
...◎◎💰◎◎...
Tiba dikelas banyak pasang mata yang menghunuskan tatapan tajam pada Naura. Namun Naura dengan tenang mengabaikan mereka. Tapi tidak dengan para sahabatnya yang risih akan hal ini.
"Jahat banget si Naura"
"Gue baru tau dia orangnya kayak gitu"
"sama gue juga. Gue kira dia sama geng-nya itu alim, ternyata enggak anjir!"
"jangan-jangan Dhara sama Sonya juga diem-diem tukang bully lagi?"
Dhara meremas roknya. Ia kesal mendengar desas-desus para manusia yang sok tau.
Manusia memang memiliki sifat yang beda-beda, ada yang mudah sekali mengklaim buruk seseorang padahal nyatanya mereka salah menilai. Dan penilaian mereka yang terlalu terburu-buru itu bisa menimbulkan kesalahpahaman. Itulah mengapa pentingnya berfikir dahulu sebelum berbicara.
"Lo ngapa-ngapain Fara kan tadi?" Tanya Dhara serius.
Naura menggeleng cepat sambil memasukkan dimsum ke mulutnya.
"Jawab Dhara noh! elah gue ambil makanannya nih!" Sonya merebut sekotak dimsum berlumuran saus itu lalu menyembunyikannya dibalik tubuhnya.
"Jangan gitu Onya! Gue laper." Gadis itu berusaha mengambil kembali sarapannya dari tangan Sonya. Tapi gadis berambut pendek ini mengangkat kotaknya tinggi-tinggi sambil memperlihatkan wajah konyol pada Naura.
Naura dibuat jengkel, ia memilih duduk sok tenang di kursi. Padahal batinnya berteriak kesal. Bisa saja ia mencabik-cabik wajah konyol Sonya saat ini. Sayangnya Sonya adalah sahabatnya.
Dhara menodongkan garpu yang begitu mengkilap dan tajam didepan wajah Naura."Ngaku lo! orang-orang gabakal kayak gini kalo lo ga ngelakuin apa-apa. Tadi Fara nangis terus dibawah kakinya ada bekel tumpah. Lo kan yang numpahin?"
Naura menarik nafas kasar. gadis itu mengangkat kedua tangannya. Ia menyerah. Ia juga tak ingin berbohong dari mereka. Alhasil ia menceritakan kejadian pagi tadi dan gadis setengah tomboy itu juga bilang kalau selama ia gak bersama dengan mereka, ia selalu menjahili Fara. Hanya saja baru kali ini ia menjahili si centil itu disekolah. Alhasil aksinya membuat orang-orang disekolah menatapnya dengan tatapan sinis. Maklum saja Fara kan si paling pintar dan juga seorang primadona. Banyak orang yang mengaguminya disekolah ini.
"Gue kan udah bilang sama lo, jangan suka.. -"
"Ikut campur urusan orang?"
"Pinter! Itu tau?" Sambung Dhara.
Naura menghembuskan nafas. "Gimana ya? Gue sih ngerasa risih aja kalo jadi Bagas. Jadi ya..sekali-kali gue bantu dia buat melarikan diri dari cewek itu." Terang Naura.
"Iya sih, tapi kan kelakuan lo yang kelewatan tadi bikin lo jadi sorotan orang-orang sekarang. Lo bantu orang lain buat keluar dari ketidaknyamanannya. Tapi lo sendiri yang jadi gak nyaman sekarang."
Naura mengerjapkan matanya. Ucapan Dhara ada benarnya. Tapi entah perasaan apa yang ia rasakan tiap kali melihat Bagas di ganggu Fara itu membuatnya selalu ingin membantu laki-laki itu lepas dari gangguan adiknya Ciko. Niatnya dari awal memang cuma untuk membantu Bagas dan disisi lain juga ia membenci sikap Fara yang begitu terobsesi dengan sosok Bagas.
Gadis itu merebut paksa kembali dimsum dari tangan Sonya. Mulutnya mengunyah sambil fikirannya merenungkan tingkah jahatnya selama ini terhadap Fara. Apa ia sekarang sudah jadi seorang pembully? Ah gak mungkin. Justru ia dapat pahala karena membantu ketos. Tapi sekarang orang-orang sedang membicarakannya karena telah berlaku kasar pada sang primadona sekolah. Sebentar lagi pasti rumor buruk tentang dirinya akan menyebar seantero SMATRI.
Dhara dan Sonya saling adu pandang saat melihat satu sahabat mereka yang tiba-tiba bengong sambil makan. Mereka menghela nafas. Semoga setelah ini tak ada kejadian lagi yang membuat mereka bertiga jadi bahan gosip siswa-siswi disekolah. Semoga kasus ini cepat meredam dan mereka bisa beraktivitas disekolah dengan tenang seperti biasanya.
...◎◎💰◎◎...
__ADS_1
Kelas yang bising seperti pasar tiba-tiba hening. Dhara dan Sonya bergegas meninggalkan Naura. Mereka duduk di kursi mereka masing-masing.
Seorang wanita berparas ayu dengan setelan batik yang diketahui bernama Lia datang bersama seorang laki-laki tampan disampingnya.
Gemuruh suara cewek-cewek dikelas memujinya sangat tampan.
"Aww siapa itu bu?? Ganteng amat!" Teriak seorang perempuan yang duduk dibarisan paling depan.
"Buset! Ngalahin mas Bagas gak sih?"
"sopo lagi iki? wis cukup si Bagas yang jadi saingan aku! Ora sudi ada laki-laki lain yang jadi saingan aku disekolah iki!"
"Ganteng banget"
"Sutt! Ra, dia yang kemarin gue liat masuk ke ruang guru! Bener kan dia anak baru." Seru Sonya pada Dhara.
Ia mengabaikan Sonya. mata gadis itu terbelalak. Ia juga menutup mulutnya dengan tangan seperti orang kaget saat melihat anak baru itu.
"Lo kenal dia?"
Dhara menggeleng. Sonya jadi bingung dengan sikap aneh Dhara.
Kelas begitu berisik. Bu Lia yang sedang menaruh absen dimeja segera menenangkan murid-muridnya. "Pagi anak-anak ibu!!"
"Pagi buu!!" Jawab serentak murid-murid dikelas.
"Jadi, disamping ibu ini adalah teman baru kalian."
"bener kan kata gue"
"beruntung banget sih ada cowok cakep dikelas ini"
"Oalah yasudah silahkan perkenalkan diri kamu! Teman-teman barumu pada udah gak sabar pengen kenalan." ujar bu Lia.
Laki-laki berpostur tinggi itu maju selangkah kedepan. Ia menaruh kedua lengannya didalam saku celana. "Nama saya Varen Kastara. Panggil saya Varen! Alasan saya pindah ke SMATRI karena pekerjaan orang tua saya yang dipindahkan dekat dengan sekolah ini."
.
"MALIING!!"
.
Seluruh pasang mata melirik kearah Dhara.
Dhara meremas roknya. Ia jadi salah tingkah saat seluruh pasang mata dikelas menatapnya aneh. Gawat dia keceplosan.
"Ada apa Dhara?" Tanya bu Lia yang kebingungan karena Dhara tiba-tiba berteriak 'maling'.
__ADS_1
Dhara dengan cepat menunjuk Sonya yang duduk didepannya. "Dia maling pulpen saya bu!"
Sonya melotot horor kala dituduh tiba-tiba oleh sahabatnya sendiri. "Buset! sejak kapan gue maling pulpen lu markonah? Nih liat pulpen gue mahal. Ogah banget gue maling pulpen lo yang duarebuan ini harganya."
Dhara menempelkan jari telunjuk di mulutnya, meminta Sonya agar berhenti mengoceh. Sial, dalihnya malah membuatnya makin salah tingkah.
Sumpah ia mati-matian menahan malu. Wajahnya memerah padam. Orang-orang dikelas tak ada yang mengalihkan pandangan darinya. Akhirnya karena tak kuat menahan malu ia duduk dengan tenang, ia melipat kedua lengannya dan pelan-pelan menenggelamkan wajahnya dibalik lipatan tangan.
"Ekhemm.. Saya duduk dimana bu?" Suara Varen yang terdengar maskulin memecahkan keheningan. Orang-orang akhirnya mengalihkan pandangan mereka dari Dhara.
Bu Lia mendudukkan diri dikursi. "Silahkan duduk dibelakang Dhara! Perempuan yang tadi dipojok sana."
"Lah bu, di depan saya kursinya kosong. kenapa gak disini aja?" protes cewek yang duduk dibarisan tengah.
"itu kan tempat temen kamu. Nanti pas dia masuk bingung lagi kursinya dipakai orang lain."
"y-ya gapapa bu, suruh siapa dia absen. biarin pas masuk dia duduk di belakang si Dhara."
"yasudah, terserah Varen sendiri dia mau duduk dimana."
Cewek yang berharap bisa duduk dekat lelaki itu senyum kegirangan."Varen duduk disini aja!" Serunya.
Lelaki itu melirik kearah kursi kosong yang ada dibelakang Dhara bergantian melirik cewek yang sangat berharap ia bisa duduk di depannya.
"Sorry gue lebih suka duduk dibelakang." Lelaki itu langsung melangkah menuju kursi belakang tersebut.
"Yahh..." cewek itu kecewa mendengar jawaban Varen.
"HAHAHA SUKURIN MAKANYA JANGAN KEPEDEAN!!"
"HUUUUUHHH" Teriak satu kelas menyuraki cewek malang itu.
cewek itu kesal dan mengomel sendiri.
Disisi lain Dhara jadi merinding saat mendengar langkah kaki Varen yang mendekat. Bulu kuduknya terasa meremang. 'Beneran itu dia?Maling tampan yang kala itu nyelametin nyawa gue yang hampir jatuh dari jendela kamar gue sendiri?' Batinnya.
Meski mata tajamnya di balut oleh kacamata dan rambutnya sedikit rapih, tapi ingatan Dhara tentang lelaki itu begitu kuat.
Tak lama ia mendengar suara kursi yang ditarik. Dan suara tas yang ditaruh dilantai. Bahkan suara nafas laki-laki itupun terdengar oleh telinganya. Wajahnya terasa memanas.
Ahh..rasanya ia tak memiliki keberanian untuk menunjukkan wajahnya setelah keceplosan meneriakkan 'maling' tadi. Ia berniat ingin menyembunyikan wajah dilipatkan tangannya hingga bel istirahat berbunyi.
...◎◎💰◎◎...
Bagas berdiri didepan kelasnya. Memperhatikan suasana koridor yang terlihat cukup ramai.
Bel istirahat telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Biasanya cewek-cewek yang kelaparan akan berlarian menuju kantin untuk berebut antrean makan. Tapi hari ini mereka malah mengerumuni seorang laki-laki yang katanya adalah murid baru dikelas sebelah.
__ADS_1
Ketua OSIS itu terus memperhatikan anak baru dari luar kelasnya. Ia tersenyum smirk sambil melipat kedua tangannya di dada. "Lumayan." gumamnya.
...◎◎💰◎◎...