
...◎◎💰◎◎...
Waktu istirahat sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu. Kini Dhara dan Sonya sedang duduk santai menikmati bekal mereka masing-masing di salah satu gazebo tua yang ada dibelakang perpustakaan. Tempat ini adalah tempat yang mereka pakai jika kantin telah penuh.
Suasana ditempat ini begitu sepi juga dipenuhi dengan berbagai macam bunga dan pepohonan besar yang akar-akarnya menjulur panjang. Tak ada sampah sama sekali sebab jarang terjamah oleh siswa-siswi SMATRI. Lantaran mereka terlalu mempercayai mitos tentang tempat ini yang katanya begitu angker. Tentu ketiga gadis ini tak mempercayai mitos tersebut. Mereka tak termakan oleh omong kosong yang mengada-ngada itu.
Hanya saja sekarang ini Naura tidak ikut nongkrong bersama mereka karena ada jadwal latihan di ekskul beladirinya.
"Lo masih laper ga Ra?" Tanya sonya. Gadis itu menatap sedih tiga buah onigiri yang masih tersisa di kotak makannya.
Naura menggeleng. "gue juga kenyang."
"hmm kalo ada Nau pasti dia yang ngabisin." gadis berambut pendek ini menutup kotak bekalnya sambil terus menghela nafas. "kan jadinya mubazir."
"Tenang aja. Nanti setelah Nau udahan latihan kita ke sana bawa bekel lo sekalian bawain dimsum kesukaannya." Ujar Naura.
Sonya mengangguk. "Tapi bukannya dia bilang bakal dispensasi sampe pulang sekolah?"
"Iya tapi katanya, waktu istirahat kita lima menit lagi mau habis, dia baru istirahat. Ada waktu lima menit buat kita nemuin dia nanti."
"ooh oke. Kalo gitu makanan gue gak jadi mubazir."
"hm bener, siapa lagi yang mau ngabisin kalo bukan Nau? hahaha."
"hahaha bener banget!"
Mubazir sekali bila bekal yang tak habis di buang begitu saja. Biasanya Naura yang paling siap menampung sisa bekal sahabatnya yang tak dihabiskan karena sudah kekenyangan.
Sebelum Sonya ingin menanyakan sesuatu pada sahabatnya ini. Ia membereskan terlebih dahulu bekas makannya yang berceceran di meja.
"eum Ra, mending lo cerita tentang... kapan lo ditembak? and siapa sebenarnya yang suka duluan? terus kalian jadiannya dimana?"
Sonya menagih rasa penasarannya yang menggebu-gebu sejak pagi tadi. Ia sangat ingin tahu bagaimana sahabatnya ini memulai hubungannya dengan anak baru tampan itu. Hubungannya ini terkesan sangat dadakan dan tak ada kata pedekate dulu. Ditambah, Dhara ini belum pernah pacaran sama sekali. Ia jadi sedikit terkejut mendengar pengakuannya pagi tadi.
"uhuk..uhukk.." Dhara tersendak minumannya kala mendengar pertanyaan itu untuk yang Kedu kalinya. Sebelumnya pertanyaan ini sudah ia dengar saat pagi tadi. Hanya saja waktu telah menyelamatkannya.
Ia mengerjapkan mata. "eehh.." Tangannya jadi sedikit berkeringat karena gugup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Disisi lain ia sangat takut ada yang menayangkan pertanyaan ini pada Varen sedangkan jawaban mereka nanti berbeda. Seharusnya ia berkompromi terlebih dahulu agar hal ini tak jadi sebuah kesalahan pahaman. Dan hubungan pura-pura mereka jadi dicurigai oleh orang-orang.
Sonya memegang tangan sahabatnya yang sedang melamun ini. "Ra, lo gapapa?"
Dhara terkejut. Ia tersenyum kikuk melihat tatapan aneh dari sahabatnya. "gapapa kok Nya. ehh mau gue jawab sekarang apa nanti?"
"hah? elah, rahasia banget ya? sampe sahabat lo sendiri gak mau dikasih tau." Sonya memanyunkan wajah.
Dhara jadi salah tingkah melihat reaksi kecewa sahabatnya. "bu --bukan gitu Onya. Soalnya gu --gue harus minta izin dulu sama Varen buat nyeritain. Soalnya kita jadian itu berawal dari... eum.. dari kecelakaan! iya kecelakaan." Gadis ini meremas roknya. Ucapannya barusan sungguh ngelantur. Tapi tidak apa-apa, setelah ini ia akan langsung membahasnya terlebih dahulu dengan Varen.
"Oohh!! eh? astagfirullah Ra! kecelakaan kayak gimana yang lo maksud?" Sonya jadi tambah heboh.
" is Onya ngebelin" Batin Dhara.
...◎◎💰◎◎...
Varen memutar keran wastafel hingga airnya mengalir menyirami kedua tangannya. Ia mengambil setetes sabun cair dan kembali menggosok kedua tangannya sambil dialiri air. Merasa tangannya sudah bersih dan wangi, ia meraih tisu dan mengelapnya hingga kering.
Ia memiliki sebuah kebiasaan buang air besar di siang hari yang sungguh merepotkan. Padahal ia menginginkannya di pagi hari agar saat belajar disekolah terasa nyaman dan tak memikirkan masalah ini. Mungkin tuhan menciptakannya berbeda dari manusia lainnya yang kebanyakan melakukanya di pagi hari.
Merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan tempat ini, lelaki itu melangkahkan kaki pergi dari sana. Namun ketika ia hendak memutar kenop pintu, benda itu bergerak sendiri dan pintu tiba-tiba terbuka.
Tiga orang laki-laki berpenampilan sedikit acak-acakan berdiri diambang pintu.
Yang paling depan tubuhnya sangat gempal. Rambutnya Rapih namun bajunya dikeluarkan seperti anak bandel pada umumnya.
Yang dibelakang sebelah kanan tubuhnya kurus, rambutnya gondrong tapi pakaiannya rapih.
__ADS_1
Dan yang dibelakang sebelah kiri juga kurus, rambutnya seperti anak punk. Namun pakaiannya juga rapih. Tapi ditangan laki-laki itu ada sebungkus rokok dan korek yang ia pegang.
Varen mundur seketika, mempersilahkan orang-orang berwajah garang ini untuk lewat duluan. Ia tahu mereka pasti akan menggunakan toilet sebagai tempat untuk menikmati kepulan asap yang akan mereka buat nanti.
Ketiga orang itu memasuki toilet. Saat mereka sudah melewati pintu, Varen melangkahkan kakinya kembali. Namun saat telah menginjak ambang pintu, tangannya tiba-tiba ditarik kencang dari belakang dan tubuhnya dibanting sangat keras ke tembok.
DUAKK!!
"Aakhh..." Varen meringis kesakitan.
punggungnya terasa remuk beradu dengan kerasnya tembok. Bahkan saking kerasnya benturan hingga menimbulkan bunyi keras di seisi ruangan.
Varen menghembuskan nafas berat berkali-kali. Ia tahu orang yang menarik dan membantingnya adalah laki-laki berbadan gempal ini, karena tangannya terasa sangat berisi dan kekar.
Sakit di punggungnya jadi menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan kakinya terasa lemas menahan beban tubuhnya sendiri. Akhirnya tubuhnya pelan-pelan merosot ke lantai.
ketiga laki-laki itu mendekatinya.
"Oh jadi ini anak baru itu? culun ternyata!" tanya laki-laki berbadan gempal itu.
"iya bang! bener ini orangnya." jawab temannya yang berambut gondrong.
Sedangkan yang berambut punk membakar sebatang rokok yang ia bawa dan menghisapnya dengan tenang.
Si gempal tiba-tiba menarik kacamata Varen dan membantingnya ke lantai hingga hancur. Setelah itu ia menginjak benda itu sampai tak berbentuk lagi.
Varen terdiam menyaksikan benda itu dirusak didepan matanya sendiri.
"Cupu! bisa-bisanya cewek gua demen sama orang kayak lo!"
Si gempal menarik poni Varen hingga ia terdongkak keatas. Rahang lelaki ini mengeras. Nafasnya tak beraturan. Bahkan dadanya naik turun menandakan ia sedang menahan amarahnya.
"cewek lo? gue belum pernah ngedeketin cewek manapun! Lo mungkin salah paham." Tukasnya dengan sangat tajam.
"Gua gak bego! dasar tolol!" Ia menjambak rambut halus lelaki itu kemudian membanting kepalanya ke tembok.
Si gempal menyuruh kedua temannya untuk beraksi. "Habisin!" perintahnya langsung di angguki oleh mereka.
Varen meremas kepalanya yang terasa berputar. Sungguh sangat sakit.
Si anak punk dan si gondrong menarik kedua tangan Varen hingga laki-laki itu berdiri. Kemudian mereka membantingnya ke ujung tembok wastafel. Namun mereka gagal melukai wajah mulus laki-laki ini. Varen dengan cepat melepaskan tangannya dan menahan wajahnya agar tak mengenai ujung tembok keras itu.
Mereka berdua sedikit kaget, laki-laki cupu ini masih punya tenaga untuk melindungi diri.
Si gempal tersenyum smirk ia merasa sangat senang dan sangat menikmati pertunjukan ini. Ia menyalakan sebatang rokok sambil mengganjal pintu kamar mandi dengan tubuhnya, agar tak ada orang lain yang masuk.
Si gondrong menarik kedua kaki Varen hingga ia terjatuh ke lantai. Si anak punk dengan keras menginjak perut laki-laki itu.
"arghh!!" Varen sangat kehabisan tenaga, ia menahan kaki si anak punk. Namun keduanya tangannya tak kuat menahannya.
Dan si gondrong datang sambil tersenyum licik lalu memukuli wajah laki-laki ini hingga babak belur.
melihat wajah itu penuh luka, si gempal tersenyum lebar."Ini akibatnya kalo lo ngedeketin cewek gua! mati lo!"
DUAKK!!
Tubuh si gempal terlempar ke lantai kala pintu didobrak oleh seseorang hingga pintu tersebut terbanting ke tembok.
Si gempal dan kedua laki-laki yang tengah menyiksa Varen melotot horor melihat siapa lelaki yang memergoki mereka sedang melakukan percobaan pembunuhan ini.
Varen memejamkan matanya. Ia sedikit lega.
"Ba --Bagas! gu- gua ga ikut campur! mereka yang ngajakin gua!" Si gempal berusaha membela dirinya sendiri dan menyalahkan kedua temannya.
__ADS_1
mereka berdua tak terima. "kurang ajar! lo yang ngajakin gua anjing!" ujar si gondrong.
"bangsat sialan!" Si anak punk juga tak terima.
Bagas menatap sinis para mereka bertiga kemudian memberi instruksi pada Ciko yang berdiri di belakangnya. "Cik, urus!"
"Siap!" Ciko masuk masuk ke tempat itu dan mengeluarkan handphonenya. Ia memfoto kejadian itu secepat kilat dan mengirimnya pada seseorang. "Mantap, langsung di read Gas!"
Bagas mengangguk.
Varen merasa tenang ada orang yang menolongnya. Ia terus memejamkan matanya sambil merasakan darah segar yang perlahan menetes dari pelipis dan sudut bibirnya yang sobek. Sakit. Tapi, sakit ini tak sebanding dengan sakitnya kehidupan yang ia derita selama ini. Rasa sakit ini bisa lebih sedikit menyamarkan rasa sakit yang sesungguhnya ia alami.
"gua mohon gua gak ikut campur Gas!" pinta si gempal. lelaki itu mengguncangkan bahu Bagas.
"Setelah kejadian ini kita gak bakal gabung sama lo lagi. Berani-beraninya lo masih ngomong lo ga ikut campur! anjing!" Si gondrong mati-matian menahan emosi. Jika urusan ini sudah selesai. Ia akan menghajar tubuh gendut orang itu habis-habisan.
"Udah! jelasin aja di sana nanti. Berisik!" Ciko menarik si gempal dan mendorong mereka bertiga dari belakang agar langkah mereka lebih cepat.
Setelah ketiga orang itu pergi dari kamar mandi digiring oleh Ciko, Bagas menghampiri si korban yang tengah terbaring tak berdaya dilantai yang kini penuh dengan bercak darah.
"thanks!" ujar Varen sambil menatap wajah Bagas yang juga tengah menatapnya. seketika netra mereka beradu pandang dan Varen bangun dari posisi tidurnya, lalu ia menjabat tangan orang yang menolongnya ini.
Bagas sedikit kaget. Ia pikir laki-laki ini sudah tidak kuat untuk berdiri. Namun dari gerakannya saat bangun laki-laki ini seperti tak merasakan sakit sama sekali.
"Terimakasih lo udah nolongin gue!"
"ekhm.. udah jadi kewajiban gue sebagai ketua OSIS." Jawabannya dingin.
Varen melerai jabatan tangan mereka. Ia lalu menghampiri wastafel dan melihat keadaan wajahnya dari cermin. Wajahnya ternyata sangat mengenaskan sekali.
"Gue bisa manggil anak PMR" Tawar Bagas namun dengan nada datar.
"gak perlu! lo bisa pergi sekarang." ia mempersilahkan bagas pergi sambil menggulung beberapa tisu dan membasahinya. kemudian ia menyeka darah-darah yang keluar dari pelipis dan sudut bibir yang sobek.
Tatapan Varen mengarah pada si ketua OSIS yang menghampirinya. lelaki itu menatap Varen dari pantulan wajahnya di cermin.
"Dhara pacar lo?"
Varen mengerutkan keningnya. "kalo iya kenapa?"
Bagas menyilangkan kedua lengannya di dada. "Kapan lo jadian?"
"semalem." jawabannya mantap. Memang kenyataannya benar kalau semalem mereka baru jadian.
"siapa yang nembak?"
"Dia!" Benar, Dhara duluan yang mengajaknya pacaran.
"dimana lo jadian?"
"di toko buku!"
"kalian saling suka?"
Varen membuang sembarangan gulungan tisu yang penuh darah ke lantai. "mau lo apa ketua OSIS yang terhormat?"
"putusin Dhara!" perintah bagas tanpa basa-basi.
Varen memasang wajah sinis. Bisa-bisanya lelaki dihadapannya ini seenaknya menyuruh. memangnya dia siapanya gadis itu? Jelas-jelas Dhara adalah bank-nya. Bila ia memutuskan hubungan maka uang 10 juta perbulannya akan hangus.
"Gak bakal! sampai kapanpun gue gak bakal ngelepasin dia." ujar Varen mantap. Demi uang ia tidak akan melepaskan Dhara.
"Kalau gitu gue yang bakal rebut dia dari lo."
__ADS_1
"silakan!"
...◎◎💰◎◎...