Luka Pernikahan Kaluna

Luka Pernikahan Kaluna
Kaluna Selalu dinomor duakan


__ADS_3

Wajah Eliza masam mendengar kalimat penutup Rizhan untuk mengakhiri sesi wawancara nya dengan salah satu stasiun televisi swasta yang membahas tentang rahasia kesuksesan Kariz Furniture. Rizhan bilang bahwa semua kesuksesan itu tak akan tercapai tanpa adanya Kaluna yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun. Rizhan mengatakan kesuksesan suami akan diraih jika ada istri yang baik di belakangnya.


Sebagai istri kedua Eliza harus sadar diri jika Rizhan sama sekali tidak menyebutnya di acara itu. Eliza meraih remote dan mematikan televisi karena muak dengan acara tersebut. Ia beranjak dari sofa melangkah ke dapur.


Eliza meremas pintu kulkas sebelum membukanya, ia menahan emosi usai menonton Rizhan di televisi. Eliza pikir setelah menikah hubungan mereka akan lebih lancar karena tak lagi sembunyi-sembunyi. Namun Eliza salah besar, ia lebih suka hubungan mereka sebelum ketahuan oleh Kaluna. Saat itu adalah momen paling mengasyikkan bagi Eliza karena ia selalu merindukan Rizhan setiap hari. Sekarang Eliza justru lebih sering merasa sakit hati karena ia melihat semua perhatian Rizhan pada Kaluna yang membuat posisinya semakin jelas sebagai istri kedua.


Tiba-tiba terlintas ide dalam otak Eliza untuk membuat Kaluna marah ketika ia melihat 2 bungkus es krim Viennetta di kulkas. Eliza ingat ucapan Rizhan bahwa itu adalah es krim kesukaan Kaluna dan ia tidak boleh memakannya. Eliza memicing, itu hanya es krim, ia ingin melihat seperti apa reaksi Kaluna saat tahu es krim kesukaannya habis.


"Mbak Eliza mau makan apa? itu es krim kesukaan Bu Kaluna Mbak, jangan dimakan." Tegur Lina saat melihat Eliza mengambil dua bungkus es krim dari kulkas. "Kalau Mbak mau makan es krim sebaiknya makan es krim yang lain, jangan itu." Lina menghampiri Eliza, ia mengeluarkan jenis es krim lain untuk Eliza.


"Saya maunya yang ini." Tukas Eliza enggan meletakkan es krim yang telah diambilnya.


"Kalau gitu lebih baik Mbak beli di luar aja, ini punya Bu Kaluna nanti dia marah."


"Bibi ini budek apa gimana sih, saya maunya yang ini, kamu mau saya laporin ke Rizhan karena nggak ngelarang saya makan es krim ini, lagian bukan kamu juga kan yang beli."


"Saya memang tidak membeli es krim itu, tapi Bu Kaluna yang membelinya, kalau Mbak Eliza mau lapor Pak Rizhan silakan saja, saya nggak takut karena Pak Rizhan juga yang selalu mengingatkan kami untuk tidak membiarkan siapapun makan es krim itu kecuali Bu Kaluna." Lina tidak mau kalah membuat Eliza kehilangan kata-kata.


"Kamu kurang ajar ya sama saya, saya ini istrinya Rizhan loh kok nggak sopan gitu ngomongnya."


Lina menghela napas keras karena Eliza tetap bersikukuh mengambil es krim itu.


Eliza pergi meninggalkan dapur karena Lina tak bisa lagi membalas ucapannya. Ia menuju taman belakang untuk makan dua bungkus es krim berukuran besar tersebut. Memangnya di dunia ini yang suka es krim cuma Kaluna? begitu pikir Eliza. Kalaupun habis Kaluna bisa membelinya lagi.


Eliza bosan berdiam diri di rumah, ia ingin bebas seperti saat dirinya belum menikah dengan Rizhan. Ia harus meminta Rizhan menemaninya jalan-jalan keluar besok sebagai penebus kesalahan Rizhan mengucapkan cinta pada Kaluna di televisi yang membuat Eliza cemburu. Eliza harus merebut hati Rizhan.


Eliza merasa posisinya aman karena ia sedang hamil, ia bisa menggunakan alasan kehamilannya untuk melakukan apapun termasuk menghabiskan es krim itu.


******


Sebuah kue tiga tingkat bertuliskan Kariz Furniture dengan angka 3 di atas nya berada di tengah-tengah lobi kantor. Di samping kue itu juga terdapat nasi tumpeng dan makanan-makanan kecil lain. Hari ini adalah hari peringatan berdirinya Kariz Furniture ke 3 tahun.


Kaluna dan Rizhan juga mengundang beberapa rekan kerjanya untuk menghadiri acara tersebut.


Semua orang bertepuk tangan ketika Kaluna dan Rizhan memotong kue bersama-sama. Kemudian Rizhan juga memotong puncak nasi tumpeng dan memberikannya pada Kaluna.


Kaluna mempersilakan kepada mereka untuk membagikan kue itu sendiri. Para karyawan langsung menyerbu semua makanan di meja tanpa menunggu aba-aba dua kali.


Rizhan menyuapkan sesendok nasi kuning pada Kaluna dengan suwiran ayam dan serundeng. Kaluna terpaksa menerima suapan Rizhan karena banyak karyawan dan rekan kerja lain disini. Jika hanya berdua Kaluna tak akan mau disuapi Rizhan.


Rizhan merogoh saku celananya ketika mendengar ponselnya berdering nyaring, tertulis nama Eliza pada layar ponsel tersebut. Rizhan melihat sekitar sebelum ia memisahkan diri dari mereka.


Kaluna melihat kepergian Rizhan, ia sudah bisa menebak bahwa Eliza menelepon Rizhan.


"Halo, Eliza ada apa?" Rizhan menempelkan ponselnya di telinga menjawab telepon dari Eliza.


"Sayang, kapan kamu pulang?"

__ADS_1


"Nanti aku pulang, sekarang aku ada acara sama karyawan dan rekan-rekan kerja ku yang lain, kamu menginginkan sesuatu biar aku belikan."


"Aku merindukanmu."


Rizhan tersenyum mendengar ucapan Eliza, ia bersandar pada dinding yang memisahkan antara lobi dan ruang tengah. Ia terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta mendengar kata rindu Eliza. Rizhan langsung ingin pulang dan menemui Eliza saat seperti ini tapi ia juga tidak boleh meninggalkan kantor karena acara belum selesai.


"Aku juga merindukanmu, aku janji malam ini aku akan tidur denganmu." Tukas Rizhan sebelum memutus sambungan karena ia tidak enak meninggalkan acara terlalu lama.


Diam-diam Kaluna mendengarkan percakapan Rizhan, dadanya memanas mendengar kalimat mesra yang Rizhan katakan pada Eliza. Sungguh kalimat itu seperti sebuah pisau yang mengiris hati Kaluna. Beberapa hari ini Rizhan memang selalu tidur dengan Kaluna. Mungkin sekarang Kaluna harus sudah terbiasa tidur sendiri karena suaminya memiliki wanita lain.


Kaluna mundur saat Rizhan berjalan melewatinya, kemudian ia menyelinap keluar. Kaluna memutuskan untuk pulang lebih dulu karena tak ingin satu mobil dengan Rizhan.


Kaluna memejamkan mata bersandar pada kursi setelah ia berhasil mendapatkan satu taksi. Ia ingin membuang jauh bayangannya tentang obrolan Rizhan barusan tapi semakin berusaha Kaluna akan semakin mengingatnya. Kaluna tak bisa lagi mengimpikan hidup tenang, kehidupannya akan selalu dihantui oleh rasa cemburu pada Rizhan dan Eliza.


Mata Kaluna terbuka ketika ia tiba-tiba ingat pertemuan pertamanya dengan Kaluna dulu—satu tahun yang lalu ketika ia dan Rizhan menghadiri acara reuni. Kaluna sulit menemukan sosok Eliza dalam ingatannya karena dulu ia tak terlalu memperhatikan wanita itu. Tak disangka ternyata wanita yang sama sekali tidak tampak mencurigakan justru bisa mengancam hubungan rumah tangga mereka. Pasti sejak pertemuan itu Eliza dan Rizhan saling berkomunikasi hingga akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan. Kaluna harus menanyakannya pada Rizhan nanti.


"Bu Kaluna pulang dulu?" Ani mengambil alih tas kerja Kaluna.


"Iya Bi, makasih." Kaluna tersenyum tipis pada Ani, ia melangkah menuju dapur untuk mengambil es krim kesukaannya. Kaluna biasanya makan es krim untuk meredakan emosinya. Dinginnya es krim mampu membuat kepala Kaluna kembali dingin meski itu hanya sugesti yang ia lakukan pada dirinya sendiri. Nyatanya Kaluna tak akan pernah bisa mengurangi kemarahannya pada Rizhan dengan cara apapun.


Kening Kaluna mengkerut melihat tak ada es krim kesukaannya di dalam kulkas padahal ia yakin ada 2 bungkus yang belum ia makan. Karena es krim itu berukuran paling besar di antara es krim lain pasti Kaluna bisa langsung menemukannya. Namun Kaluna terkejut karena tidak dapat menemukan es krim itu.


"Bibi, es krim saya kok nggak ada ya?" Tanya Kaluna pada Ani yang sedang membuat teh untuknya.


Ani memutar badan lalu menghampiri Kaluna untuk memastikan bahwa es krim itu ada disana seperti saat terakhir kali ia melihatnya tadi pagi.


"Bu maaf." Lina muncul dari pintu belakang, "tadi saya sudah melarang Mbak Eliza makan es krim itu tapi dia bersikeras menghabiskannya."


Mendengar itu Kaluna langsung membanting pintu kulkas bergegas pergi ke kamar Eliza untuk menegurnya karena sudah lancang menghabiskan es krim miliknya.


Kaluna mengetuk pintu kamar Eliza berkali-kali sambil meneriakkan nama wanita kurang ajar itu.


"Kenapa Kaluna?" Eliza dengan wajah yang seolah tak berdosa membuka pintu kamarnya.


"Kamu lancang banget ya ngabisin es krim aku, emangnya Mas Rizhan nggak ngasih tahu kamu kalau siapapun di rumah ini nggak yang boleh makan apalagi ngabisin es itu."


"Ya elah Kaluna, itu kan cuma es krim berapa sih kamu kan bisa beli lagi."


Alis Kaluna bertaut, bukannya mendengar kata maaf, Eliza justru mengucapkan kalimat yang justru membuat Kaluna semakin marah.


"Kenapa nggak kamu aja yang beli sendiri?"


"Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku nggak boleh kemana-mana, kamu udah merebut kebebasan aku tahu nggak."


"Memangnya kenapa, yang jelas aku bukan perebut suami orang seperti kamu!"


"Kalau nggak sama-sama suka, hubungan aku dan Rizhan nggak akan bertahan lama apalagi sampai aku hamil."

__ADS_1


"Kamu bangga dengan hubungan ini, harusnya kamu malu karena kamu berhubungan dengan pria beristri dan sekarang kamu numpang di rumah aku, kamu harus sadar diri untuk nggak menyentuh barang-barang yang bukan milik kamu, emangnya kamu belum puas ambil Mas Rizhan dari aku? kamu mau ambil apalagi?"


Eliza memajukan wajahnya, "asal kamu tahu aku nggak serendah itu Kal!"


"Kamu pantas berada di tempat terendah di bumi ini bahkan pelacur masih jauh ada di atas kamu!" Kaluna mendorong tubuh Eliza karena ia tidak suka berada sedekat itu dengan Eliza.


"Ada apa ini, apa yang kalian ributkan?" Kedatangan Rizhan membuat Kaluna dan Eliza menoleh pada pria itu.


"Mas, istri tercinta kamu ini nggak tahu diri ngabisin es krim aku di kulkas." Ujar Kaluna seraya menunjuk wajah Eliza.


Rizhan terkejut melihat Eliza, "Eliza kenapa kamu makan es krim Kaluna, bukannya dari awal aku udah ngasih tahu kalau kamu nggak boleh ngelakuin itu, kalau emang pengen makan kamu bisa beli di luar tapi jangan sentuh es krim punya Kaluna."


Eliza kaget karena Rizhan justru membela Kaluna padahal itu melakukan itu untuk mendapat perhatian Rizhan.


"Tapi Kaluna sendiri yang bilang aku nggak boleh kemana-mana karena takut ketahuan kalau aku ini istri kamu, lagian aku juga udah minta maaf sama Kaluna tapi dia malah dorong aku." Eliza memasang wajah melas di depan Rizhan.


"Maaf? aku sama sekali nggak denger kamu ngomong maaf ke aku." Kaluna menatap tajam pada Eliza karena telah bicara omong kosong.


"Sayang, bukan aku yang pengen es krim itu tapi anak kita." Eliza mengusap perutnya yang terlihat sedikit buncit, ia menggunakan senjata pamungkas nya untuk membela diri.


Rizhan melihat Kaluna dan mengusap lengannya dengan lembut.


"Kaluna, kita beli lagi es krim itu ya, sekali ini aja kamu ngalah sama Eliza karena dia kan juga lagi hamil."


Kaluna merapatkan giginya menahan emosi, ia segera menepis tangan Rizhan karena telah membela Eliza hanya karena Eliza sedang hamil. Kalimat Rizhan benar-benar menyakitkan, Kaluna sudah cukup mengalah pada Eliza bahkan ia mengizinkan mereka menikah. Kaluna kurang mengalah seperti apalagi terhadap Eliza.


"Kaluna, kamu mau kemana?" Rizhan melihat Kaluna meninggalkan mereka. Ia mengejar Kaluna hingga ke halaman rumah.


Kaluna berlari setelah menyambar tas kerjanya di atas meja ruang tamu.


"Kaluna tunggu." Rizhan menahan tangan Kaluna yang hendak membuka pintu mobil. "Jangan pergi dalam keadaan marah, bahaya Kaluna."


"Jauh lebih bahaya aku ada di antara kalian karena sampai kapanpun Eliza akan menggunakan kehamilannya untuk membela diri, harusnya aku juga hamil sekarang tapi karena kamu dan wanita ****** itu aku kehilangan janin aku, kamu nggak bakal pernah tahu rasanya sakit ku sekarang Mas!"


"Iya maafkan aku, jangan pergi Kaluna."


"Jangan halangi aku, bagus kan kalau aku pergi, bukannya malam ini kamu mau tidur di kamar Eliza kan, silahkan kamu habiskan waktu dengannya." Kaluna menepis tangan Rizhan dan masuk ke mobil lalu segera menutupnya.


Kaluna menekan klakson agar satpam membukakan gerbang untuknya. Entah kemana Kaluna akan pergi yang penting ia tidak ada disini karena suasana ini tak sehat untuknya.


Rizhan hendak naik ke mobilnya untuk mengejar Kaluna. Namun sebelum Rizhan masuk, Eliza lebih dulu menahan Rizhan agar tidak pergi.


"Kaluna bukan anak kecil, dia nggak akan kemana-mana." Ucap Eliza.


"Tapi aku harus kejar dia."


"Rizhan." Eliza menyentuh pipi Rizhan lalu turun ke dagu, "ini kesempatan untuk kita berduaan, kamu bilang mau tidur sama aku malam ini." Ia menatap Rizhan dalam, tatapan yang selalu berhasil memikat hati Rizhan. Setelah itu pasti Rizhan tak akan bisa menolak apapun permintaan Eliza.

__ADS_1


__ADS_2