
Aori melamun didepan jendela kamar yang sudah 1 minggu ini dia tempati. Markas milik penculik sialan yang setiap hari selalu mengancamnya.
Tidak ada celah sedikit pun untuk melarikan diri dari tempat itu. Melawan mereka? Mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk keadaan nya saat ini. Dia mengandung anaknya.
Seandainya dia tidak sedang mengandung, maka dia mampu mengalahkan mereka semua dalam 1 jam. Sungguh menyedihkan dirinya di culik sepupunya sendiri dan yang lebih parahnya lagi, sepupu nya itu mencintai nya sebagai pria pada wanita.
Tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluk perut buncitnya. "Sudah makan malam? " tanya Shino.
"Belum " jawab Aori. "Kenapa? Menunggu ku? " tanya Shino. "Aku tidak mau makan" kata Aori.
"Kau perlu makan, begitu pun dengan anakmu" kata Shino. "Ini anakku, jadi terserah aku" kata Aori kemudian melepaskan pelukan Shino dan berlalu dari hadapan Shino.
"Tunggu, malam ini ada acara dinner dengan klien ku, jadi dandanlah dengan cantik, pelayan ku yang akan membantumu" kata Shino. Langkah Aori terhenti. Tapi beberapa saat kemudian, dia melanjutkan langkahnya.
♡♥♡♥♡♥♡
Shino sedang membenarkan dasinya, langkah kaki menuruni tangga, membuat perhatian Shino teralihkan. Ternyata Aori yang sudah berpoles di bantu berjalan oleh beberapa pelayan.
Shino tersenyum bahagia. Setelah Aori berada di hadapannya, dia memberikan isyarat pada para pelayan untuk meninggalkan mereka.
"Kau cantik sekali " kata Shino. Aori menatap Shino dengan penuh kebencian.
"Kau sudah rapi, dan aku belum, tolong, pakaikan aku dasi" kata Shino.
Aori terpaksa menurut. Dia mendekat dan memasang dasi Shino dengan teliti.
"Cih! Aku bahkan tidak pernah memakaikan Albert dasi" batin Aori.
Shino menatap Aori dengan intens. Dia menatap bibir tipis merah merekahnya yang selalu menggodanya untuk mencium bibir Aori.
Shino mendekatkan wajahnya. Dia mencium bibir Aori dengan lembut, tidak sulit karena tinggi Aori hampir sama dengan tingginya. Namun.. Tunggu? Sama?
Shino menelisik tubuh Aori. Dan tatapannya terhenti pada sepatu hak tinggi yang di pakai Aori.
"Apa-apaan kau! " bentak Shino. Aori terhenyak sampai terpundur saking kagetnya.
"Kenapa kau memakai hills itu? Kau mau kelelahan dan bagaimana dengan anakmu! " bentak Shino.
Aori menautkan alisnya. Dia pun melepaskan sepatunya kemudian melemparnya ke sembarang arah.
"Kau pikir aku juga mau memakai benda sialan ini hah!! Pelayan sialan mu yang menyuruhku memakainya!! " bentak Aori.
__ADS_1
"Apa!! Akan ku bunuh mereka! " baru saja Shino akan memanggil mereka, Aori menarik lengannya. "Sudahlah! " kata Aori.
"Baiklah, ayo kita pergi, biar ku hukum mereka setelah kita pulang" kata Shino.
♡♥♡♥♡♥♡
Mobil mereka terhenti di depan sebuah mansion mewah yang jaraknya mungkin hanya 1 km dari markas.
Aori menatap ke sekeliling. Tidak ada penjaga, dia mungkin memiliki kesempatan besar untuk melarikan diri.
Mereka keluar dari mobil kemudian memasuki mansion. Baru saja Aori akan bernapas lega, beberapa puluh penjaga keluar dari dalam mansion.
Mereka membungkuk hormat pada Shino dan Aori. "Jaga mansion ini, sesuai denah yang ku berikan" kata Shino.
"Ha'i" jawab mereka serempak.
Aori menghela napas berat. Shino menggandeng tangan Aori. "Aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri dari mansion ini, jangan kan dari sini, dari hidupku pun tidak akan pernah " kata Shino.
Aori mendengus kesal. "Aku tahu "
♡♥♡♥♡♥♡
Tentu saja, Shino mengatakan..
"Perkenalkan, dia adalah istriku, Aori Hashigawa "
Aori tercengang dan menatap Shino dengan tajam. Shino tersenyum tampan pada Aori.
Mereka pun memulai acara makan malam. Setelah selesai, mereka pun pamit pulang. Aori menghela napas berat. Dia benar-benar ingin kembali ke mansion Rider.
Konyol dan aneh memang, dia membenci Rider, namun seperti nya dia lebih membenci Shino. Jika dia boleh jujur, dia merindukan Rider.
Merindukan kepedulian dan ke-mesuman psikopat tercintanya itu.. Ehm? Tercinta?
Tiba-tiba, Aori merasa perutnya bergejolak. Dia memegang perutnya. "Eeuuhh, sakit sekali.. Kau merindukan ayah sayang? " bisik Aori sambil membelai perutnya.
Biasanya jika Aori merasakan kontraksi, Rider lah yang selalu menenangkan bayi yang ada di dalam perutnya itu dengan berbicara pada perut Aori. Konyol sekali, tapi itu sangat berpengaruh dan membuat kontraksi nya mereda.
Aori terduduk. Dia meringis. Sepasang lengan kekar membelai perutnya.
"Ada apa sayang? " tanya Shino pada Aori. Aori tidak menjawab karena perutnya semakin sakit.
__ADS_1
"Kemarilah" Shino dengan lembutnya membelai perut Aori.
"Apa yang biasa di lakukan Rider agar anaknya yang nakal ini tidak berbuat aneh di dalam? " tanya Shino.
"Diamlah, rasanya sakit sekali " gerutu Aori sambil meremas kemeja Shino.
"Baiklah sekarang tidurlah, aku akan memeluk mu" kata Shino.
Aori menurut. Dia tertidur dalam pelukan Shino. Shino mencium kening Aori.
♡♥♡♥♡♥♡
"Maaf Tn, kami benar-benar tidak menemukan jejak sedikit pun " kata salah satu orang kepercayaan Rider.
Rider melempar gelas wine yang dia pegang ke lantai hingga pecah. "Shit!! Apa penculiknya benar-benar hebat hah! Sampai -sampai kalian tidak bisa mengatasinya! " bentak Rider.
Mereka menunduk. Terdengar langkah kaki memasuki ruangan. Rider menoleh ternyata Leon dan Shione.
"Selamat pagi" kata Shione sambil memberikan alat deteksi pada Rider. Rider menerima nya.
"Kau melacak siapa? " tanya Rider. "Elsa" jawab Shione. "Cepat " kata Rider sambil memberikan alat pelacak itu pada orang kepercayaannya.
Salah satu dari mereka segera memasangnya pada GPS tekno, mereka memperhatikan nya dengan seksama. Namun titik merah itu tidak keluar dari jalur New York.
Rider mendengus kesal. "Ku pikir kita akan menemukan sesuatu dari dia" gumam Shione sambil menghela napas berat.
"Maaf Rid " kata Shione. "Kita harus segera menemukan Aori" kata Leon.
"Aha aku punya ide" kata Shione.
Leon dan Rider menoleh pada Shione.
"Ide apa! Katakan! " kata Rider antusias.
"Kita akan meminta bantuan pada orang yang tepat, memiliki kuasa penuh atas tindakan kriminalitas, dia memiliki kecerdasan di atas rata- rata dan yang lebih bagus nya lagi, dia mengenal Aori dengan baik" kata Shione.
Rider menggeleng. "Tidak -tidak jangan polisi itu, tidak "
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah