Mahar Cinta Untuk Berlian

Mahar Cinta Untuk Berlian
Terheran dengan Sikap sang Putra.


__ADS_3

Seorang Wanita duduk Angun sambil menyilangkan kaki dengan membaca sebuah majalah mode. Sesuatu yang sangat jarang dia lakukan selama ini. Tapi sedari tadi perhatiannya teralih pada seuntai senyum manis dari bibir sang putra. Sungguh pemandangan yang indah sekali dari sang putra yang sudah lama tidak pernah tersenyum apalagi bersikap ramah.


"Rifat...." Sapa wanita itu.


"Umi...." Jawab Rifat dengan senyuman yang manis nan menghayutkan.


"Kamu dari mana nak?" selidik Umi mendekati sang putra.


"Taman Umi...." jawab pemuda itu santai.


"Apa ada sesuatu terjadi?" Selidik Umi.


"Tidak ada. .. oh ya.. Umi nanti mau mengantar Rifat terapi?" Jawab Rifat semangat.


"Baiklah..."Sang Umi setuju dengan permintaan sang putra .


"Kalau begitu Rifat siap siap dulu ya mi..." Pamit sang putra kekamarnya.

__ADS_1


Padahal biasanya Rifat tidak pernah mau jika sang umi melihat dia kesakitan saat terapi untuk pemulihan kakinya yang baru saja selesai operasi di Jerman.


Taalsa termenung melihat kepergian sang putra sambil memutat roda kursinya menuju kamarnya di lantai satu. Setelah kecelakaan 3 tahun lalu akibat kehilangan kekasih membuat pemuda itu harus terima kenyataan mesti hidup di atas kursi roda. Tapi tekatnya untuk mengelola semua usaha tidak luntur. Tapi Rifat berubah menjadi sosok yang tertutup begitu juga pada sang Umi. baru kali ini di lihatnya sang putra beruhah. Maka membuat wanita itu terheran heran.


Abi Arsha yang siap berangkat ke kantor menatap heran ke arah sang istri yang berdiri menatap pintu kamar sang putra yang tertutup. Di kalungkanya tangan di leher sang istri hingga wanita cantik itu tersentak kaget.


"Eh... Abi.... Sudah siap bi?" Umi Tsalsa tersentak kaget.


"Sudah. . kenapa menatap pintu kamar Rifat?" Selidik Ani Arsha.


"Tadi dia minta Umi menemani terapi bi" Abi Arsha membimbing sang istri ke sofa.


" Dia juga pulang dengan bahagian. .. aneh kan bi?" Umi masih bingung.


"Apanya yang aneh... mungkin itu perkembangan yang baik untuk nya" Abi meyakinkan.


"Begitu ya bi..."

__ADS_1


"Iya... ya...sudah.. abi berangkat dulu ya" Pamit Wbi Arsha.


"Iya. .. bi...".


Pria setengah baya itu begitu romantis. membalas salim sang istri dengan kecupan hangat di kening Tsalsa. Cinta mereka tidak luntur di makan waktu walau sudah punya cucu kembar dari putri sulungnya yang berusia 4 tahun lagi lucu lucunya.


Setelah Abi pergi Umi siap untuk menemani sang putra yang ada jadwal terapi pemulihan. Padahal Rifat menolak meras pengobatan karena luka hati yang begitu mendalam di rasa. Melihat wanita yang di idam idamkan berselingkuh dengan pria lain membuat Rifat benci wanita. Tapi kini ada sesuatu yang menyentuh hati dan perasaan dalam dirinya. Hingga membangkitkan kembali semangatnya. Umi juga meyakinkan tidak semua wanita itu juga jahat seperti wanita yang pernah dia cintai. Masih banyak yang lain.


Umi menatap sang putra dengan penuh kekaguman dan keheranan. Sedari tadi senyum tidak hilang. Dia juga tidak ingin memaksa bertanya pada Rifat. Menunggu sang putra bersedia untuk bercerita sendiri. mengenai apa yang di rasakan.


Selama perjalanan ke rumah sakit Rifat sibuk dengan pikirannya sendiri sedang umi Tsalsa menikmati wajah segar sang putra dengan sesekali mengambil foto degan diam diam untuk di kirim pada sang suami di kantor.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2