Mas Harsa

Mas Harsa
Masa remaja


__ADS_3

Masa remaja dikatakan sebagai masa pencarian jati diri.


Kenapa?


Karena pada masa inilah remaja gak punya tempat yang jelas antara gak termasuk jadi anak-anak lagi, dan gak pula jadi orang dewasa.


Biasanya remaja akan kumpul sama yang seumuran mereka. Hal ini juga yang terjadi ama Seolla yang kala itu baru berusia tiga belas tahun.


Pertama kali memasuki lingkungan sekolah menengah pertama. Seolla udah kayak ngerasa berada di dunia yang berbeda.


Punya teman-teman baru, juga lingkungan pergaulan yang lebih luas lagi. Beda banget kalau dibandingkan waktu Seolla masih berada di sekolah dasar kemarin.


Habisin waktu selama enam tahun sama temen-temen sekelas yang itu-itu aja.


Bahkan ada satu anak laki-laki menyebalkan bernama Alvaro Bagasditya yang waktu di sekolah dasar kerap buli Seolla.


Seolla sampai merengek ke bundanya buat minta pindah sekolah aja pas tau dia ama Alvaro berada di SMP yang sama.


Tapi jelas aja bundanya gak ijinin dia buat pindah. Emang sih sejak masuk SMP sosok Alvaro udah jadi lebih kalem. Sekalipun mereka ada di kelas yang sama waktu pembagian kelas dua. Alvaro gak lagi buli Seolla.


Bicara soal Seolla, sosok dia biasa aja sih pas masih SMP. Gak kelihatan istimewa sama sekali. Dia merasa seluruh siswa dan siswi disana selangkah lebih maju dari segala sisi, hanya dia doang yang tertinggal dibelakang.


Ingin sama seperti yang lain. Seolla mulai berpikir hal apa yang bisa membuat teman-temannya tampak begitu menonjol.


Kecantikan wajah?


Di sekolah memang ada salah satu gadis yang sangat populer karena kecantikan wajahnya.


Untuk bisa menjadi seperti gadis itu, tentunya butuh waktu, tenaga, dan juga banyak uang untuk mewujudkannya.


Seolla memiliki dua diantara tiga hal tersebut. Adalah waktu dan tenaga. Namun uang? Seolla gak bisa jamin itu.


Araㅡnama bundanya, pasti akan mengomel panjang kalau Seolla berkata jujur membutuhkan uang untuk beli skincare juga melakukan perawatan wajah.


Ada satu cara instan untuk jadi cantik yaitu dengan operasi plastik, tapi Seolla masih waras untuk gak melakukannya. Lagipula duit darimana?


Bagaimana dengan kepintaran? Seseorang bisa jadi populer karena punya otak yang encer.


Meskipun gak cantik setidaknya harus pintar agar bisa diterima oleh masyarakat. Begitulah kata Ara..


Seolla mulai giat belajar saat itu tanpa kenal lelah dan waktu. Ara juga segera setuju ketika Seolla bilang dia ingin ikut bimbel.


Ujung-ujungnya, Seolla bukan menjadi pintar, malah masuk rumah sakit akibat kelelahan ekstrim. Dia sudah menyerah untuk menjadi pintar..

__ADS_1


Faktor ketiga yang mempengaruhi tingkat kepopuleran seseorang adalah kekayaan yang mereka miliki.


Muda dan kaya.


Sekalipun masih dengan duit orang tua. Seorang siswa atau siswi yang berasal dari keluarga kaya raya akan sangat mudah meraih popularitas.


Kala itu, ada seorang gadis yang mengaku jika ayahnya adalah seorang pengusaha besar. Nama gadis itu adalah Camelia. Salah satu anggota cheerleader sekolah.


Dia berkata tinggal di rumah yang super besar dan mewah, juga memiliki beberapa koleksi mobil. Dia juga mengaku ibunya adalah seorang perancang busana. Camelia begitu populer hingga banyak sekali anak-anak lain yang ingin berteman dengannya.


Namun..


Seiring berjalannya waktu pada akhirnya mereka mengetahui fakta jika itu hanyalah kebohongan Camelia semata.


Ayah dan ibu Camelia hanyalah penjual jajanan dipinggir jalan.


Camelia banyak sekali mendapatkan hujatan dari teman-temannya. Menganggap jika dia tak lebih dari seseorang yang bermulut besar.


Sebenarnya Seolla juga kepikiran ingin mengunakan cara yang sama dengan Camelia, namun begitu melihat akibat yang Camelia terima, Seolla merasa bersyukur karena dia belum bertindak sejauh itu.


Intinya hingga lulus dari SMP Seolla belum berhasil menemukan jati dirinya. Dia semakin merasa tak percaya diri, menganggap Tuhan gak adil dengan mengirimkan dia lahir ditengah keluarga miskin.


Andiㅡayah Seolla hanya karyawan swasta yang bekerja disebuah perusahaan kecil. Sementara Ara hanya penjahit rumahan. Tidak banyak orang yang butuh jasa Ara apalagi di jaman yang serba canggih seperti sekarang ini.


Seolla ingat perkataan Ara kala itu saat dia mengeluh tentang keadaan ekonomi mereka yang seolah hanya jalan ditempat.


"Kenapa sih, Bun? Aku gak mirip bunda aja yang cantik, bersih, putih. Kenapa malah mirip sama ayah?" protes Seolla.


"Mau pergi perawatan gak?" bukannya merasa tersinggung, Andi justru memberikan penawaran yang Seolla inginkan sejak dulu namun selalu mendapatkan tentangan dari Ara.


"Mau, Yah.." balas Seolla dengan senyum mengembang. "Ayah baik banget, makasih ya, Yah.."


"Gak usah minta yang enggak-enggak." sahut Ara.


"Aku gak minta, Bun.. Ayah sendiri yang tawarin."


"Gak usah aneh-aneh pokoknya! Kamu tuh masih muda, baru juga mau masuk SMA, gak usah banyak gaya deh!"


"Bunda gak tau sih, semua anak di sekolah aku tuh pada cantik, putih, wangi. Aku doang emang yang buluk!"


"Bulan ini kita banyak pengeluaran loh, Yah.. belum bayar sewa rumah, listrik, air, sekalian biaya belanja bulanan. Jadi ayah jangan tawarin Olla yang aneh-aneh deh." omel Ara.


"Bun!!" Seolla udah siap buat protes.

__ADS_1


"Maafin ayah ya, nak.. ayah pikir bunda bakalan setuju, secara kamu 'kan pengen cantik." ucap Andi merasa gak enak sama sang anak.


"Dimata aku Seolla tuh udah cantik dari dulu." tanggap Ara.


"Ayah juga anggapnya sama sih. Tapi 'kan anaknya gak pede, Bun."


"Nah, itu dia kuncinya. Pede."


"Gak tau ah! Pokoknya aku tetep mau perawatan aja!" Seolla masih ngotot.


Ara gak peduli, malah pergi masuk kamar sambil bawa semua duit gaji bulanan Andi yang baru diterima hari ini.


"Yah.. gimana?" tanya Seolla masih penuh harap.


"Sebenarnya ayah bisa sisihkan sedikit uang gaji ayah buat kamu. Tapi ayah gak bakalan tahan kalau harus hadapi amukan bunda kamu."


Seolla cemberut.


"Maafin ayah ya.."


Seolla ogah jawab.


Seperti emang gak mudah untuk berubah jadi cantik, apalagi Seolla menganggap dia hanya menuruni gen dari Andi yang tidak terlalu unggul.


Bagaimana bisa dulu Ara yang cantik jelita bersedia menikah dengan Andi yang biasa saja? Tidak tampan maupun kaya.


Seolla pikir ayahnya mungkin udah main dukun kala itu. Tapi Andi selalu bilang kalau mereka saling jatuh cinta satu sama lain karena kepribadian Andi yang baik dan juga dia orang yang setia serta mau bekerja keras demi keluarga.


Jadi bisa dipastikan tidak ada pengaruh dukun disini!


Saat liburan panjang sebelum masuk SMA, entah setan apa yang udah merasuki Ara hingga suatu pagi setelah sarapan bersama Ara memberikan hadiah berupa satu set skincare khusus remaja.


"Kamu tuh gak jelek. Cuma males aja. Coba kalau liburan gini mandinya teratur, olahraga juga biar tubuh makin bugar. Cukup lakuin itu aja, bunda yakin nanti pas pertama kali masuk SMA temen-temen kamu pasti pada pangling."


"Yang bener, Bun? Aku bakalan glow up?" tanya Seolla kesenengan.


"Iya. Percaya deh ama bunda. Sebenarnya dulu bunda juga gak sebersih ini kulitnya, cuma rajin dirawat aja. Kamu coba dulu skincare-nya, ntar kalau cocok bunda beli'in lagi kalau udah habis."


Seolla angguk penuh semangat. "Iya, Bun.. makasih ya.."


Mulai hari itu Seolla bertekad untuk jadi lebih cantik sebelum akhirnya nanti masuk ke sekolah SMA.


***

__ADS_1


__ADS_2