
Tiba-tiba saja Baek seung menyemprotkan saos ke kain lebar penutup kepala yang dia kenakan.
Viona Atmaja mengabaikan saja, dia langsung menuju toilet wanita, berniat membersihkan sisa-sisa saos yang menempel.
"Kau sedang membersihkan diri, ya?" tanya seseorang mengejutkannya dan dia sangat kenal dengan suara itu yang tak lain adalah Sun Bong si kurcaci bawahan empat pria nakal itu.
"Heh! Orang aneh, aneh tetaplah aneh. Kamu tidak perlu membersihkan kotoran yang menempel di kerudungmu itu! Sebersih apa pun pakaianmu, Kamu tetap saja aneh," Kata Sun bong sambil mencengkram kerudung milik Viona Atmaja.
Dia terus meraba mencari rambut yang yang tertutup rapat-rapat.
"Augh ... sakit. Jangan menarik rambutku, tolong lepaskan aku Nona Sun bong. Aku mohon." Viona Atmaja memohon dan mengiba, tetapi semakin dia memohon, mereka semakin mentertawakan gadis malang itu.
"Tadi kamu mau bersih-bersihkan?" tanya Sun bong sambil menyeringai seperti iblis betina.
"Hae ra, ambilkan air lebih banyak lagi. Sepertinya orang aneh ini ingin bersuci sebersih-bersihnya!" Sun bon kembali berkata.
Dan benar saja, mereka menyiram Viona Atmaja dengan air bekas cucian kain pel. Mereka membuat gadis itu basah dari atas sampai ke bawah. Tak puas dengan itu, Sun bong menarik kerudung lagi, terasa sekali rambut seperti akan lepas dari pori-pori kepalanya. Dan mereka memukul gadis itu seperti orang yang sedang membunuh ular atau kelabang dan sejenisnya. Suara mereka menggelegar di dalam toilet, Viona Atmaja menyaksikan tawa mereka seperti serigala yang sedang melolong. Dan tanpa merasa bersalah sedikit pun, mereka meninggalkannya dalam keadaan kacau.
Sepeninggalan mereka Viona Atmaja hanya bisa menangis. Dia tidak dapat mengadu pada siapa pun, jika dia mengadu, yang ada keadaan akan semakin bertambah parah.
Malamnya, Viona Atmaja mengalami demam tinggi. Dia tidak tahu harus meminta tolong sama siapa untuk mengantar dia ke rumahsakit.
Dengan langkah gontai, Viona Atmaja berusaha mengambil air hangat dan mengompres di bagian titik-titik tertentu. Untunglah ada paracetamol sisa satu kaplet dalam kopernya. Setelah minum obat dia tertidur.
Jam tiga lewat lima belas menit dini hari, Viona Atmaja bangun untuk melakukan salat malam. Dia mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi, lalu berdoa selalu untuk minta perlindungan dan semoga mereka tidak menjahatinya lagi.
***
"Aduh, aku terlambat lagi!" umpatnya menyesali diri.
"Viona, kamu terlambat lagi! Sebagai hukuman kamu harus mengutip sampah di seluruh halaman kampus!" kata Pak Young Min dengan lantangnya.
__ADS_1
"Aku demam semalam Pak. Jadi, badan terasa lemas. Makanya aku agak terlambat," sahut Viona Atmaja dengan tatapan mata teduh.
"Hmmm ... kamu kira ini kampus milik pribadi, apa? Tidak bisa mengikuti peraturan sekolah, jangan sekolah di sini kamu," ujar Pak Young Min, intonasi lambat, tetapi terdengar menusuk.
"Maafkan aku, ya, Pak." Viona Atmaja menjawab dengan menundukan wajah.
Jam pun terus berjalan, kini dia telah selesai mempertanggung jawabkan kesalahannya. Setelah selesai dia bergegas memasuki ruang kelas.
"Hahaha ..., kapok kamu Viona. Makanya bangun tu. pagi-pagi!" kata teman-teman sekelas yang menertawakan keterlambatannya dan diberikan hukuman juga seperti murid sekolah menengah.
Jam pelajaran dikuti dengan senang hati, walaupun Viona Atmaja telah ketinggalan beberapa penjelasan dari dosen.
Tet! Teet! Teeet!
Bel lonceng pun berbunyi tandanya istirahat. Tiba-tiba datang Baek seung, Sin won dan dua orang temannya yang belum Viona Atmaja ketahui namanya. Mereka membully lagi. Kali ini mereka memberi panggilan baru untuk gadis cantik itu yaitu, 'Bekicot'. Viona Atmaja hanya bisa diam saja.
"Hei! Gimana kalo kita memanggil dia itu bekicot saja, dia kan orangnya lelet!" kata Sin won dengan lantangnya.
"Bekicot, Bekicot nakal. hahaha," ledekan Sin won persis anak-anak.
"Woy! Bekicot, bekicot uhui." Suara Baek seung yang seolah juga ikut memanggil.
Lalu salah satu teman Baek Seung datang menghampirinya, dan dia pun lari secepatnya. Entah mengapa gadis itu selalu dibully, padahal dia tidak ada salah dengan mereka, bahkan tidak pernah mengganggu mereka.
Nasibnya begitu malang. Waktu pulang sekolah pun tiba, panasnya matahari membuat langkah semakin lunglai. Viona Atmaja berjalan menuju stasiun kereta api cepat bawah tanah. Ketika sampai di rumah, tetangganya memanggil.
"Viona, ada paket nih!"
Dia pun menghampiri tetangganya. Setelah wanita berambut pirang itu menyerahkan sebuah paket, dia mengucapkan terima kasih, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Ternyata paket itu berisi pakaian, hadiah lagi dari sang ibu.
Lalu dia membuka plastiknya, di sana terdapat gamis dan jilbab, juga sebuah cadar.
__ADS_1
Dalam lipatan gamis tersebut Viona Atmaja menemukan secarik kertas yang berwarna merah muda.
"Viona, kamu rajin belajar, ya, tidur jangan sampai larut malam. Ini gamis set model baru yang dijual oleh teman ibu. kamu pakai untuk ke kampus, agar baju-bajumu terlihat ada gantinya."
Begitulah kata-kata yang ditulis sang ibu, karena wanita itu tahu kalau baju-baju putrinya kebanyakan warna hitam. Seperti tidak pernah diganti.
Viona Atmaja sebenarnya memilih warna hitam bukan karena ikut-ikutan seperti yang biasa dipakai oleh wanita-wanita bercadar kebanyakan. Akan tetapi, dari kecil dia memang lebih suka warna hitam untuk baju atau pun celana dan rok.
***
Keesokan harinya seperti biasa, dia berangkat dengan beberapa doa-doa yang selalu dipanjatkan. Walau selalu takut mendapatkan perlakuan mereka-mereka si berandalan kampus, tetapi dia tetap tersenyum menyambut indahnya mentari. Dengan penuh semangat kali ini, dia memakai gamis berwarna merah muda, kerudung juga berwarna merah muda.
"Alhamdulillah ... aku kali ini tidak terlambat lagi."
Sesampainya di gerbang kampus, ternyata Baek Seung dan kawan kawan, sudah menunggu di sana.
"Halo Bekicot! Owh! Rupanya kamu tepat waktu kali ini," kata Sin won dengan nada mengejek.
"Hui! Bekicot, kamu tak dengarkah? Apa kamu tuli?" sela temannya, mulai lagi dengan bentakan kasarnya.
"Permisi, izinkan aku lewat," pinta Viona Atmaja.
"Boleh, tapi kamu harus salim dulu kami satupersatu," sahut Sin won sambil menyeringai.
"Maaf, aku tidak boleh bersentuhan dengan laki-laki," jawab gadis itu sambil menundukkan pandangannya.
"Eleeh, jangan muna, deh!" umpat Baek seung sinis.
"Udah, biarkan dia lewat!" timpal salah satu teman Baek Seung mencoba menengahi.
Viona Atmaja pun berjalan hati-hati, karena jelas terlihat dari wajah lelaki yang baru saha berbicara, seperti menyusun strategi baru untuk menganiayanya.
__ADS_1
Ternyata tidak terjadi apa-apa. Kemudian menarik napas lega dan buru-buru masuk ruang kelas. Lama menunggu, dosen pun tak kunjung datang. Tiba-tiba Baek Seung, Dkk, menarik tangan gadis itu dan menyeretnya keluar kelas. Ternyata dia dibawa ke belakang kampus, di sana Viona Atmaja disuruh berdiri sambil meletakkan telapak tangan di kening untuk memberi tanda hormat pada mereka. Kejamnya mereka, para berandalan kampus itu pun memvideo-kan kesedihan harinya saat itu.