MAHKOTA CINTA

MAHKOTA CINTA
BAB.9 Bimbang


__ADS_3

Matahari mulai menggeliat naik menyisakan terik pada permukaan dunia.


Figura presiden dan wakil presiden RI terpajang di dinding ruangan jurusan Pendidikan Syari’ah di UIN tempat Yogi mengabdikan Ilmunya. Kesunyian bergelantungan di setiap sudut ruangan meskipun ruangan tersebut dipenuhi beberapa karyawan dan juga dosen di meja masing-masih namun sibuk berjibaku dengan tugasnya sendiri di depan Laptop, dan juga ada yang sedang menyeruput teh paginya dengan bola mata terpusat kedalam isi buku di tangan masing-masing, termasuk Yogi yang pagi ini terlihat tampan dengan kemeja merah hati lengan panjangnya dimeja kerjanya, keseriusan tergambar jelas pada raut wajahnya. Memfokuskan bola mata bulatnya dibalik glasses pada objek yang tak pernah lepas sekitar 20 menit yang lalu. Laptopnya.


“Akhi, ente kok masih disini? Tidak ada jadwal mengajarkah pagi ini?” Sosok tampan lainnya menyentak keseriusan Yogi, Ia menoleh ke atas sosok itu yang baru saja menempati mejanya. Namanya Indra, salah satu dosen Juga.


“Jadwal ngajar ane, jam kedua Akh! so, sekarang ana santai-santai dulu sambil berbisnis lain”! Yogi nyengir kecil. Indra juga terkekeh menista


“Asik yang sibuk ngumpulin koin! kayaknya udah berhajat banget ya untuk melanjutkan sunnah Rasul?”


Kerutan di sekitar dahinya berbentuk setelah mendengar pertanyaan teman seprofesinya.


“Maksud ente?”


“Yah … mempersunting calon bidadari entelah!”Sontak tawa menguar dari bibir Yogi.


“Fikiran ente, terlalu jauh Akh! Nggaklah, masih terlalu dini untuk memikirkan kearah sana!”Yogi masih kesulitan menghentikan tawanya.


“Masih terlalu dini pegimana lagi sih Akhi?” Senyum mengejek Indra suguhkan untuk Yogi .“Syarat untuk menikah sudah terpenuhi semua. Tak baik menunda terlalu lama! Larak-lirik hanya untuk menemukan kecocokan! Nanti bukan kecocokan yang ditemukan malah memperpanjang daftar dosa. Sekedar saran Akh!”


“Larak-lirik sedikit kan gak papa Akh, untuk memilih yang terbaik menjadi pendamping hidup ane, daripada nanti salah pilih!”balas Yogi seiring tawanya yang mengering.


“Kalo salah pilih! Ya, tinggal pilih yang lainnya lagi”Indra mesem-mesem menaikkan Alis


“Memangnya ente fikir … perempuan itu pakaian or barang?! Kalo enggak cocok tinggal tukar, mereka punya hati kali Akhi!” Indra terkekeh lebar melihat Ekspresi di wajah Yogi, ia meraih botol Aqua di atas mejanya di teguknya beberapa kali.


“Ya Paham!” Indra meletakkan kembali botol Aqua yang isinya sudah tertandas separuh. Menyengir tipis.“Tapi dalam suatu Hadits Rasulullah menyatakan di akhir zaman ‘akan terlihat satu orang laki-laki diikuti oleh empat puluh orang perempuan, yang mereka mencari kepuasan dengannya Karena sedikit jumlah laki-laki dan banyak perempuan.’


Tapi kayaknya sekarang aja Alqur’an dan Hadist telah membuktikannya.”


Yogi terlihat mencibir mendengar ceramahan Indra“Gaya Ente, Akhi! Mentang-mentang Ente dikelingi oleh dua Bidadari!” Tawa indra kembali terlepas sekalipun dengan oktaf yang rendah agar tak terganggu lainnya.

__ADS_1


“Ane, hanya ingin menolong para bidadari lain yang tidak dapat merasakan kebahagian seperti bidadari ana yang pertama.”


“Halah, sok Iyes banget Ente!” cibir Yogi sambil menarik sebelah bibir. Jenis senyuman mengejek.“Bilang aja doyan, biar enggak bosan dengan suasana yang baru.”serangnya kembali membuat tawa Indra semakin melambung bahkan ada yang terusik sekalipun menghadiahi senyum.


“Kalo ane cukup satu! Soalnya ane takut hari kiamat kelak badan ane miring seperti Hadist HR. Abu Daud karena tidak mampu berlaku adil pada istri-istri ana! Apalagi jika keduanya tidak akur bahkah ada yang saling bunuh membunuh karena kecemburuan yang berlebih … wah ane bisa-bisa jadi penghuni jahannam yang pertama”Yogi ikut nyengir


“Ya, memang harus dituntut adil. Dan adil disini bukan adil yang kecendrungan perasaan atau kata lain CINTA … karena jika masalah cinta termasuk perkara yang diluar kemampun manusia. Bukankah begitu disebutkan dalam al Mausu’ah?”jelas Indra tersenyum mesem-mesem sekalipun isi kalimatnya serius.


“Namun syarat adil disini adalah tentang Nafkah dan pembagian Malam. Dan seperti ane bilang yang barusan, ane hanya ingin berbagi kebahagian, menolong mereka dari rasa sepi hehe dan juga kejahilan kejamnya dunia.”


“Ya, ya … paham ane,”sahut Yogi,” tapi fikiran ente tetap aja terlalu jauh! Ngapain bahas poligami jika untuk monogami aja ane belum ada calon.” Yogi kembali tertawa yang langsung menulari Indra kembali.


Namun tawa Yogi berangsur memudar begitu pandangannya menangkap seorang perempuan yang terpasung dalam pakaian yang sudah sesuai syari’at Islam; yaitu dengan jilbab polos warna biru muda yang lebar yang menjuntai sampai perut senada dengan gamis. Ia benar-benar tak mampu menerjemahkan perasaannya setiap melihat gadis keturunan cantik tersebut. Tubuhnya terasa kaku dengan jantung ikutan bertalu. Selalu begitu dari awal keduanya dipertemukan terhitung dirinya mengajar di kampus. Sosok yang mampu menggetarkan hatinya selain Jessica.


Annisa Oktasapariana adalah sosok gadis yang sempurna menurut versi Yogi, bukan wajahnya saja yang mampu memikat hati Yogi namun keimanan, kepintaran dan sopan santunnya juga. Dan yang membuat kekagumannya semakin meningkat adalah di usia yang masih muda baru saja mendapat ijazah S1-nya di universitas dirinya mengabdi dengan waktu belajar tiga tahun ½ dan sekarang sudah dipanggil untuk mengabdi di almamaternya meskipun masih asistand dosen besar.


“Jangan dilamunin aja Akh, pepet aja terus sampai dapat!”


Berbicara tentang kagum jelas, namun terlalu dini jika perasaan kagum itu sudah mengarahkan ke cinta baik untuk Annisa maupun Chika, tapi ada perbedaan yang begitu kentara dengan dirinya sendiri—maksudnya dia mati gaya jika dengan Annisa namun dengan Chika seolah keduanya sudah mengenal satu decade, ia tak segan-segan menunjuk-kan dirinya apa adanya tanpa pencitraan hanya awal-awal pertemuan saja ia salah tingkah, tapi dengan Annisa selalu mampu membuat nyalinya menciut drastis. Jujur saja ia dilemma! Bimbang dengan hatinya sendiri bermuara kemana. Ke Chika kah? Atau Annisa.


Ada orang yang mengatakan cinta itu adalah disaat kita bersama lawan jenis kita bisa nyaman dengannya menjadi diri sendiri. Ada juga yang mengatakan Cinta itu disaat mampu mengubah manusia menjadi orang lain demi lawan jenisnya.


Cinta itu adalah disaat kita berdekatan dengannya maka seluruh saraf-sarah kita menegang bahkan membeku, malu-malu disaat berdekatan keringat dingin dan lain sebagainya dan juga CINTA itu adalah ketika kita tidak mampu menjelaskan definisi CINTA itu sendiri … semakin kita jelaskan maka definisinya semakin menghilang.


Entahlah, saat ini Yogi benar-benar berada dalam gejolak rasa antara dua hati. Rasanya jika boleh, ia ingin maruk saja. Memiliki dua-duanya. Ia cukup percaya diri jika masalah adil dalam hal nafkah lahir bathin dan juga pembagian malam, namun ia takut kemarukannya malah menyakiti hati kedua perempuan tersebut. Mana ada perempuan yang benar-benar ikhlas berbagi suami jika sudah berbicara hati sekalipun mulutnya mengatakan Ikhlas. Akh … lagipula pemikirannya sudah terlalu jauh, jangankan poligami … monogami saja belum tentu dirinya diterima oleh salah satunya, benar kata Chika ia terlalu sok ganteng dan sok kece badai. Aduh ….


“Assalamualaikum! Sabahul khair yaa Akhi!” Yogi terperangah, gadis itu menyapannya. Wajahnya semringah sekalipun tanpa ditimpa cahaya senja pagi. Alamak dia mati kutu lagi hanya bisa gelagapan.


“Walaikumsalam! Sha-bahul khair.” Yogi memasang senyum terbaik abad ini


“Maadzaa turid yaa ukhti?” Senyuman mengembang dalam di wajah Annisa yang begitu teduh, gadis itu juga menyapa Indra.

__ADS_1


“Afwan yaa Akhi. Ana dengar anta pintar ilmu IT! kalo boleh ni … ana mau minta tolong anta benerin laptop ana sebentar, soalnya tadi malam waktu ana nyalain layarnya blank, gelap.”


Yogi gelagapan“Oh, begitu … se-benarnya gak pintar sih, tapi coba ana lihat dulu laptopnya, siapa tau bisa ana perbaiki.” Wajah ana lebih sembringah dari sebelumnya, tersenyum. Yogi menatap terpana melihat tarikan bibir gadis berhijab itu. Cantik!, Annisa cantik sekali jika sedang tersenyum seperti itu, lesung pipinya terlihat.


“Sebentar ana ambil dulu di meja, sebelumnya syukran ya Akh!”


“Makasihnya disimpan untuk nanti aja kalo laptopnya berhasil diperbaiki.”Yogi berusaha mencairkan suasana dengan bergurau hanya untuk menutupi salah tingkahnya agar tak terlihat ****, namun malah terlihat awkward.


“Iya Akhi. Ana ambil dulu ya Akh, laptopnya!”pamitnya lembut yang hanya mendapat balasan anggukan kecil dari Yogi, begitu Annisa berbalik badan Yogi sama sekali tidak mengedipkan mata menatap keseluruhan punggungnya Annisa, Yogi tersenyum sendiri. Aduh … Dek Nisa bikin Abang pengen cepat narik ke KUA aja sih.


“ Woy! Biasa aja lihatnya jangan sampai ngences juga kali! Udah kayak pungguk merindukan aja, padahal tinggal tancap gas aja nyampek.” Indra kembali menganggu acara lamunan Yogi, terkekeh mengejek. Lelaki berkacamata minus tersebut mendengus


“Sirik ,tanda tak mampu!”


“Tak mampu pegimane? Wong buktinya ane udah punya dua! Nah ente apa? Satu aja belum! Udah itu jadi, secret admirer pula,” ejek Indra kembali masih dengan kekehan yang sama. Yogi memutar bola mata


“Tunggu aja tanggal mainnya bakal ane boyong ukhti Nisa ke pelaminan.”


Alis Indra mengernyit, lantai ia menyeringai dengan kekehan yang ikut mengering.“Halah, omdo ente! Buktinya dari kemarin-kemarin ane lihat, ente masih aja stag ditempat. Jodoh itu jangan ditunggu doang yang ada malah di disalib orang, bok kalo udah ngerasa klob, dijemput kali!” Yogi hanya menanggapi bulan-bulanan Indra dengan dengusan terlebih disaat sosok yang mereka maksud mendekat.


“Gaspol, Pak dosen! Jangan sampai ke injak rem” bisik Indra kembali terkekeh jahil yang lagi dibalas oleh Yogi dengan dengusan.


“Akh ini laptopnya ? Annisa menyodorkan benda tipis tersebut kearah Yogi, Yogi menyimpulkan senyum, menarik nafas pendek seraya meraih benda warna putih tersebut.


“Oke, nanti kalo udah bisa ana kabarin anti ya ukh.”


“Hasanan, syukran yaa Akhi.”


“Na’am, yaa ukhti ilal liqaa’,”balas Yogi dengan sepotong senyuman sampai Annisa sudah berjalan kemejanya sendiripun Yogi masih tak melepaskan pandangannya, namun tiba-tiba bayangan Chika muncul dalam rongga fikirannya. Ia langsung membuka kacamata, mengusap wajahnya dengan kasar. Bimbang kembali mendiami hatinya.


“Aku harus bagaimana ini?” gumamnya sendiri dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2