
Kaluna menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua di rumahnya. Ia telah siap dengan rok span hitam dan kemeja berwarna putih tulang untuk berangkat ke kantor. Rambutnya yang dikuncir ke atas bergoyang-goyang seiring langkah kakinya. Kaluna terlihat lebih segar dibandingkan dengan seminggu yang lalu saat dirinya baru mengalami keguguran. Selain itu ia juga menggunakan bedak dan lipstik merah muda yang membuatnya semakin terlihat cantik.
Pemandangan yang pertama kali Kaluna lihat ketika sampai di ruang makan adalah Rizhan sedang menuang air minum untuk Eliza. Hati Kaluna teriris, ia membalikkan badan dan sedikit mendongak agar tak ada air yang luruh dari pelupuk matanya.
"Bu Kaluna." Ani melihat Kaluna saat ia meletakkan kerupuk di meja makan.
Rizhan terkejut mendengar Ani menyebutkan nama Kaluna, "Kaluna, aku pikir kamu masih ingin istirahat di rumah jadi aku nggak bangunin kamu." Ujarnya dengan wajah merasa bersalah.
Kaluna membalikkan badan setelah mengubah ekspresi wajahnya sedatar mungkin, seolah membangun dinding kokoh yang tak bisa ditembus oleh Rizhan maupun Eliza. Kaluna harus berdiri dengan kakinya sendiri meski tanpa Rizhan yang menguatkannya.
"Pakai cincin mu." Tangan Kaluna terulur menyodorkan cincin milik Rizhan tepat di depan wajah Eliza.
Rizhan menurut mengenakan cincinnya pada jari manis, ia melepasnya saat mandi dan lupa mengenakannya lagi sampai pagi ini. Pasti itu membuat mood Kaluna semakin tak karuan.
"Pagi Kaluna." Sapa Eliza dengan senyum gugup.
Kaluna tidak membalas seolah tak mendengar sapaan itu, ia mengambil dua potong roti dan mengolesnya dengan selai kacang.
"Kamu hanya makan roti? Bi Ani membuat nasi goreng cumi kesukaan kamu." Rizhan memindahkan nasi goreng ke dekat Kaluna.
Kaluna masih terdiam, ia terlihat menikmati kegiatannya mengoles selai pada roti dan melahapnya.
Eliza melihat Rizhan, sungguh suasana saat ini sangat canggung membuatnya tak tahu harus berkata apa lagi untuk mencairkan suasana.
"Bi Ani tolong masukin nasi goreng ke kotak ya, saya makan di kantor aja." Kaluna beranjak dari duduknya, meletakkan roti yang baru ia makan segigit pada piring. Bagaimana ia bisa berselera makan jika satu meja dengan Eliza.
"Kaluna, kamu bawa mobil sendiri." Tanya Rizhan.
"Apa aku pernah bawa mobil sendiri ke kantor?" Kaluna menatap Rizhan.
"Enggak." Rizhan menggeleng dan segera beranjak dari duduknya buru-buru menyusul Kaluna meninggalkan Eliza seorang diri di ruang makan. Eliza tidak bisa menahan Rizhan karena ia sadar bahwa dirinya hanya istri kedua. Kaluna tetap lah yang paling berkuasa atas Rizhan dan semua yang ada di rumah ini.
Rizhan pergi ke kamar untuk mengambil tas kerjanya sementara Kaluna menunggu di teras sambil mengenakan high heels hitam.
Ani membawa kotak makanan untuk Kaluna yang sudah diletakkan di dalam paper bag.
"Ayo berangkat." Rizhan telah siap pergi ke kantor dengan menenteng tas kerjanya.
Kaluna melangkah terlebih dahulu menuju mobil Rizhan di halaman rumah.
"Pagi Bu, Pak." Rudi yang baru saja membersihkan mobil menyapa Kaluna dan Rizhan saat melihat mereka. Ia adalah supir pribadi Rizhan dan Kaluna tapi mereka lebih sering menyetir sendiri sehingga tugas Rudi saat ini adalah mencuci mobil dan menata taman.
"Pagi Pak." Balas Rizhan dan Kaluna bersamaan.
Rudi membukakan pintu mobil untuk Kaluna sedangkan Rizhan melangkah mengelilingi mobil dan duduk di jok kemudi. Rizhan melirik Kaluna yang masih bergeming membuatnya jadi serba salah.
"Kaluna aku nggak tahan kalau kamu terus diam seperti ini." Rizhan menginjak gas saat Rudi mulai membuka gerbang, ia menjalankan mobil perlahan keluar dari halaman rumahnya yang luas.
"Terus mau aku gimana, mau aku bersikap seolah-olah nggak terjadi apa-apa, kamu nggak tahu gimana rasanya sakit hatiku, kamu berbahagia di atas kesedihanku."
"Bagaimana bisa kau mengatakan aku bahagia?" Rizhan tersinggung dengan ucapan Kaluna.
Rizhan tak sadar diri bahwa ia telah begitu menyakiti Kaluna dengan berselingkuh. Kaluna hanya mengatakan yang sebenarnya. Tentu tidak berlebihan jika Kaluna mengatakan Rizhan berbahagia di atas penderitaannya. Dalam hal ini Kaluna lah yang paling dirugikan, ia harus berbagai suami dan cintanya dengan wanita lain, pada saat yang bersamaan Kaluna juga kehilangan bayinya. Bukankah pihak yang diuntungkan adalah Rizhan karena memiliki dua istri sekaligus.
"Aku pernah ngasih kamu pilihan, aku atau dia tapi jawaban kamu adalah tidak bisa meninggalkan dia, secara tidak langsung kamu pilih dia kan." Kaluna memutar badan melihat Rizhan sepenuhnya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa ninggalin Eliza karena dia hamil."
"Bukan karena cinta?"
Rizhan terdiam menelan salivanya dengan susah payah kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Kaluna.
Kaluna tersenyum miring dengan air mata merebak, ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi menekan pelipisnya yang terasa berdenyut. Jika bukan karena menghindari pikiran-pikiran aneh karyawannya Kaluna tak akan mau satu mobil dengan Rizhan. Ia benar-benar muak berada di samping pria itu.
"Selamat pagi Pak Rizhan dan Bu Kaluna." Satpam yang menjaga di kanan dan kiri pintu masuk menyambut kedatangan dua bos mereka.
"Bagaimana kabar Bu Kaluna?" Sophia—sekretaris Kaluna dan Rizhan menyapa Kaluna juga di depan pintu. Sophia menebar senyum manis pada Kaluna setelah seminggu tidak melihat sang atasan di kantor. "Kami ingin menjenguk Ibu ke rumah sakit tapi Bu Astri bilang Bu Kaluna tidak bisa diganggu." Ia mengikuti langkah Kaluna menuju lift.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya, memang benar saya harus istirahat total tapi hari ini saya sudah sehat."
Sophia menekan angka paling atas pada lift menuju ruangan Kaluna dan Rizhan berada.
"Syukurlah kalau Bu Kaluna bisa kembali bekerja."
"Bukankah ada banyak pekerjaan yang menunggu saya?" Kaluna melirik tablet di tangan Sophia, ia sudah menduga ada banyak pekerjaan yang menunggunya karena selama seminggu ini juga Rizhan tidak bisa lama-lama di kantor.
Sophia mengangguk, "benar Bu."
"Kalau gitu kamu langsung ikut ke ruangan saya, ya."
"Baik Bu." Sophia mengangguk.
"Oh iya sebelum itu, saya minta tolong pesankan mawar kuning dan letakkan di ruangan saya."
Senyum Sophia memudar, "ada mawar merah dan putih, mengapa Bu Kaluna menginginkan mawar kuning?"
"Saya sedang ingin mawar kuning."
Rizhan tertegun mendengar ucapan Sophia sedangkan Kaluna tertawa hingga membuat dua orang yang berada disana kaget.
"Aku ingin karena mereka cantik dan jarang ditemukan, tidak ada alasan lain." Ucap Kaluna akhirnya lalu keluar dari lift setelah mereka sampai di lantai paling atas kantornya.
Rahang Rizhan mengeras, apakah Kaluna sengaja menginginkan mawar itu karena melambangkan ketidaksetiaan seperti ucapan Sophia. Apakah Kaluna ingin memberitahu seluruh kantor bahwa Rizhan telah berselingkuh dan menikah lagi.
"Kamu mau memberitahu semua orang di kantor tentang hal ini?" Tanya Rizhan begitu mereka tiba di ruangannya sementara Sophia sedang mempersiapkan beberapa dokumen yang harus Kaluna pelajari.
"Tentang apa?" Kaluna meletakkan tas kerjanya di meja dan menyalakan komputer.
"Tentang perselingkuhan ku." Rizhan merendahkan suaranya saat mengatakan perselingkuhan.
"Kenapa, kamu takut?"
"Kaluna, kau benar-benar akan memberitahu mereka?"
"Apakah itu sesuatu yang memalukan untuk diucapkan?" Kaluna melirik Rizhan yang berjalan ke arahnya.
"Kaluna—"
"Jika itu memalukan kenapa kau melakukannya?"
Rizhan mengembuskan napas kasar karena selalu kalah dalam perdebatan mereka. Tentu saja siapa yang salah maka ia akan kalah. Apalagi Kaluna bukan wanita lemah yang harga dirinya bisa diinjak-injak begitu saja oleh laki-laki.
__ADS_1
Kamu pikir aku sejahat itu?
Pintu ruangan terbuka lalu muncul Sophia yang membawa beberapa dokumen untuk segera dipelajari dan ditandatangi oleh Kaluna dan Rizhan.
"Perusahaan Great Plan meminta untuk mengganti warna sofa karena menurut pihak mereka warna tersebut terlalu terang untuk dinding kantor mereka yang sudah terang." Sophia meletakkan tabletnya menunjukkan sebuah gambar desain sofa yang mereka kirimkan seminggu lalu kepada Great Plan.
Rizhan duduk di samping Kaluna memperhatikan tablet Sophia dengan seksama.
"Menurut mereka terlalu terang?" Kaluna mengerutkan kening, ia rasa warna tersebut sudah pas tapi jika klien menginginkan lebih gelap maka mereka harus menurutinya.
"Benar Bu."
"Kalau begitu turuti kemauan mereka, lalu bagaimana dengan bahan bakunya apakah tidak ada masalah?" Rizhan mengalihkan pandangan pada Sophia.
"Semuanya tidak masalah kecuali dengan warnanya."
"Baik Pak."
Suara dering ponsel Sophia terdengar nyaring membuat si pemilik segera meminta izin untuk menjawab telepon.
"Silahkan." Kaluna memberi izin.
"Suruh ke atas, baik, terimakasih." Sophia segera memutus sambungan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Pengantar bunga sudah datang."
"Terimakasih Sophia." Ucap Kaluna.
Rizhan melihat dokumen-dokumen yang Sophia bawa, membacanya dengan cermat sebelum memberikan tanda tangan.
"Saya permisi mengambil bunga dari kurir." Sophia keluar ruangan. Biasanya Kaluna menyukai bunga sedap malam atau mawar merah untuk dipajang di meja ruangannya, saat mendengar Kaluna ingin mawar kuning, Sophia cukup terkejut karena tidak seperti Kaluna yang biasanya. Namun Sophia tidak berani bertanya lebih karena ia hanya sekretaris. Biasanya Sophia akan merangkai kembali pada vas bunga kaca sebelum meletakkannya di meja kerja Kaluna dan Rizhan.
"Kamu harus pergi ke pabrik untuk melihat kualitas bahan baku kita, ajak Rey juga jangan pergi sendiri." Ujar Kaluna pada Rizhan.
"Baiklah, aku akan ajak Rey." Rizhan mengangguk.
Sophia kembali dengan satu vas bunga mawar kuning di tangannya, ia meletakkan bunga berwarna cerah tersebut di atas meja kerja atasannya.
"Sophia, silahkan hubungi pihak Great Plan katakan pada mereka kalau kita akan segera membuat pesanan mereka."
"Baik Bu Kaluna." Sophia mengambil tabletnya lalu keluar ruangan.
"Aku pergi dulu." Rizhan beranjak, "jangan lupa makan nasi goreng mu." Ia mengecup puncak kepala Kaluna sebelum keluar.
Untuk sesaat Kaluna terpaku mendapat kecupan lembut dari Rizhan, tidak munafik ia menyukainya. Ternyata cintanya teramat dalam terhadap Rizhan, ia tak ingin Rizhan hilang dari genggamannya hanya karena wanita bernama Eliza itu. Kaluna hampir saja menangis jika pintu ruangannya tidak dibuka oleh seseorang, tampak Astri masuk dengan membawa dua map di tangannya.
"Aku papasan sama Pak Rizhan di depan, mau kemana?" Astri menghampiri meja Kaluna.
"Mau ke pabrik."
"Sendirian?" Astri meletakkan map tersebut di meja Kaluna, "ini desain baru untuk Suka Jaya."
"Aku minta dia ajak Rey." Kaluna membolak-balik kertas dokumen dari Astri. "Bagus, aku suka." Komentarnya.
"Kita semua juga sedang mempersiapkan perayaan hari jadi Kariz Furniture, Pak Rizhan akan diundang stasiun TV untuk melakukan wawancara, dia juga sudah menyetujuinya."
Kaluna mengangguk mengerti, "itu bagus untuk membuat perusahaan kita semakin dikenal."
__ADS_1
Astri mengangguk, "aku seneng kalau kamu udah bisa kerja lagi." Ia menepuk pundak Kaluna dua kali.
Kaluna terdiam. Hanya dengan bekerja ia bisa mengalihkan pikiran dari prahara rumah tangganya. Kaluna tak bisa hanya terus memikirkan hal tersebut.