
...◎◎💰◎◎...
Sonya menyengir saat mamah Dhara menatapnya dengan tajam. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya sambil melepas kupluk warna cream yang ia kenakan."kalian lagi main apa malam-malam begini?"
Naura datang sambil tersenyum kaku. Benar apa yang ia khawatirkan. Pantas gelagat mereka tak aneh. Orang mereka pemilik rumah ini sendiri. Bodoh sekali.
"malem om,Tante." Sapa Naura mencairkan suasana."eum.. jadi sebenernya gini om,tante. Kemarin itu kata Dhara, rumahnya ada yang maling.Terus kita malem ini mau nginep buat nemenin Dhara. Terus tadi kita ngira om sama tante malingnya. Terus jadinya gak sengaja kita...hehehe..." Naura menggigit lidahnya sendiri. Sial! Kenapa mulutnya susah banget ngomong kalo lagi panik kayak gini.
Papah Dhara berhenti menjewer anaknya setelah mendengar penjelasan Naura. Pria yang umurnya hampir berkepala tiga itu memeriksa keadaan anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "kamu gak kenapa-kenapa kan? Malingnya gak ngapa-ngapain kamu kan? Kenapa kamu kamu gak telpon papah semalem sayang?"
Dhara mengelus-elus telinganya yang terasa panas akibat dijewer tadi."Lagian emang papah bakalan langsung pulang kalo aku nelpon?"
Papah tertegun mendengar jawaban anaknya. Benar juga, sebagai seorang ayah harusnya ia lebih memperhatikan anaknya ketimbang pekerjaannya. Ia jadi menyesal saat tau anaknya hampir celaka semalam.
"Gimana maling ga masuk, orang pintu rumah kamu biarin gak dikunci. Kebiasaan!" Omel mamah.
Dhara menyengir memamerkan giginya yang tersusun rapi. Memang kebiasaannya dari dulu selalu lupa mengunci pintu.
"Mobil papah mana? kalian pulang kok aku ga denger suara mobil?" Tanya Dhara.
Papah menyipitkan matanya."oh mobil papah di servis. Tadi kita naik bus sampe terminal. Terus jalan kaki sampe rumah."
"Ohh." Dhara mengangguk. Kedua sahabatnya pun ikut mengangguk mendengar penjelasan papah Dhara.
Andai saja ketiga gadis ini tadi mendengar suara mobil kedatangan orang tuanya Dhara. Pasti mereka tidak akan salah faham.
"Yaudah sekarang kalian istirahat! Besok kan sekolah. Nanti mamah bakal nyuruh orang seseorang buat ngejagain kamu dirumah. Oke?"
Dhara mengangguk. "Oke." Namun ia berfikir kalau rumah ini ada yang jagain maling itu gak bakal dengan mudah bertamu kerumahnya. Tapi untuk kali ini sepertinya ia harus menuruti saja apa kata orang tuanya.
"eumm om, tante. Onya minta maaf ya!" Lirih Sonya. Gadis ini terus menundukkan kepalanya karena malu.
"Eh, aku juga minta maaf pah, mah."
"Nau juga ya om. Nau tadi sebenernya sadar kalo kalian bukan maling. Tapi Naura gak berani ngejelasin sama mereka."
Papah menghala nafas."Gapapa, kita maklumin karena kita emang jarang pulang jadi kalian hampir gak ngenalin kita."
"Tapi kalian lain kali hati-hati. Jangan ngelakuin sesuatu yang berbahaya sendiri. Lebih baik hubungi pihak yang berwajib." Timpal Mamah."Yaudah cepetan pada tidur!" Sambungnya.
"oke" ujar mereka serentak.
"Ayo ke kamar!" Ajak Dhara.
Ketiga gadis yang terlihat sudah seperti saudari itu pergi dari ruang tamu menuju kamar Dhara sambil tertawa kecil karena kejadian memalukan malam ini.
...◎◎💰◎◎...
Setelah kedua sahabatnya pulang Dhara duduk manis dimeja makan. Padahal gadis yang sudah siap dengan seragamnya itu mengajak kedua sahabatnya untuk sarapan dulu sebelum pulang. Namun mereka menolak dengan alasan buru-buru karena mereka lupa membawa baju seragam. Ditambah mereka juga tak mau mengacaukan suasana keluarga kecil yang baru bisa berkumpul bersama saat ini.
__ADS_1
Dhara memperhatikan aktifitas kedua orangtuanya sebelum ia mengambil sarapannya. Memang suasana yang ia lihat sekarang sangat jarang ia temui. Tapi Dhara tak begitu memaksa agar suasana ini bisa ia lihat setiap hari. Ia faham betul dengan kedua orangtuanya yang begitu giat mencari nafkah demi memenuhi semua kebutuhannya.
"papah sama mamah hari ini mau ke kantor lagi?" Dhara membuka pembicaraan sambil melahap sesendok nasi goreng seafood buatan mamah.
Papah menyesap kopinya dengan nikmat. Meski kopinya terlihat masih panas.
"iya sayang, tapi sebelum berangkat kita mau nunggu sampai orang suruhan dateng ke rumah. Biar papah tenang ninggalin kamu dirumah."
Dhara mengangguk. Ia paham maksud dari orang suruhan papahnya itu siapa.
"Udah mau jam 7, kamu yang cepet makannya! Nanti terlambat datang ke sekolah. Hari ini biar mamah yang anter." Seru mamah sambil melirik jam bermotif elegan di pergelangan tangannya.
Senyum merekah diwajah Dhara. Meski mamahnya sedikit galak seperti Bleki --si anjing tetangga, tapi sebenarnya mamahnya sangat perhatian dan sayang padanya.
Gadis itu makan dengan lahap. Ia menghabiskan sarapan dan langsung meraih ransel berwarna pink miliknya.
Ia mencium tangan dan pipi papah lalu berangkat dengan taksi online bersama mamah. Karena mobil papahnya sedang di servis. Alhasil mamah mengantarkannya dengan taksi online. Tapi hal itu tak mejadi masalah baginya. Bahkan setiap hari berangkat dan pulang sekolah, ia selalu naik bus.
Padahal papahnya sudah menawarkan untuk membeli mobil. Tapi Dhara menolak keras. Tentunya ia tak mau menarik perhatian banyak murid bila ke sekolah menggunakan mobil. Ditambah ia merasa belum cukup umur untuk membawa kendaraan itu.
...◎◎💰◎◎...
Naura memutar bola matanya malas. Saat baru tiba di sekolah ia sudah diperlihatkan tontonan yang menjijikkan di Koridor.
Fara sang primadona, tengah memberikan kotak bekal berwarna putihnya pada Bagas. Tentunya Bagas menghindar, tapi Fara terus memohon agar bekalnya diterima.
Melihat kejadian menjijikkan yang ditonton banyak orang itu sungguh membuatnya mual. Sarapannya seakan-akan mau dikeluarkan lagi. Akhirnya Naura memutuskan untuk menjahilinya sebelum kedua sahabatnya tiba.
"Bagas, aku udah buat bekel capek-capek loh? Terima ya?" Pinta Fara memelas memperlihatkan puppy eyes-nya agar sang ketos luluh dan menerima bekalnya.
"Gak! Gue udah kenyang!" Balas Bagas dingin sambil berjalan cepat.
"Udah Gas, ambil aja!" Ciko selaku teman, wakil ketua OSIS sekaligus saudara tiri Fara malah ikut membujuk laki-laki itu agar menerima bekalnya.
"Ups!!!"
TAKK!!
Hening.
Mulut Ciko mengaga lebar saat melihat kotak makan yang dibawa adiknya terjatuh ke lantai.
Mata Fara berkaca-kaca. Perjuangannya membuat bekal untuk orang yang sangat ia cintai malah berakhir sia-sia. Ia meringis sambil mengusap jari-jari tangannya yang terluka akibat terkena pisau saat membuat bekal pagi tadi.
Kenapa ia selalu gagal buat ngedapetin hatinya Bagas? Dan kenapa cewek yang satu ini selalu ngegagalin rencananya. Cewek sialan! Bahkan dia udah berani mengganggunya disekolah.
Bagas tak peduli dengan kejadian yang sekarang terjadi didepan matanya. Ia juga tak peduli dengan orang-orang yang menonton mereka. Baginya, ini adalah kesempatan untuk pergi dari keramaian yang mengganggunya.
"Eh Gas mau kemana?" Seru Ciko pada Bagas yang pergi begitu saja.
__ADS_1
Ekor mata Naura melirik sang ketua OSIS. Nampaknya ia berhasil menolong orang ini yang kesekian kalinya untuk meloloskan diri dari Fara.
"Gak sengaja maaf!"
Fara menggenggam tangannya sangat kuat. "Maksud lo apa, hah?" Gadis itu mengangkat jari telunjuknya tepat didepan wajah Naura."Lo iri kan?"
Naura tertawa remeh. Ia menepis tangan menjijikkan itu dari hadapannya. Ia sudah tau bahwa marahnya cewek ini hanya sebatas jambak-jambakan. Fara tak sebanding dengannya. "Apa? gue iri? ngawur lo!"
"kenapa setiap kali gue mau ngedeketin Bagas lo selalu ngehalangin gue? suka Lo ya sama Bagas? Iri lo ya karena gue bisa deketin dia setiap saat karena kita satu kelas?iya?"
"jangan fitnahan deh! emangnya selama ini Bagas mau sama lo?"
Mata Fara memanas. Lengannya perlahan naik meremas rambut sebahu milik Naura.
Naura memegangi lengan cewek yang sedang *******-***** rambutnya. Ia menahan agar tenaga yang dikeluarkan Fara tak terlalu kuat.
"Marah? Mau ribut? Di arena berani?" Naura menaikkan sebelah alisnya.
"Argghh! Cewek sialan!" Fara menarik rambut Naura. Namun Naura tak bergeming. Ia mempertahankan posisinya. Bisa saja sekarang ia menendang tubuh gadis didepann ini. Tapi ilmu beladiri nya bukan untuk dipakai melawan orang lemah.
Ciko yang panik akhirnya langsung menarik tangan adiknya." Udah Fara!!"
Ia tak mau reputasi adiknya disekolah ini jadi buruk. Ia juga tidak mau ada keributan lebih parah disekolah. Ia menghentikan aksi adiknya sekuat tenaga. Dengan sabar Ciko menenangkan Fara dan ketika lengan Fara berhasil lepas lelaki itu menyuruh Naura untuk segera pergi.
Naura mengiyakan perintah dari wakil ketua OSIS itu. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia sudah merasa puas menjahili cewek itu meski ia tak memberikan perlawanan fisik yang berarti.
Dua sahabatnya telah datang. Mereka menghampiri Naura dan bertanya-tanya kejadian apa yang sudah mereka lewatkan pagi ini.
Gadis berambut sebahu itu mengedikkan bahunya pertanda bahwa ia tak tahu apa-apa.
Kedua sahabatnya tentu tak percaya kalau gadis ini tak tahu apa-apa. Mereka melihat seorang Ciko yang tengah memeluk Fara yang sedang menangis sesegukan. Ditambah ada bekal yang berserakan dilantai yang menjadi pertanyaan bagi keduanya.
"Biasa, Fara abis ditolak ketos" Bisik Naura.
Sonya menoyor kepala Naura. "Awas ya Nau, kalo lo bikin masalah!"
"engga kok engga."
"Mending gausah ikut campur deh sama urusan orang lain!" Ujar Dhara menasehati.
Naura merangkul bahu kedua sahabatnya. "Tenang aja, gak ada apa-apa kok. Jajan dulu yuk di kantin!" Ajaknya. "Eh iya, taruhan kita gimana Ra?"
Dhara menyengir. "boleh! Bukan cuma dimsum. Tapi sarapan kalian gue traktir deh!"
"Eh gue juga dapet?" Gadis berambut pendek dengan jepitan merah itu bertanya dengan semangat.
Dhara mengangguk setuju. "Sekalian sebagai ucapan maaf buat yang semalem kena sembur mamah sama papah hehehe."
"Okee kita makan sepuasnya!" Seru Naura riang. Ia tak memikirkan ulahnya tadi yang telah membuat seorang Fara menangis. Semoga kedepannya tak ada kejadian buruk yang menimpa gadis ini.
__ADS_1
...◎◎💰◎◎...