
Hujan masih mengguyur begitu deras ketika Rizhan berusaha mencari keberadaan mobil Kaluna. Ia mencengkram erat kemudi menahan emosi. Andai tadi ia tidak menuruti kemauan Eliza untuk pergi ke mall pasti mereka tidak ketahuan oleh Kaluna. Namun Rizhan tak bisa menolak permintaan Eliza karena ia sendiri juga sudah berjanji untuk membeli kalung dihari ulang tahunnya.
"Kemana kamu Kaluna?" Gerutu Rizhan, ia melihat ke kanan dan kiri mencari sosok Kaluna meski pandangannya tidak terlalu jelas karena air hujan yang mengenai kaca jendela.
Perasaan Rizhan campur aduk, ia sebenarnya berat meninggalkan Eliza sendirian apalagi dengan kekacauan yang telah Kaluna buat ditambah semua orang memperhatikan mereka. Sekarang Eliza harus menanggung rasa malu itu seorang diri. Namun Rizhan tidak punya pilihan, di antara dua wanita itu ia harus memilih Kaluna sebagai istri. Meski tak bisa dipungkiri Rizhan mencintai keduanya. Setidaknya Kaluna yang senantiasa berada di samping Rizhan dalam keadaan apapun. Sedangkan Eliza selalu berhasil memberikan sesuatu berbeda yang Kaluna tak pernah berikan.
Rizhan jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Eliza sekitar 2 tahun yang lalu ketika mereka sama-sama menghadiri acara reuni kampus. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tidak pernah saling bertemu dan berkomunikasi. Melihat Eliza setelah sekian lama membuat dada Rizhan kembali bergemuruh. Namun saat itu Rizhan berusaha menepis semua perasaan yang kembali menggerogotinya seperti ketika dirinya masih berpacaran dengan Eliza. Ya, mereka pernah berpacaran dulu semasa kuliah. Namun perasaan yang masih labil membuat hubungan mereka kandas.
Saat itu tak ada kesan yang mendalam bagi keduanya, setelah acara reuni itu selesai mereka juga tetap tidak saling bertegur sapa. Namun kesetiaan Rizhan diuji ketika ia tak sengaja bertemu Eliza lagi di SPBU. Waktu itu dompet Rizhan ketinggalan sehingga Eliza berinisiatif untuk membantu Rizhan membayarnya.
"Kenapa Zhan?" Eliza yang menaiki motor menyadari keanehan Rizhan.
"Ini dompet ku ketinggalan."
"Kalau gitu aku bayarin ya."
Rizhan tidak punya pilihan selain menerima bantuan Eliza lagi pula tak ada orang lain yang dikenalnya disini.
"Aku boleh minta nomor kamu nanti aku ganti, kamu kirim ke WA nomor rekeningnya ya."
Sungguh saat itu Rizhan tak berniat berkomunikasi lagi dengan Eliza, ia pikir setelah mengganti uang bensin itu urusan mereka akan selesai. Namun Eliza selalu memberi perhatian terhadap Rizhan seperti mengingatkan untuk tidak memaksakan diri bekerja hingga larut malam atau mengingatkan makan dan lain sebagainya. Kadang mereka saling curhat tentang kehidupan masing-masing. Semua itu membuat benih cinta kembali tumbuh di hati keduanya hingga mereka memutuskan untuk bertemu lagi secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kaluna.
Beberapa kali Rizhan dibuat tegang ketika Kaluna menemukan voucher hotel yang sering menjadi tempatnya menginap bersama Eliza. Pernah suatu kali Kaluna menemukan alat pengaman organ intim pria di tas Rizhan.
"Kok ada ini sih di tas kamu, kita kan lagi program hamil kenapa kamu pakai kayak gini?" Tanya Kaluna saat itu dengan sedikit kecurigaan pada Rizhan.
Namun Rizhan berhasil membuang jauh-jauh kecurigaan Kaluna dengan mengatakan kalau itu adalah hadiah saat dirinya membeli pakaian dalam.
Sebagai istri yang baik Kaluna menaruh seluruh kepercayaannya pada Rizhan. Ia sama sekali tidak menuduh Rizhan selingkuh darinya meski telah beberapa kali menemukan kejanggalan tersebut.
Hingga tiba lah hari ini dimana Kaluna harus mengetahui kenyataan pahit dalam hidupnya yakni melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Rizhan telah lama berhubungan dengan Eliza.
"Kaluna!" Rizhan menghentikan mobilnya setelah melihat Kaluna di salah satu rest area. Ia mengambil payung di jok belakang sebelum turun dari mobil. "Kaluna, kamu kenapa?" Rizhan menegakkan tubuh basah Kaluna, ia kaget melihat wajah pucat sang istri. "Ayo pulang nanti kamu masuk angin."
Dengan mata setengah terbuka Kaluna menepis tangan Rizhan, "lebih baik masuk angin dari pada wanita lain yang masuk ke hubungan rumah tangga orang lain." Tukasnya.
__ADS_1
"Aku bisa jelasin semua ini ke kamu." Rizhan berusaha memegang lengan Kaluna tapi lagi-lagi wanita itu menepisnya. Kaluna merasa jijik disentuh oleh lelaki yang telah mengkhianatinya.
"Ya udah jelasin." Kaluna melipat tangan di depan dada karena kedinginan, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Aku nggak berniat selingkuh dari kamu."
Kaluna mengepalkan tangannya, "kamu ada niat atau nggak, nyatanya kamu selingkuhan kamu khianati aku, kamu ingkar janji kamu rusak janji suci pernikahan kita."
"Aku mencintaimu Kaluna."
"NGGAK PENTING, AKU UDAH NGGAK BUTUH KATA-KATA CINTA DARI MULUT KAMU!" Hardik Kaluna penuh emosi, meski suaranya sedikit teredam oleh hujan tapi kalimat itu mampu membuat Rizhan terkejut.
"Aku minta maaf." Rizhan memasang wajah melas memohon agar Kaluna memaafkannya meski tak semudah itu. Kesalahannya kali ini bukan hanya tentang ia salah membeli warna tapi rambut untuk Kaluna atau karena ia menghabiskan es krim Viennetta kesukaan Kaluna, lebih dari itu kesalahan Rizhan kali ini sangat fatal nyaris tak termaafkan. Namun apa yang bisa Rizhan perbuat, ia juga tak ingin rumah tangganya berantakan. "Aku pengen kita sama-sama terus."
Kaluna tertawa, lagi-lagi tawa yang membuatnya menangis perih.
"Aku nggak pernah lihat cowok yang lebih egois dari kamu!" Ucap Kaluna penuh penekanan sambil menunjuk dada Rizhan.
"Gimana caranya supaya kamu maafin aku?"
"Sekarang kamu pilih aku atau dia?"
"Kaluna, dengerin aku dulu—"
"AKU ATAU DIA!" Tegas Kaluna sekali lagi.
"Aku nggak bisa milih." Rizhan menggeleng.
"Kenapa? oh kamu pilih dia, ceraikan aku sekarang!"
"Eliza hamil."
Kaluna membelalak, mulutnya terbuka terkejut dengan ucapan Rizhan. Perutnya semakin terasa melilit tak tertahankan seperti saat hendak datang bulan hanya saja lebih sakit berkali-kali lipat dari itu. Apalagi sekarang emosinya sedang tidak karuan.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki Kaluna beranjak dari sana menepis tangan Rizhan yang hendak menahannya. Sungguh ia tak ingin melihat wajah Rizhan saat ini, ia ingin sendiri.
__ADS_1
Kaluna memejamkan mata rapat merasakan sesuatu yang hangat mengalir hingga sepanjang paha, betis hingga kakinya begitu ia berdiri. Seperti ada yang mencelos jatuh dari dalam tubuhnya. Kaluna menepis jauh-jauh pikiran buruknya saat ini.
"Kaluna, kenapa kamu berdarah?" Rizhan terkejut melihat darah mengalir ke betis Kaluna.
Tak peduli pada Kaluna yang menolak untuk disentuh, Rizhan mengangkat tubuh Kaluna membawanya masuk ke dalam mobil.
Tubuh Kaluna terasa melayang jauh ke angkasa, ia tak dapat merasakan tubuhnya sendiri ketika Rizhan mengangkatnya. Kaluna tetap berusaha membuka mata meski penglihatannya gelap. Hingga akhirnya ia benar-benar tidak sanggup membuka mata karena kepalanya semakin terasa pening.
******
"Mbak, siapa yang akan bertanggungjawab?" Seorang pegawai toko perhiasan melihat Eliza yang masih pucat pasi karena kejadian heboh beberapa menit lalu. Eliza masih berdiri kaku memandangi kue di atas lantai yang sudah tidak berbentuk. Beberapa orang tampak melihat Eliza, tak sedikit juga yang berbisik-bisik melempar tatapan sinis padanya. Tentu saja dalam hal ini yang paling dibuat malu adalah Eliza karena ia hadir di tengah rumah tangga Rizhan dan Kaluna. Namun apa lagi yang bisa ia lakukan toh sejam awal ia sudah tahu kalau Rizhan sudah beristri.
Eliza menelan salivanya dengan susah payah, ia menyelipkan rambutnya yang lurus berwarna coklat kemerahan ke belakang telinga.
"Saya akan bayar, berapa biayanya?" Eliza mengeluarkan kartu ATM dari tasnya. Untung saja Eliza mendapatkan satu kartu ATM milik Rizhan sehingga ia tak perlu pusing memikirkan biaya untuk kekacauan yang Kaluna sebabkan.
"Bagaimana dengan kalung yang sedang anda pakai?"
Eliza meraba liontin kalung berbentuk bulat yang melingkar di lehernya. Ia melihat pantulan dirinya melalui cermin, kalung tersebut sangat pas dengan lehernya yang jenjang.
"Saya ambil." Eliza menaikkan dagunya dengan percaya diri tidak mau membuat orang-orang disana semakin menginjak harga dirinya.
"Silahkan nomor pin nya." Eliza menekan rangkaian angka pada mesin EDC. Itu adalah rangakaian tanggal lahir Eliza yang sengaja digunakan untuk pin kartu tersebut. Eliza lihat Rizhan memiliki beberapa kartu lain di dompetnya dan ia berhasil mendapat satu.
Eliza melenggang pergi dari sana dengan dagu terangkat setelah membayar. Ia mengabaikan pandangan sinis orang-orang begitu ia melewati mereka. Eliza tak merasa malu karena menganggap mereka tak lebih suci dari dirinya.
Eliza telah memberikan semuanya kepada Rizhan termasuk mahkotanya yang berharga. Dulu Eliza bertekad jika mahkota itu telah ia berikan maka ia juga harus memiliki Rizhan untuk selamanya tak peduli meski Rizhan sudah memiliki istri. Lagi pula perselingkuhan ini mereka lakukan karena sama-sama mau dan cinta bukannya Eliza yang sengaja menggoda Rizhan terlebih dahulu. Itu terjadi secara alami.
Hari ini ketika mereka ketahuan oleh Kaluna, Eliza tak terlalu terkejut karena ia sudah mempersiapkan hal ini sejak dulu. Ia yakin lambat laun Kaluna akan mengetahui hubungan mereka. Lagi pula sekarang Eliza memiliki senjata ampuh untuk membuat Rizhan tetap tinggal yakni anak di kandungannya, itu adalah darah daging Rizhan.
"Aku mau gugurin kandungan ini." Begitu ucapan Eliza ketika pertama kali memberitahu pasal kehamilannya pada Rizhan karena ia takut jika pria itu tidak mau bertanggungjawab. Namun Rizhan melarang Eliza melakukan itu karena ia akan memberi nafkah terhadap Eliza.
"Kamu harus menjaga anak itu dengan baik karena istriku berjuang sangat keras untuk bisa hamil, harusnya kamu bersyukur." Ucapan Rizhan masih terngiang di telinga Eliza hingga saat ini.
"Gimana kalau Kaluna minta Mas Rizhan ninggalin aku?" Eliza bertanya pada dirinya sendiri, ia duduk termenung di halte menunggu bus datang.
__ADS_1
Tentu saja Kaluna berhak meminta Rizhan meninggalkan Eliza. Namun untuk saat ini Eliza telanjur mencintai Rizhan, ia terbiasa diselimuti segudang perhatian oleh pria itu. Tak ada yang membuat Eliza merasa nyaman seperti yang Rizhan lakukan kepadanya.
Seperti daun yang gugur, Eliza juga tidak bisa memilih kepada siapa hatinya akan jatuh lalu sekarang ia telah jatuh cinta pada suami orang bahkan mengandung anaknya. Ia sudah jatuh ke jurang paling dalam dan sulit untuk kembali naik ke permukaan.