MAHKOTA CINTA

MAHKOTA CINTA
BAB 3. Lelaki Bersahaja


__ADS_3

BAB 3. Laki-Laki Bersahaja


Mobil yang di kemudi Chika milik teman laki-lakinya, Marcel. Menepi dekat Mushala yang berada dalam lingkup SPBU. Ia langsung keluar sedikit berjalan cepat menuju toilet untuk mengosongkan kantong kemih.


“Huaaaaaaaa” Chika bernafas lega setelah kantong kemihnya kosong, namun sedetik kemudian mengerang kesal memandangi wajahnya yang dipantul cermin besar dihadapannya. Ingatannya tentang kejadian didalam kelas tadi membuat giginya menggerutuk tidak jelas, karena Mila telah mencoreng arang diwajahnya atau bahasa lain mempermalukannya, sekaligus tidak mengikuti kelas hari ini. Setelah menyapu wajahnya dengan bedak, ia langsung memasukkan benda bulat warna biru laut tersebut kedalam handbag nya, lantas melenggang keluar dari toilet.


“Aichhh” Decakan kesal dan hembusan nafas meluncur dari bibir Chika mendapati celananya kotor kecipratan genangan air kotor


“Sial mulu gue hari ini!” geramnya. Matanya tertuju atas kran air disamping Mushalla, ia mengatur langkah kearah tersebut.


“Aih, sial. Airnya pakai acara gak keluar lagi!”umpatnya kesal seraya memutar kran


“Kenapa Mbak! airnya mati ya?” Chika terlonjak kaget. Ia mengelus dada untuk menetralisir kan rasa terkejut gara-gara suara seseorang


“Astag__” Lidah Chika mendadak terpasung begitu matanya bertumpu atas seorang laki-laki yang berdiri di pintu Mushala dengan kemeja silver senada dengan celananya. Ada sesuatu didalam diri lelaki dihadapannya yang mampu membuat hati Chika yang memanas kembali adem.


“Hati gue kok bisa langsung adem ya lihat ni cowok?. Titisan Bidadara kali ya,” decaknya masih dengan kening berkerut dan juga kagum. Pupilnya memindai keseluruhan laki-laki dihadapannya yang terlihat bersahaja, dan Ganteng. Untuk pertama kalinya Chika terperosok dengan keindahan pahatan Tuhan dihadapannya yang sedang menatapnya dengan wajah berbalutkan senyuman.


Dahi Yogi berkerut samar seraya melambai“Hello Mbak! Kok pagi-pagi malah ngelamun?”interupsi lelaki tersebut dengan penekanan di akhir kalimat


“Hah?”Sadar jika ketahuan ngelamun laki-laki dihadapannya, Chika mengerjab.


“Aku_“ Chika mengumpat karena menemukan suaranya tercekat diwaktu yang tidak tepat. Norak banget sih Ka!, rutuknya didalam hati


“Kenapa Mbak? Apa ada yang salah dengan omongannya saya? Kalo ‘ya’ saya mintak maaf!”Yogi menyeringai bingung, menggaruk pelipisnya.


“Tentu saja, Anda salah!, karena Anda manggil saya Mbak!. Dari yang terlihat kayaknya umurnya saya lebih muda deh daripada Anda”Protes Chika sengit demi tidak terkubur dalam salah tingkahnya, sedikit sok jual mahal. Lelaki tersebut mengulas senyum membuat Chika semakin sulit bernafas, kornea beriris coklat dibalik glasses minus serba bening nampak begitu mempesona dengan senyuman yang menampilkan gigi putihnya yang berderet rapi.


“Kalo begitu saya minta maaf, gimana kalo saya panggil Dek! sa__”


“Dek ?” kening Chika berkerut samar “Papi, Mommy saya gak pernah melahirkan kakak laki-laki!” Garis bibir lelaki tersebut tambah melengkung mendengar kalimat Chika dengan ekspresi wajah yang menurutnya begitu menggemaskan.


“Baiklah, kalo gitu saya panggil apa dong ?” Lelaki tersebut mengejar arah pandang Chika


Chika mengulurkan tangannnya kearah Yogi“Jessica? Mata lelaki tersebut melebar sedetik kemudian senyuman lembut menghiasi bibirnya


“Nama kamu sama kayak adik saya ?” Chika melongo mendengar jawaban Yogi yang belum menyambut uluran tangannya.


“Masa sih ?”


“Iya namanya Jessica, saya panggil Sica.”


“Oh gitu” Chika mengulum senyum matanya tambah berbinar” Salam ya buat adiknya. Bay the way, kok tangan saya dianggurin sih? Perasaan enggak kotor”

__ADS_1


“Ya ampun maf banget ya, keburu kaget tadi dengar nama Jessica sama dengan adik saya!.”


“Ohya. Saya Yogi,” Lelaki tersebut menyambut uluran tangan Jessica. Untuk pertama kalinya sentuhan laki-laki mampu membuat hati Chika berdesir “Yogi Muammar Akbar lengkapnya.”


“Okay, salam kenal Kak Yogi” Yogi menanggapi dengan anggukan lengkap dengan senyuman lembutnya.


“Ohya Jessica, kamu mau ambil wudhu ya untuk sholat Dhuha?”


Kening Chika berkerut samar mendengar nama sholat yang masih asing di telinganya


“Sholat Dhuha ?” ulang Chika dengan mimik super polos, Yogi menarik sudut bibirnya ketepi


“Ya sholat Dhuha!. Kamu mau wudhu untuk sholat dhuha kan ?” Chika tersenyum kaku sejenak ia menatap keseluruhan Yogi, ia baru menyadari ada pancaran cahaya ketaatan diraut wajah lelaki di hadapannya


“Oh iya aku mau sholat Dhuha ?” Dustanya


“Masya Allah saya bener-bener salut sama kamu, jarang loh ada perempuan di zaman sekarang mampir ke Pom bensin, or dimana saja hanya untuk numpang Sholat Sunnah, bahkan untuk sekedar sholat Wajib saja jarang mereka kerjakan.” Takjub. Yogi tak melepaskan pandangannya dari Chika, Chika yang mendengarnya hanya tersenyum kaku karena yang dikatakan Yogi tidak meleset pun dari sosoknya benar-benar kebalikan seperti yang difikirkan lelaki tersebut.


“Oh yaudah lanjutin aja ambil wudhuknya!, tapi jangan kran yang itu...,enggak bisa. Mungkin rusak atau apa, yang bisa cuma satu yang ujung” Lanjut Yogi seraya menunjuk ke kran paling ujung


“Iya Kak, makasih udah dikasih tahu.”


“Sama-sama. And selamat menikmati sholat Dhuha di pagi yang indah, sekalian saya permisi dulu”Pamit Yogi tersenyum ramah.


“Tu cowok pasti Titisan Bidadari deh!. Wajah itu loh, kayak ada kulkas dua pintu, adem.” Gumam Chika terkekeh geli, mulai terpenjara dengan rasa kagumnya terhadap Yogi seraya menggigit sudut bibirnya masih tak jemu memfokuskan matanya mengantar kepergian Yogi yang menghilang kedalam mobil hitam metalik dengan senyuman terpesona. Hingga punggung mobil itu menghilang senyuman Chika belum juga luntur, tangannya yang bekas dijabat Yogi diendusnya.


“Ih, tangannya kalah lembut lagi dari gue, wangi lagi. Perfecto.”Gumam-nya. Untuk pertama kali ia merasa dirinya begitu Norak.


Sejurus kemudian ia menyisiri keseluruhan pakaiannya, senyumannya melebar“Gue harus Say thank you ni sama mommy, gara-gara recommended mommy gue bisa kenalan sama Bidadara.”


Helaan napas pelan terdengar dari bibir seksi Chika


“Tapi sholat Dhuha sholat apaan sih?. Sholat biasa aja gue gak ngerti gimana caranya apalagi sholat ini yg gue sama sekali gak tau sholat apaan tu!.”Chika menggaruk-garukkan kepalanya kebingungan


“Ah, nanti deh gue searching di Google” Gumamnya kemudian.


***


Audy hitam milik Yogi merayap diparkiran Fakultas hukum untuk menjemput adiknya. Menyandarkan punggungnya di jok mobil seiring kelopak matanya yang ikut terjatuh menutupi mata, sekedar melepaskan sedikit rasa lelahnya karena seharian mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua sudut bibirnya melengkung keatas ketika sebagian ingatannya memutar balik ke pertemuannya dengan Chika tadi pagi.


“Cantik, humoris, religius meskipun ada kurang, hijab. Dia tak berhijab namun pakaiannya cukup sopan daripada gadis-gadis lain yang suka mengumbar aurat” Gumam Dosen muda Bahasa Arab tersebut sambil mengeluarkan udara dari dalam mulutnya, raut wajah Jessica seakan terukir didalam katup matanya.


Brak.....

__ADS_1


'


"Ayo Kak. Jalan”


“Astagfirullah hal adzim”Yogi terkoneksi kaget. Bahkan dirinya sampai mengelus dada beberapa kali untuk menetralisir kan rasa terkejut gara-gara ulah adiknya yang membuka pintu mobil dengan kasar


“Astaghfirullah Sica!”Geram Yogi “kalo mau masuk mobil Assalmualaikum kek, ini malah banting-banting pin__”


“Aichhh.... Ngoceh mulu, bawel deh Kak. Ayo cepat jalan” Sela Mila cepat menumpahkan kekesalannya, kening Yogi berkerut samar raut wajahnya mulai melembut menatap setiap inci gestur wajah adiknya yang diselimuti kekesalan.


“Kenapa?, ada masalah di kampus?”


Nafas terhela dari bibir tipis Mila “Aku barusan berantem dengan cowok aku ?”


“Kevin ?” Sela Yogi cepat karena nama itu selalu menjadi buah bibir adik kesayangannya dibalik telpon sebulan belakangan ini, Mila mengangguk ringan dengan raut wajah muram


“Kenapa ?”


“Dia selingkuh dengan Lon*** ?”


“Ini SERIUSAN! mulut bungsunya Keluarga Akbar?” Yogi tidak suka mendengar adiknya mengumpat atau berkata kasar.


“Emang iya kak!. Dia tu Lon*** semua cowok yang dekat sama aku direbutin sama dia. Tadi pagi aku dapat kiriman video via WhatsApp dari teman aku. Kevin lagi berdansa erotis sambilan ciuman hot di Kelab sama Lont** sialan itu.”


“APA ?” mata Yogi terbelalak melebar melonjak kaget. Ada ekspresi sulit mempercayai jika adiknya memacari lelaki model seperti itu.


“Oh jadi Kevin-Kevin, laki-laki yang sering kamu ceritakan sama kakak selama ini suka ke kelab malam, dan berbau-bau alkohol gitu?” Mila mengangguk samar nyaris membuat nafas Yogi berhenti, telapak tangannya langsung terdekap di dada mengumbar halus disana.


“Astaghfirullah Sica.. !”


“Jauhi cowok itu. Kakak haramkan kamu dekat dengan cowok-cowok pendosa seperti itu.”Suara Yogi meninggi mendelik tajam kedalam bola mata muram adiknya


“Kak, aku ceritain sama kakak untuk menghilang sedikit beban di fikiran aku. Kenapa sekarang malah jadi ngelarang aku berhubungan sama Kevin ?. Aku memang lagi kesal sama dia, tapi aku gak mau jauhi dia. Aku bener-bener cinta sama dia !, Kevin adalah Dunia yang begitu menyenangkan buat aku.”


“Kakak ngelarang bukan buat kakak, tapi demi kebaikan kamu sayang. Sebelum semuanya terlalu jauh, sebelum semuanya terlambat. Laki-laki itu bisa memberi pengaruh gak baik untuk kamu.”Larangan Yogi mengantarkan warna kelabu ke sanubari Mila


“Enggak kak”Mila menggeleng terluka. “Aku bisa jaga diri kok, buktinya udah satu bulan aku jalan sama dia, aku masih baik-baik aja. Belum disentuh dikitpun sama dia. So please kak, jangan suruh aku buat jauhi Kevin” Yogi menghela lelah, diam sebentar. Berpikir dalam, mencari cara terbaik untuk menjelaskan terlebih disaat ia menangkap mendung di wajah adiknya.


“Dek. Sampai hari ini mungkin iya. Tapi siapa yang berani menjamin esok, dan esoknya lagi?. Apalagi kamu bilang kamu sangat mencintai dia. Bisa saja someday CINTA kamu yang sudah mengakar di hatimu, menjerumus kamu. Dan semuanya done. Lagipula kamu bilang dia selingkuh!. Untuk apa masih mempertahankan laki-laki yang memang tidak pantas untuk dipertahankan.!”


“Tapi Kak!”suara Mila bergetar menahan tangis


“Enggak. Sekali kakak bilang enggak, enggak oke.” Tegas Yogi sampai telapak tangannya terangkat didepan wajah muram adiknya namun dengan suara yang masih lembut. Namun Mila masih kekeh. Gadis itu menggeleng tegas membuat Yogi untuk kesekian kali menghelakan nafas menekan kemarahan didadanya agar tidak menguar keluar.

__ADS_1


“Kalo kamu enggak bisa kakak nasehatin. Kakak akan menyuruh Ayah yang nasehatin. Kamu tahu kan apa yang akan Ayah lakukan kalo kelakuan laki-laki yang kamu pacari sampai terdengar Beliau?.”Mila yang sudah lebih dari paham bagaimana watak ayahnya sama sekali tidak menyahut” Dek!. Jangan biarkan cinta yang terbalut nafsu merajai hati kamu, biarkan dia dengan perempuan itu. Karena memang sepantasnya Laki-laki pendosa dengan Perempuan pendosa.”Telak, air mata yang tertahan akhirnya lolos dari sudut mata Mila. Matanya bergerak bebas terbuang kedepan untuk menghindari mata Yogi. Yogi yang tau adiknya sedang menangis sama sekali tak diindahkan, dia langsung meninggalkan Area parkiran.


__ADS_2