
"Aku mencintaimu Kaluna." Rizhan memeluk perut Kaluna yang sedang membersihkan make-up di wajahnya. Rizhan melihat pantulan Kaluna melalui cermin, dari pandangannya ia terlihat sangat memuja sang istri. "Akhirnya kita resmi menikah." Ujarnya seraya mengecup puncak kepala Kaluna.
Kehangatan perlahan menelusup ke dalam rongga dada Kaluna kala merasakan sentuhan lembut Rizhan. Kaluna merasa beruntung karena menemukan lelaki yang mencintainya begitu dalam seperti Rizhan. Mereka baru saling mengenal selama beberapa bulan ini tapi Kaluna tak butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rizhan lah laki-laki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Terimakasih sudah memilih ku." Kaluna membalikkan badan mendongak melihat Rizhan.
"Aku yang berterimakasih karena telah menerima cinta orang biasa sepertiku." Rizhan menarik Kaluna ke dalam pelukannya.
Demi menikah dengan Rizhan, Kaluna meninggalkan semua fasilitas dan kemewahannya serta memberanikan diri tinggal di rumah sederhana berdua dengan Rizhan. Awalnya Windi—mama Kaluna tidak setuju jika anaknya menikah dengan Rizhan karena alasan perekonomian Rizhan yang belum stabil. Rizhan belum memiliki pekerjaan tetap sehingga Windi berat melepas sang putri semata wayangnya. Namun Kaluna tetap bersikeras menikah dengan Rizhan, ia berusaha meyakinkan mama nya bahwa rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan.
"Mama percaya sama aku, Rizhan akan memperlakukan aku dengan baik, kami akan memulai bisnis dari awal." Begitu ucapan Kaluna terhadap mama nya saat meminta restu menikah dengan Rizhan. Kaluna mengerti mama nya pasti trauma pada pernikahannya yang kandas di tengah jalan, mama Kaluna tak ingin putrinya mengalami hal serupa.
"Terimakasih sudah meyakinkan Mama kamu untuk menikah denganku." Rizhan mengecup kening Kaluna dengan sayang.
"Berjanjilah untuk setia."
"Aku berjanji." Kata Rizhan dengan tegas. Ia mengangkat tubuh Kaluna membawanya ke tempat tidur.
Mereka baru saja melangsungkan resepsi pernikahan sederhana di sebuah hotel bintang 3. Sebenarnya Windi bisa saja membiayai pernikahan Kaluna dan Rizhan agar berlangsung lebih mewah tapi Rizhan tidak mau bergantung kepada mama Kaluna, sebagai laki-laki ia harus menanggung biaya pernikahannya dan ia hanya mampu merayakan resepsi di hotel yang tidak terlalu terkenal. Rizhan beruntung karena dalam hal ini Kaluna sama sekali tidak menuntutnya melakukan resepsi mewah apalagi mengundang banyak tamu. Bagi Kaluna lebih baik mereka menyimpan uang tersebut untuk memulai bisnis sendiri.
"Aku berjanji akan selalu setia sama kamu karena meski banyak wanita cantik di luar sana, mereka takkan secantik dan sebaik kamu." Rizhan berbaring di samping Kaluna perlahan menarik tali kimono yang Kaluna kenakan. Kaluna sama sekali tidak protes meski ia belum selesai membersihkan make-up nya.
Kaluna mengangguk, "aku percaya."
Rizhan terkejut karena di balik kimono itu Kaluna tidak memakai apapun lagi, ia gemetar karena baru pertama kali melihat Kaluna polos seperti itu.
"Permisi Kaluna." Lirih Rizhan sebelum menyentuh Kaluna lebih dalam.
Kaluna tertawa, "kenapa pakai permisi?" Kata itu terdengar lucu di telinga Kaluna karena Rizhan berkata seolah-olah hendak memasuki rumah mertua.
Rizhan ikut tertawa bukan karena ia juga merasa lucu, ia hanya ingin menutupi rasa gugupnya berada sedekat ini dengan Kaluna.
Kaluna memejamkan mata ketika Rizhan mulai menjamah tubuhnya dari atas perlahan turun ke bawah, ia menikmatinya karena Rizhan adalah lelaki yang ia cintai. Malam ini akan menjadi malam panjang yang penuh dengan kehangatan.
******
"Permisi Ibu Kaluna."
Suara itu membuyarkan lamunan Kaluna tentang malam pertamanya yang indah bersama Rizhan. Kaluna mengerjapkan mata beberapa kali berusaha kembali ke dunia nyata, ia menghapus pipinya yang basah, tak terasa air matanya meleleh begitu saja selama ini mengingat momen dimana Rizhan memperlakukannya bak putri di malam itu. Memikirkan setelah ini Kaluna tak akan pernah mendapatkannya lagi membuat dadanya semakin terasa perih seperti ditusuk-tusuk benda tajam berkali-kali.
"Bu Kaluna sendirian?" Seorang perawat masuk ke ruangan Kaluna diikuti oleh perempuan yang tengah membawa sarapan untuk Kaluna.
"Iya." Kaluna mengangguk.
"Saya periksa dulu ya." Ucap perawat tersebut, ia mengecek kantong infus Kaluna yang hampir habis. "Saya akan mengganti infusnya ya."
"Mau saya suapi makannya?" Tanya pramusaji tersebut dan meletakkan makanan Kaluna di atas nakas.
"Nggak usah, saya bisa sendiri." Balas Kaluna dengan senyum samar.
"Suami Ibu kemana?"
Lagi nikah sama selingkuhannya, "ada urusan di kantor." Kaluna meringis ketika perawat menyuntikkan cairan obat pada selang infusnya setelah mengganti kantongnya dengan yang baru.
"Kalau butuh sesuatu, tekan saja tombol yang ini." Jelas perawat tersebut.
__ADS_1
"Makasih sus, Mbak." Kaluna berterimakasih kepada perawat dan pramusaji yang telah membawakannya makanan dan minuman untuk sarapan. Namun Kaluna sama sekali tidak ingin makan, ia tak ingin melakukan apapun kecuali bernapas.
Pasti saat ini Kaluna terlihat amat menyedihkan, tiga hari yang lalu mengalami keguguran lalu hari ini tak ada satu orang pun yang menemaninya. Suaminya ada di tempat lain dan sedang melangsungkan akad nikah dengan selingkuhannya. Mengapa hidupnya sangat menyedihkan? adakah yang lebih menyakitkan dari ini? Sudahlah, lagi pula Kaluna yang meminta Rizhan segera menikah dengan Eliza. Meski Rizhan bersikeras ingin menunggu hingga Kaluna pulih dan boleh pulang tapi Kaluna tetap meminta Rizhan menikah hari ini sebab Kaluna tak ingin menyaksikan pernikahan suaminya sendiri. Lebih baik ia terbaring sendirian di rumah sakit dari pada harus menjadi saksi pernikahan Rizhan dengan Eliza.
"Kaluna."
Kaluna melihat ke arah pintu yang terbuka lalu muncul seorang wanita seumurannya mengenakan pakaian formal. Ia masuk dengan tergesa-gesa.
"Astri." Melihatnya saja membuat Kaluna ingin segera menumpahkan air matanya lagi, rasanya ia tak cukup menangis dua hari. Melihat Astri sahabatnya membuat Kaluna ingin menangis lagi.
Selain sahabat Kaluna sejak kecil, Astri juga merupakan salah satu karyawan di Kariz Furniture.
"Kaluna, kok kamu nggak bilang sih kalau dirawat di rumah sakit." Astri memukul punggung Kaluna pelan kesal karena ia sahabatnya itu tidak memberinya kabar apapun sejak dua hari yang lalu.
"Ibu kamu kan juga sakit jadi aku nggak mau ganggu kamu." Kaluna menekuk bibir bawahnya.
"Aku tahu kalau kamu masuk rumah sakit justru dari karyawan lain, kamu tuh kenapa sih kayak sama orang lain aja, aku ini sahabat kamu dari kecil kenapa masih mikir bakal ganggu sih." Astri mengomel seperti biasa, ia sudah seperti sosok ibu bagi Kaluna yang tinggal jauh dari mama nya yang jarang bisa bertemu.
Setelah menikah dengan Rizhan, Kaluna pindah ke Jakarta dari Bogor kota kelahirannya. Kaluna ingin dengan dirinya tinggal jauh dari orangtua membuatnya belajar mandiri.
"Kamu sakit apa sih, terus sekarang Rizhan kemana, dia juga nggak ada di kantor, aku pikir dia nemenin kamu disini."
"Nanyanya satu-satu dong, aku pusing nih dengernya." Kaluna menutup telinganya dengan telapak tangan.
Astri menarik napas menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara tapi kau bagaimana lagi, ia sangat khawatir saat mendengar kabar bahwa Kaluna dirawat di rumah sakit. Sahabatnya yang sekuat wonder woman sekarang terbaring lemah di rumah sakit.
"Keguguran." Lirih Kaluna.
"Apa?" Suara Astri merendah tak percaya pada apa yang ia dengar, ia berharap telinganya bermasalah dan kata yang keluar dari mulut Kaluna bukan keguguran tapi sesuatu yang lain. Astri melihat wajah Kaluna, tak ada kebohongan atau candaan sama sekali, lagi pula Kaluna tak mungkin menggunakan keguguran sebagai candaan.
"Aku yakin Tuhan sedang menyiapkan hal baik buat kamu."
Tangisan Kaluna tumpah, jujur saja ia memang sangat membutuhkan seseorang yang memberinya pelukan. Ketika Astri datang maka Kaluna tak bisa menahan tangisannya lagi.
"Rizhan selingkuh, Tri." Jerit Kaluna, ia tak peduli jika suaranya terlalu kencang, rasanya Kaluna tak sanggup lagi menahan ini semua. Kaluna ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk melepas beban itu.
Astri mendelik, biji matanya seperti hendak melompat dari tempatnya.
"Ternyata dia udah lama punya hubungan sama wanita lain di belakangku." Kaluna sesenggukan.
Tubuh Astri memanas, tangannya mengepal di belakang punggung Kaluna. Berani-beraninya Rizhan mengkhianati Kaluna yang telah berkorban begitu banyak demi pernikahan itu. Dasar laki-laki, jika ia telah punya segalanya lalu ia akan mencari wanita lain untuk menjadi pemuas nafsunya.
"Siapa wanita itu?" Tanya Astri dengan suara gemetar menahan emosi.
Astri tak menyangka jika Rizhan yang dikagumi karyawan di kantor karena kesetiannya terhadap Kaluna ternyata memiliki wanita lain. Rizhan pandai menyembunyikan kebusukannya dengan senantiasa bersikap romantis dan memperlakukan Kaluna seperti ratu. Dasar munafik, umpat Astri dalam hati.
Kaluna tidak menjawab, sejak semalam ia berusaha mengingat apakah ia pernah bertemu dengan Eliza sebelumnya.
"Terus sekarang Rizhan dimana?" Pandangan Astri menyapu ke seluruh ruangan, dari tadi ia tak melihat batang hidung lelaki itu.
Kaluna mendongak hingga terlihat wajahnya yang berurai air mata, rasanya begitu berat hendak memberitahu Astri bahwa saat ini Rizhan tengah melangsungkan akad nikah dengan Eliza.
"Aku nggak akan maksa kamu deh." Astri duduk di atas tempat tidur dan kembali memeluk Kaluna. Yang terpenting saat ini adalah Kaluna bisa tenang. "Malam ini aku tidur disini." Ia tak tega membiarkan Kaluna sendirian di rumah sakit. "Kamu belum makan?"
Kaluna menggeleng.
__ADS_1
"Kamu harus makan." Astri beranjak mengambil makanan di atas nakas yang masih terbungkus plastik.
"Nggak laper."
"Aku nggak peduli, kamu harus makan, ayo kapan lagi disuapin perawan nih." Astri menyendok nasi dengan kuah sup dan daging sapi yang dipanggang.
"Emangnya kamu perawan?" Canda Kaluna.
"Masih nanya lagi, jelas lah seluruh dunia juga tahu kalau aku nggak akan memberikan mahkota kepada siapapun, karena nggak ada laki-laki yang pantas mendapatkannya."
Kaluna mengangguk setuju, dari dulu Astri memang tidak pernah pacaran padahal ada banyak laki-laki yang mendekatinya. Sama seperti Kaluna, Astri juga hidup di keluarga broken home sehingga ia tak percaya pada ucapan manis yang keluar dari mulut buaya bernama pria. Sekarang setelah mendengar bahwa Rizhan selingkuh, Astri makin yakin bahwa memang tak ada pria yang bisa ia percaya.
"Beraninya si Rizhan ninggalin kamu disini sendirian." Gerutu Astri belum selesai menumpahkan kekesalannya pada Rizhan. Kalau ada disini pasti Astri sudah melayangkan tinju berkali-kali ke wajah Rizhan, ia tak peduli jika itu membuat ketampanan Rizhan hilang. Bukankah bagus jika Rizhan tak lagi memiliki wajah yang tampan, dengan begitu ia bisa setia terhadap Kaluna.
"Rizhan menikah dengan wanita itu."
"Apa! gila ya lu!" Pekik Astri, sendok di pegangannya terjatuh saking kagetnya dengan ucapan Kaluna.
"Apa? Rizhan menikah lagi?" Suara lain di depan pintu membuat Kaluna dan Astri sama-sama melihat ke arah sana.
"Papa, Mama." Mulut Kaluna menganga melihat orangtua Rizhan berada disana dan mendengar kalimat Kaluna barusan.
"Kaluna." Lidia, wanita berusia lima puluh tahunan yang merupakan mama Rizhan itu melangkah masuk. "Apa yang kamu katakan barusan, Rizhan menikah lagi? bagaimana bisa dia menikah dengan wanita lain, kami tidak salah dengar?"
"Ma—" Kaluna bingung harus menjelaskan dari mana, ia juga masih sakit untuk mengulang-ulang kalimat bahwa Rizhan selingkuh dan sekarang telah menikah dengan wanita itu.
"Berani-beraninya Rizhan menikah dengan wanita lain ketika istrinya sedang terbaring sakit sendirian, kurang ajar anak itu!" Aldi mengumpat.
"Kaluna, kenapa?" Lidia tak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia memilih menarik Kaluna ke dalam pelukannya. Sebagai mama Rizhan, ia sangat malu mendengar bahwa anaknya selingkuh. Ia sangat menyayangi Kaluna seperti anak kandungnya sendiri, mengapa Rizhan tega selingkuh setelah mendapat istri sebaik Kaluna.
"Atas nama Rizhan, kami minta maaf karena gagal mendidik Rizhan." Lidia mencium tangan Kaluna berkali-kali untuk meminta maaf meski itu tak kan sebanding dengan rasa sakit yang harus Kaluna terima.
"Mama, jangan seperti ini." Kaluna menahan tangannya.
"Katakan Kaluna, dimana Rizhan sekarang?" Aldi melihat Kaluna, "Papa harus memberinya pelajaran."
"Pa, dia sedang mempertanggungjawabkan perbuatannya, wanita itu hamil anak Rizhan." Terang Kaluna.
"Hamil?" Ulang Astri, Lidia dan Aldi bersamaan.
Kaluna mengangguk.
Tangan Aldi terkepal, wajahnya memerah menahan emosi. Ia harus menghajar Rizhan sekarang juga.
"Kaluna, dimana mereka nikah, kasih tahu mertua kamu." Desak Astri, Kaluna tak seharusnya melindungi pria yang telah mengkhianatinya.
"Di rumah."
"Di rumah kalian?" Tanya Astri.
Kaluna kembali mengangguk.
"Nggak tahu malu ya mereka, kurang ajar." Umpat Astri, ia tak peduli meski ada orangtua Rizhan disini.
"Papa pergi dulu." Aldi segera keluar dari ruangan Kaluna.
__ADS_1