
Satu hari yang penuh dengan cerita kembali terbungkus, tergantikan dengan lembaran hari yang baru.
Semburat keemasan di kaki langit kembali digantikan warna yang berbeda, warna putih didominasi biru yang merajai langit, bahkan seluruh sinarnya membasuh wajah Chika yang sedang berjalan dibawah lindungannya.
Gadis itu sedang menapaki langkah setapak demi setapak menuju fakultas tempat ia menimba ilmu, ilmu yang sama sekali bukan ilmu yang ia harapkan dari dasar hati.
Sisa-sisa perdebatan semalam dengan ibundanya masih begitu kentara diraut wajah keturunan cantiknya. Matanya sembab, bahkan ada lingkaran hitam di kantung matanya, matanya sama sekali tidak mau bersahabat dengannya tadi malam, ia tidak bisa tidur. Bahkan ia dan Wulan masih saling perang dingin. Meskipun demikian, saat ini ia tetap mengenakan style pakaian seperti tempo hari dengan warna dongker bermotif garis-garis kecil. Pakaian yang sudah tersedia diatas matrasnya disaat ia terbangun pagi tadi. Sebenarnya. Jauh didalam lubuk hatinya, ia juga merasa menyesal telah mengeluarkan kalimat seperti tadi malam! Ia merasa menjadi anak yang sangat kurang ajar, karena berani menceramahi wanita yang telah melahirkannya, tetapi … entahlah.
“Huh …,”Helaan nafas panjangnya kembali menyatu dengan udara. Ada beberapa titik peluh terlihat di wajahnya, mengingat hari ini ia memilih diantar sampai pintu gerbang Universitas oleh Supir keluarganya, karena pagi ini ia ingin menikmati udara pagi yang masih begitu asri. Berjalan 1.5 km melewati fakultas demi fakultas, tanpa terasa semakin peluhnya terlihat, ayunan langkahnya mulai mau memasuki parkiran fakultasnya sendiri.
“Jessica!” merasa namanya terpanggil, bola mata Chika bergerak bebas mencari sumber suara yang menarik perhatiannya. Sinar mentari pagi seolah memenuhi rongga dadanya bahkan wajahnya tanpa ia sadari kembali merekah, mendapati lelaki tempo hari di Mushala pom bensin dalam jarak pandang dekatnya. Rasanya ia sulit mempercayai jika ia kembali di pertemukan dengan Si Pemilik wajah teduh itu, wajah yang sudah berusaha ia lupakan setelah bertemu kemarin.
“Assalamualaikum Jessica.” Suara merdu milik Yogi menyapa. Wajah tampan sumringahnya yang ditimpa cahaya pagi membuat Chika terpesona.
“wa--alaikum salam Kak Yogi,”sahut Chika kembali gelagapan. ‘Norak sekali dirinya’ gerutunya dalam hati. Ada kernyitan di dahinya, merasa ganjil atas keberadaan Yogi di Parkiran fakultasnya.
“Nggak nyangka ya, kita bertemu lagi disini!” lelaki itu masih tersenyum,sumringah sekali wajahnya, sembari menyisiri Chika dari atas sampai bawah, hanya untuk menghilangkan kerutan didahinya kenapa pagi ini menemukan Chika ditempat yang sama dengan adiknya kuliah.
Chika mengangguk, masih gelagapan“I--ya.”
“O, ya Jess. Kamu kuliah disini ya? Fakultas hukum juga?” senyuman di wajah Yogi masih belum luntur, mata beriris coklatnya memperhatikan gedung fakultas dihadapannya.
“I-ya. Ke-na-pa?” Chika menelan ludah__ merasa takjub bisa mengeluarkan suara.
“Kakak mahasiswa baru ya di fakultas kami?” Spontan Yogi tertawa mendengar pertanyaan Chika, membuat gadis itu semakin mengernyitkan dahinya.
“Ditanya malah ketawa. Perasaan enggak ada yang lucu deh.” Chika menggaruk-garuk pelipisnya menatap dengan pandangan yang tidak ia mengerti. Di bagian mana letak lucunya ya?
“Pertanyaan kamu tu yang lucu! Emang wajah saya ini masih cocok jadi mahasiswa? Dengan pakaian yang seperti ini pula?” Chika kembali menggaruk-garus pelipisnya yang sama sekali tak gatal, bola matanya mulai bergerak menyisiri seluruh tubuh Yogi. Bibir tipisnya mengulas senyum ketika sebuah pemahaman melintasi otaknya menyadari style Yogi adalah style kantoran or dosen maybe.
“Kakak Dosen ya?”
Yogi kembali tersenyum, tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari keseluruhan keelokan paras Chika“Menurut kamu?”
“Dosen!”
“Ya, udah. Dosen berarti.”
‘Ih, jayus deh. Orang nanyanya serius!”
“Nggak jayuss, tetapi seriusan. Saya memang dosen!” Bola mata Chika melebar. Menatap Yogi tidak percaya.
“Seriusan! Kakak Dosen?”ulang Chika
“Situ maunya Seriusan, apa becanda sih sebenarnya? Kan udah dijawab tadi atuh, Neng. Seriusan.” Yogi tertawa usil. Menggeleng-geleng. Wajah Chika bersemu, sulit menutupi salah tingkahnya.
“Habis saya speechless aja, tapi kok saya gak pernah liat Kakak sebelumnya?”
“Saya enggak ngajar disini, tapi dikampus lain. Sekedar informasi, saya juga baru beberapa hari di Jakarta.”bisik Yogi terkekeh jahil.
“O, begitu ternyata?”Chika mangut-mangut namun kerutan di dahinya masih belum enyah,“Terus disini ngapain?”
“Mau tau banget, apa tau aja?” goda Yogi jahil membuat Chika mengerucutkan bibirnya, sepertinya moodnya pagi ini emang belum kembali membaik.
“Yasudah, kalo Enggak mau kasih tahu. Udah ya saya permisi ke kelas!”Wajah Chika seperti kain yang belum kena seterikaan, tidak enak dipandang mata.
“Ih, baru tau saya ternyata jessica cantik-cantik ngambekan ya orangnya!” Yogi menyindir, terkekeh ringan. Kekesalan yang gadis itu punya sangat mirip dengan adik perempuannya, Mila.
“Serah Deh!”Chika semakin sebal” Ngeselin!”lanjutnya berlalu dengan langkah kesal, dalam hati ia sudah mencerca lelaki itu. Semua Cowok sama aja, mau alim mau *******, mau wangi mau busuk, bikin Kesal! Moodnya yang memang dasarnya sudah hancur bertambah parah.
“Saya antar adik saya! Sica,”jawab Yogi menyusul langkah Chika, gadis itu berhenti kembali menoleh atas Yogi. Menyembunyikan senyum.
“Oh, kuliah disini juga?” Yogi menanggapi pertanyaan Chika dengan anggukan terlebih dahulu,”Iya.”
“O, begitu ternyata?” Yogi kembali mengangguk.
__ADS_1
“Yasudah, sekali lagi saya pamit ke kelas dulu ya Kak, permisi!”Chika sudah mengatur langkah lagi
“Se-ben-tar.”Yogi menelan ludah
“Ya, ada apa lagi Kak?”Chika menoleh. Berhenti. Yogi menyeringai kecut. Gelabakan, salah tingkah, wajah kebingungannya mengantar kebingungan yang lebih parah dari Chika.
“What wrong with you ?”
“Ehem …,” Yogi kembali mendehem lantas menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
“Kenapa Kak? Ada yang mau ditanyakan?” Yogi menggeleng, eh maksudnya--mengangguk, menyeringai kecut, bergerutu dalam hati ‘kenapa dia menjadi norak seperti ini sih? Bikin malu saja’ terlebih disaat menemukan wajah Chika yang sedang mengulum tawa, menertawakan kenorakannya. Aduh.
“Boleh-minta nomor- HP-mu, Nggak?” Yogi ragu-ragu bertanya--dan juga merasa takjub bisa mengeluarkan suara. Tawa Chika otomatis merekah--mengejek.
“Ya-ampun, sekadar minta nomor HP saja sampai segitunya.”
“Ih, jangan diketawain dong, malu ni.” Yogi protes berusaha menutupi salah tingkahnya “Boleh Nggak?” tawa Chika surut, mulai berfikir untuk menjahili lelaki dihadapannya.
“Ya-ampun dia malah mikir, nomornya Nggak bakalan saya guna-guna kok Neng. tenang aja.”Bibir Yogi menampilkan deretan gigi dan gelak samar juga ikut terdengar.
“Saya, lagi mikir untuk tidak memberikannya!” jawaban Chika serta merta melunturkan senyum di wajah Yogi, murung. Jika boleh jujur setelah bertemu kemarin tanpa sengaja, di setiap shalatnya dia sedikit lebai. Memanjat doa agar dipertemukan lagi dengan Chika, karena jujur saja gadis dihadapannya ini berangkat dari pertemuan pertamanya kemarin, sudah berhasil menggelitik sesuatu didalam hatinya, mengganggu tidur lelapnya.
“O, yaudah. Maaf tadi udah lancang banget minta nomor HP, maaf juga atas waktunya yang saya usik!”ucap Yogi. Wajahnya benar-benar serius, “Saya permisi ke kampus dulu, mau ngajar”Yogi mendesah, beranjak kearah mobilnya terparkir. Menghela nafas putus asa. Sementara Chika yang baru pertama mendapati lelaki model seperti Yogi, gelaknya terdengar samar. Ada rasa senang yang sulit ia artikan mendapati Yogi terganggu oleh ulah jahilnya.
“0812xxxxxxxx” Yogi berbalik dengan wajah yang kembali cerah.
“Jayus kamu ya!” umpat Yogi penuh senyum hingga menghantarkan gerak bibir Chika yang terangkat keatas.
“Habisnya Kakak bilang saya orangnya ngambekan, Kakak juga yang udah lebih tua dari saya and dosen pula malah lebih parah,”cibir Chika seiring cengirannya yang mulai memudar. Yogi gemas, rasanya ingin sekali mencubit pipi tirus or mengecup bibir ranum. Eh--, mikir apa dia?, segera saja Yogi mengucap Istighfar didalam hati atas keinginan liar tersebut. ‘Sabar Gi, sampai lo seret ke KUA”
“Jess, ulang dong nomornya!” pinta Yogi. Si Hitam persegi panjangnya sudah siap ditangannya
“Kalo enggak jelas, untuk apa dulu. Saya enggak mau ngasih!”
“Nanti juga bakal jelas kok.”
“Jessica!”geram Yogi. Dicium beneran baru tahu rasa. Eh__Lagi ‘parah banget ni otak’ kembali ia ber-istighfar.
“Apa?”
“Nomornya! Saya udah telat ni ke Kampus, serius!”
“Untuk apa dulu?”
“Kalo enggak perlu, saya nggak mungkin minta kan?”Yogi memutar bola matanya dibalik glass. Untuk pertama kalinya ada perempuan yang nguji kesabarannya, tapi ia suka. Gemesin gimana gitu. Aduh! Mesti cepat dihalali kalo begini cara-nya, goda iman banget sih cewek’ Yogi membatin.
“Ya, perlunya apa dulu? Harus ada alasan yang jelas dong?”paksa Chika sambil menahan tawa jahil. Dimatanya Yogi benar-benar Gemesin kalo lagi pasang muka ngambek begitu. Berasa kembali ke ABG lagi mereka hari ini.
“Kenapa sih harus jelas-jelas banget? Emang udah ada yang marah ya?”selidik Yogi yang hanya dapat balasan senyuman dan anggukan dari Chika, tentu saja kembali meredupkan wajah Yogi. Ia merasa sudah kalah lebih dulu sebelum bertanding.
“Ya, udah, kalo ada yang marah gak jadi aja deh. Nggak lucu kalo saya nanti dipalak dijalan gara-gara ganggu kekasih or istri orang maybe.”
“’Kekasih or istri orang’ maksudnya?” tanya Chika pura-pura gagal paham.
“Ya, kan. Tadi situ mengangguk! Berarti situ sudah ada yang punya dong?”
“Jangan sok tahu! Belum juga dijawab, sudah punya kesimpulan sendiri,”cibir Chika. Yogi mengawangkan Alis, berusaha mengerti maksud Chika, tapi gagal.
“Ih, kok saya dituduh sok tahu? Bagian mana letak sok tahunya?”
“Soalnya saya nggak ngerasa punya kekasih … apalagi nikah!” Yogi mengangkat pandangan, berusaha mengerti maksud penjelasan Chika, ada senyuman samar membayangi sudut-sudut bibirnya.
“Jadi … Kamu single?”Chika mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi kok ngangguk waktu saya tanya?”
__ADS_1
“Ya, karena memang saya udah ada yang punya … orang tua saya yang punya! Iya dong! betul dong?”ujar Chika, bibirnya tertawa lepas. Usil.
“Ih, kamu. Benar-benar jayus ya. Ngeselin tahu enggak,” gemas Yogi tiba-tiba menyengir senang dan lega, mukanya yang tadi muram kembali cerah. “Bikin orang spot jantung aja.” Tawa Chika memudar berganti dengan kernyitan yang dalam di keningnya.
“Eh-- kok spot jantung sih? Kenapa?”
“Ada deh, keppo banget sih kayak anak Netizen!”
Chika memutar bola mata, mendengus, namun bibirnya masih mengulum senyuman”Dasar! Baru tahu ternyata dosen alay juga. Tahu Netizen segala! ketahuan sering intip Mak Lambe ni?”Yogi hanya menanggapi dengan kekehan seadanya
“Sini sebutin nomornya, saya buru-buru ni?”
“Untuk apa dulu?”Mata Yogi melotot
“Ya ampun, lagi. Tenang aja, enggak bakal saya Santet kok! Cepatan sebutin!”Yogi sudah misuh-misuh. Bibir Chika menyungging sedikit, masih suka mempermainkan emosi Yogi.
“Itu minta, apa malak?”
Tersindir, Yogi menarik nafas dalam lalu membuangnya seakan baru tersadar apa yang telah ia lakukan, Astaghfirullah, Yogi mengusap wajahnya. Kenapa dia menjadi seperti ini? Otoriter dengan seseorang yang baru ia kenal. Kenapa hanya karena seorang gadis seperti Jessica dia menjadi sosok berbeda yang tak mampu ia kenali oleh diri sendiri. Menjadi Childish . Bukannya tadi ia malu-malu? Gelagapan? Namun dalam hitungan detik ia langsung berubah menjadi orang yang berbeda. Hemm … entahlah.
“Maaf, kalo saya terlihat memaksa,”ucapnya serius.
“Saya hanya ingin perkenalan kita enggak stag sampai disini saja. Gimana! Sekarang udah jelas kan? Udah boleh kan saya simpan kontaknya di Ponsel saya?”
“Gitu dong”Chika mengedip genit. Terkekeh, eh__kenapa dia tiba mendadak Akrab gini sih? Bukannya tadi ia malah kagok, norak gitu? Chika juga ikutan sama bingungnya dengan Yogi.
“Ngeselin!”pekik Yogi gemas.
“Biarin, masih mau nomor nggak ni?”
“Oke … oke” Yogi ngalah. Tertawa--menggeleng-geleng.
Jemari keduanya langsung menari-nari dilayar touch screen masing-masing saling memasukkan nomor. Setelah berpamitan dengan benar keduanya sama-sama menghilang untuk melanjutkan aktivitas masih-masing.
Dan tanpa mereka sadari keakrapan mereka menjadi ladang perhatian mahasiswa yang berlalu lalang dan mulai rusuh di kantin.
“Eh tau gak sih ada hot news? Benar-benar hot kali ini!”
“Apaan? Apaan ?”semuanya pada menyela seperti ikan berebutan umpan
“Biasa, apalagi yang paling hot kalo bukan Si Pelakor”
“Emangnya, tu Pelakor buat masalah apalagi kali ini? Berantem sama Mila? Minum air got? ditangkap Polisi Syariat Islam? Atau jangan-jangan udah bunting ya?”krasak-krusuk, seperti radio rusak
“Aih, mikirnya kejauhan Lo.”
‘Terus… terus apaan dong?”
“Barusan gue lihat dia ketawa renyah gitu di parkiran. Sok akrab gitu sama cowok. Mana tu cowok cakepnya pakai banget lagi, dan nampaknya sih rada-rada alim, entah nampaknya aja, entah alim beneran, pokoknya … Keliatan alim lah.”
“Serius lo?”seseorang terdengar memekik
“Ah, ngibul lo? Mana Mungkin. Secara yang kita ngomongin Jessica dengan pakaian kurang bahannya, track record dia dengan Laki enggak ada yang beres. So, nonsense banget kalo dia sampai ketiban cowok alim!”
“Nonsense gimana? Lo lupa kemarin dia pakai tunik gitu, barusan juga! Bisa jadi kan karena dia punya misi untuk itu?”
“O, yaya benar juga. Pantesan dua hari ini tu manusia berpakaian tertutup. Ternyata ya … lagi menjalankan misi baru mendekati lelaki alim ckckk sulit dipercaya!”terdengar perempuan lain mencibir.
“Biasalah, Iblis bertopeng Bidadari.“
“Alah ... paling bentaran doang. Lihat aja nanti, kalo kedoknya Si Pelakor kebongkar, apa enggak tamat tu riwayatnya!”
“Kira-kira tu Pelakor pakai Pelet apaan sih? Heran gue kok banyak banget cowok pada tunduk sama ngejar dia, cakepan juga gue.”
“Iya cakepan lo, kalo diliat dari Sedotan diatas monas”semburan tawa menggelegar membuat kantin tambah rusuh, tawa yang membuat kepala Bella dan Gita yang luput dari perhatian mahasiswa kantin berasap pengen jedotin para koloni penggosip itu ke lantai, keduanya menyudahi sarapan bahkan meja sampai berderit, sengaja di dorong yang membuat semua tawa mengering.
__ADS_1
Suasana kantin terlebih ditempat koloni barusan langsung mencekam begitu keduanya lewat dengan tatapan membunuh yang langsung semuanya kicep. Takut semuanya diadu sama Chika. Bisa berabe urusannya kalo ketahuan Nyai. Chika terkenal Sadis, gadis itu memang tidak suka ber-urusan jika itu memang salahnya seperti dengan Mila, tapi tidak jika memang dia tidak merasa melakukan kesalahan. Bisa digeret para manusia yang suka mengganggunya keliling Kampus.