MAFIA VS PSYCHOPATH

MAFIA VS PSYCHOPATH
26


__ADS_3



Miura melajukan mobil anti peluru milik Shino ke pelataran mansion. Shione yang duduk di samping nya segera keluar. Miura juga.



Aori dan Rider yang duduk di kursi belakang juga keluar. Mereka menghampiri Leon.



"Kau baik-baik saja sayang? " Shione mencium bibir Leon. Leon membalas ciuman Shione.



Aori dan Rider terbelalak, Miura mengalihkan pandangannya kearah lain seolah tidak melihat .



Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Beberapa helikopter polisi menyorot mereka dari langit.



Beberapa mobil polisi juga mengepung mereka. Ada polisi Jepang dan polisi Amerika.



"Letakkan kedua tangan di belakang kepala! " perintah Mukada.



Miura terkejut dengan keberadaan pamannya itu.



"Cepat! Letakkan tangan di belakang kepala! Kau juga" bentak Mukada sambil memelototi Miura.



Mereka pun menurut, meletakkan tangan di belakang kepala kecuali Aori.



Beberapa polisi keluar. Termasuk Arnold. Rider terkejut melihat  keberadaan Arnold.



"Bertingkah lagi huh? " tanya Arnold sambil memborgol kedua tangan putra nya ke belakang.



"Aku melakukan nya untuk istriku, dia di culik oleh Shino " kata Rider.



"Shino? Buronan internasional? " tanya Mukada pada Rider. "Iya " Miura yang menjawab.



"Jika istrimu di culik, kenapa tidak kau laporkan pada polisi? " tanya Mukada.



"Jika aku melapor, yang ada aku akan di tangkap, karena pembantaian itu " kata Rider.



"Bagaimana dengan ayahmu? Dia juga pasti nya mampu menolong Aori " kata Mukada.



"Tidak! " bantah Rider. Arnold menautkan alisnya. "Lalu kenapa Shione dan pria asing ini  serta Miura membantu? " tanya Mukada. Arnold menghampiri tubuh Shino yang terkapar di pelataran mansion. Dia meringkusnya.



"Ini salahku, aku yang meminta bantuan Miura, jadi jika kalian ingin menangkap seseorang, tangkap saja aku" kata Shione.



"Tentu saja kalian akan ku tangkap, kesalahanmu masih sama Shione, kau mafia yang memiliki banyak klub illegal dan sering membuat onar belum lagi penjualan senjata berbahaya rakitan dan masih banyak lagi... Lalu kau kalau tidak salah, kau psikopat yang membunuh seorang walikota, Leonardo Davidson.. Lalu kau masih pembantai yang sama yang membantai di distrik B" kata Mukada.



"..lalu kau, Miura, kau polisi, bahkan kau kepala kepolisian, kenapa kau membantu para penjahat ini? " tanya Mukada. Miura menunduk dalam.

__ADS_1



Aori terlihat sedih. Mereka berniat baik, namun mereka jadi di tangkap. Aori merasa bersalah karena dia sedang hamil dan di culik Shino.



"Sekarang aku berada di New York, Shione dan Miura akan di adili di Jepang, lalu kalian berdua akan di hukum polisi di negara kalian masing-masing " kata Mukada sambil menunjuk Rider dan Leon.



"Tidak!!! " bentak Miura. Mereka terkejut kemudian menoleh pada Miura. Mukada menatap Miura dengan tajam.



"Cukup aku bertindak bodoh, dan akan ku katakan ini sekarang paman!! Maksudku.. Emm Pak" kata Miura. Mukada menaikkan sebelah alisnya.



".. Ok kami berempat salah telah melanggar aturan hukum, terutama Shione, Rider dan Leon yang menjadi buronan internasional. Tapi setidaknya kami telah mendapatkan 2 buronan yang lebih di incar! " kata Miura.



"Maksudmu? " tanya Arnold menghampiri Miura. Miura menoleh. "Ada 2?" tanya Arnold lagi memastikan.



"Iya, satu lagi Elsa Augustino, dia mafia juga kan? Dan dia buronan internasional, saat ini dia berada didalam" kata Miura.



Beberapa polisi segera memasuki mansion. Mukada menatap Miura dengan tajam. Beberapa polisi lainnya juga meringkus para bodyguard Shino.



Seorang polisi berbadan tegap dan berdarah Jepang memasuki pelataran mansion setelah keluar dari mobil nya.



"Lama sekali Pak Mukada " kata pria paruh baya itu. "Pak Taka" Mukada menjelaskan semuanya pada pria yang bernama Taka itu.



Taka menatap satu persatu orang yang berada di hadapannya.




Rider, Leon dan Shione mendongkak menatap Taka begitu pun dengan Aori dan Miura. Arnold tersenyum tipis mendengar keputusan Taka.



"Apa? Apa tidak apa-apa? " tanya Mukada pada Taka. "Tidak masalah, Elsa dan Shino lebih berbahaya" jawab Taka.



Beberapa polisi keluar dari mansion sambil menyeret Elsa yang terus berontak.



"Dia Elsa Augustino " kata salah satu dari polisi itu. "Baiklah, masukkan dia ke dalam mobil" kata Taka. Elsa menatap Aori dan Rider dengan tajam.



"Kalian akan menyesal!! " ancam Elsa sebelum dia benar-benar di masukkan ke dalam mobil.



"Baiklah, aku terkesan dengan cara kalian menghancurkan tempat ini, kalian benar-benar psikopat, mafia dan polisi sejati" kata Taka.



Mukada menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti dengan jalan pikiran temannya itu.



"Kalian mendapatkan hak bebas bersyarat, syaratnya akan ku kirimkan nanti" kata Taka kemudian berlalu diikuti Mukada.



"Ayo Miura " kata Mukada. Miura mengangguk. Dia menoleh kearah Shione dan Leon. "Kerja sama kita bagus" Miura menghampiri Rider dan Aori.



Miura mendekatkan wajahnya ke telinga Rider. "Jaga Aori dengan baik" bisiknya ke telinga Rider. Rider sama sekali tidak merespon.

__ADS_1



Miura menatap Aori. "Jaga dirimu ya.. " Miura membelai pipi Aori sambil mendelik Rider yang menatap tajam le arahnya. Aori mengangguk.



Miura pun berlalu mengikuti Mukada dan Taka. Arnold menepuk bahu Rider. "Gunakan kesempatan bebas bersyaratmu dengan baik, jarang ada yang mendapatkan kebebasan bersyarat seperti mu " kata Arnold kemudian berlalu di susul para polisi Amerika lainnya.



Setelah mobil -mobil itu pergi, Shione membantu Leon memasuki mobil anti peluru yang berhasil mereka curi dari Shino. Shione kan adiknya Shino jadi dia juga berhak kan?



Rider menatap Aori. Aori menoleh kemudian menatap Rider juga.



"Aku merindukan mu" kata Rider sambil merentangkan kedua tangan nya akan memeluk Aori, namun tidak jadi. Dia ingat, dia harus bersikap sewajarnya atau Aori membenci nya.



Aori kecewa karena Rider tidak memeluk nya. Sejujurnya dia ingin sekali dipeluk atau pun memeluk Rider.



Perlahan Aori memegang kedua lengan kekar Rider. Rider terkejut dengan aksi Aori yang tidak biasa. Aori mengalungkan kedua tangan Rider ke pinggangnya. Rider merasa detak jantungnya berpacu cepat.



"Peluk aku" kata Aori pelan. Rider pun memeluk Aori dengan erat. Aori bisa merasakan kerinduan lewat pelukan hangat Rider.



Rider melepaskan pelukannya. Dia tersenyum kemudian menatap Aori. "Sekarang boleh aku.. " kata-kata Rider tidak di lanjutkan.



Aori mengangkat kedua alisnya menunggu lanjutan kata-kata Rider. Rider menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pipinya sudah merona.



"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Aori dengan nada lembut tidak seperti biasanya.



"Aku.. " demi tuhan baru kali ini Rider merasa se gugup itu.



Aori menarik kedua pipi Rider kemudian dia berjinjit dan mencium bibir Rider sekilas. Rider terbelalak dan membeku di tempat.



"Ayo pulang " kata Aori sambil menarik tangan Rider. Namun Rider kembali menarik tangan Aori kemudian menciumnya dengan penuh penuntutan bercampur cinta.



Aori terkejut untuk beberapa saat, namun kemudian dia membalas ciuman Rider.



"Hei? Mau sampai kapan kalian berciuman disana? " tanya Leon yang duduk di kursi kemudi dan Shione memperhatikan mereka sambil tersenyum dengan pipi merona.



Aksi ciuman mereka terhenti. Rider yang kesal melempar sepatu kearah Leon namun mengenai pintu mobil.



Leon terkejut. "Kau membuat ku kaget! Bagaimana jika sepatu mu mengenai wajah tampan ku! " gerutu Leon.



"Wajah tampan mu itu sudah babak belur karena kakak iparmu sendiri sialan! "



♡♥♡♥♡♥♡




By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2