
"Ibu Kaluna yang sabar ya, saya yakin kalian bisa melakukannya lagi di masa depan, untuk sekarang Ibu nggak boleh stress harus bahagia, ya." Maia menggenggam tangan Kaluna dengan senyum lembut untuk menguatkan hati Kaluna yang baru kehilangan janin nya. Ia adalah dokter kandungan yang menangani semua proses bayi tabung Kaluna dan Rizhan.
Maia begitu terkejut saat mendengar bahwa Kaluna keguguran dihari yang sama ketika Kaluna tahu bahwa dirinya positif hamil. Meski peluang keberhasilannya 50% tapi Maia optimis itu akan berhasil karena Kaluna dan Rizhan telah mempersiapkan semua ini dengan begitu matang. Namun tetap saja semua penentu keberhasilan ini adalah Tuhan.
Kaluna tersenyum getir, bukankah hidupnya setelah ini tak akan pernah bahagia lagi? bukankah setelah ini ia hanya akan menangis setiap hari. Andai janin itu masih ada di dalam perutnya pasti Kaluna memiliki lebih banyak kekuatan untuk berdiri di antara Rizhan dan Eliza. Namun Tuhan biarkan Kaluna menghadapi ini sendirian.
"Infusnya sudah dilepas, Bu Kaluna boleh pulang hari ini." Maia menepuk punggung tangan Kaluna dua kali sebelum ia beranjak.
"Makasih dokter." Ucap Rizhan yang dari tadi duduk di sofa, ketika Maia hendak pergi ia pun beranjak dari duduknya.
"Permisi Bu Kaluna dan Pak Rizhan." Maia undur diri bersama dua perawat di belakangnya.
"Ayo aku bantu turun." Rizhan memegang lengan Kaluna hendak membantu sang istri turun dari tempat tidur.
"Aku bisa sendiri." Kaluna menepis tangan Rizhan dan turun dari ranjang.
"Kaluna, jangan seperti ini, kamu udah diemin aku selama lima hari ini, aku harus gimana?" Rizhan mengacak rambutnya frustrasi karena selama menemani Kaluna disini, wanita itu mendiamkan nya seolah tak ada di ruangan ini.
Kaluna bergeming, ia hanya melempar tatapan tajam pada Rizhan. Ia melihat wajah Rizhan yang penuh memar, Kaluna menduga Aldi telah menghajar Rizhan hingga seperti itu. Namun itu tak ada apa-apanya dibandingkan luka di dalam hati Kaluna. Sebab luka di wajah Rizhan bisa sembuh dengan obat merah dan semacamnya sedangkan luka Kaluna tak akan pernah sembuh sampai kapanpun.
Kaluna berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian. Ia juga membersihkan diri berharap air yang dingin itu bisa sedikit menyegarkan pikiran nya.
Ini adalah pilihanmu, nanti jangan pernah menyesal dengan pilihanmu sendiri, Kaluna.
Tiba-tiba Kaluna teringat ucapan mama nya empat tahun lalu saat ia meminta restu untuk menikah dengan Rizhan. Lalu apakah sekarang Kaluna menyesal? bolehkah ia menyesal karena pilihannya sendiri.
Kaluna mencengkram pinggiran wastafel dan mulai terisak, tiba-tiba ia merindukan mama nya. Namun mama nya tidak boleh mengetahui hal ini, Kaluna tak ingin menyakitinya sebab dulu papa nya juga selingkuh hingga akhirnya rumah tangga mereka berakhir dengan perceraian. Kaluna tak ingin itu terjadi pada rumah tangga nya juga. Kaluna akan berusaha menahan sakit ini demi mempertahankan rumah tangganya.
Kaluna keluar setelah mengganti pakaian rumah sakit dengan dress selutut bermotif floral yang memperlihatkan kaki mulusnya. Kaluna memang memiliki kecantikan alami yang tak perlu dipoles lagi dengan apapun.
"Mama telfon." Rizhan menyodorkan ponsel Kaluna yang berdering tanda ada telepon masuk.
Kaluna ragu-ragu membaca nama pada layar ponselnya, ia takut jika mama nya menelepon. Namun Kaluna lega setelah membaca nama mama Lidia pada layar ponselnya.
"Halo Ma." Kaluna menempelkan ponsel di telinganya.
"Kaluna, kamu pulang hari ini kan? Mama nggak ke rumah kamu dulu ya, kamu pasti butuh waktu sendiri untuk istirahat lebih banyak di rumah."
Kaluna mengangguk meski mama mertuanya tak ada disini, Lidia begitu pengertian. Kaluna memang butuh waktu sendiri untuk sementara ini.
"Kaluna, Mama nggak mau terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian tapi apa kamu yakin sanggup dimadu?"
Kaluna menghela napas berat, ia menunduk dalam. Siapakah di dunia ini yang sanggup dimadu? tak ada bukan?
"Kaluna mau menjalani semuanya dulu Ma." Lirih Kaluna.
"Mama minta maaf karena tidak bisa membantu kamu lebih banyak."
"Mama nggak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan Mama."
"Ya sudah, Mama tutup dulu, jangan sungkan kalau kamu butuh bantuan Mama."
"Iya Ma." Tangan Kaluna turun dari telinganya, ia hampir saja menjatuhkan ponsel jika Rizhan tidak segera menangkapnya.
"Ada apa Kaluna?" Rizhan menatap Kaluna yang mengatup bibirnya rapat.
__ADS_1
Ada apa? Kaluna bertanya pada dirinya sendiri, entah lah ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk memegang ponselnya sendiri.
"Mau naik kursi roda?" Tanya Rizhan khawatir jika Kaluna tidak kuat berjalan hingga tempat parkir.
Tanpa menjawab Kaluna melangkah keluar terlebih dahulu diikuti Rizhan yang membawa barang-barang milik Kaluna selama dirawat satu Minggu di rumah sakit.
"Mau mampir beli es krim kesukaan kamu dulu?" Rizhan membukakan pintu mobil untuk Kaluna setelah meletakkan tas Kaluna di bagasi.
"Nggak usah, masih banyak di rumah." Jawab Kaluna tanpa ekspresi, ia yakin Rizhan mengatakan itu hanya untuk basa-basi agar bisa bicara dengannya. Kaluna memang menyukai es krim Viennetta tapi saat ini ia sama sekali tidak menginginkannya.
Dulu Astri pernah bilang bahwa laki-laki yang sedang melakukan kesalahan pasti akan memberi perhatian lebih terhadap pasangannya. Kaluna setuju pada ucapan Astri, meski belum pernah menikah tapi perasaan Astri jauh lebih peka dari pada dirinya. Seperti sekarang Rizhan bersikap berlebihan, menanyakan hal yang tak biasa pada Kaluna. Semua itu membuat Kaluna semakin muak.
"Ajak Eliza tinggal di rumah kita." Tukas Kaluna saat Rizhan masuk ke mobil.
"Apa?" Rizhan menoleh pada Kaluna, ia bukannya tidak mendengar pada ucapan Kaluna, ia hanya tak percaya jika Kaluna mengajak Eliza tinggal bersama mereka.
"Aku nggak mau banyak orang tahu tentang pernikahan kamu, apalagi sampai ke telinga Mama dan orang kantor." Kaluna menatap lurus ke depan, meski Rizhan telah menyakitinya tapi ia masih memikirkan citra Rizhan di depan karyawan mereka dan mama nya. Kaluna tidak mau image Rizhan buruk di depan para karyawan Kariz Furniture.
"Kaluna, tapi kita nggak bisa tinggal bertiga."
"Kenapa, hati mu aja bisa diisi aku dan Eliza, kenapa rumah kita nggak bisa?"
Rizhan kehabisan kata-kata, ia menginjak gas menjalankan mobilnya keluar area parkir rumah sakit. Tentu saja hati dan rumah itu sangat berbeda.
"Kamu lepas cincin pernikahan kita?" Kaluna melirik tangan Rizhan yang polos tanpa cincin yang biasa tersemat di jari manisnya. "Atau kamu bingung mau pakai cincin itu dimana karena istri kamu ada dua?"
"Maaf, aku melepasnya saat mandi tadi dan buru-buru kesini jadi aku lupa memakainya lagi."
Kaluna memalingkan wajah ke luar jendela tak percaya pada pernyataan Rizhan. Sejak kapan Rizhan jadi pelupa? ah sepertinya sejak menikah dengan Eliza.
"Gimana keadaan Ibu, kami sangat mengkhawatirkan kondisi Bu Kaluna." Ani menatap Kaluna khawatir, bukan hanya karena Kaluna harus dirawat cukup lama di rumah sakit tapi juga karena kedatangan wanita lain di rumah itu.
"Saya baik kok, Bibi nggak perlu khawatir ya." Kaluna mengulas senyum pada Ani dan Lina seolah ia memang baik-baik saja.
"Bu Kaluna mau makan apa?" Tanya Lina. "Biar saya bikinin."
"Duduk dulu, saya mau bicara." Kaluna duduk di sofa ruang tamu begitupun dengan Lina dan Ani. Sementara itu Rizhan berdiri di samping Kaluna.
Wajah Lina dan Ani serius, mereka telah menerka apa yang akan Kaluna bicarakan dengan mereka.
"Kalian sudah berkenalan dengan Eliza?" Kaluna melihat Lina dan Ani bergantian.
"Sudah Bu." Jawab Lina dan Ani bersamaan. Meski tak ada sesi berkenalan tapi mereka tahu nama dari wanita yang telah menjadi istri kedua Rizhan karena mereka mendengarkan akad nikah Rizhan dan Eliza waktu itu. Eliza juga tidak mengenakkan dirinya, ia datang lalu meminta banyak hal seolah-olah telah mengenal dua ART di rumah itu.
"Mulai hari ini Eliza akan tinggal di rumah ini, dia istri Pak Rizhan juga tapi kalian tidak wajib melayaninya karena tentu saja—saya yang memberi kalian gaji jadi tetaplah bersikap seperti biasa."
Rizhan menelan salivanya tak berani membantah semua ucapan Kaluna. Dari dulu Kaluna memang dikenal tegas terhadap para karyawan dan ART di rumah.
"Bi Ani tolong bersihkan kamar tamu, itu akan menjadi kamar Eliza, dan satu lagi—Eliza sedang hamil jadi kalian harus berhati-hati saat mengepel lantai, jangan sampai dia terjatuh dan kehilangan bayinya." Biarlah hanya saya yang kehilangan bayi, Eliza jangan sampai mengalami hal serupa.
"Baik Bu." Lina dan Ani mengangguk patuh.
"Itu saja, terimakasih atas waktu kalian."
Lina dan Ani segera membubarkan diri. Ani bergegas pergi membersihkan kamar tamu sedangkan Lina membuat teh camomile dengan madu kesukaan Kaluna.
__ADS_1
******
Sore itu cuaca gerimis ketika mobil Honda Civic hitam milik Rizhan melaju perlahan meninggalkan kawasan tempat tinggal Eliza. Rizhan duduk di kursi kemudi fokus pada jalanan, di sampingnya Eliza duduk dengan tenang, sesekali menoleh ke arah Rizhan dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.
Eliza terkejut saat Rizhan datang menjemputnya, ia sempat tak percaya kalau Kaluna mengajaknya tinggal bersama di rumah mewah mereka. Namun Rizhan berkata apa adanya, alhasil Eliza mengemasi barangnya dengan terburu-buru memasukkannya ke bagasi mobil Rizhan. Apakah sebentar lagi ia juga akan menjadi nyonya Prasaja?
"Eliza ku beritahu satu hal sebelum kita sampai di rumah, jangan pernah memakan es krim Viennetta di kulkas meski ada banyak stoknya karena itu adalah es krim kesukaan Kaluna, kalau kamu menginginkan es krim itu lebih baik membelinya di luar."
Eliza mengangguk mengerti, "Rizhan, sebenarnya aku takut kalau tiba-tiba Kaluna marah dan melakukan sesuatu yang buruk padaku."
"Kenapa bilang begitu, Kaluna sudah sangat baik membiarkan kamu tinggal di rumah kami, dia bukan wanita seperti itu."
Eliza terdiam, benarkah Kaluna wanita seperti itu?
Mereka sampai di rumah dua lantai dengan arsitektur modern berwarna dominan putih dan coklat. Di halamannya terdapat taman dengan berbagai tanaman hias dan kolam ikan koi yang begitu terawat.
Akhirnya Eliza kembali menginjakkan kaki di lantai marmer hitam mengkilap seperti telah dipel berkali-kali. Eliza langsung fokus pada bingkai foto berukuran cukup besar pada dinding di sisi kiri pintu masuk. Itu adalah foto pernikahan Kaluna Rizhan. Beberapa bingkai yang lain merupakan foto mereka dengan berbagai gaya pakaian.
Ani langsung menyambut Eliza dan mengantarnya ke kamar yang sudah dibersihkan.
Eliza mencari keberadaan Kaluna tapi dari tadi ia tak melihatnya. Tentu saja untuk apa Kaluna menyambut kedatangan Eliza.
"Umm Bi—" Eliza memanggil Ani yang hendak keluar dari kamarnya.
"Ya?" Ani berbalik.
"Kaluna dimana ya?" Akhirnya ia berani menanyakan keberadaan Kaluna.
"Bu Kaluna sedang istirahat di kamarnya."
"Kaluna—nggak bilang apa-apa tentang aku?" Eliza ragu-ragu bertanya, apakah ia pantas bertanya seperti itu? tapi ia penasaran bagaimana cara Kaluna memberi penjelasan terhadap ART disini tentang dirinya.
Ani menggeleng, "Bu Kaluna hanya berpesan agar kami berhari-hari saat mengepel lantai karena Mbak Eliza sedang hamil, jangan sampai jatuh."
"Oh." Eliza terkesima untuk sesaat tak percaya jika Kaluna begitu perhatian terdapat dirinya. "Ya udah, makasih Bi."
"Saya permisi." Ani keluar dan menutup pintu kamar Eliza.
Kamar itu cukup luas dan nyaman, tempat tidurnya berukuran 200×180 yang lebih dari cukup untuk Eliza sendiri. Namun Eliza yakin Rizhan akan sering datang ke kamarnya setelah ini.
"Wah ada kamar mandinya juga." Eliza membuka pintu kamar mandi dan melihat-lihat bagian dalamnya. Meski tidak terlalu luas tapi kamar mandi itu memiliki peralatan yang lengkap termasuk shower dan pemanas air.
Sementara itu Rizhan naik ke lantai dua masuk ke kamarnya, ia melihat Kaluna berada di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuannya.
"Kamu baru pulang, kenapa langsung bekerja, istirahat saja dulu." Rizhan duduk di pinggiran tempat tidur.
"Aku nggak mau kerjaan makin menumpuk." Ujar Kaluna masih fokus pada layar laptopnya. "Kenapa kamu disini?"
"Memangnya kenapa, ini juga kamarku."
"Siapa tahu kamu ingin bersama Eliza di bawah."
"Kaluna sudah jangan bahas ini." Rizhan menyentuh lengan Kaluna.
Kaluna menepis tangan Rizhan, "jangan ganggu, aku lagi kerja." Katanya.
__ADS_1
Rizhan mengalah tidak lagi mengusik ketenangan Kaluna. Pasti Kaluna butuh waktu untuk menerima semua ini. Rizhan mengerti banyak hal yang telah terjadi selama seminggu ini.