
Mereka tertawa terbahak bahak dan mereka juga memanggil anak-anak lain untuk menyaksikan kebodohan yang sedang berlangsung.
Viona Atmaja melihat Hani juga datang sebentar, lalu kemudian dia pergi.
"Biarlah sementara aku begini, dari pada mereka menggerayangiku," ucapnya lirih dalam hati.
"Hahaha, mampus!" kata seseorang yang sedang berkumpul di barisan Baek seung, Dkk.
Sungguh menyedikan sekali, bahkan gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berusaha menahan air mata, tetapi apalah daya, air mata itu terus saja mengucur deras, membasahi kain penutup wajahnya.
"Kemaren aku disiksa, sekarang dipermalukan, besok apalagi?" batinnya lagi, merasa tak berguna.
Pagi bertemu malam dan malam pun bertemu pagi.
Waktu pagi adalah waktu yang sangat perlu disyukuri. Bisa melihat mentari, dan Viona Atmaja masih diberi napas kehidupan yang sejatinya adalah nikmat terbesar yang diberi oleh yang Maha Kuasa.
Nikmat untuk merangkai perjalanan, nikmat untuk menuntut ilmu dan terus beribadah dengan cara apa pun dan di kondisi bagaimanapun.
Dia tidak ingin menyerah dengan perlakuan atau hinaan yang dia terima setiap hari di tempat yang di mana dia belajar dan mengasah ilmu duniawi, meraih cita-citanya sebagai dosen yang diimpikan.
Pagi itu dia berjalan santai menuju gerbang. Seperti mencari uang receh yang tercecer di halam kampus, Viona Atmaja terus menunduk dan tak ingin rasanya dia menoleh kesiapapun dan bertemu dengan siapa pun.
Namun, lagi-lagi ada sentakan tangan kekar menarik ujung kerudungnya.
"Oh Tuhan, kuatkan hati ini," ucapnya membatin.
Viona Atmaja diam tak mengeluarkan sedikit pun, suara dari mulutnya. Dia terus berzikir dalam hati. Semoga hari ini dia bisa kembali melewati hari dengan mudah. Akan tetapi, apalah dayanya, semua terus terulang dan harus diterima dengan hati yang merintih menahan gejolak amarah.
"Tolong lepaskan aku!" Viona Atmaja meminta dengan kata-kata yang masih dikontrolnya, tetapi sedikit tegas.
"Cihuy, Bekicot akhirnya bersuara juga," kata Sin won.
"Please! Lepaskanlah, aku mau masuk kelas, tak ingin telat," pintanya lagi.
"Udah, lepaskanlah. Biarkan dia belajar dulu, nanti jam istirahat kita lanjukan!" timpal Baek Seung Joo sambil mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Tumben kamu baik, Bro?" tanya Sin won sambil menyipitkan mata yang memang sudah tak perlu disipitkan sebetulnya.
"Aku bukan baik, cuma mau menanti waktu aja. Bentar lagi kita masuk kelas, nggak seru ngerjainnya sebentar aja!" Baek seung kembali menjawab dan berakhir dengan suara gelak tawa darinya, Dkk.
__ADS_1
Sin won pun melepaskan cengkeramannya dari kerudung Viona Atmaja.
Kemudian gadis itu segera bergegas meninggalkan mereka. Akan tetapi, dia tetap harus berantisipasi dari sekarang, mau sembunyi di mana setelah bel berbunyi?
Jam pelajaran pertama sudah usai, hati Viona Atmaja pun mulai berdebar. Perlakuan apa lagi yang harus dia terima hari ini.
"Lama-lama aku menjadi jenuh, tapi aku harus hadapi ini. Aku kuat, Insyaa Allah aku bisa melewatinya. Asalkan mereka tidak mesum padaku."
Benar saja dugaannya, berandalan kampus itu menanti di depan kelas.
Gemetar tubuh gadis itu, tapi dia beranikan diri melangkahkan kaki untuk melewati mereka.
"Eits, mau kemana kamu?" Baek seung mencegat langkah kaki gadis itu.
"Maaf, izinkan aku lewat. Aku mau cari kantin yang bisa aku makan. Makanannya," pinta Viona Atmaja.
"Kamu nggak mau nyoba ramen pake daging segar apa?" tanya Sin won.
"Maaf, Aku tidak boleh makan itu," jawab Viona Atmaja dengan sopan.
"Ayo lah, dicoba dulu! Nanti kamu bakal ketagihan." Sin won mulai mengajaknya dengan nada paksaan.
"Ceileeh, dia ngegas, Bro... hahaha!" Suara gelak tawa Sin won dan kawan-kawannya, serempak mencemooh.
"Kamu jangan gitu, Bro, nggak asyik!" timpal Baek seung joo.
"Kamu dari tadi ngebela mulu, Bro!" ujar Sin won yang terlihat kesal.
"Bukan gitu, Bro, biarkan dia makan dulu. Agar dia tetap kuat menghadapi kenyataan!" sahut Baek seung joo, kemudian dia mengajak teman-temanya berbisik.
Entah rencana apa yang mau mereka lakukan. Yang jelas Viona Atmaja akan mendapatkan kejutan-kejutan yang bakal menyakiti hati dan fisiknya.
Jam pelajaran yang kedua pun telah usai, Viona Atmaja kembali bergegas menuju gerbang. Akan tetapi dia tidak melihat Baek seung joo. Mereka pergi kemana?
"Ah, syukurlah. Biarkan saja mereka tak terlihat, justru dengan ini aku merasa lebih tenang!" batinnya. "Alhamdulillah untuk hari ini aku merasakan agak sedikit tenang.
Walau nyaris saja aku dipaksa memakan makanan yang mesti tidak dikonsumsi olehku," sambungnya sambil tersenyum manis.
Sekilas Viona Atmaja mendengar percakapan dua orang mahasiswi, kalau Sin won dan dua teman lainnya mengikuti pertandingan basket.
__ADS_1
"Apakah Baek seung tidak ikut? Ah, apa urusanku?" Viona Atmaja bermonolog dalam hati.
Kemudian dia menuju ke stasiun kereta api, tetapi di perjalanan dia melihat beberapa orang laki-laki bertubuh kekar sedang menodongkan senjata pada penumpang mobil sedan berwarna putih.
"Eh, itu mobil Baek seung joo?"
Pada akhirnya, dua orang pria itu memecahkan kaca mobil milik Baek seung joo.
Baek seung joo di seret keluar dari mobilnya.
"Duuh, bantu nggak, ya?" ujar Viona Atmaja ragu-ragu.
Setelah berpikir sejenak, dia berlari menghampiri mereka.
Sesampai di sana, seseorang meletakkan sebilah pisau di leher Baek seong joo.
"Tidak, jangan Tuan. Aku mohon jangan lukai temanku!"
Viona Atmaja mencoba memohon pada para perampok itu.
"Ini hanya semata-mata kemanusiaan saja, kalaupun aku mati dalam pertempuran nanti. Semoga aku termasuk syahid," gumam Viona Atmaja sangat pelan.
Suara tawa para perampok menggelegar. Salah satu pria itu malah mengata-ngatai gadis itu dengan sebutan manusia gurun. Akan tetapi, dia abaikan dan terus meminta pada mereka untuk melepaskan Baek seung joo.
"Kamu jangan ikut campur, apa dia pacarmu? Kamu tau nggak? Bedebah ini telah membuat adikku menderita dan dia tidak mau lagi pergi ke kampus itu, akibat perlakuan anak pengusaha ini!" ujar salah satu pria itu berbicara dengan lantang sambil melotot ke arah Viona Atmaja.
"Owh, ternyata Baek seung joo, Dkk memang jahat. Tapi aku harus menolong dia," bisiknya di dalam hati.
"Rasakan ini!" Pria itu mengangkat pisau yang ada di tangannya, dan mengarah ke perut Baek seung joo.
Secepat kilat gadis berpakai tertutup itu, menendang pisau sampai teroental jatuh ke tanah.
"Sial, berani-beraninya kamu!" teriak pria bertubuh gempal.
Dia berlari ke arah Viona Atmaja dan mengarahkan pukulan, jika saja gadis itu tidak mengelak. Remuklah pipi mulusnya itu.
Kemudian menyusul dua pria lagi menyerang. Viona Atmaja mulai membulatkan telapak tangan, lalu mengerahkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Untung saja dia selalu menggunakan celana longgar di balik gamisnya, hasilnya Viona Atmaja jadi bebas bergerak dan melumpuhkan tiga pria yang hendak mencelakai Baek seung joo.
Selang beberapa menit, tiga orang itu lari terbirit birit dan meninggalkannya dengan Baek seung joo yang dari tadi cuma terpana dengan ekspresi mulut ternganga.
__ADS_1