
Hening dan menenangkan, hanya kicauan burung yang berdendang di ranting pohon merajai suasana di perumahan Cirendeu lebak bulus jakarta selatan. Putihnya langit yang bersih mengirim sinarnya kedalam sebuah kamar lewat celah-celah jendela menerpa wajah seorang gadis yang terlelap dibawah Selembar selimut tipis menyelubungi tubuh indahnya di atas ranjang. Pagi yang merayap semakin jauh tak menepikan Mahasiswi Fakultas Hukum tersebut dari mimpinya. Cocktail seri tinggi telah menghisap kesadarannya, sampai baunya melambung tinggi di udara, menyentuh dinding-dinding berlatarkan putih gading dengan wallpaper-wallpaper elegan lainnya. Kurang kontrol dari orang tuanya yang sedang bertugas diluar Kota membuat dia tumbuh menjadi gadis yang liar.
“Non cika bangun udah pagi !, udah jam 8 ni” sebuah suara mengetuk-ngetuk gendang telinga gadis berusia 18 tahun tersebut
“Non Jessica bangun, nanti telat ke kampusnya !” Wanita separuh baya tersebut yang berada dibalik pintu masih berusaha membangunkan Anak Majikannya.
“Eughhh” Lenguh gadis cantik yang masih melekat dress hitam tanpa lengan ditubuhnya. Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka, sedetik kemudian terjatuh kembali menutupi mata, karena perih dengan selarik cahaya yang terlalu terang membasuh wajahnya dan menembus sampai kornea mata hitamnya.
“Non jessica, bangun. Katanya hari ini ada kelas jam 10!”Suara lembut tersebut kembali Menusuk telinga gadis pemilik nama Jessica Najwa Pratama. Anak tunggal dari pasangan, Pengacara Kondang, Wulandari SH dan Hakim Agung, Hardi Pratama SH.MH, yang saat ini sedang bertugas di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat.
Gadis yang disapa Chika tersebut merapatkan matanya karena usikan suara wanita dibalik pintu putih gading kamarnya, tangannya memijat kepalanya sendiri yang masih begitu pusing karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol tadi malam bersama teman laki-lakinya di kelab, yang sudah menjadi rumah keduanya disaat malam. Begitu saja hidupnya beberapa tahun ini. Lost Control. sementara rumah orang tuanya sendiri yang seharusnya menjadi tempat pulang yang paling nyaman, malah lebih tepat dikatakan kuburan. Sepi dan sunyi.. se-sepi ruang hatinya yang butuh perhatian dari kedua orang tuanya yang sulit ia kantongi. Makanya ia lebih suka menghabiskan waktu di kelab malam. Sebagai bentuk pelariannya dari kekosongan ruang hatinya yang sepi dan sunyi.
“Ya Allah Non Chika Bangun, Nanti kesiangan loh Non ke kampusnya!”Chika menyeringai sebal. Merasa Terganggu.
“Iya..iya, aku enggak budek kok Bik, So. enggak usah pakai toa kali bik banguninnya” Jawabnya kesal tanpa niat menaruh Rasa Sopan kepada wanita paruh baya yang diperkerjakan orang tuanya yang notabene lebih tua darinya.
“Oh, bibik kirain belum!. Maaf Non. Oya Non Chika mau sarapan apa? biar bibik masakin.”Decakan dan helaan nafas meluncur dari celah bibir Chika
“Wihhh apa aja, asal bisa dimakan. Berisik Banget sih bik!” Chika berdecak
“Iya non. sekali lagi maaf, bibik permisi dulu.”
“Emmmmm”Sahutnya datar . Ia mengerjabkan mata, Sekitarnya mulai terang dan melirik atas jam yang menempel di-dinding. Pantas saja si bibik suaranya seperti pakai toa saja pagi ini untuk membangunkan-nya, ia menelisik kamarnya yang sedikit berantakan oleh ulahnya sendiri ketika pulang subuh tadi, yang melempar tas dan hell nya asal-asalan. Sedetik kemudian ia meringis merasakan denyutan di kepalanya yang semakin dalam.
“Akh!, pening banget kepala gue. Ini pasti karena alkohol sialan itu” Rutuknya pada diri sendiri. Belum sempat nafas panjang terhela dari hidungnya, benda putih persegi panjang yang tergeletak disisi bantalnya menarik perhatian pupilnya. Tangan yang tadinya menekan pelipisnya kini telah menggenggam benda pipih persegi panjang tersebut
'Marcell Calling'. Bibirnya mengerucut
“Ada apa ?” Sapanya begitu menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
“Pagi my honey, sweaty yang paling __!”
“Yah, gak usah norak deh!, ada apa nelfon gue pagi-pagi ?”Potongnya cepat memutar bola mata.berdecak keki
“Emmmmm galak amet sih cantik? hehe”Marcell nyengir kuda
“Enggak ada apa-apa sih. Cuma kangen aja. and ingin nanya udah bangun belum?” Chika berdecak
“Menurut elo, kalo gue udah bisa jawab telpon dari elo. Gue udah bangun belum ?”
“Hehe. Sorry!, kenapa sih cinta pagi ini sensitive banget?, lagi dapet ya ?”
Chika menahan makian dalam hati“terserah lo deh. apa aja boleh. Udah dulu ya gue mau mandi dulu, mau ngampus” Jawabnya malas menanggapi lelaki yang telah ia kencani sudah satu bulan.
“Okey aku tunggu di kampus ya.! muahhhhhhhh nya mana ?”
Chika Menarik Nafas memutar bola mata kembali. Berusaha menahan kekesalannya yang mulai Tumpah Ruah“Muachhhhhhhh! puas lo?”tungkas Chika sedangkan Marcel hanya menanggapi dengan tawa receh. Nasib Punya Pacar Jutek.
“Hmmm huhhh”Chika menghela nafas kemudian duduk bersandarkan bantal, cahaya matahari yang menyelisik celah jendela membuat Chika kembali mengusap dahinya, kelopak matanya bekerjap-kerjab menutupi kornea mata hitamnya, kemudian ia melirik jam dinding petak warna gold untuk kedua kali. Arah jarumnya sudah menunjukkan pukul 8:20
“Kuliah lagi,kuliah lagi hmmm”Desahnya malas. Ia bangkit tertatih mencoba berdiri dari peraduannya dengan langkah diseret. Kepalanya berputar, pusing. Namun ia paksakan tetap mencapai kamar mandi meskipun beberapa kali tubuhnya terhuyung nyaris mencumbui lantai membuatnya bergerutu sendiri.
__ADS_1
***
Yogi Muammar Akbar yang baru Tiba di tanah Air, Pulang dari Kairo Mendorong Koper sepanjang Terminal Kedatangan Bandara Soekarno Hatta. Ia mengendar pandangannya menyapu ke seluruh sudut bandara karena begitu banyak manusia-manusia yang memadati bandara, baik yang pulang atau kedatangan dan juga yang menjemput.
Ia memperbaiki letak kacamatanya minusnya untuk bisa melihat lebih jelas keluarga kecilnya yang menjemputnya hari ini.
“Itu dia. Ayah, bunda, dan Sica!” gumamnya begitu matanya terkunci atas beberapa manusia yang melambaikan tangan kearahnya. Rona bahagia yang penuh rasa haru terpancar dari wajah mereka, seorang Pria bertubuh bongsor, wanita bergamis biru lengkap dengan hijabnya. Dan Adik tercintanya yang sampai saat ini belum memenuhi sepenuhnya perintah Allah untuk berhijab. Garis bibirnya melengkung keatas melihat manusia-manusia yang setahun ini hanya terpasung didalam rindunya karena pendidikan S2 di kairo memisahkannya dari mereka.
“Ayah, Bunda, Sica” Sapanya tak bisa membendung rasa rindu begitu keluarga kecilnya sudah berada dalam jarak dekatnya. Sejurus kemudian kerinduannya dipuaskan dalam dekapan kedua manusia yang telah membiarkannya melihat dunia 23 tahun lebih ini.
“Apakabar kamu Nak ?” Tanya Rohman begitu pelukan rindu itu tercerai menatap detail keseluruhan wajah Yogi. Sulungnya
“Alhamdulillah baik yah !..Ammar kangen banget sama ayah bunda”jawabnya tersenyum haru
“Oh jadi Cuma sama Ayah Bunda aja ni ceritanya yang kangen?, sama adik nya yang kece badai gak kangen ni?. Kasian ya Dirikuh, yang Rindunya bertepuk sebelah Tangan.” Sebuah suara yang mengandung kelakar menarik perhatiannya. Bibirnya tambah melengkung menatap perempuan cantik yang mengenakan blouse denim lengan panjang, dipadu jeans warna senada dengan rambut tergerai.
“Oh ternyata ada si Manja disini!, sorry!. Tadi gak keliatan, habis hari ini jelek banget sih” Gadis bernama lengkap Jessica Milla Akbar tersebut mengerucutkan bibirnya, membuat Yogi yang sedang tersenyum jahil gemes mengacak pelan rambut panjang mengkilau Adiknya seraya mendekap penuh rindu Bungsu Keluarga Akbar tersebut.
“Joked Honey. Adik kakak yang satu ni kan cewek paling kece tanpa tandingannya”Wajah Mila langsung dihiasi senyuman cerah namun sedetik kemudian kembali luntur.
“Maksudnya, kece didalam keluarga Akbar hehe”
“Ih kak Yogi nyebelin banget sih” Dengus Mila sambil memukul ringan lengan berotot Yogi.
“Iya dong!. habisnya belum berhijab sih, coba udah berhijab cantiknya baru full”Komentar nya masih dalam balutan senyuman jahil.
“Nanti kalo udah panggilan hati pasti berhijab. Bukankah gak baik memaksakan sesuatu yang tidak berdasarkan dari hatinya?, jatuhnya gak ikhlas.” Jawab Mila
“Iya. Pak Ustadz!”Deretan gigi putih Yogi eksis didepan ketiga manusia dihadapannya mendengar sepenggal kalimat Adiknya, tangannya kembali mengacak puncak kepala Mila.
“Dasar!”
Helaan nafas meluncur bebas dari bibir Mila, Matanya bergerak bebas pura-pura melirik silih berganti antara kakaknya dan menyapu seluruh area bandara.
“Ohya kak, kok dari tadi Sica gak lihat calon Kakak Ipar Sica yang hidungnya mancung kayak beo?, or tepatnya Hafizah Kairo? ” cClutuk Mila mengulum senyuman jahil. Yogi yang paham kode dari Adiknya menanggapi dengan gelakan receh
“Untuk apa gadis Kairo! jika gadis Jakarta masih banyak yang jomblo. And sayang juga kalo kakak milih yang disana nanti di Jakarta ada gadis yang gak nikah lagi karena jodohnya tinggal di Kairo hehe”
“Alah ngeles aja Kak Yogi kayak bajai, pakek bawa-bawa Gadis Jakarta lagi, bilang aja kalo gak ada seorang pun cewek disana yang mau sama Kakak, uu” Yogi menanggapi ledekan Mila dengan senyuman santai
“Enak aja. Kamu gak tau ya kalo Kakakmu yang gantengnya limited edition ini jadi cover boy di Al-Azhar” PD Yogi membusungkan dada.
“Cover boy ? percaya_ percaya...tapi untuk tukang jualan di kantin, dan pesuruh gadis-gadis Al-Azhar kan kak?” Cela Mila yang langsung di sambut tawa ringan oleh semuanya.
“Udah-udah nanti lanjutin lagi becandaan-nya dirumah!, lagipula Mila harus langsung kekampus”Sela Rohman melerai membuat tawa Yogi dan mila terhenti.
“Baiklah Bapak H.Rohman Akbar Terhormat.”Balasnya dengan canda yang langsung disambut rangkulan gemas Rohman.
“Ya ampun anak ini udah jadi Master Bahasa Arab jebolan Al-Azhar, tapi kelakuan masih aja belum berubah” Cibir Rohman membuat Yogi terbahak
“Hehe, Bapak H.Rohman tercinta meskipun kita sekolah dimana saja, kita tetap harus jadi diri sendiri, seperti anak Bapak yang paling ganteng limited edition ini. Yogi Muammar Akbar Is Yogi Muammar Akbar” yogi cengar-cengir
__ADS_1
“dasar anak SD” rohman terbahak kecil seraya mengeratkan rangkulannya di bahu yogi
***
Awan gelisah berganti rupa menjadikan jubah hitam yang membaluti dunia.
Jalanan kota jakarta nampak ramai meski di malam hari. Seorang pria berperawakan tinggi Nampak tersenyum lebar dengan mata silih berganti membentang jalanan kota jakarta, ditemani Chika yang sedang beradu pandang dengan bayangannya sendiri, bola mata hitamnya nampak menari-nari menikmati wajahnya dibalik pantulan cermin wadah bedak. Senyuman tak pernah lepas menghiasi wajahnya.
“Udah cantik. Jangan di liatin terus nanti cermin nya retak karena minder sama lo!” Celutukan garing sosok laki-laki tampan mengganggu acara bercermin Chika. Garis bibirnya tambah melengkung beradu dalam satu garis pandang dengan cowok berbeda dengan malam sebelumya yang mengajaknya berkencan.
“Dari dulu kali, secara Jessica gitu loh!”jawab Chika mantap lengkap dengan senyuman percaya diri “makanya banyak cowok yang ngantri, pengen kencan samal gue, termasuk cowok yang udah punya cewek. Cewek nya cantik lagi” Laki-laki tersebut yang merasa tersindir halus mengukir senyuman kian lebar,. Ia menggerakkan tangannya untuk menggapai tangan lembut Chika, didekatkan ke bibirnya .
“Habis mau gimana, Kevin Julian gak tahan sama pesona Putrinya Pak Hakim!”Canda Kevin sambil terkekeh diiringi sebuah kecupan kembali berlabuh dipunggung tangan yang dihiasi pemanis jari.
“Dasar laki-laki sekarang, semuanya sama aja. Buaya!” Kevin hannya menanggapi cibiran itu dengan kekehan santai.
“Kev apa gak papa ni elo keluar sama gue malam ini..?. Nanti kalo ketahuan Mila gimana ?. Elo kan tahu, gimana hubungan gue dengan Mila selama ini?. lebih parah dari Tom and Jerry. Salah-salah gue bisa dijadikan Sate sama dia! Ngeri ih.”Ucap Chika bergidik ngeri hanya karena membayangkannya saja, namun dasar Chika, udah tahu pacar rivalnya tetap aja ditikung.
“Lo tenang aja ya, gue jamin gak bakalan ketahuan Mila.” Ujar Kevin meyakinkan, Chika hanya membalas dengan bibir mengerucut
“Kenapa sih elo lari ke gue?. Meskipun hubungan gue dengan Mila gak pernah akur, tapi menurut gue dia cewek yang perfect. Cantik udah pasti, smart,and yang paling penting gue tau dia itu cewek baik-baik__”
“karena itu” sela kevin cepat, kening cika berkerut samar “maksud elo ?” kevin menarik sudut-sudut bibirnya bersama nafas panjang matanya bergerak bebas terbuang ke jalanan
“Karena dia terlalu sempurna buat lelaki seperti gue, makanya gue selingkuh. Gue akui, gue cinta sama dia Chik, tapi gue tetap laki-laki normal yang masih ingin menikmati hidup yang indah ini dengan cara gue sendiri”Kevin cengar-cengir
“Dan itu semua gak bisa gue dapatkan sama dia, terhalang dengan keimanannya yang lumayan kuat”Decakan kecil serta cibiran terdengar dari bibir Chika .
“Dasar Buaya Pengincar Selangkangan”Cibir Chika ”Tapi sorry!. Untuk yang satu itu sama gue pun sama!. Gak bakal lo dapetin”
“No problem, Asal yang lain dapat”
“Buaya..Buaya”
“Kalo gue buaya Jantan! elo Betinanya”Ejek Kevin
”Secara elo punya koleksi cowok lebih dari selusin! “ Chika menanggapi ledekan Kevin dengan tawa membahana.
“Iya kan?” tawa Chika berangsur luntur bergantian dengan senyuman
“Kan kalian sendiri yang datang ke gue tanpa gue undang, masak iya tamu di usir!, gak sopan kan jadinya”Canda Chika.
“Siapa bilang lo enggak Ngundang?. Malah menurut gue, lo duluan yang ngirim proposal!”
Kening Chika berkerut samar “Maksud ngana ?” Kevin melirik keseluruhan Chika dengan tatapan nakal
“Tuh pakaian seksi lo! “ Kevin menggantungkan kalimatnya disaat pupil matanya berhenti di bibir seksi Chika yang tersapu lipstik warna merah menyala yang separoh terbuka menantang hasratnya
“Dan juga bibir lo!” Chika langsung berdecak keki mendengar tudingan tanpa filter Kevin.
To be continue
__ADS_1