
Mengetahui kedatangan Titan, nyonya Matilda menghampiri putranya yang masih belum turun dari mobil. Wajah cantik yang terlihat sumringah itu sudah berdiri di depan mobil putranya.
"Master....! Apakah kita akan aman jika kita turun dan menghampiri para tamu itu beserta Zara dan nyonya Milan?" Tanya Revo sambil melihat tuannya yang sedang memeluk Zara melalui kaca spion dalam.
"Kamu saja yang turun dan katakan kamu ke sini ingin meminta whisky tahun 1820, atas permintaanku dan jangan katakan aku membawa Zara dan ibunya ke sini." Ucap Titan.
"Tapi tuan bagaimana mungkin anda berkata begitu, sementara kalian sudah di sini ber....-"
Tanya Revo sambil membalikkan tubuhnya ke belakang untuk bicara dengan Titan sambil melihat wajah tuannya dan ia sangat kaget saat mendapati bangku belakang sudah kosong.
"Apakah mereka sudah keluar. Bagaimana mereka bisa keluar?"
Revo segera turun untuk mencari ketiga orang yang berangkat bersamanya membuat nyonya Matilda menegurnya.
"Revo di mana Titan?"
"Titan ...?" Revo mulai bingung menjawabnya.
"Aku datang sendiri nyonya. Master meminta aku untuk mengambil anggur kesukaannya." Ucap Revo menyembunyikan menahan kegugupannya.
"Apa ...? Hanya karena anggur dia mengirim kamu kesini untuk mengambilnya?"
"Maaf nyoya ..! Tapi, ngomong-ngomong ada acara apa nyonya sampai presiden datang ke sini?"
"Biasalah... minta dukungan untuk dana pemilunya pencalonan kembali dirinya tahun depan." Ucap nyonya Matilda yang terlihat tidak tertarik dengan pertemuan politik.
Sementara itu, Titan mengajak kedua wanita beda usia ini ke villa peristirahatan kakeknya melalui jalan gaib. Nyonya Milan merasa bingung mengapa mereka tiba-tiba ada tempat ini padahal mereka tadi masih duduk di dalam mobil.
Bagi Zara, ia tidak heran lagi dengan perbuatannya Titan karena sudah mengetahui kalau Titan memiliki ilmu sihir.
"Mommy ..! Lebih baik kita istirahat. Mungkin mami kelelahan jadi tidak tahu bagaimana kita bisa tiba di tempat ini." Ucap Zara sambil melirik wajah Titan yang sedang mengedipkan matanya pada Zara.
Cek...lek ...!
Pintu kamar terbuka, dari dalam kamar itu sudah keluar seorang pria lumpuh yang merupakan pamannya Titan.
Nyonya Milan melihat pria tampan yang pernah dicintainya dulu langsung terpaku di tempatnya berdiri.
__ADS_1
Pamannya Titan belum menyadari keberadaan nyonya Milan karena matanya tertuju pada wajah keponakannya Titan.
"Titan....! Kapan kamu datang?" Tanya tuan Richardo sambil menyalami tangan keponakannya.
"Barusan paman. Ini kenalkan calon istriku Zara dan ibunya Zara juga ikut bersama kami." Ucap Titan memperkenalkan Zara pada pamannya.
Sementara itu, nyonya Milan langsung membalikkan tubuhnya sambil mengusap air matanya yang sudah berderai dengan tubuh yang gemetar hebat.
Antara rindu, marah dan kecewa pada ayah dari putrinya itu membuat ia sulit memaafkan mantan kekasihnya itu.
Tubuhnya terlihat terguncang menahan tangisnya yang hampir mau pecah.
"Ya Tuhan ..! Kenapa kami harus dipertemukan lagi setelah sekian lama berpisah?" Batin nyonya Milan.
Zara yang sudah menyalami ayahnya terlihat akrab saat saling menyapa satu sama lain. Zara melihat ibunya seakan tidak mau berkenalan dengan tuan Richardo membuat gadis ini pamit pada tuan Richardo untuk menghampiri ibunya.
"Maaf Tuan ...! Itu ibu saya. Tunggu sebentar ..! Saya akan memanggilnya." Ucap Zara lalu menghampiri ibunya yang makin menjauh dari tempat mereka duduk.
"Biar aku saja yang memanggil nyonya Milan, Zara!" Cegah Titan membuat tuan Richardo tersentak.
"Milan ....? Tunggu ...! Apakah ibumu bernama Milan Battista?" Tuan Richardo memastikan kecurigaannya.
Tuan Richardo tidak menjawab pertanyaan Zara. Ia sibuk mengayuh kursi rodanya menuju wanita yang telah membuatnya tidak pernah berhenti untuk memikirkan nyonya Milan setiap kali ia terbangun dari tidurnya.
"Nyonya Milan....! Anda mau ke mana ..?" Tanya Titan yang terus saja mengikuti nyonya Milan yang keluar menuju taman.
"Titan ...! Tolong tinggalkan kami berdua....!" Cegah tuan Richardo pada Titan yang masih mengikuti langkah nyonya Milan.
Langkah kaki jenjang itu terhenti kala mendengar suara bariton tuan Richardo. Titan yang tidak mengerti hubungan antara keduanya nampak heran melihat pamannya seperti sangat kenal dekat dengan ibu dari kekasihnya ini.
"Temani saja kekasihmu di dalam. Biar aku sendiri bicara dengan Milan." Imbuh tuan Richardo.
"Apakah paman mengenal nyonya Milan?" Tanya Titan terlihat penasaran.
"Dia adalah hidup paman. Karena wanita itu aku rela di hukum oleh kakekku hanya untuk mempertahankan cinta sejati ku. Aku tidak rela membagikan hatiku kepada wanita lain demi seorang Milan Batista ." Ucap tuan Richardo membuat nyonya Milan menghentikan tangisnya.
Ia berbalik saat mendengar pengakuan tak terduga dari kekasih hatinya itu.
__ADS_1
Ia kemudian menatap wajah tampan pria yang pernah dicintainya itu. Rasa sakit dan dendam yang selama ini merasuki hatinya seakan terhapus oleh ucapan tuan Richardo.
"Kau ...! Apa yang kau lakukan bodoh ..?" Tanya nyonya Milan dengan air mata yang kembali mengembun di cela matanya yang indah.
"Kau terlihat semakin cantik sayang." Ucap tuan Richardo dengan suara terdengar parau.
Titan meninggalkan pasangan kekasih ini dan menemui Zara yang juga ikut keluar menghampiri mereka.
Nyonya Milan berlutut di bawah kaki tuan Richardo sambil melihat kaki itu yang tertutup oleh selimut tipis.
"Apakah ini hasil dari hukuman kakekmu yang membuat kaki kamu lumpuh?"
"Aku rela mati demi mempertahankan kamu sayang. Aku kabur di hari pernikahanku saat bersiap berangkat ke gereja.
Aku merasa tidak bisa menerima wanita lain dalam hidupku dengan semua ancaman yang kakekku berikan kepadaku.
Tapi, saat aku mencari keberadaanmu aku tidak menemukan kamu di apartemen mu. Aku tidak putus asa dan terus menerus mencari mu siang dan malam hingga aku tertangkap oleh anak buahnya kakekku."
Ucap tuan Richardo membuat nyonya Milan meraung di pangkuan tuan Richardo.
Ia tidak menyangka tuan Richardo berani mengorbankan dirinya demi cinta mereka." Sayang....! Aku merindukanmu."
Ucap tuan Richardo lalu menarik tubuh nyonya Milan ke dalam pelukannya.
Keduanya berpelukan sambil menangis penuh kerinduan. Titan dan Zara menyaksikan kisah kasih keduanya dari dalam villa.
"Apakah mommy aku dan pamanmu adalah pasangan kekasih?" Tanya Zara yang ikut terharu melihat kebahagiaan ibunya.
"Iya sayang....! Pamanku terlalu mencintai ibumu hingga ia rela di siksa oleh kakek buyut agar hatinya tidak terbagi untuk wanita lain dan dia memilih untuk membujang seumur hidupnya dalam keadaan kakinya yang lumpuh." Ucap Titan.
"Apakah kamu akan mencintai aku seperti pamanmu mencintai ibuku?"
"Aku akan berjuang untuk tetap bersatu denganmu walaupun harus mati untuk kedua kalinya." Ucap Titan lalu memagut bibir ranum Zara.
Sementara itu, nyonya Milan membisikkan sesuatu pada kekasihnya yang membuat tuan Richardo terpana.
"Lihatlah wanita muda dan cantik itu sayang...! Dia adalah putri kandungmu."
__ADS_1
Deggggg....