
"Dalam hidup saya, momen paling berharga yang akan saya ingat seumur hidup adalah pertemuan dengan Kaluna istri saya, dia adalah wanita luar biasa yang selalu mendampingi saya apapun keadaaan kami, Kaluna jika kamu melihat ini, aku ingin mengucapkan terimakasih untuk 4 tahun berharga bersamamu."
Para karyawan bersorak di lobi kantor saat menyaksikan sesi wawancara Rizhan dengan salah satu stasiun TV. Di akhir acara Rizhan mengucapkan kata romantis itu, meski ditujukan untuk Kaluna tapi para karyawan yang melihatnya seolah ikut merasakan kehangatan cinta mereka.
Mereka iri kepada Kaluna karena mendapat suami romantis seperti Rizhan. Tak semua pria mau mengungkapkan cintanya di depan banyak orang apalagi itu di acara live seperti yang Rizhan lakukan.
Di antara sekian banyak karyawan yang bersorak bahagia, hanya dua orang yang menonton acara itu tanpa eskpresi. Mereka adalah Kaluna dan Astri yang justru merasa muak dengan rentetan kalimat yang Rizhan katakan.
Empat tahun ini memang sangat berharga bagi mereka terutama Kaluna tapi setelah ini mungkin rumah tangga mereka tak akan berharga lagi. Rumah tangga Kaluna dan Rizhan sudah tidak ada artinya lagi setelah kehadiran Eliza di tengah-tengah mereka.
"Jangan maksain diri, ayo pergi." Astri menyentuh pundak Kaluna, ia mengerti bagaimana perasaan Kaluna saat ini. Sebenarnya Kaluna pasti tak ingin menonton acara tersebut tapi untuk mengindari kecurigaan karyawan, Kaluna ikut menontonnya bahkan ia terpaksa tersenyum meski hatinya terasa amat perih.
Kaluna mengangguk samar melangkah melewati para karyawan yang masih belum selesai membicarakan keromantisan Rizhan terhadap Kaluna.
"Kenapa sih Rizhan pakai acara bilang gitu ke kamu, niatnya apa coba kalau nggak cari muka, bener-bener buaya ya itu orang." Astri mengomel setelah pintu lift tertutup dan memastikan tak ada orang lagi selain mereka. We Biasanya saat berada di lingkungan kantor, Astri akan menyebutkan nama Rizhan dengan embel-embel bapak tapi sekarang ia tak bisa menahan emosinya melihat kelakuan Rizhan seperti itu.
"Dia emang paling pinter ngomong manis di depan banyak orang." Sahut Kaluna.
"Mulutnya udah kayak gulali depan SD, manis bener tapi lengket bikin nggak betah, pokoknya kalau Rizhan tiba-tiba mati tengah malem, jangan salahin siapapun karena pembunuhnya pasti aku." Astri menepuk-nepuk bahu Kaluna.
"Jangan." Kaluna menurunkan tangan Astri dari bahunya, "satu-satunya orang yang boleh bunuh Rizhan itu cuma aku." Kaluna ikut memasang wajah serius menanggapi candaan Astri.
Lalu sedetik kemudian mereka sama-sama tertawa. Itu adalah candaan mereka sejak zaman sekolah. Jika ada orang yang berani menyakiti Kaluna maka Astri pasti bilang nanti malam ia akan membunuhnya. Candaan itu ternyata masih saja Astri gunakan sampai sekarang setelah tahu Rizhan mengkhianati Kaluna.
"Gitu dong ketawa." Astri melambaikan tangan keluar dari lift karena ruang kerjanya berada di bawah lantai ruangan Kaluna.
Kaluna beruntung memiliki sahabat seperti Astri yang masih bisa membuatnya tertawa di tengah-tengah masalah rumah tangga yang dialaminya saat ini. Mungkin di luar Kaluna terlihat tegar dan kuat tapi sebenarnya ia amat rapuh.
"Selamat pagi Bu." Sophia beranjak dari duduknya begitu melihat Kaluna, ia satu-satunya karyawan yang tidak menonton acara live Rizhan di televisi karena pekerjaannya selalu menumpuk sehingga ia tidak punya waktu untuk bersantai atau menonton televisi walaupun cuma sebentar.
"Pagi Sophia." Balas Kaluna dengan senyum tipis dan melangkah masuk ke ruang kerjanya.
Ponsel Kaluna berdering ketika ia baru meletakkan tas kerjanya di atas meja, ia membuka restoran tas nya dan mengambil benda pipih tersebut. Wajah Kaluna menegang melihat nama Mama pada layar ponselnya.
"Halo, Ma." Kaluna mengawali berusaha membuat suaranya sedatar mungkin. Meski Kaluna yakin mama nya tidak akan tahu soal perselingkuhan Rizhan, tapi ia jadi overthinking ketika mama nya menelepon.
__ADS_1
"Mama baru aja lihat wawancara Rizhan di tv, suami mu nggak pernah berubah dari dulu pandai berkata manis."
Kaluna tersenyum melangkah mendekat ke jendela kaca yang menyajikan pemandangan kota Jakarta dipagi hari.
"Mama apa kabar?" Dari pada menanggapi komentar mama nya tentang Rizhan, Kaluna lebih mengkhawatirkan keadaan mama nya karena ia tidak bisa setiap hari bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mama masih cukup sehat untuk pergi ke kantor setiap hari."
"Mama jangan bekerja terlalu keras." Kaluna memperingatkan.
"Mau bagaimana lagi, Mama juga tidak bisa mengandalkan anak Mama satu-satunya yang justru memilih tinggal jauh dari Bogor."
"Ma, ini sudah empat tahun berlalu kenapa Mama masih bicara seperti ini?"
"Kapan kamu ke Bogor, Jakarta-Bogor tidak sejauh itu kenapa kamu jarang kesini."
"Mama tahu sendiri Kaluna dan Mas Rizhan sibuk, Kaluna usahain deh bulan ini pergi ke Bogor."
"Mama yang pergi ke Jakarta kalau kamu nggak kesini."
"Kamu baik-baik aja kan sama Rizhan?"
Kaluna tertegun mendengar pertanyaan mama nya, ia mencengkram dinding di belakangnya. Perasaan seorang ibu memang tidak bisa dibohongi.
"Mas Rizhan tetap memperlakukan Kaluna dengan baik, Mama jangan khawatir, kenapa Mama tiba-tiba tanya gitu?"
"Perasaan Mama nggak enak aja, soalnya Mama lihat kata-kata Rizhan di tv berlebihan seperti orang yang sedang berselingkuh."
Kaluna mendelik, sedetik kemudian ia tertawa lebar untuk menyembunyikan keterkejutannya.
"Nggak mungkin Mas Rizhan selingkuh, Mama juga tahu gimana sifat Mas Rizhan, dia nggak mungkin menduakan Kaluna."
"Syukurlah kalau begitu, Mama tutup dulu, banyak pekerjaan menunggu."
"Iya, ingat untuk selalu jaga kondisi Mama."
__ADS_1
"Kamu juga." Mama Kaluna memutus sambungan. Saat itu juga akhirnya Kaluna bisa membuang napas keras.
Kaluna terduduk di atas lantai, ia mengusap wajahnya frustrasi. Kaluna takut jika mama nya mengetahui masalah rumah tangganya. Jika itu terjadi maka Kaluna akan membuat mama nya kembali mengingat perselingkuhan papa nya dulu.
Pintu ruangan terbuka, Rizhan muncul dari balik pintu, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kerjanya mencari sosok Kaluna. Sophia bilang Kaluna ada di dalam, tapi Rizhan tidak melihatnya.
"Sayang, kenapa kau disitu?" Rizhan kaget melihat Kaluna duduk di atas lantai.
Kaluna mendongak melihat Rizhan menghampirinya, ia mengulurkan tangan dan langsung di sambut oleh Rizhan.
Rizhan sedikit menunduk meraih pinggang Kaluna membantu wanita itu berdiri.
"Mama telfon." Kata Kaluna tanpa ditanya.
"Mama bilang apa?" Rizhan mengekori Kaluna menuju meja kerja mereka.
Sebelum menjawab pertanyaan Rizhan, Kaluna terlebih dahulu duduk di atas kursi kebesarannya. Sementara Rizhan tak terasa menahan napas selama beberapa detik menunggu.
"Mama minta kita ke Bogor." Kaluna menatap Rizhan yang masih berdiri dengan wajah gusar, "kenapa? kamu takut?"
"Apa Mama tahu tentang ini?"
Kaluna menggeleng, "aku rasa Mama nggak tahu." Ia memberi jeda sebentar, "untuk sementara ini, tapi aku yakin lambat laun Mama pasti tahu masalah kita."
Rizhan berjalan mengelilingi meja lalu duduk di samping Kaluna, "bagaimana jika Mama minta kita bercerai?"
"Kalau aku mau, aku pasti minta cerai sama kamu tanpa Mama minta, kenapa kamu justru mengkhawatirkan pendapat Mama, satu-satunya hal yang harus kamu khawatirin itu perasaan aku Mas."
Rizhan meraih tangan Kaluna dan menggenggamnya, "maaf sayang."
Kaluna segera melepas tangannya dari genggaman Rizhan.
"Ya udah kalau gitu awal bulan depan kita ke Bogor."
Kaluna mengangguk samar. Ia menyalakan komputer untuk memulai pekerjaannya.
__ADS_1
Sebenarnya Rizhan menunggu komentar Kaluna tentang acara televisi yang ia hadiri barusan. Namun kalaupun Kaluna tidak berkomentar, Rizhan tak akan menanyakannya. Meski tak berkomentar apapun tapi Rizhan yakin kalau Kaluna menontonnya barusan.