
Seorang wanita cantik dengan tinggi semampai melangkah santai melewati koridor rumah sakit yang cukup lengang hari itu. Sepasang kakinya yang terbungkus high heels berwarna hitam menghasilkan bunyi teratur seiring langkah kakinya. Senyumnya mengembang lebar, dadanya berdebar dan terasa hangat kala mengingat perkataan dokter bahwa ia positif hamil.
Ia adalah Kaluna Willianie, wanita ramah yang disukai banyak orang karena kebaikannya. Meski jabatannya sebagai salah satu CEO di Kariz Furniture, ia tak pernah besar kepala dan tetap rendah hati kepada bawahannya. Nama Kariz berasal dari gabungan Kaluna dan suaminya Rizhan seolah-olah dari nama itu mereka ingin memberitahu bahwa perusahaan tersebut adalah hasil kerja keras dan peluh mereka.
Kaluna merasa langkahnya sangat lambat karena ia ingin segera sampai di rumah untuk memberitahu Rizhan—suaminya bahwa dirinya hamil. Kaluna tidak mau memberitahu melalui telepon, ia ingin melihat langsung ekspresi Rizhan saat mengetahui berita gembira tersebut.
Akhirnya setelah melalui proses yang amat panjang dan menguras tenaga serta emosi, dokter menyatakan bahwa embrio yang dimasukkan ke dalam rahim Kaluna 2 Minggu lalu berhasil menunjukkan perkembangan. Kaluna harus merasa kesakitan setiap kali ia disuntik hormon selama proses tersebut. Banyak pengorbanan yang mereka lakukan demi mendapatkan keturunan. Apalagi selama proses disuntik hormon dan obat-obatan Kaluna mengalami banyak perubahan emosi yang tidak menentu sehingga Rizhan sebagai suami harus ekstra sabar menghadapinya.
Sayang Rizhan tidak bisa ikut ke rumah sakit hati ini karena harus bertemu dengan klien di Bandung. Namun Kaluna menggunakan kesempatan ini untuk memberi Rizhan kejutan di hari ulang tahun pernikahan mereka yang keempat.
"Aku harus masakin Mas Rizhan." Gumam Kaluna seraya melangkah masuk ke dalam mobil, ia memutuskan mampir sebentar di supermarket untuk membeli bahan-bahan masakan sebelum pulang.
Kaluna tak bisa berhenti tersenyum, ia bersyukur memiliki suami seperti Rizhan yang tak pernah menuntutnya untuk segera hamil. Sejak mengenal 4 tahun yang lalu dan merintis usaha furniture bersama hingga sukses seperti sekarang, Rizhan selalu menjadi suami yang baik untuk Kaluna.
"Kamu itu Kaluna yang berarti tidak ada duanya maka aku tidak akan pernah menduakan mu, sekarang hingga nanti."
Kaluna tiba-tiba teringat ucapan Rizhan dulu saat mereka baru melakukan akad nikah. Rizhan mengucapkan kata manis itu di depan semua orang yang hadir menyaksikan pernikahan mereka.
"Mas Rizhan tak pernah mengingkari janjinya." Kaluna menghentikan mobil di tempat parkir salah satu pusat perbelanjaan.
Kaluna berencana memasak ayam goreng mentega kesukaan Rizhan. Meski memiliki 2 orang asisten rumah tangga di rumah tapi Kaluna lebih sering memasak sendiri untuk Rizhan karena ia yakin makanan yang dibuat dengan cinta akan membuat rumah tangga mereka tetap harmonis.
Tiba-tiba Kaluna memikirkan ide gila di tengah-tengah ia sedang memilih sayuran pada rak. Kaluna ingin memasukkan kertas pemeriksaan rumah sakit di dalam sebuah kue yang akan ia beri tulisan happy anniversary. Lagi-lagi Kaluna tertawa membayangkan ekspresi Rizhan saat menemukan benda aneh di dalam kue itu.
"Mbak, saya boleh minta kertas ini dimasukkan ke dalam kue sebelum dihias?" Kaluna mengeluarkan kertas berlogo salah satu rumah sakit Jakarta.
"Kami hanya punya sisa tiga kue yang belum dihias."
"Terserah yang mana aja yang penting kertas ini bisa dimasukin ke dalamnya."
"Baik, saya akan melipat kertas ini dan memasukkannya ke dalam kotak kecil agar tidak basah saat terkena kue."
"Iya." Kaluna mengangguk.
"Tapi bisa kah Ibu menunggu sebentar sementara kami menghias kuenya."
"Iya, nggak masalah." Kaluna menunggu di kursi dekat toko tersebut, ia juga memesan kue bolu berukuran kecil untuk mengganjal perutnya. Ia tak boleh kekenyangan karena akan makan malam bersama Rizhan nanti.
__ADS_1
Kaluna meraba perutnya yang rata merasakan keberadaan janinnya di dalam sana. Ini adalah keajaiban karena air yang keluar dari tubuh mereka bisa menjadi sebuah janin.
"Mmm enak banget." Gumam Kaluna, entah karena kue itu memang enak atau karena ia sedang lapar sehingga apapun yang dimakannya terasa enak.
Pandangan Kaluna teralih pada sosok pria yang sangat mirip Rizhan tapi tengah bergandengan mesra dengan seorang wanita.
"Dasar kebanyakan mikirin Mas Rizhan jadi gini." Kaluna menggeleng beberapa kali, terlalu banyak memikirkan Rizhan membuatnya seperti melihat sosok itu dimana-mana. "Nggak mungkin Mas Rizhan tiba-tiba ada disini, dia di Bandung." Ujarnya pada diri sendiri.
Namun kemeja itu sama persis dengan yang Rizhan kenakan tadi pagi saat hendak berangkat ke Bandung. Mungkinkah dua orang yang terlihat mirip juga mengenakan pakaian sama di hari yang sama. Kaluna beranjak hendak mengejar pria itu tapi seorang pelayan toko kue memanggilnya.
"Mbak, kuenya sudah selesai." Ujar pelayan tersebut.
"Terimakasih ya." Kaluna memberikan sebuah kartu ATM untuk membayar kue tersebut dan kue yang telah dimakannya barusan.
Kaluna buru-buru mencari sosok mirip Rizhan barusan, ia bukannya sedang curiga bahwa Rizhan sedang selingkuh lagi pula pria itu tak mungkin melakukannya pada Kaluna. Ia hanya penasaran dan ingin memastikan bahwa pria itu bukan Rizhan.
"Lagi pula kemeja yang Mas Rizhan miliki bukan satu-satunya di dunia ini." Gumam Kaluna menenangkan dirinya sendiri, ia kesusahan berjalan cepat karena tangannya membawa kotak kue sekaligus menenteng belanjaan.
Kaluna menajamkan pandangan setelah kembali menemukan sosok tersebut, mereka melangkah ke sebuah toko perhiasan terkenal di mall tersebut. Kaluna tak bisa melihatnya dengan jelas karena pria itu membelakanginya. Mereka tampak memilih beberapa kalung yang dipajang di toko itu.
Mata Kaluna membulat ketika pria itu sedikit menoleh hingga ia bisa melihat bagian samping wajahnya. Itu bukan lagi pria yang mirip dengan Rizhan, dia memang Rizhan.
"Mas Rizhan!" Seru Kaluna dengan suara gemetar menahan tangis, ia menatap Rizhan yang hendak memasangkan kalung pada wanita itu.
Si pemilik nama seketika berbalik mendengar suara yang tak asing di telinganya. Tentu saja bagaimana mungkin ia tak mengenal suara wanita yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 4 tahun dengannya.
"Kaluna .... " Rizhan tertegun melihat Kaluna di hadapannya.
"Tega ya kamu!" Kotak kue di tangan Kaluna terjatuh karena ia tak lagi memiliki kekuatan, bahkan saat ini kakinya lemas tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Kue tersebut jatuh berceceran di atas lantai marmer putih hingga membuatnya penuh warna coklat dan krim kue.
"Bagus ya, kamu bilang mau ke Bandung ketemu klien ternyata kamu kesini beliin kalung wanita ini pakai uang hasil keringat aku juga!" Kaluna melangkah mendekat melangkahi kue yang sudah tak berbentuk di atas lantai. "Bajingan kamu!" Kaluna melayangkan tamparan keras pada Rizhan hingga mengalihkan perhatian orang-orang yang juga berada disana.
"Kaluna aku memang ketemu klien." Rizhan memegangi pipinya yang terasa berdenyut karena tamparan Kaluna.
"Kamu bilang nggak bisa pulang cepet karena klien kita ngajak makan siang bareng, kamu nggak bisa nemenin aku ke rumah sakit cuma buat jalan-jalan sama wanita ini!" Kaluna menarik dasi biru Rizhan. "Dasar kalian nggak tahu malu!" Emosi nya meluap, seluruh tubuhnya seperti terkena setrum listrik tegangan tinggi. Lebih dari itu dada Kaluna seperti ditusuk benda lancip berkali-kali. "Siapa dia?" Kaluna melirik wanita yang saat ini berwajah pias terkejut akan kedatangan istri Rizhan.
"Eliza—" Rizhan menahan dasi yang mulai mencekiknya.
__ADS_1
"Kenapa Mas, kenapa kamu tega selingkuh kayak ini, kamu tega jalan sama wanita lain, kamu pasti lupa ini hari apa, ini hari ulang tahun pernikahan kita, kamu lupa karena asyik selingkuh sama pelacur ini."
"Berapa lama kamu selingkuh? satu tahun? dua tahun atau sejak kita pertama kali nikah kamu emang nggak setia, kamu bilang nggak akan pernah menduakan aku, bullshit tahu nggak! omong kosong semua yang keluar dari mulut sampah itu! siapa dia?"
Rizhan tampak tertegun, ia memang lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya.
Tanpa melepas dasi yang Rizhan kenakan, Kaluna melangkah mendekati wanita yang dari tadi bersembunyi di belakang Rizhan seolah minta perlindungan.
"Kami saling mencintai." Eliza menarik tangan Rizhan dan menggenggamnya, meski gemetar ia menguatkan diri untuk membalas tatapan Kaluna. Ia merasa terlindungi karena ada Rizhan disini.
"Cinta?" Kaluna tertawa tapi itu justru membuat air matanya semakin mengalir deras. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa mencintai suami orang lain? "Kamu juga cinta sama dia kan?" Ia melihat Rizhan.
"Sayang, kita bicarakan ini di rumah disini banyak orang." Rizhan berusaha menenangkan Kaluna.
"Kamu malu, bukankah urat malu mu udah putus?"
"Kami sudah berhubungan selama satu tahun." Ucap Eliza.
"Kamu wanita nggak tahu malu, kamu lebih rendah dari pelacur di luaran sana!" Kaluna menunjuk wajah wanita itu. "Bangsat kamu!" Kaluna mendorong wanita itu hingga pegangan mereka terlepas.
"Kaluna berhenti." Rizhan memegang lengan Kaluna.
"Kamu belain dia? oke belain aja dasar bajingan!" Kaluna menarik dasi Rizhan hingga membuat wajah mereka berdekatan, ia meludahi wajah Rizhan lalu melenggang pergi dari sana.
"Kaluna tunggu!" Rizhan hendak mengejar Kaluna tapi ia ragu jika harus meninggalkan Eliza disini. "Kamu pulang sendiri ya." Ucapnya pada Eliza.
Rizhan tak sengaja menginjak kue yang dibawa Kaluna tadi hingga membuat kue berwarna coklat putih itu semakin tak berbentuk begitu juga dengan kertas di dalamnya. Itu adalah kertas berharga yang membuat Kaluna amat bahagia setidaknya 30 menit yang lalu sebelum ia menangkap basah Rizhan sedang bersama wanita lain.
Kaluna menginjak gas hingga mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Jakarta hari itu. Pandangan Kaluna berkabut karena terhalang air mata tapi ia tak peduli, ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Kaluna tak ingin bertemu Rizhan yang telah mengkhianati pernikahan mereka. Kaluna pikir Rizhan adalah pria setia yang benar-benar tak akan menduakan nya sampai kapanpun. Namun Kaluna salah besar.
Hujan deras mengguyur membuat pandangan Kaluna semakin kabur, ia tak bisa melihat jalanan dengan jelas. Kaluna mengurangi kecepatan saat perutnya terasa kram yang amat hebat. Ia meminggirkan mobilnya setelah menemukan rest area.
Tak mempedulikan hujan, Kaluna keluar dari mobil. Ia berjalan terseok-seok mencari kursi kosong untuk didudukinya.
Bibir Kaluna membiru karena kedinginan, selain itu ia juga merasa perutnya semakin melilit. Kaluna mencengkram perutnya berharap itu bisa mengurangi sakit yang ia rasakan. Ia meletakkan kepalanya di meja dan memejamkan mata. Kaluna ingin menghilang saja dari bumi, ia tak ingin menghadapi kenyataan bahwa Rizhan telah lama menjalin hubungan dengan wanita lain.
Mengapa Rizhan tega melakukan ini kepada Kaluna. Apakah 4 tahun berumahtangga tak ada artinya lagi bagi Rizhan sehingga ia tega menduakan Kaluna.
__ADS_1
Kaluna merasa tak asing dengan wanita bernama Eliza itu? apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? atau selama ini Eliza berada di sekitar mereka hanya saja Kaluna tidak sadar bahwa wanita itu adalah selingkuhan Rizhan.