
"Saya nikahkan saudara Rizhan Arsenico Prasaja bin Aldi Budianto dengan Eliza Mayangsari binti Yoga Widodo dengan mas kawin uang satu juta rupiah dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya Eliza Mayangsari dengan mas kawin yang tersebut tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
Rizhan tak asing dengan ucapan ijab kabul seperti itu karena ia pernah melakukannya dulu—empat tahun yang lalu saat menikah dengan Kaluna. Rizhan tak setegang dulu seperti saat melakukannya pertama kali.
Rizhan tak pernah memiliki keinginan menikah dulu kali tapi sekarang ia justru berpikir—bukankah tidak mungkin bagi seorang manusia hanya mencintai satu orang seumur hidupnya. Rizhan pria normal yang senang saat melihat wanita cantik di luar sana, hanya saja takdir membawanya untuk menikahi wanita cantik itu bukan hanya melihat dan mengaguminya.
"Kurang ajar kamu Rizhan!" Suara itu membuat Rizhan dan Eliza serta beberapa orang yang berada disana melihat ke arah pintu.
"Papa!" Rizhan tertegun melihat papa nya tiba-tiba menerobos masuk. Ia kaget bukan main melihat papa nya mengetahui pernikahan ini.
"Sini kamu." Aldi menyeret Rizhan agar berdiri, "tega kamu menduakan Kaluna, dia istri yang baik, apa yang kurang darinya kenapa kamu tega bermain di belakangnya?"
"Papa tenang dulu." Rizhan mengangkat tangan ketika Aldi mencengkram kerah bajunya.
"Kita ini memang orang miskin, tapi Papa dan Mama nggak pernah ngajarin kamu seperti itu!" Aldi melayangkan tinju pada sudut bibir Rizhan hingga anak laki-lakinya itu tersungkur ke lantai. Beberapa orang yang berada disana memekik kaget melihatnya.
"Kamu baru sukses sebentar sudah berani cari wanita lain, jika bukan karena Kaluna kamu nggak akan bisa seperti sekarang." Aldi menarik kerah baju Rizhan lalu meninju wajah Rizhan sekali lagi dengan kuat hingga darah segar menyembur dari hidungnya tanpa perlawanan. Selain tak mampu melawan papa nya, Rizhan juga merasa bersalah itu sebabnya ia tak punya nyali untuk membalas perlakuan papa nya.
__ADS_1
Dulu mereka adalah keluarga sederhana yang hidup pas-pasan, Aldi harus membiayai kebutuhan hidup keluarga dan tiga anaknya yang masih sekolah. Saat itu Rizhan berada di bangku kuliah, bekerja apapun asal bisa membantu papa nya membiayai kuliah. Setelah lulus Rizhan bertemu dengan Kaluna yang mendaftar di perusahaan yang sama. Mereka semakin akrab dan memutuskan untuk pacaran lalu menikah. Aldi tidak lupa bahwa Kariz Furniture tak akan pernah sukses jika Kaluna tidak memiliki koneksi dari mama nya yang lebih dulu sukses di bidang tersebut.
Sekarang kehidupan keluarga Rizhan semakin membaik sejak dirinya menikah dan sukses mengembangkan bisnisnya. Rizhan juga bisa membiayai kuliah dua adiknya berkat kesuksesannya.
"Ampun pa." Rizhan merangkak memeluk kaki Aldi takut jika papa nya memukulnya lagi.
"Papa, hentikan!" Eliza berlari menahan tangan Aldi, ia tak tahan lagi melihat Rizhan dipukuli seperti itu.
"Siapa kamu? beraninya kamu memanggil saya Papa, saya nggak sudi punya menantu seperti kamu." Aldi melempar tatapan tajam pada Eliza, baginya Kaluna adalah satu-satunya menantu dan istri Rizhan. "Rumah ini hasil keringat Kaluna juga, KALIAN TIDAK TAHU MALU MELAKUKAN AKAD NIKAH DISINI!
"Rizhan minta maaf, Pa."
"Minta maaf pada Kaluna walaupun sampai nangis darah pun, kamu nggak akan bisa menebus kesalahanmu pada Kaluna." Aldi menendang tubuh Rizhan agar menyingkir dari kakinya, pandangannya menyapu ke seluruh orang-orang yang berada disana sebelum melenggang pergi dari sana.
"Aku obatin luka kamu ya." Eliza membimbing Rizhan berdiri.
Beberapa orang yang berada disana undur diri karena tidak mau ikut campur lagi masalah Rizhan dan Eliza, selain itu mereka syok setelah melihat Aldi memukul Rizhan barusan.
"Eliza, Om pulang dulu." Pamit laki-laki berusia 40 tahunan bernama Erwin yang merupakan om Eliza yang menggantikan papa Eliza sebagai wali nikah.
Papa Eliza telah meninggal sejak Eliza duduk di bangku SMA. Eliza meminta adik dari papa nya untuk menjadi wali nikah sekaligus merahasiakan pernikahan ini dari siapapun. Eliza juga tidak siap memberitahu mama nya meski lambat laun ia harus melakukannya ketika perutnya semakin membesar. Meski Eliza tinggal terpisah dari mama nya, ia bisa mengunjunginya sebulan sekali.
Sebelumnya Eliza bekerja di perusahaan iklan dan memiliki gaji yang lumayan, cukup untuk membayar rumah kontrakannya dan membeli make-up serta kebutuhan lainnya. Namun 2 bulan terakhir Eliza memutuskan untuk berhenti karena—ia punya sumber uang yang lebih banyak dan mudah didapatkan. Karena dari awal Eliza tahu kalau Rizhan telah beristri maka ia harus mendapatkan sesuatu selain tubuh Rizhan yakni uang. Eliza merasa apa yang dilakukannya beresiko tinggi seperti ketahuan oleh Kaluna, dan saat itu terjadi setidaknya ia sudah menyimpan uang Rizhan. Tak disangka ternyata sekarang Eliza berhasil menikahi Rizhan berkat kebaikan Kaluna dan bayi di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Dimana kotak obatnya?" Tanya Eliza setelah mendudukkan Rizhan di ruang tengah.
Rizhan menggeleng, ia juga tidak tahu. Biasanya Kaluna yang mengurus hal-hal kecil di rumah termasuk tempat menyimpan obat.
"Aku tanya Bi Ani dulu." Eliza melangkah ke dapur mencari ART untuk menanyakan dimana letak kotak obat, ia harus segera membersihkan luka Rizhan sebelum infeksi. "Bi Ani, kotak obat dimana ya?" Tanya Eliza ketika melihat seorang wanita paruh baya mengenakan daster sedang sibuk memasukkan bahan makanan ke kulkas.
"Saya bukan Ani." Sahutnya, "Ani di belakang lagi bersihin taman."
"Oh." Eliza baru sadar kalau di rumah ini ada 2 orang asisten rumah tangga, "terus Bibi siapa namanya?"
"Saya Lina, kotak obat ada di bawah tv di ruang tengah." Jawabnya tanpa melihat Eliza.
Semalam Kaluna menelpon Ani dan Lina memberitahu bahwa hari ini Rizhan dan Eliza akan menikah di rumah. Mereka diminta membantu seperlunya, itu hanya pernikahan siri biasa tanpa pesta. Kaluna juga bilang bahwa mereka tidak boleh bertanya apapun terhadap Rizhan dan Eliza. Namun tanpa Ani dan Lina bertanya pun mereka mengerti bahwa ini adalah pernikahan yang sangat menyakitkan bagi Kaluna. Lina dan Ani yang telah 3 tahun bekerja disini seolah ikut merasakan rasa sakit yang Kaluna rasakan.
Sesuai arahan Lina, Eliza mencari kotak P3K di bawah televisi di ruang tengah. Ia membawanya ke sofa dimana Rizhan berada.
Rizhan menunduk dalam, selain sakit ia juga merasakan malu karena papa nya mengetahui ini begitu cepat.
"Ayo, aku bersihin lukanya." Eliza menegakkan kepala Rizhan dan mengoleskan antiseptik pada luka Rizhan menggunakan kapas. "Kenapa Papa mu begini, kamu anaknya, nggak seharusnya dia memukulmu seperti ini."
Rizhan meringis sakit, ia tak mampu membalas ucapan Eliza karena rahangnya terasa nyeri dan berdenyut. Ia memang pantas dipukul, ia tak hanya mengkhianati Kaluna tapi juga mengecewakan orangtuanya. Rizhan menyandarkan kepalanya pada sofa dan memejamkan mata sementara Eliza membersihkan lukanya. Kepala Rizhan terasa berat dan berdenyut-denyut berkat pukulan papa nya yang begitu kuat.
"Rizhan, kamu tenang ya ada aku." Eliza menggenggam tangan Rizhan bermaksud memberi kekuatan untuk menghadapi ini semua. Eliza tahu kalau mereka akan menghadapi hal seperti ini dan ia telah siap melakukannya.
__ADS_1
Rizhan membalas genggaman tangan Eliza dan tersenyum samar.