Maling Tampan

Maling Tampan
Bukan maling?


__ADS_3

...◎◎💰◎◎...


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Naura dan Sonya belum sampai ke rumah Dhara.


Dua jam gadis berpiama cream ini rebahan di sofa menunggu mereka. Sekantong besar cemilan ringan sudah ia habiskan. Ia kesal menunggu mereka sangat lama, ditambah handphone kedua sahabatnya tak bisa dihubungi. Apa mereka tidak jadi menginap dirumahnya? Apa mereka takut? Tapi mana mungkin mereka jahat mengingkari janji.


Tak lama bunyi kelakson motor terdengar. Dhara segera melompat dari sofa. Ia menghampiri kedua sahabatnya yang ngaret-nya minta ampun.


"Janjinya jam 8 udah nyampe rumah gue?? Ngaret banget ya."Dhara memanyunkan bibirnya.


Keduanya malah menyengir polos sambil memarkirkan motor beet berwarna putih dipekarangan rumah yang tak terlalu besar. "Abis ngantri Ra, biasa." Ujar sonya.


Mereka masuk kedalam rumah. Saat menutup pintu, Dhara sengaja tidak menguncinya. Agar memudahkan si maling tampan itu masuk ke rumah.


Setelah menutup pintu Dhara cengengesan sendiri mengabaikan kedua manusia yang sedang bergidik ngeri memperhatikan tingkahnya.


"Seganteng itu malingnya? Sampe lo hampir gila gini?" Tanya Sonya penasaran.


Dhara mengangguk semangat. "Bener, tampan banget. Liat aja nanti!"


"hih ngerii cuy! Jangan-jangan lo dipelet Ra?" Celetuk Sonya.


Satu pukulan mendarat di kepala gadis berambut pendek itu. "Aduhh, jahat lo Satt!"


"Hahahaha! Rasain!" Yang memukul malah lari terbirit-birit masuk duluan kedalam kamar.


"Awas lo!"


Didalam kamar Dhara dan Sonya bergulat. Mereka saling pukul menggunakan bantal dan boneka yang ada di kasur.


Sedangkan Naura duduk di lantai kamar berbalut karpet bulu. Dengan anteng ia membuka kantong plastik yang berisi sate plus es alpukat kocok yang ia beli dijalan tadi. "Jadi ini alesan kita telat." Ujar Naura menghentikan perkelahian Dhara dan Sonya.


Sonya mengangguk mengamini ucapan Naura. "Betul!"


"makan mulu sih pikiran lo Nau!" Cemooh Dhara.


Naura melemparkan remot AC yang ia temukan dibawah kasur.


"Buset!" untung Dhara menghindar cepat dengan jurus refleknya.


"Eh bersyukur ya gue beliin. Malem-malem gini waktunya perut minta diisi." Terang Naura. Ia membuka lebar bungkusan sate dan melahapnya duluan.


Akhirnya Dhara dan Sonya juga ikut mencomot sate itu. Mereka makan sambil bergosip tentang Fara, si primadona sekolah yang saat pagi tadi membuntuti Bagas hanya untuk memperlihatkan nilai sempurnanya pada ketos itu.


Banyak orang yang bilang kalau mereka cocok, tapi dimata ketiga cewek ini, Fara dan Bagas sangat tak pantas bila bersanding. Lantas karena sikap keduanya yang jauh berbeda. Bagas dengan sikap dinginnya selalu mengabaikan wanita-wanita yang mendekatinya disekolah. Sedangkan Fara sangat senang bila banyak pria yang mendekatinya. Sifat mereka sangat berbeda jauh kan?

__ADS_1


"Terus?" Naura meminta Sonya untuk melanjutkan cerita.


"kalo Minggu kemarin dia nangis gara-gara dapet nilai kecil. Mau tau gak berapa nilainya?" Ujar sonya membuat kedua sahabatnya penasaran.


"Nilainya 80." Sambungnya.


Dhara memutar bola matanya malas, "nilai 80 kecil? Terus gimana sama nilai gue yang tiap kali ulangan selalu dapet merah?"


Gadis itu selalu mendapatkan nilai merah setiap kali ada ulangan dikelasnya. Baik ulangan dadakan maupun ulangan yang diberi tahu di hari sebelum ulangannya.


Bahkan nilai semesternya tahun kemarin ketika ia menginjak kelas 10, tak ada nilai yang di atas 50. Untung karena orang tua Dhara adalah donatur utama disekolah. Jadi murid bodoh sepertinya masih dipertahankan menimba ilmu disitu.


Asyik bergosip, tiba-tiba mereka mendengar suara pintu yang dibuka. Mereka saling beradu pandang dan terdiam. Seketika kamar menjadi hening.


"Jangan-jangan itu malingnya?" Ujar Naura.


Dhara tersenyum senang, akhirnya maling tampan yang ia tunggu datang juga. Gadis itu akan membuktikan pada kedua sahabatnya bahwa ceritanya bukanlah sebuah mimpi. Ia beranjak dari tempatnya, dengan santai membuka pintu kamar.


Kedua sahabatnya lalu mengekorinya.


Perasaan Naura tiba-tiba tak enak. Ia menepuk pundak dua sahabatnya. "Wey, kalian gak takut sama malingnya. Nanti kita diapa-apain lagi."


Dhara menggeleng pelan." Gak bakal! dia gak bakal bunuh orang, katanya bunuh orang itu dosa."


"Lah bego emang maling gak dosa?" Tanya Sonya. Setaunya, kata pak ustadz maling itu dosa.


Mata kedua sahabatnya terbelalak.


"Yang bener lo Ra? Lo gila? Mending sumbangin duitnya ke gue! buat beli dimsum sebulan."


"Makan aja pikiran lo." Celetuk Dhara pada Naura.


Naura dan sonya saling beradu pandang. Mereka menggelengkan kepala melihat kebodohan sahabatnya yang satu ini. Uang sebanyak itu akan di berikan kepada maling? kalau mereka diposisi Dhara, uang itu lebih baik dipakai jajan dan berbelanja.


...◎◎💰◎◎...


Saat mereka hampir tiba di lantai bawah, Dhara menyipitkan matanya. Ia melihat ada dua siluet orang yang menyelinap masuk kerumahnya. "Gawat guys!"


Kedua sahabatnya menengok kearahnya.


"Itu malingnya beda!" terangnya.


Kedua sahabatnya kebingungan. Mereka memang melihat dua orang dibawah. Yang satu laki-laki berperawakan tak terlalu tinggi tapi gagah. Dan yang satu lagi seorang perempuan yang sepertinya memakai kupluk di kepalanya.


"bener yang cowok itu bukan maling tampannya? jangan-jangan malingnya udah punya istri?" Bisik Sonya.

__ADS_1


"mungkin istrinya takut suaminya diambil orang. Jadi dia ikutan maling buat jagain suaminya." sambung Naura.


Dhara menggeleng cepat. "gak mungkin! Maling yang kemarin ke sini badannya tinggi. Lah yang ini pendek kayak gue."


Sonya mengangguk. "ouhh.. kalau gitu kita tangkep aja mereka!"


"Eh jangan gegabah!" Seru Naura.


Sonya menepuk pundak Naura."Nau cemen. Katanya kago silat. Ayolah!"


Gadis pemilik rumah itu mengambil sebuah payung yang ada dipojokan tangga. "Tenang Nau! kalo lo takut Lo disini aja! Tugas lo telpon polisi sekarang!"


Sonya setuju mengamini ucapan Dhara. Sedangkan gadis berkemeja hitam ini malah memohon agar kedua sahabatnya tidak bertindak yang aneh-aneh. Tapi mereka tak mendengarkannya.


Naura bukannya takut, Tapi perasaannya berkata kalau kedua orang itu tak memiliki hawa jahat. Perilaku mereka pun wajar, seperti orang yang sudah mengenali rumah ini.


Perlahan Dhara dan Sonya mendekati kedua pencuri yang hendak menyusup ke kamar orang tuanya Dhara. Karena lampu semuanya mati, pandangan mereka hanya bisa melihat siluet tubuh pencuri itu. Dengan cepat Dhara memukul pantat pencuri laki-laki menggunakan payung tadi. Sedangkan Sonya memeluk erat dan mengunci tubuh pencuri perempuan dari arah belakang agar ia tak dapat bergerak.


Dan Naura bukannya menelpon polisi tapi malah sibuk meraba-raba tembok mencari saklar lampu.


"Aduh apa-apaan nih!" Ujar orang yang dipukuli Dhara.


"eh? kayak kenal suaranya!" Batin Dhara.


"RA NGAPAIN LO DIEM? TERUS PUKULIN SAMPE POLISI NOLONGIN KITA!" Seru Sonya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita yang meronta-ronta seperti anjing yang ingin kabur dari kandang.


"Rasain lo maling!" Seru Dhara dengan kencang melanjutkan pukulannya.


"Eh.. Eh.. Siapa yang maling? Lepasin saya!" orang yang dipeluk erat oleh Sonya berusaha melepaskan diri.


Tak!!


Saat lampu menyala, tepatnya dinyalakan oleh Naura. Semua orang didalam ruangan terbelalak melihat dua orang yang mereka anggap sebagai maling ternyata adalah...


pemilik rumah ini sendiri.


Sonya melepaskan pelukannya tatkala melihat orang yang ia peluk ternyata mamahnya Dhara.


Orang yang dipukuli Dhara ternyata adalah papahnya sendiri. Alhasil gadis itu di jewer habis-habisan oleh papahnya.


"AWWWHH pahh maaf.. Aku salah orang!" Teriak Dhara kesakitan.


"Kalian ini. Malam-malam bikin keributan aja!" Ujar papah Dhara. "Sama orang tua sendiri kok gak kenal? Hah?"


Sonya menyengir saat mamah Dhara menatapnya dengan sangat tajam. Wanita itu menaikan sebelah alisnya sambil melepas kupluk yang ia kenakan."Kalian lagi main apa malam-malam begini?"

__ADS_1


...◎◎💰◎◎...


__ADS_2