Lukisan Berdarah

Lukisan Berdarah
Part 4


__ADS_3

Setelah sampai di mobil. Elvano langsung meminta kunci mobilnya pada Evan, karena badannya terasa sakit semua. Ia memutuskan untuk pulang duluan.


"Faleria!!! " Panggil Diandra.


"Ada apa? " Ujar Faleria.


"Good job. Kau benar-benar seperti hantu Salendrina" Ucap Diandra terkekeh sambil memberikan dua jempolnya pada Faleria.


"Akhirnya bisa makan gratis malam ini" Ucap Adrian dengan senyum merekah. Tidak sia sia ia masuk dalam tim Diandra. Karena bisa makan gratis walau harus baku hantam terlebih dahulu.


"Sudah seperti orang susah saja" Timpa Evan dengan nada bercanda tapi sedikit mengejek.


"Evan, ucapanmu selalu menyakitkan. Tapi aku juga suka yang gratisan walau tidak terlihat seperti orang susah" Ucap Brian sedikit tidak terima dengan candaan Evan.


" Apa kalian tidak ingin pulang? " Diandra bertanya memecahkan perdebatan kecil tim nya itu.


"Ayo pulang, setelah itu istirahat karena kita akan mengisi kampung tengah dengan makanan gratis" Goda Ricky pada yang lain.


Sementara si wanita Salendrina sudah beranjak sejak tadi.


______


Restoran Seafood.


Tiga orang pria sedang duduk di kursi restoran. Sepertinya mereka sedang menunggu seseorang.


"Kenapa mereka lama sekali datangnya. Lambung ku sedaritadi menjerit!" Keluh Brian.


"Mohon sabar ini ujian" Jawab Adrian dan Ricky bersamaan. Suara tawa mereka pecah bersama.


Tidak lama kemudiannya datanglah orang yang ditunggu tunggu. Siapa lagi kalau bukan Diandra, Faleria dan Evan.


Setelah personil lengkap. Ricky mengangkat tangan memanggil waitress.


"Pesan lobster saus padang 3, kepiting lada hitam 2 dan kerang hijau. Untuk minumnya es jeruk saja". Ucap Ricky kepada waitress.


" Baik, mohon di tunggu pesanannya " Ucap sang waitress dengan sopan dan berlalu pergi.


"Apa Elvano tidak bergabung?" Tanya Brian.


Mereka hanya saling melirik satu sama lain. Bisa dipastikan bahwa tidak ada yang memiliki nomor Elvano.


"Tidak perlu merasa bersalah. Kita hanya makan bukan menjalankan misi" Ucap Faleria santai. Sebut saja dia tidak memiliki rasa simpati.


"Walau bagaimanapun dia telah banyak membantu kita" Brian sedikit merasah bersalah. "Ayo nikmati saja makan malam ini." Ucapnya kembali dengan sumringah.


Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala karena perbuatan Brian.


Setelah 15 menit makanan akhirnya datang juga.


"Selamat menikmati" Ucap seorang pelayan yang membawa makanan. Setelah menaruh semua pesanan pelayan itu langsung pergi.


Mereka melewati malam dengan makan bersama di restoran seafood. Mereka makan dengan hikmat tak lupa juga mereka saling melempar candaan.


Elvano sendiri sedang bermimpi indah di atas kasurnya. Mungkin ini efek baku hantam, sehingga tubuhnya terasah lelah. Ia terlelap begitu pulas sejak kepulangannya tadi.


Pagi ini matahari mulai menyapa penduduk bumi dengan sinar hangatnya. Elvano yang merasakan hangatnya mentari masuk melalui celah gorden mulai menggeliat. Indera penglihatannya belum terbuka sempurna, namun tangannya sudah terarah di atas nakas minimalis untuk mencari handphone. Dengan posisi yang masih diatas ranjang pelan pelan ia membuka matanya melihat jam yang ada di layar handphone miliknya.


"Ya ampun!!! " Elvano buru buru bangun dan langsung bergegas ke kamar mandi.


Setelah dirasa cukup. Elvano keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, memperlihatkan perut kotak-kotak bagaikan roti sobek. Setelah berpakaian, dengan gerakan seribu bayangan Elvano kini sudah berada diparkiran mobilnya. Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan tak henti Ia mengumpati dirinya sendiri karena ia baru bangun jam 08:15 pagi. Elvano kesal dengan dirinya sendiri, bagaimana tidak kesal, hari ini ia di pindah tugaskan ke Jakarta.


"Hari pertama aja udah telat, bisa nganggur gue kalau kayak begini" Ecap Elvano dengan nada mengejek dirinya sendiri.


Ciiiiitttttthh!!!! [Suara ban mobil Elvano yang beradu dengan lantai parkiran kantor polisi].


Elvano buru buru keluar dan berlari masuk kedalam kantor seperti orang kesetanan.


Faleria yang masih berjalan di Koridor kantor, tiba-tiba badannya di tabrak oleh seseorang dari arah belakang, sehingga membuat tubuhnya tidak seimbang.


Brug!! [ Faleria terjatuh ].

__ADS_1


"Awwww" Rintih Faleria yang merasa sakit pada bokongnya.


"Maafkan aku!! Aku sedang terburu buru" Ucap Elvano merasa bersalah.


"Aku tidak perduli dengan urusanmu. Setidaknya gunakan mata mu tuan" Faleria menekankan ucapannya.


"Ma.. a" Ucapan Elvano tiba-tiba menggantung setelah melihat wajah Faleria. " Kau si Salendrina bukan? " Elvano memastikan.


"Setidaknya bantu aku berdiri dulu tuan, dan satu lagi aku bukan hantu!" Faleria tak terima jika ia dipanggil dengan sebutan Salendrina dengan orang yang belum akrab dengan. Faleria bangkit dari jatuhnya kemudian pergi meninggalkan Elvano yang masih setia mematung di Koridor.


__________


Di kota London


Seorang wanita muda berbakat sedang melukis disalah satu ruangan mewah. Dia adalah Arabella. usianya baru 22 tahun, tapi karya seninya sudah melalang buana ke pelosok negeri. Para pecinta seni lukis mengakui kehebatan seni lukis yang ia buat, bahkan tak jarang lukisan nya selalu menjadi incaran peseni yang di bandrol dengan harga fantastic.


Setelah menyelesaikan lukisannya. Arabella kemudian berkemas dan menyimpan alat lukis nya didalam tas berwarna hitam. Setelah itu ia mengambil ponsel yang berada di saku bajunya.


Tuttt... Tuttt [panggilan terhubung].


"Hallo" Ucap seseorang disebrang sana.


"Bagaimana keadaan gadis itu? Apa sudah ada kemajuan.? " Tanya Arabella.


"Sepertinya belum nyonya. Ia sedang menikmati pekerjaannya sebagai abdi negara" Jawabnya.


"Hmmm.. Baiklah terus awasi dia" Perintah Arabella.


"Baik nyonya" Setelah menjawab perintah tuannya, panggilan itu berakhir.


Tak lama setelah melakukan panggilan. Terlihat seorang pria paruh baya menghampiri Arabella.


"Excusme madam, the car is ready"


"Ok" Arabella berjalan keluar meninggalkan tempat itu untuk menuju mobil.


_______


Salah satu gedung kantor polisi tengah disibukkan dengan kasus bunuh diri di salah satu apartemen.


Elvano yang datang untuk memperkenalkan diri sekedar basa-basi tiba-tiba tangannya langsung di tarik oleh Diandra.


"Ada apa? " Tanya Elvano dengan wajah kebingungan sambil berlari.


"Ada kasus bunuh diri" Jelas Diandra.


"Tapi A... " Ucapan Elvano menggantung karena Diandra.


"Aku sudah tau kau bergabung disini. Pak Hendra sudah memberitahu kami" Dengan nafas terengah-engah karena berlari.


Mereka sudah tiba diparkiran, rupanya Brian, Evan, Ricky dan juga Adrian telah menunggu di parkiran.


"Ayo langsung masuk kedalam mobil! " Ucap Brian.


Setelah mengambil posisi masing-masing. Diandra teringat bahwa satu anggotanya belum datang.


"Dimana Salendrina? " Tanya nya pada yang lain.


Belum sempat menjawab, pintu mobil belakang dibuka kasar oleh seseorang.


"I am coming" Ucap Faleria yang tiba-tiba duduk di sebelah Elvano.


Brakkkkk...! [Semua orang di dalam mobil kaget, karena Faleria menutup pintu mobil dengan kasar].


"Santai aja nutup pintunya kan bisa" Ucap Brian dengan nada lembut sembari mengelus dadanya. Sedangkan yang ditegur hanya memasang wajah datar tanpa rasa bersalah.


Brian mengambil alih untuk menyetir, dengan kecepatan tinggi ia melajukan mobil. Sekitar 15 menit mereka sudah tiba di apartemen. Mereka turun dari mobil kemudian langsung berlari masuk kedalam apartemen. Terlihat sudah banyak orang yang memadati TKP.


"Ya ampun!!! Apa yang terjadi pada gadis itu? " Ucap salah satu penghuni apartemen, yang melihat korban masih dalam keadaan tergantung.


"Astaga kasihan sekalian! " Ucap beberapa orang di luar TKP.

__ADS_1


Diandra dan tim nya mulai memasang garis pembatas berwarna kuning di sekitaran TKP.


Elvano berjalannya mendekati korban yang masih tergantung sudah mulai membiru.


Tim forensik baru saja tiba di TKP.


"Dimana korbannya? " Tanya salah satu tim forensik.


"Disini! " Jawab Elvano.


Tim forensik datang mendekati mayat wanita itu kemudian di masukan ke dalam kantong jenazah.


"Jangan lupa kirim hasil hasil laporan lab nya! " Ucap Faleria.


"Baik bu" Ucap salah satu tim forensik kemudian pergi meninggalkan TKP.


Diandra tengah berbincang dengan salah satu penghuni apartemen.


"Apa anda mengenali sang korban? " Tanya Diandra sembari mencatat nya di buku kecil miliknya.


"Aku tidak terlalu mengenal dengan baik, tapi setahuku dia adalah gadis yang baik dan ramah" Ujarnya.


"Apa dia memiliki pekerjaan? "


"Dia bekerja di perusahaan Pasifik Holding. " Ucapnya kembali.


"Apakah dia memiliki seorang kekasih? "


"Sepertinya tidak, karena aku tidak pernah melihatnya bepergian dengan seorang pria. Dia juga jarang keluar malam" Ujarnya menjelaskan.


"Jadi begitu ya? Baiklah terimakasih atas waktunya". Setelah mengatakan itu Diandra kembali masuk ke dalam.


Elvano melihat Diandra seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Ia datang menghampirinya.


" Ada apa? " Tanya Elvano.


"Aku rasa ini bukan kasus bunuh diri" Ucap Diandra dengan nada serius.


Elvano hanya menautkan sebelah alisnya pertanda ia tidak paham dengan perkataan Diandra.  Sementara Diandra yang melihat reaksi Elvano seolah meminta penjelasan akhirnya buka suara.


" Hufff.....[ menarik nafas panjang ]. Dengarkan aku baik baik tuan Elvano!. Setelah aku mendengar penjelasan dari salah satu penghuni apartemen ini, rasanya sangat janggal jika ia mati bunuh diri karena himpitan ekonomi ataupun depresi karena hubungan asmara! " Diandra sedikit memutar bola matanya mencari sesuatu. Tiba-tiba ia mengobrak-abrik TKP. Entah apa yang dicarinya.


"Heiii! Cari apa sampai di buat berantakan TKP nya?? " Ucap Faleria kesal karena ia masih mengamati TKP.


"Aku mencari handphone korban! " Ucap Diandra sambil terus mencari.


Elvano dan Faleria baru tersadar, ternyata handphone korban tidak ada di TKP.


"Astaga!!! Kenapa aku baru tersadar. " Ucap Faleria sedikit kesal. "Ricky, Adrian! Kalian pergilah ke ruang CCTV sekarang!! ". Perini Faleria


Sementara mereka terus mencari keberadaan handphone korban, seluruh sudut ruangan telah mereka geledah namun yang dicari tak kunjung di dapat. Tiba-tiba suara dering handphone Faleria berbunyi.


Kring... Kring.. 


"Bagaimana?" Ucap Faleria penasaran.


"Spertinya kemarin ada seorang pria turun dari lantai 4. Tapi" Ucapan Adrian tiba-tiba menggantung.


"Tapi apa??" Faleria bertanya.


"Anehnya pria itu setelah turun dari lantai 4, ia memiliki dua handphone, 1 berwarna hitam dan satu lagi berwarna pink" Adrian menjelaskan.


"Apa kau melihat wajahnya? "


"Tidak. Pria itu menggunakan masker dan topi berwarna hitam" Ucap Adrian kembali. Setelah itu panggilan diputusin secara sepihak.


"Ada apa?? " Tanya Diandra kepada Faleria.


"Sepertinya dugaan mu benar, ini bukan kasus bunuh diri, melainkan pembunuhan!".


...Bersambung...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2