
...◎◎💰◎◎...
Tak..tak..tak..
Suara pulpen yang di ketuk-ketuk ke meja terdengar begitu nyaring di ruangan kelas yang sunyi. Hanya ada beberapa orang di ruangan ini. Hari ini sepertinya Dhara datang terlalu pagi.
Beberapa kali ia melirik jam tangan berwarna pink yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. Jam baru menunjukkan pukul 06.10. Tapi sang mentari telah menyapa buminya begitu cepat.
Karena gadis ini sekarang sangat bosan. Ia mengeluarkan ponsel dari saku rok abu-abunya. Ia berniat untuk menelfon kedua sahabatnya agar mereka bisa datang lebih cepat.
Tuuutttt... tuuuttt....
Tak lama panggilannya diangkat oleh kedua sahabatnya.
"Halo Ra! ada apa?" Tanya Naura.
"ada apa nih pagi-pagi." Sambung Sonya.
"kalian cepetan ya datengnya! gue sendirian."
"Lah, lo udah ada disekolah? rajin bett! kerasukan apa lo?" Sonya terkejut lantaran Dhara datang kepagian.
"Gue aman kok Nya. Cuman semalem gue abis ketemuan sama setan tampan."
"Elah, kemaren maling tampan. Sekarang setan tampan. Imajinasi lo luas banget kayak lautan. mending jadi mermet aja sana!" Tutur Sonya.
"Hadeuh. mending lo pesenin gue sarapan Ra! nanti kita ketemuannya dikantin aja!" Ujar Naura.
"yeee gamau! gue nunggu dikelas aja. Di kantin ada Fara, ogah kesana gue takut kena sembur gara-gara masalah lo kemaren!"
"hehehe sorry! yaudah deh nanti kit--"
plukk..plukk.. plukk...
"--apaan tuh?"
"suara apaan itu Nya?"
"HEHE GUE LAGI BERAK COY! SORRY!! EMANG KEDENGERAN YAK?"
"ANJIR GUE LAGI MAKAN ONYAA!! ARGHH ENEK TAU, HUEKK!!"
"HAHAHA sorry gue gak tau lo lagi makan lol. Lagian ini itu panggilan alam. penting banget"
Dhara menjauhkan HP dari telinganya. Suara ribut kedua sahabatnya sangat berisik sekali. "jorokkk banget! udah lah gue tutup. cepetan ya kalian!!"
tuttt....tuuuttttt....
Dhara terkekeh pelan. Tingkah kedua sahabatnya ini suka bikin dia tertawa.
"Tuh kan setres!"
Ia tersentak kaget. reflek handphone yang dipegang loncat ke atas meja. ia mendongkakkan kepalanya. ternyata ada seorang lelaki nerd di hadapannya yang menatapnya horor. Siapa lagi kalau bukan si maling berkedok lelaki tampan.
"Gue abis telfonan sama besties! paham?"
"oh."
Tak ada respon yang panjang lebar. Lelaki ini langsung duduk di kursinya dan menaruh ranselnya di samping kursi.
__ADS_1
Dhara dengan cepat memutar balik kursinya kebelakang berhadapan dengan si maling --eh maksudnya Varen. Ia hampir lupa dengan nama asli lelaki ini.
Varen curiga dengan gelagat gadis mungil yang kini duduk berhadapan dengannya. Gadis ini mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Lo gak lupa kan sama kesepakatan kita semalem?" bisiknya.
"Gue gak pikunan kayak lo ya."
Dhara memanyunkan bibirnya. kenapa setiap perkataan yang orang ini keluarin selalu bikin dia kesal.
.
Flasback on...
Pov Dhara...
Lama-kelamaan aku bisa gila kalau terus kayak gini. Nafasku makin memburu karena panik. Dan maling tampan ini gak bergerak sama sekali dari tadi. Apa dia sengaja mau mengurung ku kayak gini sampai akhirnya aku mati kekurangan oksigen?
"Heh, muka lo merah. kepanasan lo?"
Akhirnya aku bisa bernafas lega saat maling ini ngejauhin tubuhnya dariku.
"Ya panas banget!" Sarkas ku kesal.
ketika aku mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, mataku tertuju pada seseorang diparkiran yang gak lama berlalu menaiki motor ninjanya.
Aku mengenal motor itu. Aku juga mengenal siapa pemiliknya. Meski ia memakai helm yang gelap tapi aku tahu wajah yang ada di balik helm itu. Pemilik motor itu udah beberapa hari ini selalu mengikutiku. Padahal dia itu udah ku tolak mentah-mentah sebab urusannya bakal rumit kalau aku dekat dengannya.
Aku menghembuskan nafasku. Kulihat si maling ini sedang anteng memilih buku. Dia lebih kelihatan kayak orang normal kalau seperti ini. Dibandingkan dengan tadi yang tiba-tiba mengunciku dan mendekatkan wajahnya seperti laki-laki mesum yang ingin--
Oh my god apa orang tadi merhatiin aku dan maling ini? kalau bener pasti dia mikir yang enggak-enggak soal kita. Tapi kalau memang dia berpikir kayak gitu dia pasti bakal ngerasa jealous dan tersaingi.
Aku sedikit tersenyum lega. Semoga dia menyerah untuk mendekatiku jika dia berpikir aku sudah memiliki pawang.
Aku mendekati maling yang sedang anteng duduk dilantai sambil membaca sebuah buku.
"Apa?" Ucapnya saat sadar kalau aku menghampirinya.
"Ekhem, Lo kan tadi ngancem gue kalo gue bocorin identitas lo, lo bakalan bunuh gue."
"Terus?" Lelaki itu menengadah menatapku kemudian kembali fokus pada bukunya.
"Gue punya identitas baru buat lo biar lo gak keliatan misterius gitu disekolah kayak tokoh antagonis dinovel-novel sikopat."
"Gue gak ngerti lo ngomong apa. Mending lo pulang! udah malem."
"Lo sendiri kenapa belom pulang? orang tua lo gak nyariin?"
"Gue ada job. Dan gue gapunya orang tua."
Aku sedikit tersentak ketika tau kalau maling ini udah gak punya orang tua. Tapi bukannya ketika perkenalan disekolah ia bilang kalau alasannya pindah ke SMATRI karena pekerjaan orangtuanya? Ah lupakan. Dia seorang maling yang menyamar menjadi pelajar. Gak heran kalau ada kebohongan pada dirinya.
"Oh, maaf. Tapi gue serius mau bantu lo biar identitas lo gak ketauan."
"Labil. Lo tadi bersikeras mau ngebongkar sekarang mau ngebantu."
"Ya, soalnya gue juga mau minta bantuan."
"Pantes."
__ADS_1
"gue mau lo jadi pacar bohongan gue disekolah! dan lo bakal aman. Gue bakal ngebela lo apapun yang terjadi."
Aku bahkan gak sadar, kalimat terakhir yang kuucapkan ternyata sangat berbahaya. Namun sayangnya maling ini telah mendengarnya.
Maling itu beranjak berdiri.
"Bener gue bakal aman selama jadi pacar lo?"
Aku mengangguk.
"Bener lo bakal ngebela gue apapun yang terjadi sama gue?"
Aku mengangguk tapi agak sedikit ragu.
"Gue gak percaya."
Arrghh. Aku sedikit kesal. Capek-capek aku senam jantung dari tadi tapi tawaranku gak diterima.
Aku berfikir sejenak memikirkan hal apa yang bisa bikin orang ini mau jadi pacar bohonganku.
Duit.
"Gue cabut. Nanti bayarin bukunya ya! gue ada job dulu!" Dia menaruh buku yang ia baca tadi kedalam ranselnya kemudian beranjak pergi.
"ehh tunggu dulu!" Aku menarik bajunya kuat hingga ia berhenti.
"Gu-gue bayar deh perbulannya."
Maling itu tersenyum smirk lalu melipat kedua tangannya di dada. "Berapa?"
"2 juta sebulan."
"dikit banget."
"5 juta."
"kurang!"
"7"
"10 cukup."
Aku meremas bajuku. Papah ngasih uang bulanan buatku 20 juta. Biasanya itu hanya kupakai sekitar 7 juta, itupun sudah termasuk segala keperluanku,spp+ngasih makan Naura tiap hari. Apa papah bakal curiga kalau aku ngeluarin uang lebih banyak dari biasanya.
"Gimana?"
Demi menyelamatkan dan mencegah diriku sendiri dari sebuah masalah besar, aku harus berani ambil risiko.
Tentunya aku sadar sekarang ini aku sedang berurusan dengan siapa. Aku akan membuat sebuah kesepakatan dengan seorang kriminal yang sewaktu-waktu bisa menyeret ku pada kehidupan yang penuh masalah.
Yang artinya kehidupanku yang tenang mulai detik ini akan hilang.
"Oke."
"Deal ya!"
"DEAL!!"
Pov Dhara end...
__ADS_1
Flashback of...
...◎◎💰◎◎...