
Seorang pemuda tampan sedang duduk sendiri di kursi taman menikmati angin pagi yang sejuk. Sesekali melihat orang berjalan melintasinya . Dia sibuk membaca sebuah buku tebal hingga tidak ada yang membuatnya beralih dari fokus nya. Hingga seseorang di seberang jalan membuatnya tertarik untuk sekadar menatapnya sekilas. Seorang gadis cantik berseragam sekolah putih abu abu sedang membantu seorang wanita tua untuk menyebrang ke taman.
Melihat apa yang telah gadis itu lakukan malah membuat Rifat beralih dari buku tebalnya. Menatap kagum dengan kabaikan. Seutai senyum menghias di bibir tipisnya yang tampan.
Pak Minto sang sopir yang duduk tidak jauh dari majikannya memperhatikan sang tuan muda menatap dengan heran ke arah Rifat. Sang tuan muda tersenyum melihat seorang gadis. Sesuatu yang lama tidak ditunjukkan Rifat bahkan pada keluarganya. Hidupnya seakan berubah menjadi suram setelah mengalami kecelakaan sepeda motor dan mengakibatkan kakinya cidera dan lumpuh. Karena kejadian itu hidup Rifat berubah 180° dari sosok pemuda ramah dan hambel berubah menjadi pemuda yang pendiam dan tertutup.
Setelah menyebrangkan sang nenek gadis itu menusuri jalan setapak di taman hingga saat jalan di depan Rifat dia berhenti saat tidak sengaja Buku Rifat jatuh dari pangkuannya di depan sang gadis. Sedari tadi Rifat terus memperhatikan Sang gadis dengan sesama.
"Ini buku kakak. ..."
"Eh... Ah... iya. .. terima kasih"
"Sama sama. ... "Gadis itu tidak berani menatap Rifat yang sejak tadi melihat nya. " Kakak sendiri di sini? "
"Tidak. .. dengan pak Min supir saya. ..." Rifat menjawab.
"Kakak sering di sini ya?"
__ADS_1
"Beberapa kali dalam seminggu. ..."
"Iya... karena saya sering lihat kakak jalan di sini sendiri"
"O..."
Sang gadis melihat ada sebuah kursi roda di samping kursi panjang di mana Rifat duduk. Bukanya menatap dengan iba gadis itu malah memberikan Seutai senyum dan mengucap sebuah kata semangat pada Rifat.
"Semoga sehat terus ya kak... cepat sembuh dan jangan menyerah.... Allah tidak memberi cobaan kepada hambanya kecuali sesuai kemampuannya. .. "
"Terima kasih. ..."
"Hei....siapa nama kamu?//"
"Lian... Berlian. .. Kakak..."
"Panggil saja Rifat. ..."
__ADS_1
"Ok... Kak Rifat. .. Lian pergi dulu.... Assalamualaikum. .."
"Waalaikum salam...."
"Gadis yang baik.... Pak min ayo pulang"
"Baik Gus....//"
Setelah Lian pergi Rifat segera pergi dari tempat itu. Walau dia punya kekurangan tidak pernah mau menyusahkan orang lain. Baginya yang menyakitkan dari kelemahannya adalah bila menyusahkan orang lain karena kecacatanya. Selama perjalanan pulang Rifat banyak berfikir tentang perilaku Lian yang berbeda dengan gadis jaman sekarang. Bila melihat fisik Rifat normal pasti mereka akan terkagum dengan Rifat. Tapi saat tahu ada kekurangan dalam dirinya mereka akan menghindar atau sok sok an peduli. Tapi sikap Lian tidak seperti itu. Apa lagi dia tahu keadaan Rifat seperti apa karena dia bilang susah beberapa kali melihat kekurangan. Lian tidak menatap sebelah mata apa lagi mengejek. Gadis itu justru memberi sebuah nasihat yang baik.
Pertemuan itu Rifat rasa sangat berkesan untuk nya. Diapun berharap bisa di lain waktu.
Lian gadis yang baik. Baik perilaku nya dan juga Akhlaknya. Sudah lama gadis itu ingin behijab tapi pasti tidak boleh Bidenya. Padahal Lian selalu tenang jika sudah mendengar ceramah dari santi sahabatnya yang putri seorang ustadz di pesantren besar.
.
.
__ADS_1
.
.