MAHKOTA CINTA

MAHKOTA CINTA
Bab 7. Kevin dan Mila


__ADS_3

Hamburan warna jingga sudah menghilang di kaki langit bergantikan hitam yang merajainya. Semua warna berubah hitam bahkan rembulan yang mengambang diantara awan-awan hitam yang berarak muram tersebut tidak lagi nampak seutuhnya. Dan seminggu lagi Ramadhan akan menjemputnya, bulan suci yang akan menyelinapkan kedamaian kedalam hati manusia-manusia yang beriman kepada-Nya, Tuhan semesta alam.


Lenggang. Kesunyian menggantungi langi-langit ruang makan keluarga Akbar, yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu yang bertemu piring persolen. Memang seperti itu suasana setiap makan keluarga Akbar. Etika makan.


“Permisi, Non Sica!”


Makan malam keluarga Akbar terganggu oleh suara wanita paruh baya yang mengenakan gamis dengan kerudung lebar yang menjuntai sampai perut.


“Iya, Bik. Kenapa?” tanya Mila menumpukan perhatiannya terhadap wanita tersebut.


“Ada tamu diluar ….”


“Siapa bik?”


“Bibik enggak tau Non, orangnya belum pernah kerumah … tamunya laki-laki mungkin teman kuliah non.”


Lenggang sejenak, perasaan ganjil kembali bergelantungan disetiap sudut ruangan saling menatap penuh tanya satu sama lainnya karena merasa rumah keluarga Akbar jarang sekali didatangi tamu laki-laki, terlebih malam-malam apalagi yang berhubungan dengan putrinya Jessica Mila


“Suruh masuk aja bik tamunya!” Yogi yang duduk bersisian dengan Mila menyeru


“Iya suruh masuk aja bik”Ida ikut menimpali, meletakkan sendoknya diatas piring yang isinya belum tandas.


“Jangan dulu Bik … biar Sica lihat sendiri dulu siapa tamunya.”Mila kembali menimpali, ada keraguan tercetak diwajahnya—takut yang datang … orang itu, jika iya, dia harus menyelesaikan apa yang sedang berantakan terlebih dulu sebelum lelaki itu masuk kedalam. Bertemu keluarganya.


“Ya udah, terserah Sica aja,”ujar Ida mengembang senyum hangat diwajah teduhnya. Semetara Si Bibik hanya mengangguk.


Denting suara sendok terdengar pelan“Tapi ganti dulu pakaiannya yang lebih sopan karena tamunya laki-laki!”Yogi kembali menyambar kendati melihat adiknya hanya mengenakan kaos lengan pendek. Sementara Rohman tidak berkementar apa-apa, pria itu kembali melanjutkan menyantap makan malamnya.


“Iya kak.”Mila mengulas senyum, tanpa babibu lagi Mila langsung membawa langkah menuju kamarnya yang berada di lantai yang sama dengan ruangan yang baru saja ditinggalkan.


Sementara diluar, Tamu yang dimaksud adalah Kevin sedang duduk di kursi jati bertemankan gelisah. Memeluk sebuket mawar merah untuk permintaan maaf atas sebuah kesalahan besarnya yang mungkin tak layak mendapatkan Maaf dari kekasihnya.


“huhhhhh”Ia menghela panjang sekedar mengusir kegelisahannya.

__ADS_1


“Ehemmmm” Suara deheman dari arah pintu mengagetkan Kevin, lelaki itu menoleh dengan senyuman yang terlihat kaku.


“Ma-lam, Mila”sapanya lebih dulu—menelan ludah, jantungnya semakin bergetar, ia juga ikut bergetar terlebih menemukan wajah tak bersahabat milik kekasihnya.


“Ada perlu apa kamu kemari malam-malam?”tanya Mila sambil menatap sinis Kevin yang masih terlihat gagu.


“Aku mau minta maaf lagi … dan lagi sama kamu! Sampai kamu mau menerima maaf sekaligus aku kembali, aku enggak bisa tanpa kamu Yank ….”


“Jangan panggil gue Yank …,”Mila mendesis kasar. “Yank-lo bukan gue, tapi lon** sialan itu!”tandasnya cepat dengan menaik-kan tunjuk ke semberang arah. Ia meringis


“Dan sayang gue ke lo juga sudah terhisab habis Vin. Di detik gue tahu … lo tlah merusak kepercayaan yang gue berikan!”pekikan Mila lepas. Kevin terdiam ditempat bersama helaan nafas yang terdengar berat, ada yang berdebam di jantungnya, dan rasanya sakit sekali mendengar pernyataan Mila, terlebih aku- kamu sudah berganti menjadi lo-gue.


“Aku tau aku salah … bahkan kesalahanku sudah tak pantas dimaafkan, aku menodai hubungan kita dengan perselingkuhan.”Kevin mendesah menghela nafas berat untuk kesekian kalinya


“Tapi takbisakah kamu memberikan kesempatan yang kedua untukku?”lanjutnya dengan nada berat, bola matanya menyiratkan ketulusan”Aku janji enggak bakal ngecewain kamu lagi.”


“Sudah terlambat Vin … amat terlambat” Mila mendengung.” Rasa sakit yang elo toreh…telah mengakar …bahkan, sampai menutup pintu hati gue.” Mila menekan dadanya, suaranya yang nyaring berubah serak. Hati Kevin yang sesak makin terasa tercengkram melihat perempuan yang teramat penting dihatinya menyimpul senyuman kesakitan disudut bibirnya. Terluka oleh ulahnya.


“Sakit banget ketika gue tau, lo telah menghancurkan harapan-harapan indah yang telah gue rajut dengan begitu sempurna.” Mila menunduk sejenak menghela nafas yang terasa begitu menyesak-kan dada, juga berusaha menekan badai yang berontak dihatinya”Lo telah ngehancurin semua mimpi gue untuk bisa hidup dengan lo sampai menua bersama bahkan … Until Jannah.” Setetes air mata jatuh membasahi pipi. Sekelebat, ingatan buruk tentang video laknatullah Kevin dengan Chika kembali menghampirinya. Masih terekam dengan jelas dalam ingatannya bagaimana keduanya menyakitinya dengan begitu kejam.


“Aku benar-benar baru menyadarinya jika tanpa kamu … ada sesuatu yang hilang dalam diriku!” tangis Kevin meleleh disudut matanya dan dia terkekeh diantara linangan tersebut”Aku bingung harus melakukan apa! Dua hari ini semuanya berantakan. So, please …please. Aku mohon berikan aku sekali lagi ruang gerak untuk bernafas.”


Gelengan Mila membuat Kevin menahan nafasnya dengan ekspresi penuh luka. Gadis itu sebenarnya bukan tidak memaafkan, namun ia ingin menguji seberapa gigihnya Kevin berusaha untuk mendapat maafnya kembali.


Kevin memejamkan mata lama sembari menarik nafas sebanyak yang ia bisa. Dia yang telah menghancurkan semuanya, mau tidak mau harus mampu mengikhlaskan kisah cintanya berakhir sampai disini. Pembicaraan ini sudah cukup, semuanya sudah selesai. Bukan ia terlalu pengecut untuk berusaha lebih gigih lagi untuk mendapatkan Mila, namun fikirnya mungkin inilah yang di inginkan oleh gadis yang ia cintai, untuk apa mengusahakan sesuatu pada orang yang tidak mau di usaha, bukankah mempertahan orang yang tidak mau dipertahankan adalah tindakan sia-sia?


”Ya udah, gak papa … kalo udah gak bisa. ”Senyumnya pilu, disekanya air matanya sendiri. “Aku pulang ya, kamu jaga diri baik-baik,”lanjutnya lengkap dengan lengkungan pesakitan, kakinya yang bergetar dia paksa untuk mundur dan berbalik sembari mendesis Good Bye May Heart. Ia begitu menyesali perbuatannya, tapi apalah arti sesal dikemudian. Semua sudah amat terlambat untuknya.


Mila tersenyum lirih dan matanya juga bertambah perih, kecewa dengan Kevin yang usahanya hanya segitu aja, ia menggigit bibirnya memaksa air matanya supaya tidak menumpah ruah lebih banyak lagi. Ia ingin Kevin berbalik dan mencoba peruntungan lagi, namun langkah lelaki itu semakin membuat jarak diantara mereka. Fikirnya jika ia tidak memulai mungkin ia tak akan pernah lagi bisa bersama dengan lelaki itu, ia akan kehilangan Kevin selama-lamanya. Dan sumpah ia tidak sanggup.


Ia benci … benci sekali dengan perasaannya yang teramat besar terhadap lelaki itu mampu membuatnya luluh terlalu cepat, dan mematahkan gengsinya sebagai seorang perempuan. Bibirnya tergerak terbuka tapi terpaksa ter-urungkan karena lelaki itu lebih dulu menoleh atasnya.


“O, ya. Maaf tadi aku lupa kasih ini buat kamu.” Kevin menyodorkan buket bunga tersebut kearah Mila dengan tatapan yang terlihat Asing dimata Mila. Ia tak menemukan lagi binar keinginan untuk mendapatkannya lagi di kornea beriris hitam itu

__ADS_1


“Diterima ya! Nantinya terserah kamu deh mau kamu buang ke tong sampah atau kamu apa-kan ….”Kalimat Kevin barusan juga terdengar asing bahkan mencubit hatinya hingga terasa sakit. Gadis itu ragu-ragu ingin membuka mulut seragunya menerima bunga tersebut. Ia gusar antara ingin menyampaikan keinginan-nya atau tidak. Terdengar desahan frustasi dari celah bibirnya. Haruskah ia … ?


“Ya udah, kalo memang enggak mau … tong sampahnya mana biar aku aja yang—“


“Apa lo masih bisa kupercaya?”Mila memotong cepat, tercekat namun sempurna membuka selubung pertahanan gengsinya, suaranya bergetar. Kevin melipat dahi, membeku. Ia butuh waktu sejenak untuk mencerna maksud dari kalimat Mila.


“Kenapa Lihat aku segitunya? Kamu Masih enggak bisa dipercaya?” Gadis itu mencebik


“’Kamu?’” balas Kevin masih dengan alis mengawang namun ada senyum jahil disudut bibirnya, nafas leganya terdengar samar.


“Jangan ngeselin deh!”Mila kembali mencebik, mendekat untuk memukul pelan bahu Kevin, lelaki itu menangkap tangan Mila, digenggamnya lembut


“Itu artinya kamu ngasih aku kesempatan kan?”Mila berdecak dengan bola mata ikut berotasi.


“Menurut lo aja deh!”


“Kok lo lagi sih?” Kevin tersenyum jahil, ada sejuta kelegaan menyusup hatinya. Ia bahagia, Mila-nya kembali. “Nggak jelas banget … planplin.”


“Plinplan!” Mila memperbaiki. Mendengus. Bibir Kevin menyengir, virus cengiran memular ke gadis itu karena tanpa sadar kedua sudut bibirnya ikut terangkat, rasa bencinya terhadap Kevin entah menguap kemana, tak ia temukan lagi dihatinya.


Genggamannya Kevin tambah mengerat.. D itatapnya Mila dengan wajah yang serius begitu cengirannya mengering “Makasih ya atas kesempatannya?”Kevin menyelipkan sejumput rambut kebelakang telinga Mila dengan jemari kanannya, sedangkan tangan kirinya masih tak kunjung melepaskan tangan gadis itu. “Makasih juga udah mau memaafkan aku”.Sebuah dekapan hangat memerangkap tubuh Mila. Ada rasa sayang, kelegaan dan juga rasa sakit yang mendominasi menjadi satu mengungkungnya.


“Ta-pi kamu harus janji! Jangan pernah mengulangi nya lagi. Hati aku sakit banget kamu—“ Mila tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.


Emosi luar biasa yang tak mampu ia tampung sendiri akhirnya meledak, membuat air matanya menumpah ruah, tak peduli jika jaket yang membaluti tubuh Kevin basah. Kevin mengurai pelukan, tatapan keduanya bertemu di udara. Mata beriris hitamnya mengunci mata penuh luka milik kekasihnya. Sebuah sapuan lembut dari jemarinya menghapus lelehan air mata yang mengalir deras tersebut. Ia mengangguk bersama rasa getir yang sulit ia tutupi karena sesal yang luar biasa menumbuk hatinya.


“Maafkan aku, La. Hanya demi menuntaskan nafsu bejat yang belum halal untuk-ku, aku sampai melukai hati kamu segini parahnya”Kevin berdecak. Setetes air mata ikut lolos dari sudut matanya”Andai waktu bisa aku putar mundur untuk mencegah kelakuan bejatku hanya agar aku tak menyakitimu … sumpah aku akan melakukannya! Tapi semua tlah terjadi La … yang bisa aku lakukan sekarang hanya meminta maaf untuk kesekian kalinya sama kamu dan juga berusaha menjadi sosok yang bisa mengembalikan kepercayaan kamu.”Kevin kembali berdecak untuk menetralkan sesak di dadanya”Aku memang pernah menyakitimu, tapi pernyataan cintaku padamu bukan sekedar guyonan saja. Demi Tuhan, aku tulus dan juga serius, La. Aku sungguh-sungguh ingin memperistrimu jika memang sudah tiba waktunya.” Kevin menghujaninya dengan tatapan yang teramat serius yang membuat dada Mila berdesir-desir” Saat ini, yang aku butuh hanya kesabaranmu sampai aku bisa membuktikan itu semua … aku bisa menjadi yang pantas untukmu.”Mila mengangguk perlahan dan berusaha mempercayai sekali lagi ucapan lelaki dihadapannya. Senyum lega terkulum dari bibir merah milik Kevin, lelaki itu kembali memerangkap-nya kedalam dekapan yang terasa begitu hangat dan nyaman, Mila merasa Kevin adalah pelabuhan cinta terakhirnya yang tepat.


“Aku punya persyaratan lainnya untukmu!”


“Sebutkan?”


“Hentikan kebiasan kamu ke club dan terutama Alkohol!”

__ADS_1


“Okey, itu mudah bagiku karenaku bukan pecandu.”jawabnya terkekeh dibalik dekapannya.


Terlalu mudah untuk keduanya berbaikan, seakan perselingkuhan yang dilakukan Kevin bukanlah sebuah kesalahan terlalu fatal bagi Mila, Cinta terkadang memang seaneh itu mampu memaafkan sebesar apapun kesalahan. Setelah menyudahi drama tersebut keduanya kembali melanjutkan obrolannya didalam bertemankan kedua orang tua Mila yang telah selesai makan, sementara Yogi tak sempat melihat Kevin karena ia sudah terlanjur menghilang kekamar, dan Mila harus berusaha ekstra untuk menggapai hati kakaknya supaya menerima Kevin kedalam hidupnya dan menyuruh kakaknya itu menutup mulut tentang kelakuan Kevin sebelumnya.


__ADS_2