
Nathan terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya saat anak buahnya melaporkan drone pengintai milik mereka jatuh di laut saat melakukan pengintaian di pantai Florida, di mana Zara dan Titan sedang berlibur.
Plakkkkk....
Nathan menampar anak buahnya yang ceroboh karena sudah menghilangkan drone pengintai itu.
"Kamu tahu kesalahan yang kamu buat itu akan beresiko tinggi dan menyeret nama besar ayahku." Ucap Nathan dengan wajah kelam.
"Maaf tuan. Saya sudah mencoba untuk mencari di sekitar laut itu, tidak bisa ditemukan.
"Sekarang aku minta kamu kerahkan orang-orang kita untuk mendapatkan lagi drone pengintai itu secepatnya, atau keluarga kalian yang akan saya bunuh satu persatu!" Ancam Nathan membuat anak buahnya tidak bisa lagi membantah.
"Baik Tuan, kami akan mencari lagi drone itu. Tolong jangan bunuh keluarga kami." Ucap salah satu anak buahnya Nathan yang mengendalikan drone itu dengan remote nya.
__ADS_1
Nathan mengusir mereka dengan mengibaskan jemarinya dan ketiga anak buahnya langsung beranjak dari tempat itu. Anak buahnya yang sudah merekam ancaman Nathan kepada keluarga mereka, ingin membalas perbuatan Nathan yang selalu menindas mereka.
"Apakah kalian tidak merasa kalau perbuatan tuan Nathan itu sudah berlebihan? Apakah kita akan diam saja kalau pria gila itu akan membunuh keluarga kita?" Tanya Willy.
"Kalau aku dibunuh, mungkin tidak masalah tapi, tidak dengan anak-anak ku, " ucap teman yang lainnya.
"Sekarang kita harus memikirkan rencana untuk menjebak tuan Nathan dengan bekerja sama dengan tuan Titan yang menjadi musuhnya saat ini. Jika kita menolong tuan Titan, maka tuan Titan akan melindungi keluarga kita." Ucap Willy.
"Baiklah. Kita harus lakukan ini secara diam-diam tanpa terlihat oleh pengkhianat diantara teman-teman kita."
Di kamar, Titan dan Zara sedang terkekeh membayangkan bagaimana nyonya Flo dipermalukan oleh Titan.
"Apakah aku sudah terbebas dari masalah kalau aku berkumpul lagi dengan mereka sayang?" Tanya Zara cemas.
__ADS_1
"Kenapa kamu kuatir? Bukankah semua bisa teratasi dengan ini?" Ucap Titan menunjukkan tongkat sihirnya yang berkepala naga.
"Aku takut mereka akan berbuat lebih gila lagi dari sebelumnya. Mungkin ijasah ku tidak akan diberikan oleh kepala sekolah."
"Kenapa kamu selalu kuatir pada sesuatu yang belum terjadi. Apakah kamu tidak tahu jika suamimu bisa melakukan apapun untuk membahagiakanmu?
Jika ijasahmu tidak diberikan, aku akan mengambilnya dengan cara yang lain. Apakah kamu masih meragukan kemampuan ku?" Tanya Titan membuat Zara langsung lompat dalam pelukan suaminya.
"Ternyata aku bisa mengandalkan kamu dalam segala hal. Aku tidak perlu lagi takut akan Nathan atau ayahnya sekalipun karena suamiku lebih berkuasa dari mereka." Puji Zara.
"Kalau begitu, apa hadiah untukku, Zara?"
"Aku milikmu, itu hadiah mu dan aku akan memberikan apapun yang paling kamu inginkan, yaitu anakmu." Balas Zara membuat Titan segera membekap mulutnya dengan menghujani ciuman di bibir seksi milik Zara.
__ADS_1
Keduanya saling memagut bibir mereka dengan saling menanggalkan pakaian mereka tanpa melepaskan ciumannya. Suara decapan terdengar riuh di dalam kamar mewah itu. Titan menggiring ratunya yang langsung terhempas di atas kasur king size itu.
Kobaran asmara yang tercipta diantara keduanya mampu menciptakan suasana romantis dengan gerakan liar sang gadis yang membuat rajanya terus menerus melenguh nikmat.