
Mendapati kenyataan pahit untuk menikah di usia muda Lian merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Atau tepatnya di paksa menikah. Walau alasannya demi perusahaan tapi Lian tidak bisa terima begitu saja. Tapi bagi Jimi ini adalah keputusan terakhir untuk menyelamatkan perusahaan yang sedang kolep. Sedang Lian sendiri tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Jimi sendiri tidak ingin Lian merasakan penderitaan yang lagi. Di siksa istri dan 2 putrinya membuat mental sang ponakan berubah menjadi gadis yang pendiam. Kalau bisa Jimi ingin putri tertunya saja yang menikah dengan penerus Al kaff crop tapi mereka melah memilih Berlian sebagai menantu.
Kini gadis itu sedang dalam dilema. Untuk memenangkan diri Lian memilih pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Di sana Lian duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon.
"Ya Allah... kenapa mesti begini?"
"Lian belum siap untuk menikah"
Gumam Lian sendiri tak terasa air matanya basah membasahi pipi.
Dia memikirkan semua yang di sampaikan Om nya dengan pilihan yang mesti dia pilih. Dalam kegunaan hatinya tak berasa sudah adzan magrib. Lian berjalan entah kemana dalam kebingungan kakinya menuju sebuah masjid.
Dalam setiap doanya dia mengadu dan mengungkapkan semua keluh kesahnya. Air mata juga tidak bisa berhenti hingga dada Lian terasa sakit dan sesak. Bayangan ke dua orang tuanya muncul kembali. Kekecewaan atas meninggalnya mereka datang lagi. King Lian tidak punya pegangan selain pada pemilik hidup-Nya. Dia bingung.
Dari kejauhan Seseorang melihat Lian dengan tatapan bingung..Melihat seorang gadis menagis setelahnya selesai solat membuat hatinya terusik. Gadis itu seperti butuh seseorang untuk bicara. Pelan pelan di dekati gadis itu dengan saksama. Meminta izin untuk duduk di sisinya.
"Maaf nak apa ada yang terjadi padamu?"
Lian mendongak melihat siapa yang datang. Seorang wanita bercadar dengan tatapan mata yang hangat. Di lihat dari matanya yang menyempit wanita itu sedang senyum pada Lian.
"Boleh saya duduk?"
__ADS_1
"Ah... silahkan"
Lian menghapus air matanya. Lalu melepas dan mebereskan mukena. Wanita itu menatap hangat Lian.
"Apa kamu dalam masalah?"
"Ah..." Lian tersentak dan tidak enak mau bicara apa?.
"Saya...."
"Kalau kamu tidak mau bicara tidak apa apa... Saya Ny Zora siapa namamu nak?"
"Nama yang cantik. ... apa kamu baru putus cinta. apa sedang marah atau di marahi orang tuamu?"
"Orang tua saya sudah lama meniggal tante... bolehkan saya panggil tante?"
"Tidak apa. .. maaf kalau tante membuat kamu sedih. .."
Bunda Zora memegang tangan Lian hangat. Melihat Lian beliau ingat sang putri yang jauh di Rembang.
"Melihat mu saya ingat dengan putri saya. .. Sani"
__ADS_1
"Dia di mana tante?"
"Dia di Rembang. .. ikut sang suami... usia kalian sama"
"Oh ..." Lian kaget.
"Dia sudah menikah?"
"Iya. .. baru 1 bulan"
Mendengar ungkap Ny Zora Lian memutuskan untuk bercerita semua. Paling tidak Lian akan tenang bicara dengan orang lain. Paling tidak dia bisa memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran dari om Jimi untuk menikah demi perusahaan. Lian butuh tempat bicara untuk mencurahkan semua perasaannya. Mungkin dengan begitu dia akan mendapat solusi. Ny Zora menjadi pendengar yang baik mendengar semua keluh kesah Lian membuat dia iba dan secara tidak langsung mengingat Sani yang juga harus menikah karena insiden.
.
.
.
.
.
__ADS_1