Mahar Cinta Untuk Berlian

Mahar Cinta Untuk Berlian
Permintaan yang mustahil


__ADS_3

Jimi pulang dengan sedih. Bagaimana dia akan bicara pada sang ponakan tentang lamaran dari keluarga Rifat. Sedang Jimi sendiri sudah tidak bisa berbuat adapun untuk perusahaan yang di tinggalkan sang adik sebagai warisan untuk Lian. Melihat peliknya masalah membuat pria itu memberikan diri untuk bicara pada sang ponakan.


Lian yang sedang sibuk di dapur di bantu Bi Anah seseorang yang selama ini mengasuhnya. Orang yang tahu bagaimana keadaan Lian selama ini.


Makanan sudah siap di atas meja. Jimi muncul dari kamarnya. Suasana sepi karena Istri dan dua putri Jimi masih pergi berlibur ke luar negeri.


"Mari Om... makanan sudah siap!"


"Iya nak"


Lian dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk di piring Om nya. Jimi selama ini tahu perlakuan yang di dapat Lian dari sang istri. Bi Anah selalu melapor apa saja yang terjadi di rumah. Tapi selama ini pula Lian tidak pernah mengadu. Dia tidak ingin Om dan Tantenya bertengkar. Melihat keadaan Lian selama ini yang menderita menguatkan tekat Jimi untuk membujuk Lian.


"Lian habis makan sisul Om di ruang kerja"


"Ada apa Om?"


"Ada hal penting yang Om mau sampaikan''


"Baik. ..."


Jimi segera beranjak dari ruang makan setelah selesai. Sedang Lian yang di penuhi rasa penasaran segera membereskan piring piring kotor di meja dan memcucinya. Setelah itu segera pergi ke ruang kerja untuk menemui omnya . Setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk Lian menghamburkan diri masuk dan duduk di sifa yang ada di ruang itu.

__ADS_1


Semakin lama Lian semakin penasaran dengan apa yang akan di sampaikan omnya. Sedang Jimi masih diam berusaha untuk menyusun kata bingung bagaimana meyakinkan sang ponakan untuk menikah di usia muda. Melihat kekhawatiran di wajah pria setengah baya itu Lian menjadi khawatir hingga dia memberikan diri bertanya. Dia selalu tahu kalau sang om mendapat masalah besar selalu seperti itu.


" Om katanya mau bicara pada Lian, Ada apa sebenarnya?"


Pria itu mencela nafas."Om minta maaf nak!"


"Ada apa Om....?"


"Om mohon maafkan om...."


"Kalau lian tidak tahu apa salah Om... Bagaimana Lian akan memaafkan?"


"Perusahaan di Ambang kebangkrutan"


"Tidak semudah itu nak. .. itu adalah peninggalan Ayah mu..... Om merasa gagal dalam menjaganya....Maaf...."


"Om... apa sudah tidak ada cara?"


"Om sudah minta tolong ke segenap kenalan. .. tapi tidak berhasil. .. di pihak Bank kita juga sudah punya hutang yang cukup besar. Tapi ada yang bisa bantu perusahaan dengan minta sarat..." Kalimat terkair Jimi menyampaikan dengan ragu.


"Sarat apa Om? Jika itu bisa membantu lakukanlah"

__ADS_1


"Sarat mereka adalah. ... menjadikannya menantu di keluarga mereka"


"Apa?"


Bagai di sambar petir di siang bolong Lian kaget lalu terkulai lemas mendengar apa yang di sampaikan Jimi. Pikirnya yang masih muda dan polos tentu menolak semua itu. Apa lagi dia masih sekolah. Menikah belum ada dalam pikirnya.


"Maaf kan om Lian. .. Om gagal menjaga amanah. .. dan kini menempatkanmu dalam keadaan tidak baik. .. Om sudah menyarankan mereka untuk melamar sepupumu.. tapi mereka minta kamu nak"


"Tapi Lian masih sekolah om...."


"Kamu masih bisa sekolah. .. dan ada satu hal lagi. .. pemuda itu ... cacat. .. lumpuh"


Lian yang bingung dan kaget dengan permintaan Jimi semakin di buat kaget dengan kenyataan kalau pria itu cacat.


"Om tahu. .. ini sulit. .. lakukanlah demi Ayah dan bunda mu yang telah tiada. Mereka keluarga terpandang. .. mereka juga keluarga baik ... kamu pasti di izinkan sekolah dan kuliah. .... di sini kamu menderita pasti di sana kamu akan bahagia"


Lian belum bisa menerima hal ini. Menikah di usia muda belum ais pikir sama sekali. Mendengar kenyataan pria itu cacat juga menyakitkan Lian. Kalau untuk merawat anak mereka kenapa tidak menyewa suster saja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2