ibu.
"Baik, Bu …," jawab Viona Atmaja dengan senyum tipis dari bibirnya, yang tidak bisa dilihat oleh ibunya.
__ADS_1
Setelah mengobrol cukup lama, sang ibu menutup teleponnya. Suara wanita di seberang sana terdengar serak.
"Apakah ibu menangis?" Viona Atmaja membatin.
***
Setiap pagi sebelum berangkat ke kampus, Viona Atmaja selalu berdo'a minta perlindungan.
Hati dan bibirnya itu tidak berhenti berdzikir.
Sesampainya di kampus, Viona Atmaja langsung disambut lagi dengan ejekan dari teman-temannya. Akan tetapi, yang paling sering adalah Baek seung joo dan Sin won. Kalau park kang dan Sun hwe, mereka hanya menjadi tim hore saja.
"Hey! Teman-teman, Orang aneh udah datang lagi nih!" ujar Baek seung.
"Kalau aku, sih, malu banget jadi orang aneh," sahut Sin won, menimpali.
Viona Atmaja tidak menghiraukan ucapan itu, dia terus melangkahkan kaki dengan diam membisu dan diiringi tatapan sinis dari mereka disepanjang perjalanannya menuju ke ruang kelas.
"Viona yang sabar, ya, dan tetap ingat nasihat ibu," batinnya menyemangati diri sendiri.
Namun, dia bersyukur karena hari ini dia tidak mendapatkan kekerasan fisik.
Miss Ellena tidak tampak juga batang hidungnya.
"Kemanakah Miss Ellena, apakah dia sedang tidak sehat?"
Viona Atmaja mencoba menghubungi nomor teleponnya, ternyata Miss Ellena sedang melakukan perjalanan study banding.
"Cepat balik, ya, Bu, semoga perjalanannya menyenangkan,"
Kembali ditutupnya panggilan lewat telepon dan mengakhiri pembicaraan yang singkat dengan Miss Ellena.
Tak banyak yang bisa dia perbuat di sini, sepulang dari kampus, Viona Atmaja langsung balik ke apartemen yang sangat sederhana, tetapi dia sangat suka karena jendelanya menghadap laut. Hanya itulah yang mampu dia sewa. Uang kiriman dari ibunya, ditabung dan dipergunakan untuk membeli kebutuhan yang mendesak.
***
Matahari kembali mengintip di balik awan, ini menandakan hari sudah pagi lagi. Viona Atmaja tetap mengerjakan tugas rutin sebelum berangkat ke kampus.
Apalagi kalau tak merebus air.
Sambil menunggu air mendidih, dia membuka lagi catatan untuk pelajaran hari ini.
"Bismillah ...."
Viona Atmaja berangkat lagi naik kereta cepat bawah tanah.
Sepertinya hari itu dia terlambat. Karena sewaktu menuju statiun, dia membantu seorang ibu-ibu mengangkat barang dagangannya.
Dia kembali mendapat hukuman. Hukumannya hari itu sangat membuatnya benar-benar ingin lari pulang dan berkemas menuju tanah air. Akan tetapi, mengingat cita-cita yang diimpikan agar terwujudkan, dia tetap bertahan.
__ADS_1