Mahar Cinta Untuk Berlian

Mahar Cinta Untuk Berlian
Kemarahan yang diterima


__ADS_3

Lian baru sampai rumah setelah dari panti. Membuka pintu dengan halus agar tidak menganggu orang yang ada di dalam rumah. Tapi kehati hatianya tetap menarik perhatian. Dia di sambut suara tidak nyaman dari Hilda istri dari pamannya dan 2 putrinya yang sama jahatnya Adel dan Feby. Mereka memang tidak suka dengan Lian. Bagi mereka Lian adalah beban seperti benalu yang menggerogoti Harta mereka. Padahal dalam kenyataannya semua itu adalah harta yang di tinggalkan oleh orang tuanya.


"Dari mana Lian...?" Herdik Bude Hilda.


"Panti Bude...." Jawab Lian Cuek.


"Panti. .. panti lagi. ...?" Gerutu Feby seperti meledek.


"Kamu itu kerjanya Main mulu..." Sindir Adel nyiyir.


"Iya.. tuh... dasar tidak guna" Feby ngompori


"Lian tidak main kak....." Tolak Lian jelas.


"Kalo tidak main itu langsung pulang setelah dari sekolah masih pakai sragam keluhuran." Marah Adel mendengar bantahan dari Lian yang semakin berani pada mereka.


"Banar kata kakak kamu... Kamu memang tidak berguna Lian... parasit" Hilda mengejek sesukanya.

__ADS_1


"Masak... Untuk makan malam.... kami sudah lapar. .. nunggu kamu tidak pulang pulang" Perintah Bude Hilda kasar dan sesukanya.


"Iya bude...." Lian pergi kamar.


Lian ganti baju bersih bersih dan solat Asar. Baru juga selesai melipat mukena. Telinga Lian sudah di kagetkan dengan teriakan 2 sepupunya dari arah dapur.


"Lian. .. cepat masak..." Teriak Adel tidak sabar.


"Lian. . sudah lapar nih... kamu ngapain sih. ..." Feby ikut mengeluarkan suara melengkingnya.


"Iya... kak...." Jawab Lian santai.


"Cepetan.... ngapain sih lelet amat. ..." Mereka tidak sabar.


Tanpa membantah Lian melakukan semua perintah. Segera datang dan melakukan segalanya. Sudah biasa dia mendapat perlakuan seperti itu dari bude dan ke 2 sepupunya. Sudah tidak menyakitkan lagi dengan perlakuan kasar dan semena mena mereka. Lian sudah kebal dan tidak lagi melo nanggis. Mentalnya sudah kuat sekarang.


Pamannya tidak tahu dengan perlakuan yang di terima Lian. Lian bukan gadis pengadu. Semua tidak ada gunanya saat Bude Hesti mengancam akan menyakiti Lian lebih parah. Alhasil Lian membuat kebal dirinya agar tindak sakit.

__ADS_1


Lian sudah selesai masak. Adel dan Febi sudah menunggu dengan lapar di meja makan. Sedang sang ibu entah di mana. Ke 2 nya ngoceh dari tadi perihal lapar sambil mengumpati Lian yang berusaha masak ini dan itu. Setelah selesai mereka makan tanpa mengajak Lian yang juga lapar.


Tapi Lian sudah biasa makan terakhir dan hanya mendapat sisa kuatnya saja. Sudah banyak yang dia alami di rumah ini. Setiap hari hanya bisa menebak apa yang akan mereka lakukan padanya.


Lian akan dapat perlakuan baik jika di hadapan pamannya saja. Mereka akan bersikap manis dan baik. Tidak menujukkan kemarahan kekesalan dan memerintah sekalupun pada Lian. Tanpa mereka sadari sang Paman juga tahu perlakuan tidak adil yang dilakukan anak dan istrinya pada anak sang adik yang sudah meninggal.


Lian pernah bilang selama yang mereka lakukan masih wajar dan biasa makanya tidak akan pernah melapor dan menuntut pembelaan. Lian juga tidak berharap sang paman akan sulit untuk menemukan posisi harus membela yang mana. Di sisinya ada istri dan anak yang selalu berbuat jahat. Di sisi lain ada Lian yang sebatang kara. Hingga Jimi tidak tega untuk melihat semuanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2