Lukisan Berdarah

Lukisan Berdarah
Part 2


__ADS_3

Bandara London City. 


"Kealy!!!" Panggil seseorang.


"Yea" Kealy berbalik.


"Do you seriously want to go to Indonesia?. "


"Of course" Jawabannya kembali.


"Can you promise, you will be fine there?. I was really worried about you".


"I will be fine and promise that after my mission is complete I will return to London as soon as possible".


Kemudian wanita itu memeluk Kealy dan membisikkan sesuatu di telinganya.


" Ok good luck. " Hanya kata ini yang terdengar dari mulutnya.


Setelah cukup lama berpelukan, Kealy melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam pesawat yang akan menuju Indonesia


Sekitar 15 jam menempuh perjalanan. Kini Kealy telah samapai di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Seorang pria dengan setelan jas lengkap telah menunggu kedatangan Kealy.


"Welcome to Indonesia nona Kealy. " Ucap pria itu yang sudah menunggu di luar mobil Ferrari 812 GTS sedikit membungkuk.


Kealy hanya mengangguk datar menanggapi sambutan pria itu. "Aku akan menyetir sendiri. " Ucapnya kembali.


"Baik nyonya" Jawab pria itu sembari memberikan kunci mobil.


Kealy mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membelah jalan utama ibu kota yang begitu padat menjadi sensasi tersendiri baginya.


Setelah 30 menit menyetir, Kealy akhirnya sampai di salah satu markas polisi termewah yang berada di kota Jakarta.


Ya.... Kealy merupakan salah satu abdi negara di kota Jakarta. Namanya tercatat dalam pendidikan polisi wanita sejak dua tahun silam. Tanpa mengikuti pendidikan namun namanya bisa masuk dalam daftar. Kok bisa??. Ya bisalah semua karena kekuatan orang dalam dan tentunya uang yang banyak. No..No.. No.. Kealy memang memiliki koneksi dan harta berlimpah. Ia memiliki cara tersendiri untuk masuk dalam institut kepolisian. Kealy berpikir bahwa itulah cara teraman untuk menyembunyikan identitasnya. Apa kalian lupa dia adalah anak salah satu mafia terkejam?.


________


Dua bulan kemudian.


"Wiu.. Wiu.. Wiu.. " Suara sirine ambulan bergema di jalan utama kota Jakarta. Nampaknya telah terjadi kecelakaan lalu lintas.


Tim media, polisi dan detektif telah berkumpul memadati lokasi yang telah di beri garis kuning. Salah satu anggota polisi sedang melakukan panggilan melalui telepon selulernya.


Tuttttt.... Tuttttt... Tuttttt....


"Hallo" Ucap seorang gadis di seberang sana.


"Bisakah kau kesini, aku akan mengirim lokasinya. " Ucap anggota polisi itu.


"Baiklah" Panggilan pun terputus.


15 menit kemudian seorang wanita dengan pakaian lengkap kepolisian turun dari mobil yang ia kendarai. Para kerumunan membuka akses jalan agar wanita itu bisa lewat.


"Kenapa lama sekali!! " Ucap Brian seorang polisi junior.


" Apakah kau pikiran ini jalan pribadiku? " Ucap wanita itu sambil memukul halus lengan Brian.


Korbannya memang sudah dievakuasi dan dilarikan ke RS terdekat, namun TKP akan selalu meninggalkan bukti kejahatannya.


Cukup lama wanita itu mengamati TKP, matanya langsung tertuju pada motor korban. Ia merusak rangka motor itu menjadi patahan patahan kecil, dan benar saja kecurigaannya itu. Terdapat barang ilegal yaitu narkoba jenis sabu. Wanita itu tersenyum licik dan mengambil barang itu kemudian dimasukkannya ke dalam kantong plastik. Para polisi yang melihat kegilaan wanita itu meberikan aplos.


"Dia benar-benar panutanku" Brian memuji aksi nekat wanita itu.


Wanita itu kemudian berjalan kembali ke mobil.


"Mau kemana? " Tanya seorang detektif bernama Elvano Renanda.


" Tugasku sudah selesai. Sisanya urusanmu. " Ucap wanita itu dengan senyum lebar tak lupa mengedipkan sebelah matanya dengan genit setelah memperhatikan identitas Elvano.


Elvano hanya tersenyum geli melihat kelakuan wanita itu.


Elvano baru saja tiba di TKP setelah mendapat telpon dari atasannya. Rupanya ia datang di waktu yang tepat karena melihat seorang polisi wanita sedang mengobrak-abrik TKP dan menemukan narkoba yang menjadi pemicu terjadinya kecelakaan.


Setelah menyelesaikan tugasnya di TKP, Elvano melirik salah satu nama yang tertera di sebuah seragam. " Brian" Gumam Elvano dalam hati.


"Brian!!! " Panggil Elvano.


" Ada apa pak?. "

__ADS_1


"Em... m" Elvano sedikit kikuk. "Siapa nama polisi wanita tadi? " Spontan Elvano.


"Ahh.. Diandra!! Ah maksud saya Bripka Diandra William" Brian sedikit meluruskan. " Ada apa? " Tanya Brian kembali.


"Mmm... Nama yang bagus" Elvano sedikit berpikir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Aku hanya bertanya saja, apa tidak boleh? "


"Tentu saja bisa, aku yakin kau pasti mengaguminya" Balas Brian sedikit jahil.


Elvano mendekati Brian, kemudian memperlihatkan identitasnya. " Aku yang akan menyelidiki kasus ini, mohon kerja samanya " Ucap Elvano kemudian berlalu pergi.


Ya... Polisi wanita itu bernama Diandra William. Karirnya masih terbilang baru, namun aksinya selalu mendapat aplose dari para petinggi kepolisian.


______


Diandra kini sudah berada di ruangan interogasi kepolisian Jakarta.


" Bisa ceritakan tentang peristiwa yang Anda lihat hari ini? " Tanya Diandra.


"Saya hanya melihat ada sebuah mobil berwarna hitam yang menyerempet pengendara bermotor itu" Ucap saksi dengan jujur.


"Mobil?? " Tanya Diandra memastikan.


Saksi itupun hanya mengangguk.


"Sepertinya ini bukan kecelakaan biasa" Gumamnya dalam hati. " Looks like you want to play games with me. Let's play motherfucker " Diandra tersenyum menyeringai.


"Ok. Kau boleh keluar" Perintah Diandra lada saksi itu.


Setelah saksi itu keluar. Diandra mengambil benda pipi dari kantong celananya, di tekan nya nomor ponsel Brian.


Tuttttt... Tuttttt... [ panggilan terhubung].


"Segera cek CCTV di TKP. Jangan lupa untuk mencatat setiap nomor plat mobil yang melintas di kawasan itu" Perintahnya pada Brian.


"Siap laksanakan" Ucap Brian, dan panggilan terputus.


Disisi lain Elvano sedang mengamati CCTV di kawasan TKP, dan benar saja ada sebuah mobil berwarna hitam yang mencoba mencelakai pengendara sepeda motor itu.


"Segera hapus salinan CCTV nya" Perintah Elvano pada pemilik cafe.


"Baik Pak" Ecap pemilik cafe itu.


Di sebuah rumah mewah seorang wanita tengah duduk di balkon kamarnya sembari membaca buku tebal bersampul hitam.


Tok... Tok.. Tok.. Bunyi ketukan pintu kamar Kealy.


"Masuk" Titah wanita itu


"Nona Kealy ini minumnya" Ucap seorang pelayan.


"Taruh saja di meja" Ucap Kealy.


Pelayan itu segera keluar setelah meletakkan minuman tuanya.


Kealy lanjut membuka buku itu dan benar saja sesuatu yang ia temukan di dalam buku akhirnya memberikan petunjuk.


" It's time for us to play fucker".


______


Pukul 08:30. Diandra sudah berada di kantor polisi untuk menangani kasus kemarin.


"Brian!! Apa kau sudah menemukan CCTV-nya?" Tanya Diandra pada juniornya itu.


Brian yang merasa namanya di panggil pun menoleh. " Siap. Belum bu" Dengan gerakan hormat. " Kata pemilik cafe seorang detektif telah mengambil salinan CCTV nya" Ucapnya kembali.


"Seorang detektif?? " Tanya Diandra.


"Bripka Diandra!! Apakah ini yang kau cari" Ucap seorang pria sembari mengangkat sebuah flash dari kantong celananya.


Diandra yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas. " Huft... Iya, jadi serahkan buktinya padaku" Dengan gerakan tangan meminta.


Pria itu senyum jahil. " Bukankah polisi dan detektif harus bekerja sama?? Come on. " Bujuknya.


Diandra sedikit melirik pada kartu pengenal yang dikenakan pria itu. " Aaahhh... Tuan Elvano, sepertinya kita akan sering bertemu. Ayo bekerja sama" Ajaknya kembali.


" Kajjaaaaa" Ucap Brian dengan semangat.

__ADS_1


Elvano dan Diandra hanya saling menatap dan melempar senyum di tengah kehebohan Brian.


"Brian! Segera hubungi yang lain, kita akan melakukan tugas besar" Titahnya pada Brian.


"Siap Laksanakan" Ucap Brian berdiri tegap dan memberi hormat.


Setelah semua anggota terkumpul lengkap, mereka bergegas keluar dari kantor. Karena ini misi rahasia jadi harus menggunakan mobil pribadi. Kebetulan Elvano dan Diandra memiliki mobil yang sama.


Dua mobil CR. V berwarna hitam itu melaju ke RS tempat korban di rawat. Setelah sampai di basement RS. Diandra turun dengan gagah dari mobil, celana jeans hitam yang dipadukan dengan jaket kulit berwarna hitam juga membuat tampilannya nyaris sempurna.


Diandra memberikan kode kepada rekan tim nya agar ada yang berjaga di dalam mobil untuk mengawasi. Hanya Elvano, Diandra dan Brian yang masuk kedalam RS.


Mereka berjalan menuju lobi RS. " Permisi...Pasien atas nama Daniel di kamar berapa? " Tanya Diandra pada resepsionis RS.


"Sebntar ya bu!! " Ucap resepsionis itu dengan sopan sembari mencari nama pasien di komputernya. " Silahkan menuju ke lantai 2 ruangan C23" Ucapnya kembali.


"Terimakasih" Elvano menjawabnya dengan senyum ramah.


Setelah sampai di ruangan C23. Brian refleks menahan tubuh Diandra yang akan menerobos masuk.


"Ada apa? " Tanya Diandra dengan raut wajah bingung.


"Aku yang akan masuk duluan, takut terjadi sesuatu" Ucap Brian dengan senyum merekah. Walaupun sebenarnya ia sedikit takut.


Brian mulai memutar knop pintu secara pelan dan tak lupa tangan kanannya sudah memegang pistol yang di arahkan ke belakang. Elvano yang melihat tingkah aneh Brian lalu memegang tangan kirinya yang berada di gagang pintu, lalu memutar kasar knop pintu dan.... Taraaa.... Tidak terjadi apa apa.


Sementara Brian masih terpaku dengan adegan tadi, matanya tidak bergeming dangan mulut yang terbuka lebar.


"Kenapa kau mempersulit hidupmu" Umpat Elvano. Lalu ia masuk ke dalam ruangan yang disusul oleh Diandra.


"Tutup mulutmu sebelum serangga memasukinya" Ucap Diandra sembari memukul bahu Brian yang masih mematung.


Elvano berjalan mendekati brankar dan melihat sang pasien sedang tidur.


"Heiii!!! Bangun" Elvano sedikit meninggalkan suaranya.


Daniel yang merasa di panggil namanya membuka matanya secara perlahan. " Kalian siapa??" Dengan raut wajah takut.


Elvano menunjukkan identitas yang tergantung di lehernya di arahkan ke Daniel.


"Apa kalian juga mencari benda sperti dua orang pemuda tadi? " Ujar Daniel jujur.


"Dua orang pemuda?? " Tanya Diandra sambil menaikan satu alisnya. " Kapan?. Eh maksudku pukul berapa? " Cecar Diandra yang merasa penasaran.


Brian yang melihat kondisi sedang serius akhirnya berlari mendekati pintu untuk memantau dari jauh.


"Bagaimana ciri-ciri nya? " Tanya Elvano antusias.


"Aku tidak tahu. Mereka datang menggunakan masker" Daniel menjelaskan sembari berusaha mengingatnya.


Diandra yang baru saja mendengar penjelasan Daniel tersenyum simpul. Lalau membungkuk sedikit ke arah Elvano yang posisinya sedang duduk.


"Ayo periksa CCTV" Membisik Elvano. Sambil berlari menuju ke ruangan CCTV.


Mereka bertiga sudah ada di ruang CCTV. Diamati nya satu persatu rekaman itu, namun tidak ada yang aneh. Semua tampak berjalan normal dan tidak ada aktifitas yang mencurigakan.


"Jamkanman gidaryeo" Brian mulai beraksi dengan bahasa Koreanya. Sepertinya dia adalah seorang pecinta K-Drama.. Wkwkwkw.


"A.. a.. Maksudnya? " Tanya pria pengawas CCTV yang nampak kebingungan dengan ucapan Brian.


"Maksudnya tunggu sebentar" Dengan wajah cengingisan. Brian yang melihat tatapan maut Diandra seketika merasa kikuk. " Lihat ini!! " Tunjuk Brian pada monitor komputer. " Bukankah mereka tampak mencurigakan ".


" Apakah ada dokter baru di rumah sakit ini? " Pengawas CCTV nampak kebingungan.


Sementara di basement rumah sakit nampak dua orang pemuda dengan pakaian serta topi hitam baru saja memasuki mobil Pajero sport berwarna hitam melaju pergi meninggalkan RS. Hal itu tak lepas dari pengawasan tim Diandra.


Sementara Diandra, Elvano dan Brian berlari menuju basement.


"Ha...aaa Sialll!!! " Umpat Diandra.


Mereka terus berlari melewati tangga darurat RS. Setelah sampai di basement ternyata para tim nya sudah bersiap siap untuk mengejar mobil Pajero sport tadi.  Di lihatnya Diandra dan dua dayang dayangnya semakin berlari mendekat. Refleks Bharada Ricky membuka pintu mobil depan. Diandra yang melihat itu berlari sekuat mungkin. Dengan jarak sekitar 150 cm Diandra melompat masuk kedalam mobil. Di susul dengan Elvano.


"Perfect" Ucap Diandra yang memuji aksinya sendiri.


Sssstttttt!!!! Bunyi ban mobil yang sedang beradu dengan lantai basement.


Kedua mobil CR. V itu berlalu meninggalkan basement RS.

__ADS_1


...Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2