
Kota besar itu terlihat tenang setelah terpilih presiden baru dan setelah tersingkirnya rezim periode lama dalam kehidupan negara itu.
Dengan terpilihnya presiden baru ini semua orang berharap bahwa presiden yang baru ini akan membawa banyak perubahan terutama laju perekonomian yang berkembang pesat sesuai penghasilan dari hasil bumi sendiri yang mampu di kelola oleh negara demi kepentingan rakyatnya.
Harapan itu di tunjang oleh perusahaan-perusahaan besar yang saat itu ikut berpartisipasi dalam mensejahterakan kehidupan bangsanya dengan bidang mereka masing-masing terutama perusahaan milik Titan yang sekarang di bantu oleh istri tercintanya Zara.
Senyum Zara dan Titan yang punya peran besar untuk negaranya namun tidak ada yang pernah tahu kemampuan Titan yang memiliki tongkat sihirnya yang mampu menciptakan kehidupan yang aman dari para penjahat yang menghabiskan aset bangsa dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memperkaya diri mereka atas nama bangsa.
Saat ini Zara dan ibunya sedang merasakan kebahagiaan mereka dengan pasangan mereka masing-masing.
Ibunya telah bertemu lagi dengan ayahnya yang saat ini hidup bahagia di tanah perkebunan keluarga tuan Richardo. Sementara Zara dan Titan tinggal di mansion milik Titan.
Zara tetap melanjutkan pendidikan perguruan tingginya yang saat ini sedang berada di semester terakhir. Keduanya sedang menantikan kehadiran seorang bayi yang saat ini sedang di kandung oleh Zara.
"Hati-hati sayang!" Ucap Titan saat pagi itu Titan mengajak istrinya untuk berolahraga pagi agar memudahkan Zara melahirkan nantinya.
"Titan ...! Aku sudah capek berjalan sedari tadi." Keluh Zara yang sudah enggan untuk jalan sambil memegang perut bawahnya.
"Baiklah. Kalau kamu tidak mau jalan lagi setidaknya kita bisa menyambung olahraga di atas kasur." Goda Titan.
"Itu olahraga yang lebih asyik. Karena kamu lebih punya peran besar untuk bisa memudahkan kelahiran bayi kita." Timpal Zara tidak kalah frontal dari suaminya.
Keduanya terkekeh mendengar ucapan-ucapan yang berbau fulgar yang mampu membangkitkan gairah mereka sebagai bumbu kemesraan kehidupan pernikahan mereka.
Keduanya sudah duduk istirahat di tempat tidur. Zara menatap wajah tampan suaminya yang sedang membuka sepatunya.
"Titan...!"
__ADS_1
"Hmm..!"
"Apakah tongkat sihirmu itu hanya bisa membawa kita ke masa lalu?" Tanya Zara yang tidak di mengerti oleh suaminya.
"Bukankah kamu sudah tahu sayang dan kamu juga sudah menjelajahi ribuan tahun yang lalu kita bisa ke sana berdua." Sahut Titan.
"Apakah kamu tidak ingin mencoba untuk melakukan perjalanan di masa depan bertemu dengan anak cucu kita?" Tanya Zara membuat Titan tersentak.
"Aku belum pernah mencobanya karena dimensi waktu ke depan itu apakah kita bisa kembali lagi ke masa sekarang ini atau tidak." Imbuh Titan.
"Kenapa kita tidak mencobanya sayang. Aku ingin tahu berapa anak yang aku bisa lahirkan untukmu dan seperti apa kehidupan masa depan anak-anak kita dan dengan siapa jodoh mereka kelak. Apakah kita akan hidup dan menua bersama?" Tanya Zara.
"Apakah kamu ingin melihatnya?"
"Hmm!"
"Kita coba saja sebentar. Jika membahayakan kita balik lagi." Ucap Zara.
"Baiklah. Kalau begitu kenakan sendal mu! Kita tidak tahu kita muncul di mana saat kita tiba di masa depan." Ucap Titan mengabulkan keinginan istrinya.
Titan mengambil tongkatnya dan mulai bersiap untuk mengunjungi masa depan sesuai tahun yang diinginkan mereka berdua yaitu dua puluh tahun yang akan datang. Dalam sekali meminta Keduanya sudah berada di rumah yang sama.
Titan dan Zara malah bisa mendengar rintihan orang yang sedang bercinta ada dalam kamar mandi.
"Apakah di dalam kamar mandi ini adalah kita berdua sayang?" Tanya Zara yang mulai tergoda ingin mengintip.
"Ini rumah milik kita sendiri. Tapi biar aku yang melihat sendiri apa yang terjadi di dalam kamar mandi. Kalau sama kamu takutnya kamu bisa jatuh di dalam sana. Tunggulah di sini. Aku akan melihat pasangan itu. Apakah itu masih kita atau pasangan orang lain." Ucap Titan.
__ADS_1
Zara mengangguk dan menuruti permintaan suaminya. Ia duduk di pembaringan itu sambil melihat kalender masa depan. Sementara Titan melihat di dalam kamar mandi dan ternyata di dalam kamar mandi itu yang ia lihat dirinya sedang bercinta tapi bukan dengan istrinya melainkan dengan wanita lain yang lebih muda dari istrinya.
Jantung Titan seketika ingin berhenti karena ia melihat dirinya yang sudah berusia lima puluhan dengan wanita berusia dua puluh tahun.
"Siapa wanita itu? Kenapa aku bisa bercinta dengan wanita yang lebih muda dan sangat cantik? Ke mana istriku?" Tanya Titan begitu gugup melihat tubuh telanjang wanita itu yang sedang di nikmati oleh dirinya yang sudah berusia paruh baya.
"Sayang...! Apakah tidak apa kamu bercinta denganku yang merupakan sahabat dari putrimu sendiri? Bagaimana kalau Tante Zara tahu kalau kamu berselingkuh dengan sahabat putrimu sendiri, hmm?"
"Istri paman sedang terbaring koma di rumah sakit karena kanker rahim yang ia derita. Aku membutuhkan dirimu, baby. Kamu masih mudah dan sangat menggemaskan. Paman sangat menyukaimu." Ucap Titan..
Duaaarrr...
Titan segera kembali ke kamarnya dengan tubuh gemetar. Ia merasa sangat gugup dan juga terlihat sedih mendengar percakapan barusan.
Zara menatapnya dengan rasa penasaran. Ia melihat wajah Titan yang sedikit berubah cemas." Apa yang kamu lihat sayang? Apakah kita berdua sedang bercinta di dalam sana?"
"Sepertinya itu bukan kita sayang. Tapi putra kita dan istrinya. Aku sampai malu melihatnya dan sebaiknya kita pulang." Ucap Titan yang tidak mau istrinya melihat dirinya dengan wanita lain.
"Benarkah? Apakah itu yang membuat kamu malu melihat tubuh telanjang menantu mu?" Goda Zara sambil senyum-senyum pada Titan yang terlihat tidak senang mendengarnya.
Titan Akhirnya kembali lagi ke masa lalunya dan tidak ingin lagi mau mencari tahu masa depan. Setibanya kembali ke masa lalu, Titan mengajak Zara untuk beristirahat. Zara pun menuruti kemauan suaminya.
Titan memeluk istrinya dengan erat. Ia merasa sangat terganggu saat mengetahui istrinya nanti akan mengalami penyakit mematikan yaitu kangker rahim.
Tidak lama kemudian, Zara pun mulai terlelap dalam tidurnya, sementara Titan masih terjaga. Titan masih memikirkan apa yang akan terjadi dua puluh tahun yang akan datang.
"Zara...! Aku ingin kamu harus terbebas dari kangker rahim. Aku tidak mau sampai selingkuh dengan gadis dari sahabat putriku sendiri. Itu sangat menjijikkan. Apakah gadis itu sengaja menggoda aku hingga aku terjebak cinta terlarang dengannya? Aku harus mencari tahu bagaimana bisa aku terjebak dengan wanita liar itu hingga mengabaikan istriku yang terbaring koma di rumah sakit." Batin Titan sedih.
__ADS_1