Maling Tampan

Maling Tampan
Maling tampan


__ADS_3

...β—Žβ—ŽπŸ’°β—Žβ—Ž...


Suara kentongan begitu nyaring terdengar hingga ke dalam kamar Dhara. Gadis manis berambut coklat panjang itu beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka tirai jendela dan melihat keributan di depan rumahnya sendiri.


Biasanya bila sebuah kentongan dipukul berarti ada pencuri yang sedang berkeliaran di komplek.


Dhara menepuk jidatnya. "astaga." ia lupa untuk mengunci pintu.


Bagaimana jika pencuri itu masuk kerumahnya. Sedangkan dirumahnya tidak ada siapa-siapa selain ia sendiri. Karena mamah dan papahnya memang jarang pulang lantaran pekerjaan mereka yang tak pernah ada liburnya.


gadis itu berlari keluar dari kamar. Ia dengan cepat menuruni anak tangga. Namun belum sampai ke lantai bawah, gadis itu membulatkan matanya lebar. Ia melihat pintu depan yang sedikit terbuka menampakkan sedikit cahaya lampu yang menyorot dari luar. akhirnya ia kembali kekamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.


"Astaga.. Gimana nih?" Dhara panik. "Pasti ada orang yang masuk rumah!!"


Ia merutuki dirinya yang kebiasaan lupa mengunci pintu.


Saat panik, ia membuka lagi tirai jendela kamarnya. Ia ingin memanggil seseorang yang ada diluar untuk meminta pertolongan. Namun saat ia membuka jendela, sudah tidak ada seorang pun disana.


Pyarrrrttrrrr!!


Terdengar suara benda jatuh dilantai bawah. suara itu membuat Dhara makin panik. Suaranya seperti vas bunga yang pecah ke lantai.


Ia mondar-mandir sambil menggigiti ibu jarinya. Pandangannya menilik ke segala isi kamar. Ia mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri.


Tak lama, ada suara seseorang yang mendobrak pintu kamarnya. Pintu itu bergetar kala suaranya makin keras.


Detak jantung Dhara semakin cepat. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan diri?


Bagaimana jika pencuri itu malah menculiknya dan mengambil organnya untuk dijual seperti berita-berita di TV yang sedang viral sekarang. Sangat mengerikan!


Gadis itu mengarahkan pandangannya pada jendela. Ia punya sebuah ide. Tapi.."gak! Kalo lo lompat lo bisa mati Ra!" Ia menggeleng kepalanya saat sadar kalau idenya sungguh gila. Ia akan penyek bila terjun dari lantai tiga kamarnya ini.


Tapi nasibnya bisa lebih mengenaskan bila ia diculik dan organ tubuhnya diambil. Mamah dan papah pasti sedih bila ia mati sekarang. Ia juga belum membahagiakan mereka. Ia belum siap mati sekarang.


"Tuhan.. Dhara gamau mati dulu hiks." Gadis itu menangis sesegukan.


Sambil panik, ia membuka handphonenya menelfon sahabatnya berkali-kali tapi nihil, sahabatnya tak mengangkat telfon darinya.


Duakk!!


Dhara membulatkan matanya.


Pintu kamarnya terbuka dan terbanting ke tembok . Menampakkan sosok laki-laki tinggi berhoodie hitam. Kepalanya ditutupi topi hitam dan wajahnya berbalut masker hitam. Tangan laki-laki itu memegang sebuah pisau dapur kecil dan pentungan. Jantung Dhara berdetak tak karuan. Reflek ia membuka jendela dan melompat dari sana.

__ADS_1


Mata pencuri itu terbelalak melihat aksi sang penghuni rumah yang sangat nekat. Ia melempar sembarang barang bawaannya lalu segera berlari ke arah gadis itu dan meraih tubuh mungilnya yang hampir terjun bebas.


Laki-laki itu menghembuskan nafas kasar."Lo gila?"


Dhara menangis sesegukan. Nafas dan detak jantungnya tak beraturan. "Takuut! Jangan bunuh gue! Jangan ambil organ gue!! Nanti papah sama mamah bakal sedih.. " Lirihnya.


Pencuri itu membuka topinya dan masker yang menutupi wajahnya. Ia menyeka keringatnya dengan lengan bajunya sendiri. "Hampir aja lo bikin gue jantungan. Nih denger! Gue gak bakal bunuh orang apalagi ngambil organ tubuh orang. Yang gue mau cuma duitt!" Pencuri itu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Dhara.


gadis itu berhenti menangis. Ia menunduk tak mau melihat wajah pencuri dihadapannya. "Kamu.. Kamu gak bakal bunuh Dhara?"


"Ya enggak lah! Bunuh orang kan dosa!"


"Terus piso sama pentungan itu buat apa?"


"Buat nakutin orang doang biar mau ngasih duitnya ke gue."


Dhara mengangguk. Kini ia lega kalau ia tidak jadi mati. Gadis itupun memberanikan dirinya melihat sosok pencuri di hadapannya.


Terdengar suara laki-laki ini seperti orang yang seumuran dengannya. Apa memang malingnya masih remaja?


Ia menengadah keatas untuk melihat laki-laki berpakaian serba hitam dihadapannya. Saat ia melihat wajahnya, ternyata benar pencuri ini seumur dengannya. Wajahnya pun begitu...tampan. Laki-laki itu memiliki mata tajam, kulitnya terlihat putih. Meski lampu di kamarnya redup tapi cahaya bulan menyoroti laki-laki itu. Rambutnya agak acak-acakan namun terlihat manis dan cocok.


"Kenapa? Gue serem?" Ujarnya kala gadis itu memperhatikannya dengan serius."Mana duit?" Ia menyodorkan tangannya kehadapan gadis mungil yang ia selamatkan dari ajalnya.


Pencuri itu membelalakkan matanya. Ia meraih cepat benda itu. "Cukup." Ujarnya. Pencuri itu mengambil barang-barangnya dari lantai dan beranjak pergi. "Makasih!" Ucapnya pada gadis yang masih memperhatikannya sambil terduduk dilantai.


Dhara tersenyum tipis, "kalo kurang besok balik lagi ya!" Serunya.


Pencuri yang hendak menutup pintu kamar Dhara tertawa renyah memamerkan rahangnya yang begitu gagah."hahaha cewe aneh!"Β  Ujarnya sebelum menutup pintu kamar gadis itu.


Cklckk.


Pintu tertutup.


"Gila!!! Maling kok Ganteng banget busett.. Kalo gini sih gue sanggup kalo hati gue mau dia curi. " Dhara berjingkrak-jingkrak diatas kasur. Kemudian ia bergegas keluar rumah untuk melihat pencuri itu pergi meninggalkan rumahnya. Ia melihat laki-laki tampan tadi berjalan santai di jalanan komplek sambil memainkan kartu kredit yang ia berikan tadi.


"Besok kesini lagi ya!" Bisiknya lalu tertawa kecil sambil menutup pintu rumah. Kali ini Dhara tak lupa untuk mengunci pintunya.


...β—Žβ—ŽπŸ’°β—Žβ—Ž...


paginya disekolah, Dhara menceritakan kejadian semalam pada kedua sahabatnya. Namun kedua sahabatnya malah tertawa terbahak-bahak. Mereka tak percaya dengan hal yang diceritakan gadis mungil berambut coklat itu.


"Serius guys, gue gak mimpi." Terang Dhara meyakinkan kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Mana ada sayangkuu..maling yang mukanya tampan. Maling itu biasanya serem." Ujar Naura salah sahabatnya yang tak habis pikir dengan cerita konyol Dhara.


"Cerita lo cocoknya dijadiin cerpen anak-anak gak sih?" cemooh Sonya.


Dhara menggembungkan pipinya. "Makanya kalo gue nelfon angkat!"


Naura menghembuskan nafas pelan. "Lo nelfon pas pukul dini hari banget. Lo kan tau kita si paling tidur awal."


Gadis itu mengerutkan dahinya. Ia kesal sekarang dengan kedua sahabatnya.


"Waduh ngambek. Hahaha!" Sonya tertawa renyah melihat wajah kesal DharaΒ  yang lucu.


"Malem ini kalian harus nginep dirumah gue! Gue bakal tunjukin kalo maling itu beneran ganteng banget. Soalnya gue udah bilang sama dia buat maling lagi dirumah gue."


"Oke, siapa takut! Nanti kalo malingnya dateng dan ternyata mukanya serem, besoknya lo harus teraktir gue dimsum kantin!" Tantang Naura.


"Boleh!!" Jawab Dhara tak mau kalah.


"Oke! Sekarang makan siang dulu! Laper." Ajak Naura.


Pada akhirnya sahabatnya tak pernah percaya. Sama seperti kemarin.


Kemarin ia bercerita tentang dirinya yang ditembak oleh sang ketos. Namun sahabatnya tidak percaya juga. Mungkin memang karena sikap ketos yang dingin dan tak memperlihatkan rasa sukanya pada Dhara ketika disekolah, jadi mereka tak mempercayai gadis ini.


Akhirnya ketiganya setuju untuk makan siang. Mereka memesan menu yang sama yaitu ayam geprek dan es teh seperti biasanya.


Setelah pesanan datang ketiganya makan.


Sambil asyik makan, sonya bersuara."Tadi gue liat ada cowok ganteng masuk ke ruang guru."


Kedua sahabatnya menghentikan aktivitas makan mereka.


"Dia bukan anak sekolah sini. Gue ngeliat mukanya juga asing. Tapi dia ganteng terus keliatan kayak cowok nerd gitu soalnya pake kacamata. Dia kayaknya mau pindah kesekolah ini." Sambung Sonya lalu ia melanjutkan makan.


"Wah pasti bakal saingan nih sama ketos." Naura berseru.


Sedangkan Dhara melanjutkan makannya tanpa memberi respon.Ia tidak begitu tertarik dengan murid baru.


"Nanti malem pokoknya kalian nginep di rumah gue!" Dhara mengingatkan kembali kepada sahabatnya.


"Iyah sayangg." balas kedua sahabatnya dengan kompak.


"Siap-siap traktirannya ya Hahaha.."

__ADS_1


...β—Žβ—ŽπŸ’°β—Žβ—Ž...


__ADS_2