Luka Pernikahan Kaluna

Luka Pernikahan Kaluna
Berbagi Suami?


__ADS_3

"Maaf Pak Rizhan, Ibu Kaluna mengalami keguguran."


Seperti tersengat listrik Rizhan mendengar keterangan dokter mengenai kondisi Kaluna saat ini, tubuhnya bergetar hebat mengetahui bahwa Kaluna sedang dalam keadaan hamil. Rizhan lemas, ia terduduk di atas lantai dan menunduk dalam-menangis tanpa suara.


Hari ini seharusnya mereka pergi ke ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan bersama dokter Maia-dokter yang telah membantu mereka menjalani rangkaian prosedur IVF. Pasti tadi Kaluna amat bahagia mengetahui dirinya hamil tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama setelah mengetahui Rizhan selingkuh.


Rizhan meninju lantai berkali-kali, biasanya ia selalu mendampingi Kaluna setiap kali pergi ke dokter. Namun karena hari ini Rizhan harus menemui klien di Bandung, ia terpaksa membiarkan Kaluna pergi seorang diri.


Rizhan mengangkat wajah melihat ada sepasang kaki yang berdiri tepat di hadapannya. Dari bentuk kakinya, Rizhan sudah bisa mengetahui bahwa itu adalah Kaluna. Dengan berat hati, Rizhan mendongak melihat wajah pucat Kaluna dengan pandangan kosong. Sinar wajah Kaluna menghilang seketika ketika mendengar kalimat dokter Maia barusan.


"Kaluna .... " Rizhan berdiri merengkuh Kaluna yang tidak dapat melawannya lagi. "Maafkan aku Kaluna, maafkan aku."


"Kenapa kamu tega bercinta dengan wanita lain ketika aku sedang di rumah menahan sakit setelah mendapatkan banyak suntikan selama proses IVF, kenapa kamu bisa menjalin hubungan dengannya, apakah saat itu kamu sama sekali nggak mikirin aku istri kamu, sedangkan aku waktu di luar mau makan sesuatu aja selalu ingat kamu."


Kaluna memejamkan mata menangis tersedu-sedu tanpa membalas pelukan Rizhan. Mengapa semua hal-hal buruk terjadi dalam satu hari menimpa Kaluna. Ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun bukannya berbahagia Kaluna justru mendapat musibah yang luar biasa besar. Pertama mengetahui Rizhan selingkuh lalu kedua Kaluna kehilangan anak yang telah dinantinya selama 4 tahun ini. Kesakitan dan penderitaan Kaluna selama menjalani proses IVF tak membuahkan hasil sesuai keinginannya. Janin itu pergi begitu cepat sebelum Kaluna bisa merasakan kehadirannya.


"Maafkan aku .... "


Mengapa baru sekarang Rizhan minta maaf, apakah tadi ia tak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya terhadap Kaluna. Apakah kata maafnya ditutupi oleh perasaan cinta yang begitu besar kepada Eliza sehingga ia lupa bahwa perbuatannya sama sekali tak bisa termaafkan.


"Bu Kaluna sebaiknya banyak istirahat sekarang." Ucap seorang perawat.


"Ayo Kaluna." Rizhan mengangkat Kaluna memindahkannya ke tempat tidur.


Kaluna menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kepala, saat ini ia tak ingin melihat wajah Rizhan. Bolehkah ia mengakhiri hidupnya sekarang juga? bolehkah?


Kaluna merasa cairan hangat dan asin menyentuh permukaan lidahnya. Tanpa sadar Kaluna menggigit bibirnya begitu kuat hingga berdarah. Sungguh itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka di dalam hatinya. Darah dan air mata bercampur menjadi satu menghasilkan rasa asin sekaligus asin.


Aku berharap ini hanya mimpi lalu aku akan bangun dengan keadaan yang kembali normal seperti dulu. Tuhan, ini terlalu menyakitkan untukku.


Rizhan menghempaskan tubuhnya ke sofa menatap Kaluna yang menutupi tubuhnya dengan selimut rumah sakit.


Bagi Kaluna setelah ini anniversary pernikahan bukan lagi mengingatkannya pada sesuatu yang membahagiakan, sebaliknya itu adalah hari dimana ia kehilangan suami dan calon anaknya sekaligus. Bagi Kaluna setelah mengetahui Rizhan selingkuh maka pria itu bukan miliknya lagi, ia enggan mengakuinya.


Bisakah ia berbagi suami?


Kaluna rela berbagi apapun dengan orang lain karena ia sendiri terkenal dermawan tak hanya kepada karyawannya di kantor melainkan juga dengan orang-orang di sekitarnya. Namun suami bukanlah hal yang bisa dibagi apalagi cinta.


Kami saling mencintai.


Ucapan Eliza kembali terngiang di telinga Kaluna. Itu berarti janin yang saat ini berada di rahim Eliza adalah benih cinta mereka. Bisa-bisanya mereka mengatakan itu cinta. Bukankah seharusnya cinta tidak berdiri di atas penderitaan orang lain?


"Kaluna, kamu butuh apa?" Rizhan beranjak dengan cepat melihat Kaluna menyingkap selimutnya.


"Aku mau ketemu Eliza." Suara Kaluna terdengar dingin.

__ADS_1


"T ... tapi, bagaimana mungkin kamu ketemu dia dalam keadaan seperti ini, kamu belum pulih Kaluna."


"Sampai kapanpun aku nggak akan pernah pulih, ini akan jadi luka abadi dalam diri aku." Kaluna memiringkan tubuhnya memunggungi Rizhan, ia tak ingin mendengar apapun lagi dari Rizhan.


Rizhan menelan salivanya dengan susah payah, netra nya yang berwarna hitam pekat semakin redup mendengar ucapan Kaluna. Sekarang Rizhan juga dalam keadaan yang serba salah dimana ia tidak bisa memilih antara Kaluna atau Eliza.


"Setidaknya tunggu sampai kamu keluar dari sini."


"Memangnya setelah keluar dari sini kamu akan berubah jadi suami yang setia?" Sinis Kaluna.


Kaluna menekan dadanya yang terasa amat perih, tak akan ada yang mengerti perasaannya saat ini.


Mulut Rizhan terbuka hendak membalas ucapan Kaluna tapi mengingat kondisi sang istri saat ini ia tidak mungkin memulai perdebatan. Akhirnya Rizhan mengirim pesan pada Eliza agar wanita itu datang kesini seusai permintaan Kaluna.


******


Setelah 10 menit berlalu suasana masih hening. Tak ada dari dua wanita di ruangan itu yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Suara jam dinding terdengar begitu nyaring berkat keheningan yang mereka ciptakan. Hujan telah reda menyisakan dahan pohon dan rerumputan yang basah dan licin.


Kaluna memandang lurus ke arah Eliza yang duduk dekat ranjang rawatnya. Sesekali ia berkedip enggan mengalihkan pandangan dari wanita yang tak hanya merusak rumah tangganya melainkan seluruh kehidupannya menjadi porak poranda tak karuan.


Kaluna memperhatikan setiap lekuk wajah Eliza, alis yang tidak terlalu tebal dan rapi lalu dilukis dengan pensil alis berwarna kecoklatan sangat pas dengan rambutnya yang juga coklat dan kadang-kadang terlihat kemerahan. Sepasang mata bulat dengan extension bulu mata yang cukup tebal, Kaluna tidak tahu apa warna asli mata Eliza karena ia menutupinya dengan lensa kontak. Tulang hidung Eliza tak terlalu tinggi lalu bibir bawahnya lebih tebal dibanding bibir bagian atas. Luka di sudut bibir Eliza tidak luput dari perhatian Kaluna, apakah itu luka yang disebabkan oleh ciuman Rizhan. Ya, luka itu nampak baru.


Tentu saja dibanding wajah pucat Kaluna saat ini, Eliza terlihat lebih menarik. Namun Kaluna memiliki kecantikan alami dari dalam dirinya yang tak perlu polesan lagi.


Kaluna sedang mencari dimana letak keunggulan Eliza hingga Rizhan bisa berselingkuh di belakangnya.


"Aku nggak suka kamu pakai lensa kontak karena mata aslimu lebih cantik."


Kaluna tiba-tiba teringat ucapan Rizhan dulu, dasar munafik!


Kaluna berpaling melihat keluar jendela, kini ia tak bisa lagi berpikir positif setelah melihat Eliza dan mengalami kenyataan pahit itu di hidupnya.


Beberapa kali mulut Eliza terbuka hendak memulai pembicaraan tapi ia takut membuat Kaluna semakin marah. Tentu saja apa yang Eliza lakukan akan tetap salah di mata Kaluna.


"Maaf." Eliza menunduk, akhirnya kata itu keluar juga dari mulutnya meski ia tahu maaf tak cukup untuk menebus kesalahannya.


"Apa yang kamu mau setelah ini?" Kaluna memutar kepala melihat Eliza.


"Saya turut berduka atas kabar buruk yang menimpa mu dan Rizhan." Eliza mengangkat wajah perlahan tidak berani menatap Kaluna.


Kaluna tersenyum getir, dunia ini begitu tak adil untuknya. Ketika Kaluna kehilangan janin yang ia nantikan sejak lama, wanita lain sedang mendapatkan bayi di dalam rahimnya.


"Berapa usia kandungan mu?"


"Sekitar tiga atau empat minggu." Eliza mengusap perutnya yang masih rata, itu adalah kehamilan yang tak begitu ia inginkan. Eliza ikut terpukul mendengar kabar bahwa Kaluna keguguran, ia harap dirinya lah yang mengalami hal tersebut. Pun Rizhan tak mengharapkan anak yang keluar dari rahim Eliza.

__ADS_1


"Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi."


Eliza menarik napas dalam sebelum menjawab ucapan Kaluna, "aku masih cinta begitupun dengan Rizhan."


"Lalu?"


"Aku hamil anak Rizhan, tentu tidak salah kalau aku minta pertanggungjawaban nya."


"Satu-satunya kesalahan mu adalah berhubungan dengan pria beristri." Sahut Kaluna cepat.


"Jangan salahkan aku, toh Rizhan juga mau."


"Menikahlah, itu kan yang kamu mau?"


Eliza tertegun tak percaya mendengar kalimat Kaluna, ia pikir Kaluna akan memintanya pergi sejauh mungkin dan tak lagi mengganggu mereka.


"Kaluna, kamu yakin?" Rizhan tiba-tiba masuk, dari tadi ia hanya berdiri di depan pintu mendengarkan pembicaraan Kaluna dan Eliza dari luar. Ia berjaga-jaga takut jika Kaluna tiba-tiba berbuat sesuatu yang buruk pada Eliza. Namun di luar dugaan, Kaluna justru meminta Eliza segera menikah. "Kaluna, aku bisa bertanggungjawab tanpa menikahinya, aku bisa memberi Eliza jatah uang bulanan."


Eliza terkejut dengan ucapan Rizhan, ia pikir Rizhan akan senang karena Kaluna mengizinkan mereka menikah.


"Eliza dengar, mengapa lelaki seperti ini yang kamu cintai?" Kaluna tersenyum miring, kalimat Rizhan benar-benar membuktikan bahwa ia pengecut. Mau berbuat tapi tidak mau bertanggungjawab.


"Rizhan, kamu mau biarin anak ini lahir tanpa Ayah?" Eliza melempar tatapan tajam pada Rizhan.


"Eliza kamu harus tahu diri, aku sudah beristri, nggak mungkin aku menikah lagi."


"Kalau kamu sadar sudah punya istri, kenapa kamu berhubungan dengan ku?"


Rizhan kehabisan kata-kata tak tahu harus menjawab ucapan Eliza dengan kalimat macam apa. Ia melangkah menghampiri Kaluna di atas tempat tidur.


"Kaluna aku minta maaf." Rizhan meraih tangan Kaluna yang dingin dan lemah. Ia telah menyakiti Kaluna terlalu banyak, bagaimana caranya menebus semua rasa sakit yang Kaluna rasakan?


"Kamu mau ceraikan aku dulu sebelum menikahinya?" Kaluna menatap Rizhan dingin.


Rizhan menggeleng berkali-kali, "Kaluna jangan bicara seperti itu, aku cinta sama kamu, sampai kapanpun aku nggak akan pernah menceraikan mu."


"Kenapa wajahmu begitu?" Kaluna memiringkan kepalanya melihat Rizhan yang memasang wajah sedih, "jangan bersikap seolah-olah tersakiti karena satu-satunya orang yang paling sakit di antara kalian itu aku, dan kamu—beruntung bisa menikahi Eliza atas izinku." Kaluna menunjuk wajah Rizhan. "Kamu bahagia kan?"


"Gimana aku bisa bahagia setelah kehilangan anak itu?" Rizhan membalas tatapan Kaluna sendu.


"Tapi kamu dapat gantinya." Kaluna melirik Eliza.


"Kaluna, kita berjuang sama-sama untuk anak itu, aku Papa nya aku juga sedih."


Eliza memalingkan muka tak tahan melihat Kaluna dan Rizhan seperti itu. Karena ia tak pernah melihat kemesraan mereka begitu dekat, rasa cemburu perlahan merayap ke dalam hati Eliza.

__ADS_1


Kaluna melepaskan tangannya dari pegangan Rizhan karena muak dengan ucapan pria itu.


"Antar Eliza pulang, aku mau tidur." Kaluna meletakkan kepalanya pada bantal dan memejamkan mata berharap bisa terlelap dalam waktu yang sangat lama.


__ADS_2