
Memasuki pemilihan umum untuk presiden, para senator dari ayahnya Nathan gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat untuk mendapatkan suara terbanyak.
Saat sang presiden masih percaya diri untuk bisa memimpin lagi negaranya, di saat yang sama Nathan terlihat cemas akan rahasianya yang mungkin terbongkar di depan publik jika rekaman miliknya akan teruploud oleh media tepat di saat ayahnya naik lagi tahtanya.
Sang presiden sudah yakin bahwa pengaruhnya masih besar di kalangan masyarakat karena berdasarkan tim survei yang dilakukan oleh tim suksesnya yang menyatakan masyarakat puas dengan kepemimpinannya.
Pagi itu, di saat Nathan sedang sarapan bersama dengan keluarganya, Nathan akhirnya berterus-terang kepada sang ayah tentang apa yang terjadi pada dirinya.
Dengan cara itu, mereka masih bisa mengatasi permasalahan yang ditimbulkannya, jika ada musuh yang mengacaukan rencana mereka untuk menyukseskan pemilu kali ini.
"Ayah ...! Ada yang ingin Nathan sampaikan kepada ayah." Ucap Nathan.
"Silahkan Nathan!" Ucap ayahnya sambil mengunyah makanannya.
"Ini mengenai hilangnya rekaman kejahatan yang Nathan perbuat ayah." Ucap Nathan hati-hati.
Sang ayah meletakkan sendok dan garpu miliknya lalu meneguk minumannya sambil menekan amarahnya. Nathan kembali melanjutkan ucapannya karena melihat reaksi ayahnya yang terlihat biasa saja.
Sang ayah mengusap mulutnya dengan serbet lalu menggeser kan kursinya dan meninggalkan meja makannya sementara makanannya masih banyak di piringnya.
Nathan terlihat kalut dengan sikap ayahnya yang tidak memberikan komentar apapun tentang ucapannya barusan. Ia segera menyusul langkah ayahnya yang kembali ke kamarnya.
Ketika sang ayah hendak membuka pintu kamarnya, Nathan menghentikan ayahnya." Ayah...! Tolong lakukan sesuatu untuk mencegah ada orang lain yang ingin menggagalkan....-"
Plakkkkk..
Ayahnya menampar Nathan hingga tubuh tegap itu seketika oleng ke belakang. Nathan mengusap wajahnya lalu kembali berdiri sempurna.
"Apakah selama ini aku kurang melindungi mu? Apakah aku tidak pernah menuruti permintaan mu? Lantas apa yang kurang dari ayahmu ini hingga sering memanfaatkan kedudukan ku demi kepentingan pribadimu.
__ADS_1
Aku sudah muak menutupi semua kejahatan mu. Saat kamu ingin membunuh suami dari Zara, hingga yang tertembak gadis itu sendiri dan hampir tewas karena ulahmu. Tapi, kamu masih saja penasaran dengannya. Apakah tidak ada wanita lain selain Zara, hah?"
"Karena tidak ada wanita lain yang mampu membuat ku jatuh cinta." Ujar Nathan .
"Jika kamu mencintainya, kenapa kamu ingin menjadikannya hanya sebagai selir mu saja? kenapa dari awal tidak membuat komitmen dengannya untuk menikahinya? Sementara Titan, dia laki-laki yang sangat menghargai wanita dan menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita tanpa menunggu Zara lulus sekolah, pemuda itu mau menikahinya atas nama cinta bukan atas nama nafsu seperti kamu." Ucap ayahnya Nathan.
Nathan terlihat diam. Ia membenarkan perkataan ayahnya dan baru menyadari kalau ia sudah jatuh cinta pada Zara. Hanya saja, ia terlambat menyadari hal itu setelah Zara dinikahi oleh Titan.
"Tapi bagaimana dengan video rekaman itu ayah? Jika jatuh ditangan orang lain, maka posisi ayah akan tergantikan oleh pihak lawan politik ayah." Ucap Nathan cemas.
"Jika aku jatuh, kamu juga ikut terseret dalam kasus hukum. Di saat itu, aku tidak bisa lagi menyelamatkan dirimu. Sekarang, selamatkan sendiri dirimu dengan mencari rekaman itu, bodoh!" Perintah sang presiden.
Nathan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan menahan geram. Rasanya ia ingin membunuh semua keluarga para pengawalnya, tapi itu sama saja menambah masalah karena saat ini keluarganya sedang di sorot oleh media dan netizen.
Menjelang pemilihan presiden, gerak-gerik mereka selalu diikuti oleh paparazi. Nathan seakan tidak bisa bergerak leluasa karena ia tidak bisa menghardik lagi wartawan sesuka hatinya seperti dulu. Ia harus mampu menjaga sikapnya demi elektabilitas sang ayah.
"Apakah kamu sudah siap sayang? Untuk menjatuhkan sang presiden dengan para anak buahnya yang telah merugikan negara ini?" Tanya Zara ketika Titan baru pulang dari perusahaannya.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Tapi, kelihatannya presiden mengetahui kalau kita punya rahasia kebusukan tentang putranya Nathan." Ucap Titan.
"Bagaimana mungkin presiden bisa tahu?"
"Karena ia meminta anak buahnya untuk menggeledah perusahaan ku dengan tuduhan belum membayar pajak negara.
Mereka menyita beberapa dokumen penting perusahaan namun aku aku segera bertindak dengan memperlihatkan bukti surat pelunasan pajak semua perusahaan yang aku miliki." Ucap Titan.
"Dasar manusia sampah. Mereka selalu pintar mencari jebakan untuk mendapatkan tujuannya." Maki Zara.
"Tidak apa sayang. Semakin mereka berusaha mencari benda berharga itu, semakin mereka merasa gila sendiri karena saat ini, mereka sedang menghitung hari pembalasan atas perbuatannya mereka." Ucap Nathan.
__ADS_1
"Aku tidak sabar menunggu kejatuhan keluarga presiden." Ucap Zara penuh dengan dendam pada ayah tirinya, tuan Jeremy.
Tidak lama waktu yang dinantikan oleh seluruh bangsa itu, sudah siap menanti presiden terpilih untuk periode yang akan datang. Perhitungan suara antara dua pihak lawan akhirnya mulai di hitung secara langsung.
Banyak diantara warga, menginginkan adanya pembaharu kepemimpinan yang baru bukan presiden yang saat ini masih aktif. Keadaan mulai tegang. Pasalnya perhitungan suara sedari tadi hanya beda tipis.
Titan ingin melakukan sesuatu untuk bisa menyelamatkan negaranya dengan menangkan pihak lawan. Namun ia juga tidak ingin mencurangi proses perhitungan suara itu. Jika mantan presiden bisa terpilih lagi ia sudah siap dengan video rekaman kejahatan presiden dan putranya Nathan.
"Zara...! Aku harus pergi sekarang untuk menyelamatkan negara kita dari rezimnya presiden saat ini. Sepertinya perhitungan suaranya sebentar lagi akan selesai." Ucap Titan dengan memegang tongkat sihirnya dan juga rekaman video tersebut.
"Hati-hati sayang, jangan sampai mereka mengetahui kamu dalang dari semua ini." Ucap Zara cemas.
"Aku akan tetap berhati-hati." Ucap Titan.
"Kenapa kamu tidak mengajak aku juga Titan?"
"Itu sangat beresiko jika kamu juga ikut Nathan Zara."
"Tapi, menunggu itu sangat membosankan. Dan itu membuat aku tidak tenang Titan."
"Aku tidak menempuh perjalanan dengan kendaraan untuk bisa sampai ke sana. Semuanya melalui jalan gaib. Mereka tidak akan pernah melihat kedatanganku."
"Tapi aku sangat takut jika mereka juga sedang menjebakmu."
"Mereka tidak bisa melihatku, Zara. Apa yang kamu cemaskan, sayang?" Tanya Titan tidak mengerti.
"Mereka punya orang-orang yang bisa mengetahui permainan gaib dan mungkin mereka sengaja memancing kehadiranmu untuk bisa menjebakmu. Jangan salah sayang, ada orang yang Isa melihat kamu dengan mata batin mereka." Ucap Zara mengingatkan suaminya.
Deggggg....
__ADS_1