Maling Tampan

Maling Tampan
Ancaman


__ADS_3

...◎◎💰◎◎...


"saya keluar dulu ya pak."


"Mau kemana non? ini udah jam 10 malem. Mau saya antar gak non?"


"gak perlu pak. saya cuman mau ke depan. Kalau Pak Dim anterin saya nanti yang jagain rumah siapa?"


"hehe iya juga non. yasudah non saya jagain rumah aja, tapi non hati-hati ya! kalau ada apa-apa langsung telpon saya!"


Dhara mengacungkan jempolnya pada satpam baru pilihan orangtuanya ini.


Namanya pak Dimas. beliau sudah memasuki usia 30 tahun. Sebelumnya beliau adalah seorang obe yang bekerja di perusahaan papah. Karena Pak Dimas orang yang ahli dalam beladiri dan juga sangat jujur jadi papah mengirim beliau untuk menjaganya.


Dhara berjalan kaki santai menyusuri jalanan komplek. Malam yang cukup gelap dan dingin adalah waktu favoritnya. Waktu dimana ia melepas penat setelah seharian berinteraksi dengan orang-orang. Biasanya diwaktu seperti ini ia akan pergi ke toko buku langganan yang berada tak jauh dari rumahnya.


Sambil menikmati angin malam yang membelai lembut wajahnya, pikirannya sambil mengingat kejadian pagi tadi disekolah.


"Ah malu-maluin haaa!" gerutunya kesal.


Gadis berjaket pink ini memukuli keningnya. Andai saja saat pagi tadi ia tak keceplosan. "Ah sial!"


selain memikirkan nasibnya, ia juga memikirkan masalah Naura. Sahabatnya itu sekarang pasti telah menjadi bahan gosip di grup chat cewek-cewek SMATRI. Lagi pula mengapa anak itu harus ikut campur urusan sang primadona sekolah. Ia saja yang sempat ditembak oleh Bagas beberapa hari yang lalu lebih memilih menolaknya mentah-mentah ketimbang harus bersaing dengan seorang Fara.


Ia sebenarnya memiliki sedikit rasa pada lelaki itu. Maklum Bagas itu ketua OSIS, parasnya tampan dan berwibawa. Otaknya juga cukup pintar, jadi siswi mana yang tak tertarik dengannya? Tapi meski ia sedikit menyukai lelaki itu Ia tak sanggup kalau bersaing dengan seorang Fara. Selain cantik, Fara juga sangat pintar. Sangat jauh bila dibandingkan dengannya, siswi yang langganan sekali ikut remedial.


Meskipun ia anak orang kaya, tapi ia tak pernah memanfaatkan statusnya sebagai anak dari donatur utama untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Diizinkan sekolah di SMA terfavorit dengan nilai sangat kecil saja ia sudah sangat bersyukur. Orangtuanya juga mengajarkan padanya agar ia selalu rendah hati dan saling berbagi pada orang-orang disekolah.


sampai ditempat tujuan...


saat masuk ke toko langganan nya gadis ini langsung di sapa ramah oleh seorang gadis yang seumurannya.


"Malem kak."


"malem juga Zar."


Pemilik toko buku ini namanya Zara. Usianya hanya lebih muda satu tahun dengan Dhara. namun ia harus putus sekolah dan menjadi penerus toko ini setelah ayahnya wafat.


Dhara biasanya membeli beberapa buku disini setiap akhir pekan. Selain niatnya mau membantu Zara, ia juga membeli buku disini karena buku-bukunya begitu bagus dan menarik.


"Eumm kak. Di pojok sana ada beberapa novel baru. Barangkali kakak menyukainya."


"Oke, saya liat-liat dulu ya kesana."

__ADS_1


"Iya kak silahkan!"


Dhara menyusuri bagian rak khusus novel yang ada di bagian belakang. Gadis itu melihat-lihat buku yang berjejer rapih di sana.


ia menghela nafas dan berhenti didepan sebuah rak buku. Namun matanya hanya menatap kosong kearah buku-buku disana. Berkunjung ke tempat ini nyatanya tak membuat pikirannya tenang.


"astaga.. kenapa pikiran gue dari tadi terus sibuk mikirin kejadian itu?"


Ia tak habis pikir meski ia sudah menapaki diri di tempat setenang ini otaknya masih saja ramai memikirkan kejadian yang bikin dia malu disekolah tadi.


Dhara berjalan hilir mudik menenangkan dirinya agar ia bisa melupakan hal itu. "gapapa! kejadian itu cuman angin lalu, besok juga orang-orang udah gabakal inget." gumamnya menenangkan diri sendiri.


Ya Dhara memang sangat lebay, kejadian sepele seperti itu saja masih dia pikiran.


"tunggu!" gadis itu terdiam sejenak.Ia masih sibuk bergumam pada diri sendiri.


Beruntung toko ini sangat sepi. Jadi tak ada yang menganggapnya gila sekarang.


"anak baru itu beneran dia bukan ya? tapi gak mungkin maling kepikiran buat sekolah. Tapi gue inget mukanya kayak gini--"


Dhara tersentak. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah orang tinggi yang berdiri tiba-tiba di hadapannya ini.


Ia membulatkan matanya. Dunia memang begitu sempit.


Dhara memicingkan matanya. "kok ngeselin ya?" Batinnya.


"lah malah bengong."


Gadis itu menghela nafas kasar. "Jadi bener lo maling yang ngambi black card gue?"


"ngambil? kan lo yang ngasih."


"masa? gak inget tuh!"


"berarti lo pikun. masih muda udah pikunan."


"APA??"


"Oh gak kedengeran. Berarti lo juga tuli ya?"


"Anjir cakep-cakep tapi mulutnya kayak traktor. Nyesel ngasih black card gue pas malem itu." Batinnya.


Dhara melipat kedua tangannya di dada. "Sebenarnya pas pagi gue bukannya nuduh sahabat gue ngambil pulpen... "

__ADS_1


"Terus?" Lelaki berhoodie navy itu ikut melipat kedua tangannya di dada.


"Gue sebenarnya mau teriakin lo maling." sambungnya.


Lelaki itu mengangguk. "ohh, lo mau supaya orang-orang tau gue yang selama ini maling di komplek ini gitu?"


"emang bener kan lo malingnya? meskipun lo pake kacamata. Muka lo gabakal berubah."


"Tapi kan cuman lo yang tau muka maling ini."


"Semua rumah yang ada dikomplek ini punya CCTV!" Tukasnya tajam.


"Gue selalu ngeretas CCTV di setiap rumah yang bakal gue jadiin target. Kalo gak percaya periksa CCTV lo sendiri."


'Apa benar? Apa ini adalah alasan papahnya menolak untuk melapor pada pihak yang berwajib karena tidak adanya bukti.' Batinnya.


"Gimana. Hebatkan gue? Hahaha"


Maling ini dengan bangga menyombongkan dirinya. Dhara jadi kesal. Sudah berapa banyak rumah yang ia curi harta bendanya?


"Gue bakal cari bukti buat ngungkapin identitas lo." Ujarnya serius.


"Heh? kayak sinetron aja main detektif-detektifan." Lelaki itu menaruh tangan kirinya di dagunya seperti sedang berfikir.


"Eum gimana kalau lo gak perlu capek-capek nyari bukti apalagi sampai nyebarin ke orang-orang tentang identitas gue. Kalo lo bocorin identitas gue, gue bakal..--"


Dhara menyipitkan matanya. Ia menunggu kalimat selanjutnya yang akan lelaki ini katakan.


Ia tiba-tiba mendekat. Dhara reflek langsung mundur namun tubuhnya mentok pada rak buku dibelakangnya. lelaki ini kemudian mensejajarkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis mungil ini. Baginya gadis ini mirip seperti kucing yang sedang ketakutan.


Varen tersenyum tipis."Gue bakal bunuh lo dan organ tubuh lo bakal gue jual." bisik lelaki itu.


Dhara meremas jaketnya. Hawa dingin apa yang tiba-tiba menusuk sekujur tubuhnya ini. Tulang-tulangnya terasa ngilu. Tapi disisi lain jantungnya berdetak kencang karena wajah maling tampan ini sangat dekat dekat wajahnya. Sial. Bahkan hembusan nafas lelaki ini terasa hangat membelai wajahnya.


Bila dilihat dari jarak sedekat ini wajahnya terlihat sempurna, tak ada celah sama sekali. Matanya yang tajam namun dibalut oleh kacamata. hidungnya yang mancung namun kecil. bibirnya yang sedikit tebal namun begitu terukir indah. kulit lelaki ini pula hampir seputih kulitnya. Sempurna.


Tuhan selamatkan Dhara sekarang dari ciptaanmu yang begitu sempurna ini.


...


Disisi lain, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari luar toko. meski kaca toko dipenuhi debu. Tapi siluet keduanya bisa terlihat jelas oleh orang ini.


Dia menutup kasar kaca helm yang ia kenakan dan menancap gas pergi dengan motornya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


...◎◎💰◎◎...


__ADS_2