
“YAK, SIALAN BAU BANGET LAGI!” Chika mengumpat kesal mendapati rambut dan wajahnya basah, lantas bangkit dengan segenap perasaan murka menghadapi orang yang telah menyiramnya.
“Heh, Kuyang. Elo siapa sih hah? Datang-datang main siram-siram aja!”pekik Chika menantang mata perempuan yang menjulang tinggi disampingnya dengan nyalang dan juga bingung sembari menjenggut kasar rambut gadis itu. Ketiganya sudah menjadi pusat perhatian. Namun berbeda dengan Verald, lelaki itu, raut wajahnya sudah memucat menemukan sosok gadis yang menyirami ia dan Chika barusan. Gadis yang raut wajahnya sama berang seperti Chika adalah Febby, tunangannya.
“Yak, lepasin rambut gue ******! Dasar Petukor alias Perebut tunangan orang!”sepenggal kalimat Febby langsung melemaskan jemari-jemari Chika, jenggut itu terlepas. Pupil matanya melebar.
“What...tunangan?”tanya Chika menatap tak percaya silih berganti, antara Verald yang hanya membisu menunduk malu, karena lelaki itu mengakunya single dan juga perempuan dihadapannya. Senyum sinis dan juga seringai Febby hadirkan,sejurus kemudian jemarinya mulai bergerak bebas di rambut panjang Chika
“Akh!”pekik Chika menahan sakit karena kepalanya seakan terlepas dari kulitnya berkat jenggutan Febby yang begitu kasar
“Iya dia tunangan gue. Atau tepatnya calon suami gue! Kita akan menikah bulan depan.”
“Gue gak tau itu! Dia ngakunya jom_akh, sakit!”kalimat Chika terhenti karena Febby sama sekali tak memberikan ampun kepada Chika, jenggutannya semakin kasar. Chika bisa merasakan Dunianya seakan berhenti, namun detik berikutnya Chika berhasil melepaskan diri dari Febby. Dengan segenap perasaan murkanya yang sudah meroket tinggi ia menyeringai kasar, tak segan-segan memelintir tangan Febby sampai gadis itu meringis, gemetar menggurat gaun pas bodynya.
“Eh, Kuyang. Gue gak tau ya kalo lelaki sia--”lidah Chika kembali terpasung karena bola matanya tak menemukan Verald
“Dasar laki-laki pengecut sialan!”umpat Chika. Selanjutnya entah siapa yang memulai terlebih dahulu, keduanya sudah saling menjambak, menendang bahkan berguling-guling di lantai menjadi pusat perhatian.
***
Malam semakin mengalir deras bahkan rembulan dan gemintang nyaris hilang didalam kabut awan hitam. Deru nafas lembut Wulan menyentuh udara, guratan lelah terlihat dibalik wajahnya dengan pekerjaannya, dan juga lelah dengan kelakuan putrinya yang semakin hari semakin terjerumus kedalam dunia kelam.
“Deriiiiiing … deriiiiing” Suara dering pesawat telepon diatas nakas dekat lampu tidur menyaring galak, sukses menepikan Wulan dari alam mimpinya. Ia menggeliat pelan dengan mata masih terpejam
“Halo, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam. Apakah benar kami terhubung dengan nomor telpon kediamannya keluarga dari Saudari Jessica Iskandar?”
__ADS_1
“Benar, saya ibunya. Ini dengan siapa ya? Dan dimana?” Wulan menggaruk-garuk lehernya. “Eughhh” Lenguh-nya kemudian masih dengan mata terpejam, jiwanya seakan belum kembali separuhnya dari alam mimpi
“Ini dari kantor Polsek Cilandak. Anak ibuk terlibat perkelahian dengan sesama teman perempuannya di Club'!”
“APAAA?”Mata Wulan menjengkil,nyawanya seakan dipaksakan masuk kedalam raga dirinya ,tubuhnya bahkan ikut bangkit,terduduk. Ia tak percaya dengan ucapan orang dibalik telepon yang masih ia genggam dalam tangan gemetarnya.
“Itu gak mungkin pak! soalnya putri saya lagi …,”Kalimat Wulan menggantung, ingatannya kembali menyeretnya ke beberapa jam yang lalu, dia baru ingat putrinya pamit ke dapur namun setelah itu tidak kembali lagi.
Beberapa menit setelah itu setelah ia memutuskan telpon, ia langsung berlari kearah kamar putrinya untuk memastikan kebenarannya. Benar saja, kamar kosong dengan kondisi jendela terbuka menganga.
“Chika!” Gigi Wulan menggeretak. Amarahnya meroket menyentuh ufuk, wajahnya mengeras. Rasanya ingin sekali menyumpah serapah putrinya sendiri yang telah berani tak mengindahkan perintahnya. Setelah menghela beberapa kali guna menetralisir amarahnya, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil Ponselnya, menghubungi pengacara keluarganya untuk membebaskan Chika.
***
“Mommy enggak tahu lagi harus gimana hadapi kamu!”suara khas wulan menyapa gendang telinga Chika tepat saat Pengacara beranjak pergi dari rumahnya setelah mengantarnya pulang dari Kantor Polisi.
Chika mendengus tak peduli, melangkah kedepan. Kepalanya terlalu nyeri untuk melayani ceramah wulan.
Diamnya Chika semakin memancing amarah Wulan, ia mengikuti putrinya dari belakang dan dalam satu tarikan di lengan, langkah Chika terhenti sekaligus menyatukan pandangan keduanya. Chika masih diam tak bergeming
“Chika, Mommy belum selesai bicara!”hardik wulan tidak terima” Bisa gak sih kamu sedikit saja … bersikap sopan terhadap orang tua kamu sendiri?” Wulan memenjara erat pergelangan putrinya, menatap tajam kedalam bola mata yang tak kalah dingin darinya.
“Egh, lepasin” Chika berontak dari kungkungan cengkraman Wulan. Di usap-usapnya bekas cengkraman wulan yang menyisakan warna merah. “Mommy kalo mau ceramah noh, di Mesjid atau di Pesantren, bukan sama Chika! Kepala Chika lagi pusing.”
“Chika! Kamu udah berani ya sama mom--”
“Kenapa mom?”potong Chika cepat mengabaikan bola mata Wulan yang membesar. “Salah yang Chika ngomong barusan? Mommy malu punya anak seperti Chika yang kerjaannya tiap hari cuma mempermalukan reputasi keluarga Pratama, iya begitu?” tanya Chika tersenyum sinis namun lirih, jemarinya gemetar tepat menghujam dadanya sendiri. Entah sejak kapan matanya yang tajam berubah menjadi terluka terhalang air mata.
__ADS_1
“Mom, Chika seperti ini juga karena Mom sama Papi! Kalian tidak pernah sekalipun mengerti perasaan Chika. Udah sebesar ini Chika tidak pernah benar-benar merasakan punya seorang ibu dan ayah!”suara Chika mulai bergetar menahan tangis sebenarnya ia terlalu gentar mengeluarkan kalimat ini yang selama ini hanya terpasung dalam hatinya saja.
“Jaga omonganmu!”Wulan menunjuk Chika dengan geram.”Semakin hari, mulutmu semakin kurang ajar saja.” Tudingan wulan membuat Chika terkekeh penuh ejekan
“Memang. Aku memang kurang ajar! Karena kalian terlalu sibuk dengan Dunia kalian sendiri, sehingga aku luput dari ajaran kalian, enggak deh, kalian memang mengajari aku, cara untuk tidak menghormati orang tua!” ejeknya dalam balutan senyuman yang kian meremehkan. Ejekan yang seolah memantik api didalam sekam didadanya Wulan.
“Apa mau kamu sebenarnya? Dari tadi kok ngelindur aja!”Wajahnya wulan mengeras dengan bola mata berotasi
“Mau aku,” Chika tertawa sumbang, ada kenangan air disudut matanya.”Selama ini aku mendengarkan Mommy dan papi, dan malam ini, biar giliran aku yang bicara!” Rahang Wulan mengeras, namun belum sempat lidahnya tergoyang Chika sudah lebih dulu menimpalinya.
“Mom bisa gak sih keluarga kita hidup normal seperti keluarga teman-temanku lainnya? Bisa gak sih kalian memberikan kebahagian yang utuh kepada aku?”
Kening Wulan mengerut samar dengan rahang yang tambah mengeras, tangannya rasanya gatal sekali ingin menampar putrinya, karena telah berani sekali menceramahi nya.“Jangan buat Mommy gagal paham deh. Kehidupan normal apa? Kebahagian apa? Yang 18 tahun kami berikan selama ini untuk kamu apa? Kamu kira tahi kucing? Dedaunan? Diluar sana, Mommy sama Papi bukan berleha-leha! Tapi banting tulang untuk bisa mencukupi segala kebutuhanmu. Jadi kebahagian apa lagi yang kamu maksud hah?” Jawaban sekaligus pertanyaan Wulan membuat Chika mengeja tawa mencemooh. Disekanya air matanya yang mulai membasahi pipi.
“Itu yang Mommy bilang kebahagian? MATERI?” Tawa mengecek Chika yang terdengar sumbang semakin menggelegar. “So, tidak salah kalo Chika jadi liar seperti ini, karena semuanya kalian artikan dengan uang.”Chika menelan ludah
“Mom”Chika mendesis pedih dengan bola mata yang semakin memburam oleh air matanya sendiri
“Aku ini manusia bukan binatang! Bahkan binatang saja, bukan hanya membutuhkan makanan namun juga membutuhkan kasih sayang. Orang tua yang dapat melindungi mereka dari serangan musuh, apalagi aku!”Chika mengulas senyuman pilu, kembali menyeka air matanya yang tanpa dikomando terus saja turun membasahi pipi.
“Aku, Enggak butuh kalian hujani dengan materi. Makan enak, bermobil mewah, pakaian dan semuanya serba mewah!”ruangnya kalut.
”Aku, Enggak butuh itu semua!”dia Menggeleng lirih.”Yang aku butuhkan itu kalian, kasih sayang Mommy, Papi, Quality time keluarga kita yang nyaris enggak pernah aku rasakan, itu semua yang aku butuh!”Wulan menghela nafas dalam, semua pernyataan Chika menghantam dadanya.
“Terkadang aku sampai mikir, Mom. Apa cuma aku yang rindu kalian sendirian? Apa cuma aku yang kegirangan disaat kalian pulang? Sementara kalian enggak kayak gitu, karena disaat disini pun kalian disibukkan dengan berkas-berkas. Mommy tahu, disaat salah satu dari kalian pulang, aku menunggu dekapan hangat kalian. Aku menunggu, Mom or Papi, menanyakan bagaimana kabar aku selama disini tanpa hadirnya kalian, aku tunggu, Mom. Tapi apa? Enggak Mommy, enggak Papi. Sama-sama tidak punya inisiatif untuk itu semua”Chika tertawa lirih. Menyusut ingus.
“Bahkan disaat berjauhan, sekadar telpon menanya kabar, udah makan apa belum, lagi apa aku disini, aku bergaul dengan siapa aja itu pun enggak. Sekalinya telpon, ngomel. Sekalinya telpon, ceramah panjang lebar. Kayaknya aku emang anak yang enggak kalian harapkan.”Chika mendesah diantara sedu sedannya.” Kalian Cuma mau didengar tapi enggak pernah mau mendengar. Padahal aku ingin sekali menceritakan tentang banyak hal. Hmmm … perasaanku sebagai anak ternyata Cuma bertepuk sebelah tangan.”Lagi, Chika tersenyum pedih.”Jadi, jangan salahkan aku, jika aku mencari kebahagian dengan cara aku sendiri diluar sana, terserah itu mau benar atau salah, karena hanya dengan cara itu aku masih bisa hidup. Aku kesepian di dalam istana ini … jika kalian ingin tahu.” Tutup Chika segera berjalan meninggalkan Wulan terpekur dalam kebisuannya. Merenungi dimana letak kesalahannya selama 18 tahun belakangan ini.
__ADS_1
Chika benar, selama 18 tahun ini. Ia dan suaminya memang sibuk bekerja dengan pindah dari satu kota ke kota lainnya, meskipun selama sepuluh tahun Chika pernah hidup bersamanya. Masa kanak-kanaknya lebih banyak dihabiskan dengan Baby Sitter , dibandingkan dengan dirinya yang notabene ibu kandungnya sendiri.