MAHKOTA CINTA

MAHKOTA CINTA
Bab. 4. Kewalahan


__ADS_3

Semburat sinar rembulan yang mengambang diantara awan menyapa dunia. Lembut cahayanya seolah menyelinap kedalam dada, menarikan sudut-sudut bibir, melukiskan senyuman. Sinarnya juga ikut teredar menerobos dinding-dinding kaca yang tersibak tirai berbaur dengan cahaya lampu yang membasuh keelokan wajah Chika yang sedang mematut dirinya didepan cermin besar. Gadis itu sedang mengoles bibirnya dengan Lipstik agar tampak merekah, pandangannya lamat-lamat terhunus kedepan, pada pantulan bayangannya sendiri yang memancarkan rona kebahagian, yang entah untuk perihal yang mana. Mungkin untuk Si Lelaki kenalan baru yang sudah Standby diluar pagar hanya untuk tidak ketahuan Wulan. Setelah dirasanya semuanya sudah OKE, ia menyambar tas kulit yang diletakkan diatas Queen Size dan bergegas menuruni tangga dengan bola mata awas bergerak ke seluruh area rumahnya yang begitu luas di setiap ruangan, berharap Wulan tidak ada di ruangan-ruangan yang iya lewati.


“Aman.”gumam Chika terkekeh penuh kemenangan, lantas langkahnya kembali membungkus langit-langit ruangan lain dengan angkuhnya.


“Chika, mau kemana kamu malam-malam gini udah rapi banget?” Suara lembut namun begitu tegas mengunci langkah Chika. Seketika sirna sudah senyuman riang itu, seketika sirna sudah keangkuhan itu.


“Yah. ****** gue ketahuan.”Rutuknya dalam hati” Oon Banget sih gue, kenapa enggak kefikiran kalo mommy kemungkinan besar ada diruang tamu. ”Lanjutnya masih merutuki dirinya dalam hati, menyipitkan matanya . Geraman halus meluncur dari celah bibirnya lantas serta merta dengan senyuman kaku Chika memutar arah pandangnya kearah pemilik suara


“Eh, Mommy. Lagi ngerjain apa sih? Kasus lagi ya Mom?”


Wanita bergaun tidur warna biru laut tersebut bangkit melangkah menghampiri putrinya, meninggalkan kertas-kertas yang berserakan diatas meja bundar “Enggak usah basa-basi, ngalihin pembicaraan. Mommy nanya mau kemana kamu sudah rapi gini ? di waktu yang tidak tepat lagi untuk keluar!” Wulan mengintrogasi putrinya dengan sarat kesal, kelakuan putrinya benar-benar membuat dirinya kewalahan.


Chika kembali mengulas senyuman kaku“Keluar, sebentar aja kok Mom, Serius. Itu ada teman Chika udah nunggu diluar pekarangan rumah kita”Chika terpaksa harus Jujur tentang laki yang akan menjemputnya.


“Keluar kemana?. Ke kelab?”Wulan menungkas tajam” Setelah itu pulang subuh?. Diantar laki-laki gak bertanggung jawab dengan penuh stempel disekitar leher dalam keadaan setengah sadar, iya begitu ?”Wulan menyeringai sinis. Sedikitpun tak melepaskan tatapan tajamnya dari wajah keturunan cantik milik putrinya.


“Enggak kok Mom!. Malam ini Chika cuman keluar buat dinner aja. Sumpah” Chika mencicit. Mengacung dua jarinya menyerupai V


“Enggak ada cerita. Sekarang masuk kamar” Wulan menunjuk kasar keatas, dimana kamar Chika berada.”Ambil buku. Belajar. Mommy dan papi banting tulang untuk menghidupkan kamu, bukan untuk melihat kamu menjadi anak yang gagal. Terlebih Kamu anak Perempuan Chika! Apa yang akan orang fikirkan untuk-mu yang setiap malam keluyuran enggak jelas!. Dan siapa yang akan nikahin kamu jika kelakuan kamu ‘badung’ seperti ini!”Chika membisu”Lagipula kalo dia laki-laki benar, dia bakal minta izin sama mommy bukannya nunggu diluar sana seperti laki-laki pengecut.”


“ Ayolah Mom! Chika bukan anak kecil lagi yang dilarang ini itu.”Chika menyeringai sebal, sama sekali tak lagi gentar dengan tatapan tajam Wulan yang menghunus pupilnya.”Teman Chika bukan pengecut, tapi Chika yang ngelarang daripada belum sempat izin udah di ‘guk-guk’ duluan sama Mommy”Wulan memutar bola matanya. Tak suka dengan ucapan putrinya yang terdengar begitu frontal untuk melawan-nya yang notabane adalah ibu kandungnya sendiri yang selayaknya dihormati dan didengar. terlebih menyamakanya dengan Anjing.


“Chika. Jangan nguji kesabaran mommy oke. Sekarang, kembali kekamar kalo kamu enggak mau mondok di Pesantren.”


“Selalu ancaman itu, enggak inovatif banget sih Mom.”Chika berdecak memutar bola mata. Wulan melotot


“IYA..CHIKA MASUK”


“Sial banget sih gue punya mommy tapi cara fikirnya masih primitif”Chika bersungut-Sungut. Berbalik meninggalkan Wulan menuju kamarnya.


Sepeninggalnya Chika, Wulan menghela nafas pendek kembali melangkah ke sofa untuk melanjutkan pekerjaannya

__ADS_1


“Mommyku satu-satunya


membuat hatiku geram dan kesal


seperti melodi yang rusak


ah...ah ah


Mommy tak pernah muda kali ya”


Kepala Wulan tergeleng-geleng enggak habis fikir mendengar sindiran putrinya lewat lagu yang entahlah. Ia menghela lelah seiring usapan lembut didanya sendiri “Hmmm. Ngidam apa aku dulu, kok bisa punya anak seperti itu ckckckc. Bisa darah tinggi lama-lama kalo ada didekat anak yang satu itu”Gumam Wulan masih menatapi punggung Chika yang belum sempurna menghilang di belokan sekat ruangan Tamu menuju ruangan Keluarga.


Sepi megggantung langit-langit menemani Wulan yang masih berkutat dengan pekerjaannya karena dua hari lagi ia akan kembali ke Pontianak namun kosentrasinya kembali buyar mendengar suara ketukan langkah.


“Apa lagi ini? Chika enggak Paham bahasa Manusia ya?. Kan Mom udah bilang tadi naik. BELAJAR!.”


Chika berdecak sembari memutar bola mata “Hello. Mommy please deh ya. Mommy gak lihat ni Chika udah pakai piyama tidur!. Mana mungkin Chika keluar dengan dandanan seperti ini. Wong cuma pengin kedapur mau buat susu doang.” Bibir Wulan meliuk senyuman tipis karena merasa terlalu berlebihan dengan putrinya. Tatapannya yang tajam kembali melembut


Kepala Wulan kembali tergeleng lemah melanjutkan kerjaannya mendesah kelangit-langit ruangan. Tiba-tiba ia merasakan hatinya ngilu jika memikirkan kelakuan putrinya. Entah siapa yang harus disalahkan. Apakah putrinya sendiri?, dirinya dan suaminya ?, keadaaan ? atau memang kota ini?. Semuanya salah. Terutama ia dan suaminya yang selalu pindah-pindah tugas meninggalkan putrinya di Jakarta hanya ditemani asisten rumah tangga.


“Yes berhasil”Chika berseru pelan, mengangkat gepalan tangannya keatas dengan wajah penuh kemenangan begitu ia sudah berada diluar rumah lewat pintu belakang, berhasil mengelabui wanita yang telah melahirkannya. Ia berlari cepat kearah jendela kamarnya dimana tas yang berisi pakaiannya yang sempat dikenakan terlempar lewat jendela.


***


Cahaya lampu gemerlap penuh warna ditemani suara dentuman musik yang dapat memekak telinga kembali menyapa Chika yang sedang bergelut manja pada lengan kokoh seorang lelaki kulit putih bertubuh kekar. Senyuman tak pernah luntur dari wajahnya kendati di ingatkan telah berhasil lari dari kungkungan Wulan. Kornea matanya berputar menyapu dance floor yang penuh gemerlap nafsu dimana manusia-manusia lawan jenis sedang menari bebas melepaskan segala penat dan kegalauan hati dan entah apalah.


“Honey kita santai dulu ya nanti baru turun!” Laki-laki Indo itu berteriak ditelinga Chika, karena percuma jika berbicara dalam suara rendah akan kalah dengan suara musik yang dimainkam Disk Jockey. Chika memutar arah pandangnya hanya mengulum senyum pertanda mengiyakan.


Keduanya menyeret langkah saling rangkulan menghindari orang-orang yang sudah tenggelam dalam alkohol. Mabuk, yang bisa menabrak keduanya.


Keduanya sudah terkunci di satu set sofa yang berada di sudut ruangan dibawah cahaya temaram yang membuat indah suasana. Chika tak segan-segan membiarkan tubuhnya terpenjara dalam kuasa laki-laki yang bernama Verald, bahkan keduanya telah melupakan area sekitar, saling mencecap berpacu dalam nafsu yang belum halal untuk keduanya. Memangut bibir dengan mesranya. Disela-sela kenikmatan tersebut yang sudah berubah menjadi Kecanduan yang sulit ia lepaskan seorang pelayan datang untuk membawa pesanan mereka.

__ADS_1


“Mas, Mbak ini pesanannya”


“Aih, sialan dasar perusak suasana!”Maki Verald menatap galak atas pelayan tersebut, kepala Verald benar-benar berasap dan semakin diperburuk kendati Pelayan laki-laki tersebut hanya menanggapi dengan santai makiannya, membungkuk tanpa berniat menyerukan kata ‘maaf’.


“Sialan bukannya minta maaf langsung ngeloyor aja. Gue pastiin ini klub besok langsung gulung tikar”Rancau Verald kemudian, sementara Chika, alih-alih ikut marah karena aktivitas terlarang keduanya terganggu, tawanya malah berderai keras melihat kemarahan Verald yang serta merta membuat bola mata Verald terjatuh atas wajah Chika yang yang hanya terbasuh cahaya temaram, namun masih cukup terlihat bola matanya dan menggelitik syahwatnya.


“Kamu ya. Orang lagi kesal malah ketawa!.” Perlahan tawa Chika memudar berganti dengan senyuman


“Gue baru tau aja ternyata lo orangnya pemarah.”


“Habis anak Setan itu ngeselin. Kita lagi asyik-asyiknya menuju Puncak malah direcokin”’Jawab Verald yang lagi mengundang kekehan Chika


“Ih lagi, dia kekeh.”


“Habis lucu aja lihat wajah lo kalo lagi kesal”Balas Chika berhasil menarik sudut-sudut bibir Laki-Laki Blateran Sunda Belanda Tersebut. Tersenyum.


“Kamu ya, ngemesin banget sih. Bisa gitu ya meredakan amarahku”


“Iya dong, Siapa dulu The Power Jessica Najwa”Jawab Chika yang langsung mendapat kecupan lembut dibibirnya dari Verald. Gemas.


“Ya sudah kita minum dulu yuk!.” Ajak Verald kembali hanya mendapatkan seulas senyum, lantas keduanya mulai terlarut dengan minuman dihadapannya yang sama-sama mereka tuang kedalam gelas dan saling chers berkali-kali. Sesekali terdengar kekehan tawa gak jelas dari mulut keduanya disela-sela obrolan yang semakin malam beranjak naik semakin tidak karuan.


“Ternyata elo orangnya lumayan asyik, bisa diajak becanda juga. Gue kirain Cuma bisa marah-marah doang.”Merasa tersindir halus Verald malah melebarkan senyumnya tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari Chika.


“Iya dong. Aku kan calon komedian yang gagal tampil.”Gurau Verald semakin mempererat rangkulannya


“Kacian” Dengan nada sok imut Chika mengerucutkan bibirnya kembali mengepakkan sayap-sayap nafsu Verald untuk kembali menyentuh ufuk, lelaki itu membalas dengan seulas senyum penuh hasrat.


“Kamu cantik banget sih honey, enggak kuat abang Dek. I love you.” Bisik Verald disudut bibir Chika, tanpa diundang merah merona langsung hadir diwajah gadis itu. Verald menangkup wajah Chika. Dan kembali mengecup bibir merekah milih Chika yang mulai menhadi candu untuknya. Jelas saja Chika tidak menolak bahkan gadis itu tersenyum diantara ciuman keduanya.


Sekali, dua kali dan selanjutnya ciuman itu tetap memabuk-kan, terlebih didukung oleh kombinasi Alkohol, cahaya temaram dan musik yang berdentum keras. Namun keduanya hanya mampu saling mencecap nafsu laknatullah untuk beberapa saat sebelum berakhir dengan siraman oleh air yang begitu menyengat hidung bahkan nyaris menumpahkan isi perut.

__ADS_1


__ADS_2