MAHKOTA CINTA

MAHKOTA CINTA
Bab. 8 Tamu Spesial


__ADS_3

Kamar Chika yang bernuansa putih gading lenggang, hanya suara-suara yan terpantul kan dari layar datar yang bergelantungan didinding membuncah memenuhi ruangan tersebut. Chika terlihat malas-malasan di atas ranjangnya memeluk guling putih bermotif bunga-bunga tulip, tatapannya tidak fokus, sama sekali tidak terhunus ke layar datar yang menampilkan sinetron prime time. Perdebatan kemarin malam dengan wanita yang telah melahirkannya masih menyisakan perasaan yang sulit dijelaskan, sehingga malam ini di jam yang belum terkepak jauh ia sudah memilih untuk memasung kan raganya didalam piyama tidur bahkan ia mengabaikan puluhan panggilan dari benda pipih disisinya. Ada perasaan sesal menyergap relung hatinya kendati diingatkan dengan sikapnya yang menurutnya sedikit keterlaluan terhadap ibunya, maksudnya—sekalipun ia kecewa dengan kedua orang tuanya, tak seharusnya ia mendebati ibunya dengan suara yang tinggi, kasar dan tatapan yang nyalang namun ia terlalu gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu.


“Sayang, kamu udah tidur ya?”Chika bergeming, tak membiarkan kepalanya tertoleh mencari asal suara yang baru saja menyentak-kan dirinya dari lamunan.


“Boleh Mommy masuk?”


“Hemm,”gumamnya tanpa berniat menoleh. langkah pelan Wulan menyapu lantai membuat Chika semakin mengeratkan pelukannya di bantal guling, ketika menyadari suara langkah Wulan semakin mendekatinya.


“Kamu, masih marah sama Mom?”


Minus respon. Suaranya bergelantungan di udara. Wanita paruh baya itu menghela nafas pendek duduk disisi putrinya.


“Nak ….”Wulan mengusap lembut surai panjang putrinya.


“Kamu, seriusan enggak mau ngasih kesempatan untuk Mom? Mom, memang tidak bisa mengembalikan apa yang telah terenggut selama 18 tahun ini dalam hidup kamu, tapi Mom … ingin memperbaikinya…,”ucap Wulan tiba-tiba dengan timbre yang lebih berat dan dalam. Chika menutup mata. Menahan guncangan dibalik dadanya bahkan menggigit bibir agar tangisnya tak menggema.


“Mom, benar-benar mintak maaf karena selama ini tidak peka terhadap perasaan kamu....“


Jeda sejenak, suaranya Wulan mulai serak. “Tapi kamu salah, jika berfikir Mommy sama papi tidak sayang sama kamu dan hanya mementingkan reputasi kami sendiri.”Wulan mendesah pedih. Setetes air mata jatuh kepipinya “Mommy maupun papi sangat menyayangi kamu, namun mungkin cara kami merepresentasikan yang salah, cara mendidiknya juga salah. Terlepas dari itu semua dengan cara benar atau salah … kami tidak ingin putri kami satu-satunya salah langkah … tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tersakiti terlebih jatuh kedalam kubangan dosa.”Wulan mendesah. Chika masih bungkam, memunggunginya tanpa ia ketahui wajah yang sudah tertunduk dalam bantal tesebut sedang menahan rasa bersalah yang menyergapnya, bahkan air matanya mengalir dengan bibir ia tekan kuat-kuat agar tangisnya tak menggema.


”Dunia tak seramah yang kamu fikirkan Nak! Terlebih untuk manusia-manusia yang tak dibekali iman. Mom, cuma ingin kamu menyikapinya dengan benar, maksudnya—hiduplah dengan cara yang benar. Terlebih keabsenan Mom sama papi bersamamu. Jika kamu salah menyikapinya! Mom sama papi juga akan ikut mempertanggungjawabkan didepan Tuhan kelak.”Wulan memejamkan matanya yang basah sejenak, intonasinya semakin bergetar, baru kali ini ia mengeluarkan apa yang selama ini terpendam … akan ketakutannya terhadap dunia luar yang setiap detik berusaha menyentuh putrinya. Meskipun demikian, semua ini adalah salahnya dan juga suaminya yang kurang kontrol, terlalu sibuk, tidak peka dengan perasaan putrinya.


“Iblis, tidak pernah beristirahat sedetikpun untuk mempengaruhi manusia sebelum manusia itu benar-benar berada dipihaknya, kalah! Iblis itu terlalu licik, dia sangat jahat … maka kita sebagai manusia harus bisa mengalahkannya sebelum kita dikalahkan. Mom mau dunia menatap kamu dengan hormat bukan sebaliknya! Bukan hormat karena pencitraan, tapi hormat yang sebenarnya. Dan yang harus kamu tahu, kamu adalah anugerah, Nak. Tidak peduli bagaimana kamu mengecewakan Mommyw sama papi selama ini.”


Dada Chika seperti diremas kuat-kuat oleh pengakuan Wulan. Sekelebat ingatan bagaimana ia menjawab ibunya dengan kasar, mendebatinya dan juga cara hidupnya selama ini yang terlalu salah kembali menghampirinya, bagaimana kekecewaan terhadap orang tuanya telah berhasil menuntunnya pada jalan yang salah, menjadikannya perempuan yang seperti Rival-nya serukan selama ini, JALA**. Untuk pertama kalinya ia merasa jijik dengan dirinya selama ini, jatuh dari satu pelukan laki-laki ke pelukan laki lainnya bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan.


“Maafkan Chika, Mom …,” Chika menoleh dan juga bangkit demi bisa memeluk Wulan, air matanya dibiarkan mengalir begitu saja tanpa berusaha ia tutup-tutupi lagi.


“Maafkan anakmu yang kurang bersyukur ini …,”mohon Chika kembali diantara sedu sedannya. Senyum Wulan terulas lirih, mengusap punggung bergetar putrinya.


“Tak ada yang perlu dimaafkan Nak! Karena sedari awal kesalahan kamu terealiasikan berangkat dari keabsenan kami dalam hidupmu.” Wulan melepaskan pelukannya, menghujani putrinya dengan tatapan ketulusan, sebuah sapuan lembut dari jemarinya menghapus lelehan air mata disudut mata Chika.


“Mom—memang pernah gagal menjadi orang tua yang baik, untukmu. Mom tidak ingin kegagalan itu terulangi kedua kali, so—“ucap Wulan. Ia mengambil nafas dalam-dalam.


“Ayo kita buka lembaran baru! Menjadi manusia yang lebih baik. Kamu mau juga kan berubah?” Chika mengangguk—lalu keduanya kembali saling mendekap. Menyalurkan kasih sayang.


Seiring waktu terkepak lebih jauh, ibu dan anak ini sudah mengubah posisinya. Keduanya setengah terbaring di atas ranjang bertumpu bantal-bantal, namun sisa-sisa tangisan satu jam yang lalu masih terlihat di wajah keduanya. Keduanya menghabiskan quality time dengan melanjutkan tontonan dengan mulut sama-sama mengunyah potongan buah didalam piring. Pemandangan indah yang perdana bagi Chika. Rasanya jika ini adalah sebuah mimpi, ia benar-benar tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.


“Mom lagi!” Chika membuka mulut kearah Wulan, menuntut disuap. Wulan tersenyum, mencomot buah dalam piring lalu disuap kemulut Chika. Melihat sifat manja putrinya seolah ada tangan yang meremas hatinya—sakit, ia benar-benar telah menghancurkan masa kanak-kanak putrinya. Ponsel Chika yang kembali bergetar dalam mode silent menyentak lamunan Wulam


“Ada telepon tu! Angkat dulu!”


“Males ah Mom, palingan telepon gak penting,” tanggap Chika malas. Ia kembali memusatkan bola matanya ke layar lebar dihadapannya.


“Siapa tahu penting, lihat dulu siapa penelfonnya!”


Chika menghela kalah.“Iya deh,” ujarnya seraya mengambil iphonenya disisi kanannya. Garis bibirnya tertarik melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.


“Holla. Kak ,”sapa Chika lebih dulu meng-Answer panggilan.


“Kok langsung holla aja, Assalamualaikumnya mana?”


Chika reflek memejam mata sembari memaki dirinya didalam hati mendengar protes Yogi. Ia lupa Yogi bukan lelaki yang seperti lainnya yang ia kenal selama ini.


“Maaf Kak, saya benar-benar kelupaan, Reflek dari kaget karena ada suara telepon,”dustanya menyipitkan matanya takut alasannya tidak logis.


“Ya udah, sekarang saya ulang ya! Assalamualaikum Bapak Dosen yang terhormat,” ucap Chika terkekeh jahil membuat Yogi diseberang sana ikut terkekeh, dan virus kekehan itu juga menulari Wulan. Wanita tersebut ikut tersenyum geli sekaligus lega, setidaknya sekarang sedikit tahu, lelaki yang sedang dekat dengan putrinya bukan laki-laki sembarangan yang seperti selama ini berada dalam zona kehidupan putrinya.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Yogi diantara kekehan-nya.


“O, ya. Apakabar kamu? Dan lagi apa sekarang?”


“Alhamdulillah baik. Lagi baring aja sambilan nonton. Kalo kakak ?”tanya Chika balik potongan buah di dalam piring tanpa disadari sudah berubah bentuk karena ulah garpu ditangan kiri Chika, tak lagi membiarkan Wulan menyuapinya.


“Alhamdulillah baik juga, ini juga lagi baring, udah makan belum?”


“Ini kebetulan lagi makan Buah,” Chika memasuk-kan buah yang tak terbentuk lagi kedalam mulutnya.


“Cuma buah aja … nasi gak gitu?”


“Iya buah aja! Nggak makan nasi.”


“Lagi diet pasti ni ya?”


“Begitulah kira-kira.”


“Udah sekurus itu masih diet! Nggak takut diterbangi angin?”Chika mendengus, menyembunyikan senyumnya dengan menggigit ujung garpu.


”Baru tahu ternyata dosen hobi juga nyela orang”koment Chika yang disambut gelak tawa Yogi terlebih dulu


“Bukan tukang nyela tapi tukang bubur.” Chika tergelak


”Lagipula Paten banget kalo sampai diterbangi angin … kan diterbangi nya ke hati Kakak.” Jessica tersipu dengan gombalan receh nya, Wulan jangan ditanya udah geleng-geleng kepala.


“Aduh diabetes sayanya!”


“Kenapa?”


“Habis adek, gombalannya manis banget!”


“Bukannya receh banget ya?”


“Itu tahu!” Terdengar tawa yang membahana di seberang

__ADS_1


“Dasar ya,”cibir Chika, berdecak.


“Dasar apa hayo?”


“Dasar orang-orangan sawah!”


“Nggak papa deh jadi orang-orangan buat nakutin burung Emprit, biar kamunya enggak ada saingan ngerebutin saya.” Chika memilih mencibir untuk menutupi rona di wajahnya


“Percaya diri sekali Anda Pak!”


“Kalo sama diri kita saja kita enggak percaya, gimana kita mau percaya sama orang lain!”


“Kak, saya tahu kakak tu dosen, tapi jangan sekalian buku ajarannya juga ikut dimakan. Gini nih jadinya, Lebay.” Tawa yogi terlepas kembali. Matanya menyorot lucu.


“Bay the way, Kakak kok nelfon saya malam-malam! Emang pacarnya gak marah?”pancing Chika berangkat ke topik pembicaraan yang berat.


“Huemmm marah gak ya ...?” potongan semangka didalam mulut chika, manis sekalipun enggak manis sekali, namun kalimat ambigu Yogi barusan membuat buah yang dikunyahnya terasa pahit, perasaan ia tak mengunyah bijinya. Ia kecewa atas alasan yang ia tak tahu untuk apa dan itu semua tak luput dari pandangan Wulan. Instingnya mengatakan jika Chika menaruh rasa terhadap lawan bicara di telepon.


“Kakak memang beneran udah punya pacar?”retoris Chika suaranya terdengar muram. Namun bukannya jawaban yang melegakan hati yang ia dapat malah tawa yang makin menggetarkan sudut-sudut kamarnya.


Chika berdecak,“Kok ketawa sih?”


“Menurut kamu gimana?” Yogi masih betah dengan cengirannya sedangkan Chika meringis.


“Lagi malas main tebak-tebakan,” desis Chika berdecak matanya ikut berotasi, jengkel. Tawa Yogi sudah memudar namun matanya masih ikut tersenyum sekalipun Chika tidak bisa melihatnya.


“Kalo saya udah punya pacar, kurang kerjaan banget saya minta nomor kamu tadi pagi, kekeh begitu! ”


“Maksudnya?” tanya Chika kembali pura-pura gagal paham. Kelegaan sukses memancarkan senyuman riang kembali di wajah keturunan cantiknya.


“Bukan apa-apa!”


“Okeh … okeh.”


“Ehem,”Yogi mendehem.“Bay the way, kamu sendirian kan di kamar?”


“Sayangnya enggak tuh!” Senyum Chika semakin terkembang dengan mata menyorot keatas Wulan yang sedang mengunyah buah.” Ni ada Mommy saya juga disamping. Jadi pendengar yang budiman”


Serasa ada yang menyangku di tengkorongan Yogi. Apa tadi? Pegimana? Ada ibunya juga disamping Jessica? Astaghfirullah!


“Siapa?” tanya Wulan dengan suara rendah kearah Chika


“Teman, orangnya kali ini pasti langsung Mommy approve, idaman Mommy pokoknya”Chika berbisik lengkap dengan senyuman jahil yang ditanggapi senyuman lembut dan anggukan dari Wulan.


“Kak, kamu masih hidup kan?” Chika menyunggingkan senyuman yang terlihat jahil kendati paham kenapa Yogi menjadi membisu.


“Hmm….”


“Kok Hemmm aja! Kenapa? Nggak mendadak sakit gigi kan?” Chika kesulitan menahan tawanya seraya membayangkan wajah Yogi yang muram durja, mati gaya. Tarikan nafas Yogi terdengar berat, ia mengerucutkan bibirnya sembari mengusap wajah. Malu masih menguasainya


“Emangnya kenapa?”


Terdengar suara dengusan di seberang telepon. Disusul kemudian decakan lidah“Malu Jessica! Kamu kan tahu tadi saya ngomong ngalor ngidul. Masa perdananya, langsung meninggalkan kesan yang gimana sama ibumu.”


“Memangnya Kakak mau meninggalkan kesal yang pegimana? Dan untuk alasan apa?”


Ngik-ngik berasa ada yang berdengung mendengar pertanyaan Chika. Gadis itu sengaja menggodanya.


“Yang lebih—sopan, pokoknya … enggak kayak tadi aja, aduh ... intinya saya malu banget sekarang!”


“Bukannya lebih baik apa adanya ya Kak? Daripada pencitraaan!”Chika meringis disaat mengucapkan—karena julukan tersebut yang lebih tepat di tuju untuk dirinya sendiri.


“iya sih … tapi tetap aja….“Tarikan nafas Yogi kembali terdengar berat


“Santai aja kali Kak, cara fikir Mommy saya gak seprimitif itu kok.” Chika tersimpul sambil melirik Ibunya, “Ini kalo enggak percaya ngomong sendiri ya sama Mommy!”lanjut Chika tambah membuat jantung Yogi berdansa.


“Tapi Jess—“


“Assalamualaikum, boleh tahu ini dengan siapa?” Kalimat Yogi terhenti begitu suara berbeda menyentuh gendang telinganya wajahnya terlihat gugup disebrang sana


“Waalaikumsalam, saya Yogi buk. Temannya Jessica! Maaf ini dengan ibunya Jessica ya?”


“Iya. Saya Wulan. Panggil aja Tante Wulan.”


“Salam kenal ya Nak Yogi! Ya kan tadi Namanya Yogi?” Wulan melirik putrinya dengan senyuman menggoda.


“Betul, Tante! Salam kenal juga Tante” Kesan pertama yang ditangkap Yogi, ibunya Chika ramah. Kehangatan sambutannya membuat frekuensi debaran di jantung Yogi sedikit menurun.


“Yogi, uda lama kenal sama anak Tante?”


“belum Tan, baru 3 hari …”


“Oh, gitu,”jawab Wulan masih dengan senyuman keibuannya.“Ya udah main-mainlah kerumah! Berhubung Tante masih di Jakarta, kan Tante pengen kenal juga sama cowok yang sukses membuat wajah putri Tante merona,”goda Wulan yang langsung mendapat pukulan kecil dibahunya dari Chika. Mendelik, malu, Sedangkan Yogi jangan ditanya lagi sekalipun pernyataan Wulan sederhana, tapi justru efek yang ditimbulkan membuat dadanya berdesir hebat. Bahagia.


“Insya Allah Tan, kalo ada waktu luang! Yogi bakalan bertamu kerumah!” kembali suara Yogi bersemanyam ditelinga Wulan dan seiring bertambah banyaknya bahan obrolan, kegugupan di balik dada Yogi benar-benar pamit.


***


Siang berikutnya datang lagi.


Semburat sinar matahari terpancar begitu dahsyat diatas sana, melintasi setiap atap rumah termasuk atap salah satu rumah yang tertancap diantara ratusan rumah lainnya diperumahan elit Lebak Bulus.


Ruangan makan megah yang ada di dalam rumah tersebut nampak sedikit rusuh siang ini. Denting suara sendok, gelas dan juga lainnya terdengar karena akan kedatangan tamu spesial yang baru semalam bertelepon ria, Wulan menjamu Yogi mengingat hari ini weekend dan besok dia akan balik ke Pontianak.

__ADS_1


“Bik, tolong tambahin lagi ya sayurnya! Ini terlalu sedikit”Wulan menyerahkan mangkuk kaca ketangannya wanita paruh baya yang telah ikut bekerja selama 20 tahun di rumahnya. Namanya Ningsih.


“Baik Nya,”jawab Ningsih, seraya mengambil mangkuk dari tangan Wulan berlalu ke dapur.


Sementara Chika yang sudah rapi dengan style barunya. Longdress Hanna casual hasil shopping tadi pagi bersama Wulan malah sibuk sendiri. Menunggu Yogi dengan peraaan yang ganjil, degdegan dan juga …entahlah—ini perdananya mengalami seperti itu, Wulan yang mengamatinya ikut tersenyum melihat putrinya seperti itu, setaunya baru kali ini putrinya bertingkah seperti itu.


“Ting-tong “ suara nyaring bel memenuhi ruangan membuat jantung Chika kian berdansa.


“Tu, orangnya udah datang! Sana gih bukain pintu!”seru wulan dibaluti senyum menggoda. Senyuman salah tingkah mengebang sempurna di wajah Chika, ia gelagapan merapikan rambutnya melihat penampilannya.


“Udah cantik kok, sana cepat bukain pintu! Sebelum tamunya, keburu kabur!”


Chika tambah gelagapan,“Eh, iya-iya Mom.” Dengan debaran dibalik dada ia bergegas ke depan membuka pintu.


Pintu rumah terbuka, seorang lekaki dengan balutan kemeja denim lengan pendek dipadu jeans warna senada. Wajahnya Nampak berseri dengan senyuman terbaik abad ini mengembang kearahnya, dan Chika terpesona terlebih dengan sebuket mawar putih di tangan lelaki berkacamata tersebut.


“Assalamualaikum Jessica.”


Chika gelagapan.“Eh, Wa-alaikum Sa-lam”


“Bagaimana kabar siang ini?”


“Se-hat.”Chika masih salah tingkah, senyumnya juga terlihat ganjil.


“Syukurlah, Alhamdulillah saya juga sehat, sekalipun enggak ditanya! Kasihan ya?”


“Eh—“ Yogi terkekeh mendapati wajah gelagapan Chika kembali. Lucu sekali.


“Biasa aja ngomong sama cowok ganteng! Nggak usah salah tingkah gitu.”


Mata Chika berotasi buru-buru memasang ekspresi mendelik sebelum semakin terlihat **** di mata Yogi, ia juga merutuki dalam hati, ‘ni cowok alim-alim minta digebukin banget sih.’ Jujur baru kali ini Chika terlihat menyedihkan di depan cowok biasanya sebaliknya. Mungkin ini yang namanya karma


“Sok ganteng sekali, Anda ya! Siapa juga yang salah tingkah sama kakak,”balasnya galak.


“Kebetulan udah stadium akhir.” Tawa Yogi terlepas. Menyorot lucu kearah Chika yang masih mendengus


“Wajar sih kalo begitu, udah gak bisa di obati!” Bukannya marah tawa Yogi makin melebar


“O, ya ini buat kamu.”Yogi memberikan sebuket mawar putih yang sedari tadi digenggamnya dan juga parcel bingkisan yang sederhana begitu tawanya mengering.


“Alah, Pak Dosen sok romantis banget sih!”cibir Chika sambil menyorotkan senyuman mencela,” but makasih ya. Walaupun, jujur saya lebih suka bunga Bank sih daripada bunga ini”


“Ih jangan demen sama bunga Bank, Riba itu! Mendingan demen sama saya.”


“Bukannya sama-sama haram ya?”


“Gampang bisa saya halalin!”


“Belum dibolehin! Belum lulus kuliah.”


“Kan enggak sekarang juga! Atau kamu memang udah enggak sabar lagi pengen saya tarik ke KUA sekarang?” Chika menelan ludah, dan merutuki kembali berulang kali dalam hatinya. Terlebih ketika sekarang matanya dihujani tawa menyebalkan lelaki itu yang sulit mengering.


“Bawa granat enggak Kak?”


“Nggak punya sih saya amunisi bahaya seperti itu!”ujarnya masih dengan cengiran menyebalkan.”Untuk apa?”


“Untuk nyumpel mulut Kakak! biar narsisnya muncrat keluar,”balas Chika membuang nafas kasar ke udara. Gelak yogi kembali meledak membuat bibir Chika semakin mengerucut. Kesal.


“Assalamualaikum”Yogi mengucap salam, dengan sopannya mendekati Wulan yang sedang mengatur sendok di meja, bahkan Chika sampai meringis melihat sosok Yogi yang 180 derajat berbanding terbalik dengan dirinya tadi diluar. ‘Dasar pencitraannya’ desisnya dalam hati.


“Waalaikumsalam.”Wajah wulan begitu kaget melihat Yogi sudah sampai ke meja makan.


“Nak Yogi? Ya ampun. Maaf banget ya! Masa tamunya udah sampai tapi tataan makan siangnya belum sempurna,”ucap Wulan menghampiri.


“Nggak papa kok Tante, santai aja sama saya!”Yogi mencium dengan takzim punggung tangan Wulan yang langsung menumbuhkan decak kagum dihatinya, senyumannya juga ikut terkembang sempurna.


“Kalo yang model beginian Mommy demen! Kenapa Nggak dari dulu sih kenal-nya?”


“Mom ….” Protes Chika membulatkan mata. mommy-Nya kenapa mendadak jadi kampungan sih? Bikin malu aja. Wulan nyengir begitu juga dengan Yogi yang pura-pura salah tingkah.


“Nak Yogi tahu enggak, tadi Chika mandi sama dandan-nya lama banget loh hanya demi tampil sempurna didepan Nak Yogi!”


“Ih Mommy apaan sih! Orang aku kalo kalo mandi sama dandan memang lama kok,” decak Chika kembali. Bisa besar kepala Yogi kalo di ha’eh aja. Ia benar-benar ketar ketir dengan kejahilan ibunya.


“Mommy belum Pikun loh Nak! Seingat Mommy biasanya kamu mandi sama dandan ½ jam kelar.” Wajah Chika sempurna memerah seperti kepiting rebus


“Mom, please deh ya! Jangan ngada-ngada deh!”


“Iya, ha'eh aja deh! Ya kan Nak Yogi? Daripada terjadi perang di meja makan.”


Yogi mengangguk susah payah menahan tawa mendengar perdebatan ibu dan anak tersebut.


“Mommy rese banget sih!”sungut Chika memutuskan meninggalkan meja makan menuju dapur menyerahkan bingkisan bawaan Yogi ke Ningsih.


“Ya ampun, Tante sampai lupa nyuruh tamu duduk,”Wulan menepuk jidat.“Keasikan ganggu Chika sih!”lanjutnya diiringi kekehan receh.


“Nggak papa kok Tante!”


“Silahkan Nak!”


“Ya Tante,” jawab Yogi tersenyum lembut lantas beberapa menit setelahnya, ketika Chika juga sudah ikut bergabung di meja makan ketiganya menghabiskan waktu dengan menyantap makanan dan juga saling bercerita, lebih ke Yogi yang seperti mendapat interogasi dari Wulan.


Berangkat dari pendidikan, keluarga dan lainnya membuat Wulan semakin mengagumi dosen muda tersebut, sekalipun Chika sempat Jengkel dengan sifat Yogi namun kekaguman kembali mekar dihatinya setelah mendengar perjalanan kisah hidup lelaki tersebut. Ada kisah haru dibalik kesuksesan yang diraihnya lelaki tersebut sekarang.

__ADS_1


Kuliah di Kairo selama 6 tahun untuk menamati strata satu/S-1 dan S-2 dari beasiswa penuh perjuangan, tinggal di flat kecil sambil bekerja serabutan karena tidak ingin menjadi beban orang tuanya meskipun, hasil usaha toko-toko buku milik orang tuanya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan ia disana dan juga adiknya di Jakarta, namun ia adalah seorang anak yang ingin belajar hidup mandiri memulai dari Nol.


__ADS_2