
Diandra dan tim nya sedang asyik menikmati makan siang di ruang investigasi, karena sudah beberapa hari ini mereka semua jarang pulang ke rumah bahkan makan pun sudah tidak teratur.
Diandra mengambil ponsel miliknya di dalam saku celananya. ia teringat pesan yang Lily kirimkan lewat aplikasi hijau. dibukanya aplikasi hijau itu dan langsung membuka pesan dari Lily.
Diandra melihat satu persatu hasil foto selfie pada saat di cafe, tiba-tiba matanya membulat sempurna ketika menangkap salah satu objek di belakangnya.
"uhuk uhuk uhuk" [suara batuk Diandra].
"Diandra kamu kenapa? " tanya Elvano sembari meberikan botol air minum.
"apa kau baik baik saja" tanya Faleria.
"makanya pelan pelan saja, tidak ada yang mau mengambil makananmu" ucap Adrian.
Diandra masih belum menanggapi pertanyaan teman teman-teman nya karena masih terbatuk. diambilnya botol air minum yang di berikan Elvano diteguknya sampai habis.
setelah minum, barulah Diandra menyerahkan ponsel miliknya yang di taruh di atas meja makan. Diandra memperlihatkan sebuah foto yang telah ia zoom sebelumnya.
"siapa ini? " tanya Elvano penasaran.
"seperti tidak asing" gumam Brian.
"Astaga!!!! apa dia pria misterius itu? " ucap Faleria masih tidak percaya.
Diandra hanya menganggukkan pertanyaan Faleria.
"akhirnya kita bisa menemukan titik terang" ucap Evan legah.
"Faleria, Evan, dan Adrian kalian pergilah ke cafe itu dan periksa CCTV-nya.! " ucap Diandra memeberi perintah.
________
Di sebuah mansion magah terdapat pria paruh baya yang sedang melakukan panggilan telepon pada seseorang di sebrang sana.
__ADS_1
"apa kau sudah menemukan anak tuan Robert? " tanya pria paruh baya pada si penelepon si sebrang sana.
"maaf tuan, kami masih belum menemukan gadis itu" ucap si penelepon.
"terus cari gadis itu sampai ke pelosok negeri! ".
" baik tuan".
"jika kalian sudah menemukannya, segera bawa dia ke markas. bila perlu langsung habisi saja gadis kecil itu. " perintah pria paruh baya itu dari telepon.
"baik tuan. akan kami laksanakan" setelah mengatakan itu, sambungan telepon di putuskan secara sepihak.
"Siall!!! akan ku habisi kau gadis kecil" pria paruh baya itu itu tersenyum licik. " rupanya kau ingin bermain main dengan ku. hahahaha" suara gelak tawa dari pria paruh baya itu sangat menyeramkan. " Aku bahkan bisa membunuh orang tuamu yang di kenal kejam. apalagi hanya gadis sampah seperti mu!! " ekspresi pria paruh baya itu mendadak berubah jadi menakutkan, seketika hawa ruangan itu menjadi lebih horor.
________
Faleria dan Adrian masuk ke ruangan CCTV, sedangkan Evan berjaga di luar.
Adrian dan Faleria mengamati dengan cermat putaran CCTV itu.
" stop!!! " ucap Faleria. diamati CCTV yang menampilkan pria dengan pakaian serba hitam yang memakai topi. matanya langsung menangkap salah satu benda yang di bawa oleh pria itu.
" tolong berikan kami salinan CCTV nya pak" ucap Adrian.
"baik, tunggu sebentar". ucap pengawas CCTV.
setelah mendapatkan salinan CCTV mereka bertiga langsung menuju mobil untuk balik ke kantor. sekitar 15 menit mengendarai mobil, akhirnya mereka bertiga sudah sampai di kantor.
" bagaimana? apa kalian mendapatkan CCTV-nya? " tanya Elvano penasaran.
"Taraaa"ucap Faleria sambil menunjukan flash yang ia bawa.
mereka memutar salinan CCTV itu di komputer kantor. ternyata benar yang dilihat Faleria. Ponsel korban ada berapa pria itu. yang lebih membuat mereka terkejut adalah pria itu menelepon seseorang menggunakan ponsel korban.
__ADS_1
" wah wah wahhhh.... benar-benar sesuatu " ucap Brian.
Diandra tiba-tiba teringat dengan Lily. Ia mengambil ponsel di atas mejanya. dicarinya nomor kontak benama Lily.
Tut... Tutt.. Tuttt
"Hallo Lily" ucap Diandra.
"hallo. ada apa Diandra? " Lily bertanya.
"maaf, aku lupa menanyakan pekerjaan mu. apa kau seorang dokter? aku melihatmu menggunakan jas dokter saat kita pertama bertemu" tanya Diandra antusias.
"Yaampun Diandra aku pikir kau akan mengajak ku makan gratis hahhaa.... ya aku seorang dokter tapi dokter forensik" ucap Lily.
Diandra yang mendengar jawaban dari Lily seakan-akan tersenyum menang.
"boleh aku meminta bantuan mu?" ucap Diandra penuh harap.
"yah... katakanlah. selagi aku bisa akan ku bantu" jawab Lily.
"bisakah kau mengotopsi ulang jenazah? "
"tentu saja, asalkan sudah ada persetujuan dari pihak keluarga dan tempat pengotopsian awal"
Diandra berusaha menjelaskan kepada Lily tentang kasus yang ia tangani sekarang. memang sangat beresiko. demi terkuak nya kasus ini ia rela mengambil jalan yang penuh resiko berat. setelah cukup lama Diandra merengek pada Lily, akhirnya wanita itu itu luluh juga. tentu saja Lily melakukan itu dengan sebuah syarat, yang akhirnya Diandra menyetujuinya.
"Maafkan Aku Brian, aku harus menjadikanmu tumbal dalam kasus ini" gumam Diandra dalam hatinya.
...**Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Faleria
__ADS_1